Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi

Biografi Umar bin Khattab, Sang Al-Faruq Pembangun Fondasi Kekhalifahan

NOleh: Nurdyansa
(Diperbarui: 14 Sep 2026)Wikidata: Q8467

Biografiku.com | Pada 3 November 644 Masehi, saat sedang mengimami salat subuh berjamaah di Masjid Nabawi Madinah, seorang budak Persia bernama Abu Lu'lu'ah menyusup dari belakang lalu menusukkan belati berulang kali ke punggung sang imam. Tiga hari kemudian Umar bin Khattab, khalifah kedua umat Islam, menghembuskan napas terakhirnya. Sepuluh tahun pemerintahannya singkat, tetapi warisannya menetapkan bentuk peradaban Islam selama berabad-abad: dari sistem administrasi negara, kalender Hijriah, hingga ekspansi wilayah yang mengubah kekhalifahan dari sekadar kekuatan jazirah Arab menjadi kekuatan dunia.

Umar lahir sekitar tahun 584 Masehi di Makkah dari klan Bani Adi, suku Quraisy. Ayahnya, Khattab bin Nufayl, dikenal sebagai orang yang keras, dan Umar kecil ikut menggembala kambing keluarganya. Ia tumbuh sebagai pemuda yang berbadan tegap, terampil bersilat dan menunggang kuda, serta dikenal sebagai pegulat yang disegani. Meski demikian ia juga terdidik, termasuk membaca dan menulis, hal yang langka di Makkah masa itu. Sebelum masuk Islam ia pernah berniaga ke Syam dan mengenal peta politik kawasan itu, bekal yang kelak berguna saat memimpin perang melawan Byzantium. Berbeda dengan banyak sahabat lain, Umar semula justru termasuk penentang paling garang terhadap ajaran Nabi Muhammad. Riwayat klasik menyebut ia pernah bertekad membunuh Nabi, lalu berbalik arah setelah mendapati adiknya Fatimah binti Khattab telah lebih dulu memeluk Islam. Sekitar tahun 615, enam tahun setelah kerasulan, ia menyatakan keislamannya secara terbuka, dan peristiwa itu disebut-sebut sebagai kekuatan baru bagi komunitas muslim yang selama ini beribadah sembunyi-sembunyi.

Pada 625, Nabi menikahi putri Umar, Hafshah binti Umar, yang telah menjanda, menjadikan Umar ipar Rasulullah sebagaimana Abu Bakar. Dalam kehidupan bernegara awal di Madinah, Umar tampil sebagai penasihat yang vokal, ikut hadir dalam perang Badar, Uhud, Khandaq, dan penaklukan Makkah pada 630. Ketika Nabi wafat pada 632, justru Umar yang berperan besar meredakan gejolak dan mendamaikan kaum Muhajirin dan Anshar untuk menerima Abu Bakar sebagai kepala negara. Abu Bakar yang sakit lalu menunjuk Umar sebagai penggantinya, dan pada Agustus 634 Umar resmi menjadi khalifah, yang pertama menyandang gelar Amirul Mukminin, pemimpin orang-orang beriman.

Banyak warga Madinah saat itu cemas dipimpin lelaki yang terkenal keras itu, dan pidato pertamanya langsung menjawab keresahan tersebut. Disebut-sebut ia menyatakan,

"Sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan, terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka."

Pidato itu digelar di hari ketiga setelah pengangkatannya, dan dari sisi lain ia juga menegaskan keberpihakan pada keadilan yang tak kenal pandang bulu, termasuk pada keluarganya sendiri. Saat sekarat pun ia menolak menunjuk langsung penggantinya, dan justru membebankan pilihan pada Dewan Syura enam orang. Utusan terakhirnya pun menitikberatkan urusan hutang pribadi: kepada putranya Abdullah ia berwasiat agar hutangnya dibayar dari hartanya sendiri, bukan dari kas negara. Menurut riwayat, jumlah hutangnya tercatat sekitar 1.086 dirham, bukti betapa ia menjaga tangan dan hatinya dari harta rakyat. Tiga hari sebelum wafat, ia meminta agar kepalanya diletakkan di tanah, bukan di pangkuan, tanda kerendahan hati seorang pemimpin di ujung hayatnya.

Potret Umar bin Khattab, Sang Al-Faruq Pembangun Fondasi Kekhalifahan
Potret resmi Umar bin Khattab, Sang Al-Faruq Pembangun Fondasi Kekhalifahan.

Biodata & Profil Singkat

Nama lengkapUmar bin Khattab bin Nufayl al-Qurasyi al-Adawi
LahirSekitar 584 M, Makkah
Wafat3 November 644 M (24 Dzulhijjah 23 H), Madinah
GelarAmirul Mukminin, Al-Faruq
AnakAbdullah bin Umar, Hafshah binti Umar, Ashim bin Umar, dan lainnya
KekhalifahanAgustus 634 sampai November 644 M (sekitar 10 tahun)
PendahuluAbu Bakar Ash-Shiddiq
PenerusUtsman bin Affan
Dikenal karenaEkspansi besar, pendirian diwan, kalender Hijriah, sistem peradilan

Ekspansi yang Mengubah Peta Dunia

Masa Umar adalah masa perang besar melawan dua kekuatan adidaya zaman itu, Byzantium dan Persia Sasaniyah. Pasukan Islam merebut Damaskus pada 636, lalu memenangkan pertempuran penentu Yarmuk di Syam dan al-Qadisiyyah di Irak pada tahun yang sama, 636. Setahun kemudian seluruh Levant jatuh, dan pada 640 Amr bin Ash merebut Mesir setelah kemenangan di Heliopolis. Pada 642 pasukan pimpinan Sa'd bin Abi Waqqash menuntaskan kemenangan di Nahawand, pertempuran yang oleh sejarawan Muslim dijuluki fathul futuh, kemenangan segala kemenangan, yang menandakan runtuhnya imperium Persia Sasaniyah. Ia membangun kota garnisun Fustath di Mesir serta Basrah dan Kufah di Irak, kota-kota yang kelak menjadi pusat peradaban. Ia pula yang menerima penyerahan Yerusalem pada 638, memasuki kota itu dengan pakaian sederhana, dan menjamin keamanan penduduk Kristen lewat perjanjian yang dikenal sebagai Ikhtiyar Umar, suatu tonggak sejarah kebebasan beragama.

Cara Umar mengelola perang sama pentingnya dengan kemenangannya. Ia menunjuk panglima berdasarkan kemampuan, bukan kedekatan, dan gencatan komando dijalankan dari Madinah lewat surat-surat strategis. Namun kekuasaan besar itu tidak membuatnya lepas kontrol. Kisah paling terkenal terjadi menjelang akhir hayatnya, ketika warga Mesir mengadu bahwa putra Amr bin Ash, gubernur Mesir, telah memukul seorang pemuda Koptik tanpa alasan. Umar memanggil keduanya ke Madinah, lalu memerintahkan si pemuda membalas pukulan itu di depan majelis. Kepada Amr bin Ash ia melempar kalimat yang terus dikenang sampai kini,

"Sejak kapan kalian memperbudak manusia yang dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?"

Kalimat itu menegaskan prinsip dasar pemerintahannya: jabatan adalah amanah, dan rakyat bukan milik pejabat.

Membangun Peradaban dan Tata Kelola

Umar bukan hanya panglima perang. Ia peletak dasar administrasi kekhalifahan. Ia mendirikan diwan, semacam kementerian pencatatan penduduk dan pembagian tunjangan pasukan, yang kelak berkembang menjadi badan pemerintahan berpengaruh. Ia memulai penanggalan Hijriah sebagai kalender resmi negara pada 639, dengan penetapan hijrahnya Nabi ke Madinah sebagai tahun pertama. Ia menunjuk hakim atau qadhi sebagai profesi tersendiri, cikal bakal sistem peradilan Islam, dan mencopot pejabat yang terbukti menyalahgunakan wewenang. Ia juga mengatur gudang pangan negara yang pada masa paceklik 638, tahun yang dikenal sebagai tahun ramadha atau tahun kelaparan, digunakannya untuk membagikan bantuan ke seluruh jazirah Arab. Dalam peristiwa itu riwayat menyebut Umar menolak makan makanan mewah selama rakyatnya kelaparan, dan justru makan roti kasar yang dicampur minyak.

Dalam surat kepada Abu Musa al-Ash'ari, gubernur Bashrah, ia merumuskan prinsip peradilan yang ringkas tapi mengikat,

"Keadilan adalah fondasi pemerintahan, dan tidak ada kebaikan dalam kekuasaan tanpa keadilan."

Baginya kekuasaan bukan privilese melainkan tanggung jawab yang kelak dihitung sebesar-besarnya. Riwayat menyebut ia sering berpatroli malam menyamar di Madinah untuk memastikan tidak ada warganya yang kelaparan atau dizalimi. Tradisi keilmuan pun ia dukung: ia mendorong penghimpunan bacaan Alquran menjadi satu mushaf, keputusan yang menyelamatkan kesatuan teks suci setelah banyak penghafal gugur dalam peperangan. Kehidupan pribadinya tetap sangat sederhana, tidur di pekat masjid dan memakai pakaian tambal sulam, keseharian yang oleh sejarawan digambarkan sebagai asketisme yang keras.

Akhir Hayat dan Warisan

Sepeninggal Abu Ubaidah yang wafat karena wabah pes pada 639, Umar kehilangan salah satu orang kepercayaannya. Penyakit pes itu pula yang menghapuskan pilihan penggantinya, termasuk nama besar seperti Khalid bin Walid yang telah wafat lebih dulu. Saat ditikam pada 644, ia menunjuk dewan enam orang untuk memilih pengganti, dan dewan itu kemudian menetapkan Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga. Umar wafat dan dimakamkan di Masjid Nabawi, berdampingan dengan Nabi Muhammad dan Abu Bakar.

Sepuluh tahun itu meninggalkan negara yang membentang dari Libya di barat hingga Persia di timur, dengan jalan raya, kantor pos, dan sistem gaji negara yang tertata. Namun warisan terbesarnya justru bukan luas wilayah, melainkan teladan tentang kekuasaan yang dijalankan dengan rasa diawasi Sang Pencipta. Sepuluh tahun kepemimpinannya menjadi rujukan tentang bagaimana kekuatan dan keadilan bisa berjalan seiring, dan namanya terus disebut setiap kali umat Islam membicarakan ideal pemimpin yang tegas tapi berpihak pada rakyat kecil.

Referensi

Britannica. (2026). _Umar I_. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Umar-I

World History Encyclopedia. (2026). _Umar_. https://www.worldhistory.org/Umar

Wikipedia. (2026). _Umar_. Wikimedia Foundation. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Umar

Topik Terkait:#Islam#Arab Saudi#Muslim#Khulafaur Rasyidin#Khalifah Islam#Sahabat Rasulullah#biografi umar bin khattab

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content