Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi Tokoh Indonesia

Biografi Soekarno: Proklamator Kemerdekaan dan Arsitek Bangsa

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 10 Okt 2026)•9 menit baca
Bagikan:

Ringkasan Cepat

  • Soekarno merupakan proklamator kemerdekaan sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia (1945-1967) dan perumus falsafah Pancasila.
  • Menempuh pendidikan teknik di THS Bandung dan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927 untuk menuntut kemerdekaan penuh.
  • Memprakarsai Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 dan menjadi tokoh kunci pendirian Gerakan Non-Blok pada tahun 1961.
  • Pada 9 September 2024, MPR RI secara resmi mencabut TAP MPRS Nomor XXXIII/1967 dan memulihkan nama baik Bung Karno setelah 57 tahun.
  • Arsip pidatonya di PBB tahun 1960 dan dokumen KAA 1955 telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).
Daftar Isi

Soekarno adalah proklamator kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang meletakkan fondasi ideologis bangsa melalui perumusan Pancasila. Memimpin perjuangan pembebasan nasional di abad ke-20, ia menegaskan posisi geopolitik Indonesia di panggung dunia lewat Konferensi Asia Afrika 1955 dan inisiasi Gerakan Non-Blok. Rekam jejak kepemimpinannya mengukuhkan kedudukannya sebagai Pahlawan Proklamator dan arsitek kedaulatan negara yang disegani oleh berbagai pemimpin dunia internasional.

Biodata Soekarno

Parameter Keterangan
Nama Lengkap Dr. (H.C.) Ir. Soekarno (nama lahir: Koesno Sosrodihardjo)
Gelar Kehormatan Pahlawan Proklamator Indonesia (1986), Pahlawan Nasional (2012)
Tempat, Tanggal Lahir Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901
Wafat Jakarta, 21 Juni 1970 (usia 69 tahun)
Makam Blitar, Jawa Timur
Pendidikan Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB), lulus Insinyur Sipil (1926)
Jabatan Utama Presiden Pertama Republik Indonesia (18 Agustus 1945 - 12 Maret 1967)
Partai Politik Partai Nasional Indonesia (PNI)
Karya Monumental Pidato Lahirnya Pancasila (1945), Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Stadion Gelora Bung Karno
Istri Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar
Anak Terkemuka Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra

Latar Belakang Keluarga dan Tempaan Masa Muda

Lahir pada fajar 6 Juni 1901 di Jalan Pandean IV Nomor 40 Surabaya, Soekarno mula-mula diberi nama Koesno Sosrodihardjo oleh kedua orang tuanya, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Karena kerap didera sakit saat masih kanak-kanak, sang ayah memutuskan mengganti namanya menjadi Soekarno, terilhami oleh ksatria Karna dalam wiracarita Bharatayudha yang dipadukan dengan awalan su yang bermakna utama. Masa kecilnya dilalui berpindah-pindah mengikuti penugasan sang ayah sebagai guru sekolah dasar pribumi, dari Surabaya, Tulungagung, hingga Mojokerto.

Pendidikan formalnya ditempuh di Eerste Inlandsche School Mojokerto, sebelum dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk menguasai bahasa Belanda sebagai syarat mutlak melanjutkan studi lanjutan. Pada tahun 1916, saat berusia 15 tahun, Soekarno melangkah ke Hoogere Burgerlijke School (HBS) di Surabaya. Di kota pelabuhan inilah karakternya ditempa secara mendalam ketika ia indekos di kediaman pemimpin karismatik Sarekat Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Rumah Tjokroaminoto bukan sekadar tempat tinggal, melainkan kawah candradimuka intelektual tempat Soekarno berinteraksi dengan pemuda-pemuda pergerakan beraneka haluan politik, mulai dari Semaun, Alimin, Musso, hingga Kartosoewirjo.

Selepas merampungkan studi di HBS pada tahun 1921, Soekarno melanjutkan pendidikan tinggi teknik ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS, kini Institut Teknologi Bandung). Di bawah bimbingan Guru Besar Charles Prosper Wolff Schoemaker, ia mendalami arsitektur dan rancang bangun sipil. Pada 3 Juli 1926, Soekarno resmi menyandang gelar insinyur teknik sipil bersama 3 lulusan pribumi lainnya. Kendati sempat membuka biro arsitek bersama Ir. Anwari di Bandung, panggilan perjuangan kemerdekaan tanah air jauh lebih mendesak daripada karier profesionalnya sebagai insinyur bangunan.

Pergerakan Radikal dan Pendirian Partai Nasional Indonesia

Kesadaran politik Soekarno kian mengkristal di Bandung. Pada 29 Oktober 1925, ia memprakarsai berdirinya Algemeene Studieclub, kelompok diskusi intelektual yang aktif menentang dominasi kolonialisme Belanda. Transformasi pergerakan berlanjut ketika Soekarno bersama rekan-rekannya mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927. PNI mengadopsi asas radikal non-kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda, dengan cita-cita tunggal: kemerdekaan politik total bagi bangsa Indonesia.

Kemampuan pidatonya yang memikat ribuan massa rakyat di berbagai rapat akbar lekas mencemaskan Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff. Pada 29 Desember 1929, Soekarno ditangkap di Yogyakarta selepas berpidato dan dijebloskan ke Penjara Banceuy Bandung. Di hadapan majelis hakim kolonial di Pengadilan Landraad Bandung pada 18 Agustus 1930, ia membacakan pledoi monumental setebal 180 halaman yang bertajuk Indonesia Menggugat. Nota pembelaan tersebut mengguliti motif eksploitasi ekonomi imperialisme modern dan memprediksi runtuhnya kekuasaan kolonial di Asia.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya, dan kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat."

Meskipun dijatuhi hukuman 4 tahun kurungan di Penjara Sukamiskin dan kemudian dibebaskan lebih awal pada akhir 1931, represi kolonial tidak berhenti. Pada Agustus 1933, Soekarno kembali ditangkap oleh aparat kolonial. Tanpa proses peradilan formal, ia diasingkan ke Ende di Pulau Flores dari tahun 1934 hingga 1938. Selama 4 tahun di Ende, di bawah keteduhan pohon sukun bercabang lima menghadap pantai, perenungan batin Soekarno melahirkan konsep dasar Pancasila. Pada tahun 1938, lokasi pengasingannya dipindahkan ke Bengkulu hingga invasi militer Jepang tiba pada awal 1942.

Proklamasi Kemerdekaan dan Kelahiran Falsafah Pancasila

Masuknya bala tentara Jepang mengubah peta pergerakan secara drastis. Soekarno memilih strategi kooperasi taktis demi melindungi keselamatan rakyat sekaligus menyiapkan struktur politik kemerdekaan. Bersama Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur dalam Empat Serangkai, ia memobilisasi kesadaran kebangsaan di seluruh pelosok Pulau Jawa.

Puncak perumusan dasar filosofis negara terjadi dalam Sidang Pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Dalam pidato tanpa teks selama 1 jam penuh, Soekarno mengusulkan 5 prinsip dasar bagi Indonesia merdeka yang ia beri nama Pancasila: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Konsep ini kemudian disempurnakan menjadi Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945 oleh Panitia Sembilan.

Soekarno dan Mohammad Hatta
Soekarno bersama Mohammad Hatta dalam kepemimpinan Dwi-Tunggal yang memandu diplomasi dan perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia.

Kekalahan telak Jepang pada Perang Pasifik mempercepat desakan kaum pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu persetujuan Tokyo. Pada Jumat pagi, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, bertempat di serambi kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya, 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan UUD 1945 serta memilih Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Sepanjang kurun perang kemerdekaan 1945 hingga 1949, kepemimpinan Dwi-Tunggal memandu kombinasi perjuangan bersenjata dan diplomasi meja perundingan menghadapi agresi militer Belanda. Kendati sempat ditawan militer Belanda di Prapat dan Bangka pada Agresi Militer II Desember 1948, wibawa politik Soekarno tetap berdiri kokoh hingga Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara penuh pada Konferensi Meja Bundar Desember 1949.

Diplomasi Geopolitik Global dan Kepemimpinan Non-Blok

Memasuki dekade 1950-an, Soekarno mengarahkan pandangannya ke arena geopolitik internasional. Ia menolak keras dikotomi Perang Dingin yang membelah dunia menjadi Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet. Menjawab ketegangan global tersebut, Soekarno memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Gedung Merdeka Bandung pada 18 sampai 24 April 1955.

Konferensi bersejarah yang dihadiri oleh delegasi dari 29 negara merdeka dan gerakan pembebasan di Asia serta Afrika tersebut melahirkan Dasa Sila Bandung. Dokumen ini menjadi pedoman bersama bagi penghapusan kolonialisme, pengakuan kesetaraan rasial, dan kedaulatan wilayah. Keberhasilan Konferensi Asia Afrika menjadi batu loncatan langsung bagi berdirinya Gerakan Non-Blok pada KTT Pertama di Beograd, Yugoslavia, September 1961, bersama Presiden Josip Broz Tito, Presiden Gamal Abdel Nasser, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, dan Presiden Kwame Nkrumah.

Wibawa diplomasi Soekarno kian bersinar saat ia berpidato di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-15 di New York pada 30 September 1960. Melalui pidato termasyhur bertajuk To Build the World Anew (Membangun Dunia Kembali), Soekarno menawarkan Pancasila sebagai piagam internasional bagi tatanan dunia baru yang damai dan berkeadilan. Pidatonya menantang dominasi negara-negara besar di Dewan Keamanan PBB serta menuntut perombakan struktur kelembagaan dunia agar lebih inklusif bagi negara-negara berkembang.

"Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."

Babak Mutakhir: Pencabutan TAP MPRS XXXIII/1967 dan Pemulihan Nama Baik (2024-2026)

Dinamika politik domestik pada pertengahan dekade 1960-an membawa pergolakan dahsyat pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965. Melalui Sidang Istimewa MPRS pada Maret 1967, ditetapkan Ketetapan MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 yang mencabut kekuasaan eksekutif Presiden Soekarno serta memuat pertimbangan yang menyudutkannya dalam peristiwa kelam tersebut. Selama puluhan tahun, klausul hukum ini menjadi beban sejarah bagi keluarga besar Bung Karno dan rakyat Indonesia.

Titik terang pemulihan sejarah secara resmi terwujud pada tanggal 9 September 2024 di Gedung MPR RI, Senayan, Jakarta. Pimpinan MPR RI yang diketuai Bambang Soesatyo secara resmi menyerahkan surat keputusan pimpinan MPR kepada keluarga besar Bung Karno, yang dihadiri oleh Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. Surat tersebut menegaskan bahwa TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 dinyatakan resmi tidak berlaku lagi.

Dalam keputusan yuridis tersebut, MPR menegaskan bahwa seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada Presiden Soekarno tidak pernah dibuktikan secara sah di hadapan pengadilan hukum mana pun. Putra sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra, menyampaikan rasa terima kasih mendalam karena setelah 57 tahun 6 bulan penantian panjang, keadilan sejarah akhirnya dipulihkan oleh negara demi menjernihkan integritas historiografi nasional.

Pengakuan internasional terhadap warisan Bung Karno juga kian berkilau pada periode 2024 hingga 2026. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) secara resmi menetapkan arsip pidato Bung Karno To Build the World Anew di PBB tahun 1960 dan dokumen Konferensi Asia Afrika 1955 sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Menyambut momentum 80 tahun Kemerdekaan Indonesia pada Agustus 2025 serta peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika, pemikiran geopolitik Soekarno mengenai Trisakti berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan kembali menjadi rujukan sentral kepemimpinan nasional di era multipolar.

Warisan Kebangsaan dan Pengaruh Abadi

Soekarno wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta pada 21 Juni 1970 dalam usia 69 tahun, dan dimakamkan berdampingan dengan sang ibunda di Blitar, Jawa Timur. Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Proklamator pada tahun 1986 serta gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2012 melalui Keputusan Presiden Nomor 83/TK/2012.

Peninggalan Bung Karno melampaui rentang hayat fisiknya. Dari segi tata kota, ia meninggalkan mahakarya arsitektur yang kini menjadi simbol kebanggaan ibu kota, seperti Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, Gelora Bung Karno, Gedung Sarinah, hingga Hotel Indonesia. Namun, warisan terbesarnya tetap berada pada fondasi ideologis: Pancasila sebagai pemersatu majemuknya ribuan pulau, ratusan etnis, dan beragam agama di tanah air. Di tengah transformasi geopolitik global abad ke-21, visi kemandirian bangsa yang dicetuskan sang penyambung lidah rakyat Indonesia tetap abadi memandu perjalanan Republik Indonesia.

Referensi

  1. Adams, C., & Soekarno. (1965). Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams. The Bobbs-Merrill Company.
  2. Kahin, G. M. (1952). Nationalism and Revolution in Indonesia. Cornell University Press.
  3. Legge, J. D. (2003). Sukarno: A Political Biography. Archipelago Press.
  4. Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Palgrave Macmillan.
  5. Sekretariat Jenderal MPR RI. (2024). Penegasan Status Hukum Ketetapan MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 dan Pemulihan Hak Konstitusional Presiden Soekarno. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
  6. UNESCO. (2023). Archives of the Asian-African Conference and Sukarno Speech to the UN General Assembly: Memory of the World Register. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
Topik Terkait:#Proklamator#Fatmawati#Presiden Indonesia#Indonesia#Biografi Soekarno

Pertanyaan Seputar Tokoh Ini

Kapan dan di mana Soekarno dilahirkan?

Soekarno dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama lahir Koesno Sosrodihardjo.

Apa peran monumental Soekarno dalam perumusan dasar negara?

Soekarno merumuskan dan menyampaikan konsep lima dasar negara yang dinamakan Pancasila pada Sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.

Bagaimana status hukum TAP MPRS Nomor XXXIII/1967 saat ini?

Pada 9 September 2024, MPR RI secara resmi menyatakan TAP MPRS Nomor XXXIII/1967 tidak berlaku lagi serta memulihkan nama baik Presiden Soekarno dari segala tuduhan yang tidak pernah terbukti di pengadilan.

Apa pengakuan internasional terbaru dari UNESCO terkait Soekarno?

UNESCO telah menetapkan arsip pidato Soekarno di PBB tahun 1960 bertajuk To Build the World Anew dan arsip Konferensi Asia Afrika 1955 sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).

Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content