Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi Tokoh Dunia

Biografi Winston Churchill: Perdana Menteri Inggris di Masa Perang Dunia II

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 14 Sep 2026)•Wikidata: Q8016

Pada 10 Mei 1940, saat pasukan Jerman menerobos garis pertahanan Eropa Barat dan sebagian besar elite politik Inggris mempertimbangkan perundingan dengan Adolf Hitler, seorang politikus berusia 65 tahun naik ke kursi Perdana Menteri dan menegaskan satu hal: Inggris tidak akan menyerah. Winston Churchill mengubah ketakutan sebuah bangsa menjadi tekad bertahan, dan keputusan itu menentukan arah Perang Dunia II hingga kemenangan Sekutu lima tahun kemudian.

Potret Winston Churchill
Potret resmi Winston Churchill.

Biodata dan Profil Singkat

KeteranganData
Nama LengkapSir Winston Leonard Spencer Churchill
Lahir30 November 1874, Istana Blenheim, Woodstock, Inggris
Wafat24 Januari 1965, London, Inggris (usia 90 tahun)
Partai PolitikKonservatif, Liberal, kembali ke Konservatif
Jabatan TertinggiPerdana Menteri Inggris (1940-1945 dan 1951-1955)
AlmamaterRoyal Military College Sandhurst
PenghargaanHadiah Nobel Sastra (1953), gelar kebangsawanan Sir (1953)

Masa Muda di Kalangan Aristokrat

Winston Leonard Spencer Churchill lahir pada 30 November 1874 di Istana Blenheim, kediaman megah keluarga Duke of Marlborough di Woodstock, Oxfordshire. Ayahnya, Lord Randolph Churchill, adalah politikus Konservatif terkemuka yang pernah menjabat Kanselir Keuangan, sementara ibunya, Jennie Jerome, merupakan putri pengusaha kaya Amerika Serikat, Leonard Jerome.

Meski berasal dari keluarga berpengaruh, masa kecil Churchill tidak diwarnai kehangatan orang tua. Ia diasuh oleh pengasuh bernama Elizabeth Anne Everest, yang kelak disebutnya sebagai sahabat paling dekatnya hingga Everest meninggal pada 1895. Hubungan dengan ayahnya dingin dan penuh jarak. Lord Randolph memandang putranya kurang berbakat, terutama karena nilai akademik Churchill yang buruk di Sekolah Harrow.

Di Harrow, Churchill menempati kelas terendah karena gagal ujian bahasa Latin. Namun di balik reputasi akademik yang suram, ia menunjukkan keunggulan dalam sejarah dan bahasa Inggris, serta pernah menjuarai kompetisi anggar sekolah. Setelah tiga kali mencoba, ia akhirnya diterima di Royal Military College Sandhurst dan lulus pada 1894 dengan peringkat kedelapan dari 150 kadet.

Perjalanan Militer dan Koresponden Perang

Karier militer muda Churchill dimulai sebagai perwira kavaleri di resimen 4th Queen's Own Hussars tahun 1895. Ia ditempatkan di India, tetapi kehidupan garnisun yang tenang tidak memenuhi ambisinya. Dengan memanfaatkan jaringan ibunya, ia menjadi koresponden perang untuk Daily Graphic saat konflik di Kuba, di mana untuk pertama kalinya ia berada di bawah tembakan musuh tepat pada ulang tahunnya yang ke-21 tahun 1895.

Tahun 1897, ia menulis laporan dari garis depan saat pasukan Inggris menumpas pemberontakan Pathan di perbatasan barat laut India. Dari pengalaman itu lahir buku pertamanya, The Story of the Malakand Field Force, terbit tahun 1898. Setahun berikutnya, ia mengikuti kampanye Sudan dan ikut dalam serangan kavaleri di Pertempuran Omdurman, salah satu serbuan kavaleri terakhir dalam sejarah militer Inggris, yang dituangkannya dalam buku The River War (1899).

Ketika Perang Boer meletus di Afrika Selatan pada 1899, Churchill meliput untuk Morning Post dengan bayaran 250 poundsterling per bulan. Kereta militer yang ditumpanginya disergap pasukan Boer dan ia menjadi tahanan perang di Pretoria. Pelarian dramatisnya melintasi hampir 480 kilometer menuju wilayah Portugis menjadikannya pahlawan di mata publik Inggris, reputasi yang kelak menjadi modal politik berharga.

Karier Politik Awal dan Pergulatan Dua Partai

Churchill terjun ke politik dan terpilih sebagai anggota parlemen untuk Oldham pada 1900 di bawah bendera Partai Konservatif. Namun empat tahun kemudian, ia pindah ke Partai Liberal karena menolak kebijakan proteksionisme partainya. Di kubu Liberal, kariernya melesat: ia menjabat Presiden Dewan Perdagangan pada usia 33 tahun dan Menteri Dalam Negeri pada 1910.

Pada 1911, ia diangkat sebagai Lord Pertama Angkatan Laut dan memimpin modernisasi armada Inggris jelang Perang Dunia I. Namun kampanye Gallipoli tahun 1915 yang ia rancang berakhir bencana dengan korban lebih dari 200.000 tentara Sekutu. Churchill memikul tanggung jawab, mundur dari pemerintahan, dan pergi ke garis depan Prancis sebagai komandan batalyon. Periode di bawah bayang kegagalan Gallipoli itu kemudian ia kenang sebagai babak paling pahit dalam hidupnya.

Setelah Perang Dunia I, Churchill pulih perlahan. Ia kembali ke Partai Konservatif dan diangkat menjabat Kanselir Keuangan pada 1924 di bawah Perdana Menteri Stanley Baldwin. Kebijakannya mengembalikan standar emas pada 1925 justru menekan ekspor Inggris dan memicu kericuhan buruh tambang batu bara, termasuk pemogokan umum 1926.

"Keberhasilan bukanlah akhir dari segalanya, kegagalan bukanlah sesuatu yang fatal. Yang terpenting adalah keberanian untuk melanjutkan."

Dasawarsa di Luar Pemerintahan dan Peringatan tentang Hitler

Sepanjang 1929 hingga 1939, Churchill berada di luar kabinet, sebuah masa yang disebutnya sebagai years in the wilderness. Dari kursi belakang parlemen, ia terus memperingatkan bahaya pemersenjataan ulang Jerman di bawah Adolf Hitler dan kebijakan appeasement pemerintah Neville Chamberlain. Pernyataannya sering diremehkan, termasuk oleh rekan separtainya sendiri.

Peringatan itu akhirnya terbukti. Ketika Jerman menyerbu Polandia pada 1 September 1939, Inggris menyatakan perang dan Churchill kembali dipanggil menempati posisi Lord Pertama Angkatan Laut. Setelah Chamberlain kehilangan dukungan parlemen, Raja George VI menunjuk Churchill sebagai Perdana Menteri pada 10 Mei 1940, hari yang sama ketika serangan kilat Jerman melanda Belanda, Belgia, dan Prancis.

Kepemimpinan Masa Perang yang Mengubah Sejarah

Churchill membentuk pemerintahan koalisi dan menyampaikan pidato pertamanya di House of Commons pada 13 Mei 1940. Di hadapan anggota parlemen, ia memaparkan kenyataan keras yang harus diterima rakyat Inggris sekaligus tekad untuk terus berjuang.

"Saya tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan selain darah, kerja keras, air mata, dan keringat. Kami sekarang sedang menghadapi malapetaka yang sangat mengerikan. Kami memiliki di hadapan kami pergulatan panjang dan penuh kesulitan."

Di bawah komandonya, Inggris bertahan menghadapi pengeboman besar-besaran Jerman yang dikenal sebagai the Blitz antara September 1940 hingga Mei 1941. Pilot-pilot Angkatan Udara Inggris memenangkan Pertempuran Britania di udara, dan Churchill mengabadikan pengorbanan mereka dalam salah satu pidatonya yang paling dikenang.

"Belum pernah dalam sejarah peperangan manusia, begitu banyak orang berutang begitu besar kepada begitu sedikit orang."

Churchill menjalin aliansi erat dengan Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt dan Pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin. Ia menghadiri konferensi-konferensi strategis di Teheran, Yalta, dan Casablanca yang menentukan strategi gabungan Sekutu. Setelah Jerman menyerbu Uni Soviet pada Juni 1941 dan Amerika Serikat masuk perang akhir Desember 1941, Churchill mendorong pendaratan di Normandia pada 6 Juni 1944 yang menjadi titik balik kekalahan Nazi Jerman.

Ironisnya, kemenangan dalam perang tidak menghadirkan kemenangan politik. Pada pemilu Juli 1945, Partai Konservatif kalah telak dari Partai Buruh pimpinan Clement Attlee, dan Churchill harus meninggalkan kursi perdana menteri. Kekalahan itu ia terima dengan lapang, meski mengaku pahit, seraya menegaskan bahwa demokrasi harus tetap dihormati.

Masa Pascaperang dan Pidato Tirai Besi

Di luar pemerintahan, Churchill tetap vokal di panggung dunia. Pada 5 Maret 1946, ia berpidato di Fulton, Missouri, Amerika Serikat, memperingatkan merosotnya hubungan Barat dan Soviet dengan metafora yang kelak sangat terkenal.

"Sebuah tirai besi telah turun di atas seluruh benua."

Pidato itu menjadi penanda awal Perang Dingin dan memperlihatkan ketajaman Churchill membaca pergeseran geopolitik. Pada pemilu 1951, Konservatif kembali berkuasa dan Churchill untuk kedua kalinya menjadi perdana menteri hingga pengunduran dirinya pada April 1955 di usia 80 tahun.

Tahun 1953 menjadi tahun pengakuan atas warisan intelektualnya. Ia menerima gelar kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II sehingga resmi menjadi Sir Winston Churchill, dan meraih Hadiah Nobel Sastra untuk karya sejarahnya yang monumental, termasuk seri enam jilid The Second World War dan A History of the English Speaking Peoples. Komite Nobel menilai karyanya mampu menyatukan kehebatan orasi historis dengan kualitas karya sejarah yang mendalam.

Tahun-Tahun Terakhir dan Pengakuan Dunia 2024 hingga 2026

Kesehatan Churchill menurun sejak ia terserang stroke pada 1953, meski ia sempat pulih dan tetap bertugas di parlemen hingga 1964. Ia meninggal pada 24 Januari 1965, tepat 70 tahun setelah kematian ayahnya, Lord Randolph. Inggris memberinya penghormatan pemakaman kenegaraan di Katedral St. Paul yang dihadiri perwakilan pemimpin dari 112 negara, salah satu upacara kenegaraan terbesar dalam sejarah modern. Jenazahnya kemudian dikebumikan di makam keluarga di St. Martin's Church, Bladon, Oxfordshire.

Pengakuan atas warisan Churchill terus berlanjut hingga era 2024 sampai 2026. Tahun 2024 menandai peringatan 150 tahun kelahirannya yang dirayakan melalui berbagai pameran di Istana Blenheim dan Churchill Archives Centre di University of Cambridge, menampilkan surat-surat pribadi, foto, serta naskah pidato bersejarahnya. Gelaran itu dibarengi debat akademik yang jujur menimbang dua sisi warisannya, yakni kepemimpinan masa perang di satu sisi, dan catatan kontroversial terkait imperialisme serta kelaparan Bengal 1943 di sisi lain.

Imperial War Museums London hingga 2025 terus memperluas koleksi Churchill War Rooms yang menjadi salah satu situs kunjungan sejarah paling diminati di Inggris, sementara berbagai biografi dan kajian sejarah baru terbit untuk memperingati 60 tahun kepergiannya sepanjang 2025. Lembaga kajian Churchill di universitas-universitas utama Inggris dan Amerika Serikat tetap menjadikan karya serta pidatonya sebagai referensi utama studi kepemimpinan dalam krisis.

Churchill meninggalkan warisan yang kompleks namun tidak terbantahkan. Ia adalah penulis lebih dari 40 buku dan pemimpin yang namanya menjadi simbol daya tahan sebuah bangsa di ambang kegelapan perang dunia. Tahun 2025 yang menandai 60 tahun kematiannya dimeriahkan pameran dan diskusi akademik berskala internasional yang menegaskan kembali posisinya dalam daftar tokoh abad ke-20 yang paling berpengaruh.

Referensi

Churchill Archives Centre. (2024). 150th anniversary of the birth of Sir Winston Churchill. University of Cambridge. https://archives.chu.cam.ac.uk

International Churchill Society. (2025). Remembering Winston Churchill on the 60th anniversary of his death. International Churchill Society. https://winstonchurchill.org

Imperial War Museums. (2024). Churchill War Rooms: Visitor information and exhibitions. Imperial War Museums. https://www.iwm.org.uk/visits/churchill-war-rooms

The Nobel Prize. (1953). Winston Churchill: Facts. The Nobel Foundation. https://www.nobelprize.org/prizes/literature/1953/churchill/facts

Blenheim Palace. (2024). Churchill 150: Celebrating the life of Winston Churchill. Blenheim Palace Heritage Foundation. https://www.blenheimpalace.com

Topik Terkait:#Perang Dunia II#Winston Churchill#Perdana Menteri Inggris#Hadiah Nobel Sastra#Sejarah Inggris

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content