Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi Tokoh Dunia

Biografi Mahmoud Ahmadinejad: Dari Pandai Besi Garmsar ke Rumah Aman Mossad

NOleh: Nurdyansa
(Diperbarui: 17 Sep 2026)Wikidata: Q34448

Mahmoud Ahmadinejad adalah presiden keenam Republik Islam Iran yang memerintah dari 2005 hingga 2013, dikenal luas karena populisme ekonominya, retorika anti-Israel dan anti-Barat yang keras, serta akselerasi program nuklir Iran yang memicu sanksi internasional berlapis. Lebih dari satu dasawarsa setelah meninggalkan Istana Pastur, namanya kembali menguasai berita dunia melalui jalan yang nyaris tak masuk akal: gagal maju dalam tiga pemilihan presiden berturut-turut, menjadi whistleblower soal penyusupan Mossad di jantung intelijen Iran, dan pada 2026 terungkap sebagai figur yang diam-diam dibina Israel dan Amerika Serikat untuk skenario pergantian rezim, sebelum akhirnya dilaporkan berada dalam tahanan rumah oleh Garda Revolusi.

Mahmoud Ahmadinejad

Biodata & Profil Singkat

KeteranganData
Nama LengkapMahmoud Sabbaghian (Ahmadinejad)
Lahir28 Oktober 1956, Aradan dekat Garmsar, Provinsi Semnan, Iran
AlmamaterUniversitas Sains dan Teknologi Iran (Teknik Sipil, PhD 1997)
Peran UtamaPresiden Republik Islam Iran ke-6 (2005-2013)
Jabatan LainWali Kota Teheran (2003-2005), Gubernur Provinsi Ardabil (1993-1997)
PartaiAliansi Pembangun Iran Islam (Abadgaran)
KemiliteranKorps Garda Revolusi Islam (peran Iran-Irak)
Status Terkini (2026)Dilaporkan dalam tahanan rumah oleh intelijen IRGC

Masa Muda dan Perang yang Membentuknya

Lahir pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan dekat Garmsar, Ahmadinejad adalah anak keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga pandai besi bernama Ahmad. Keluarganya pindah ke Teheran saat ia berusia satu tahun, dan nama keluarga diubah dari Sabbaghian menjadi Ahmadinejad, yang berakar dari kata "Ahmad", salah satu nama Nabi Muhammad. Ia tumbuh di lingkungan kelas pekerja Teheran, latar yang kelak menjadi modal utama politik populismenya.

Pendidikannya ditempuh di bidang teknik sipil di Universitas Sains dan Teknologi Iran, tempat ia meraih gelar doktor pada 1997. Ketika Revolusi Islam 1979 mengguncang Iran, ia tergabung dalam gerakan mahasiswa pendukung Ayatollah Ruhollah Khomeini. Perang Iran-Irak (1980-1988) menjadi kawah candradimukanya: ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan bertugas di kawasan Kurdistan, membangun jaringan loyalitas di kalangan veteran perang yang kelak menjadi basis politiknya.

Setelah perang, ia menapaki karier birokratis sebagai wali kota di Maku dan Khoy, penasihat Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, lalu Gubernur Provinsi Ardabil (1993-1997). Jabatan Wali Kota Teheran pada 2003 menjadi panggung nasionalnya: ia menggulirkan program pelayanan publik prorakyat miskin, memotong gaji pejabat kota, dan menata proyek infrastruktur sambil menguatkan simbolisme keagamaan di ruang publik.

Kemenangan Mengejutkan 2005 dan Populisme Kelas Bawah

Pemilihan presiden 2005 berlangsung dalam dua putaran. Ahmadinejad, yang semula dipandang sebelah mata, mengalahkan mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani dengan 61,7 persen suara pada putaran kedua, sebuah kemenangan yang ditopang mobilisasi rakyat miskin kota dan pedesaan serta dukungan jaringan IRGC dan milisi Basij.

Sebagai presiden, ia menerapkan kebijakan ekonomi yang oleh para kritikusnya disebut "populisme bensin murah": subsidi energi dan pangan besar-besaran, pinjaman perumahan murah, serta dana keadilan (saham-e edalat) bagi warga miskin. Namun kombinasi pengeluaran ekspansif, harga minyak yang berfluktuasi, dan sanksi internasional mendorong inflasi dua digit dan pengangguran tinggi. Mensharif University dan kalangan ekonom mengeritik manajemen fiskal era itu sebagai salah satu yang paling ceroboh dalam sejarah republik.

Pidato-pidatonya di seminar dan kampanye selalu menegaskan romantika kelas bawah yang menjadi identitas politiknya:

"Saya berasal dari rakyat, dari keluarga sederhana. Saya merasakan denyut kehidupan masyarakat miskin, dan karena itu saya memperjuangkan keadilan."

Kontroversi Nuklir, Holocaust, dan Ketegangan dengan Barat

Masa kepresidenannya menandai titik balik paling tegas sikap Iran terhadap Barat. Pada 26 Oktober 2005, dalam konferensi "Dunia Tanpa Zionisme" di Teheran, ia mengutip ayatollah pendiri republik dengan pernyataan yang mengguncang dunia:

"Sebagaimana disabdakan Imam, rezim yang menduduki Yerusalem harus lenyap dari halaman sejarah."

Pernyataan itu, yang oleh media Barat diterjemahkan bebas sebagai "Israel harus dihapus dari peta", memicu kecaman internasional dan menjadi cap permanen pada citranya. Pada Desember 2006, ia memfasilitasi konferensi yang mempertanyakan kebenaran historis Holocaust, sikap yang memperdalam isolasi diplomatik Iran.

Di bidang nuklir, pemerintahannya melanjutkan pengayaan uranium meski menghadapi enam resolusi Dewan Keamanan PBB dan empat putaran sanksi. Ahmadinejad bersikeras program atom Iran murni damai. Pada akhir masa jabatannya, Iran telah mengoperasikan ribuan sentrifugal di Natanz dan Fordow, dan persediaan uranium tingkat 20 persen yang menukarkan posisi tawar Iran namun memicu aksi sabotase, termasuk virus komputer Stuxnet pada 2010.

Krisis 2009 dan Gelombang Gerakan Hijau

Pemilihan presiden 12 Juni 2009 mencatat partisipasi 85 persen, tertinggi dalam sejarah republik. Komisi pemilihan mendeklarasikan Ahmadinejad menang 62,63 persen atas penantangnya Mir-Hossein Mousavi (33,75 persen), hasil yang ditolak oposisi sebagai kecurangan terstruktur. Gelombang unjuk rasa jutaan orang, yang dikenal sebagai Gerakan Hijau, diguncang represi keamanan: puluhan demonstran tewas, ribuan ditangkap, dan pengadilan massal digelar.

Kemenangan kedua itu justru menjadi awal keretakannya dengan kubu konservatif garis keras dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pada 2011, perseteruan terbuka pecah ketika Ahmadinejad memboikot tugas 11 hari setelah Khamenei menganulir pemecatan menteri intelijennya. Ia kemudian terlibat konflik dengan Ketua Parlemen Ali Larijani, dan sejumlah sekutunya, termasuk kepala staf Esfandiar Rahim Mashai, digerus aparatus negara.

Tahun-Tahun Pingsan yang Tak Pernah Diam

Setelah menyerahkan kekuasaan kepada Hassan Rouhani pada Agustus 2013, Ahmadinejad mengajar di almamaternya dan sesekali mengkritik pemerintah lewat akun Twitter, ironis mengingat Twitter diblokir di Iran sejak 2009. Namun ambisi politiknya tak pernah padam. Ia mendaftarkan diri pada pemilihan 2017, 2021, dan 2024 - ketika pemilihan dipercepat pasca tewasnya Presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter. Ketiganya digagalkan Dewan Wali (Guardian Council) yang berada di bawah pengawasan Khamenei.

!Ahmadinejad 2025.jpg?width=1000)

Pada September 2024, dalam wawancara dengan CNN Turk, ia menjatuhkan bom verbal lain: kepala unit kontraintelijen Iran yang dibentuk khusus untuk memburu agen Mossad ternyata adalah agen ganda Israel, dan sekitar 20 anggota timnya ikut berbalik. Menurutnya, para penyusup itulah yang berada di balik pencurian arsip nuklir Iran pada 2018 yang menjadi argumen penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan JCPOA.

"Dinas rahasia Iran sudah membentuk unit untuk menghadapi agen Mossad, tetapi kepala unit itu ternyata adalah agen Mossad sendiri, beserta 20 agen lainnya."

Dari Musuh Nomor Satu Menjadi Aset Diam-diam

Titik balik paling dramatis perjalanan hidupnya terungkap pada 2025 hingga 2026. Investigasi The New York Times yang dipublikasikan 13 Juli 2026 mengungkap operasi bertahun-tahun Mossad dan Amerika Serikat untuk "merawat" Ahmadinejad sebagai aset intelijen dan calon pemimpin transisi Iran pasca-rezim, sebuah skenario yang diangkat setelah ia makin terbuka menjauhi Khamenei.

Rekonstruksinya berdetail. Pada 2023, Ahmadinejad melakukan kontak dengan operatif Israel saat kunjungan konferensi lingkungan di Guatemala, setelah sebelumnya menggelar aksi duduk berjam-jam di bandara Teheran ketika pasukan keamanan melarangnya terbang. Pada 2024, Universitas Layanan Publik Ludovika di Budapest, Hungaria, menggelar konferensi perubahan iklim mengundangnya atas permintaan pejabat tinggi Hungaria, forum yang belakang diakui sebagai kedudukan pertemuan rahasia dengan dinas intelijen Israel. Bekas pejabat AS menyebut pertemuan Budapest itu dihadiri pula oleh bos Mossad saat itu, David Barnea. Israel dilaporkan membiayai sebagian biaya perjalanan dan akomodasinya.

Rektor Ludovika, Gergely Deli, membenarkan perannya dan membela keputusan itu secara terbuka:

"Ada dua musuh, dan kalau kedua musuh ini ingin berbicara satu sama lain, yang terbaik adalah melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membuat mereka berbicara."

Rekam jejak itu menjelaskan perubahan garis politiknya: ia menggambarkan dirinya sebagai reformis model Boris Yeltsin dan bahkan disebut bersedia menormalisasi hubungan dengan Israel bila berkuasa. Penasehat seniornya, Abdolreza Davari, menegaskan motifnya bukan materi:

"Ahmadinejad tidak akan melakukan ini karena uang. Dia punya uang, jaringan ekonominya luas. Dia akan melakukannya demi kekuasaan. Dia ingin berada di pucuk kekuasaan."

Tahanan Rumah Setelah Operasi Epic Fury

Puncak pertikaian ini datang di tengah konflik militer 2026. Pada dini hari 28 Februari 2026, saat serangan rudal dan udara gabungan AS-Israel dalam Operasi Epic Fury, sebuah serangan menghantam kompleks kediamannya. Hari yang sama menandai wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ahmadinejad dikabarkan diselamatkan dan dibawa ke rumah aman Mossad, namun rencana transisi itu berantakan: ia dilaporkan dua kali melepaskan diri dari pengawalnya dan akhirnya menghilang dari publik sebelum muncul kembali dalam prosesi pemakaman Khamenei.

Menurut empat pejabat Iran yang dikutip The New York Times, mantan presiden berusia 69 tahun itu kini berada dalam tahanan rumah yang diberlakukan sayap intelijen IRGC setelah keluar dari rumah aman Israel. The Guardian menyebut kisah ini sebagai salah satu paradoks intelijen paling mencengangkan abad ini: presiden yang dulu memimpin seruan agar Israel lenyap dari peta, kini menjadi figur yang dibina musuh besarnya sendiri sebagai calon pengganti rezim.

Hingga pertengahan September 2026, otoritas Teheran tidak merespons resmi laporan New York Times dan Guardian. Ahmadinejad tidak tampak lagi di publik sejak pemakaman Khamenei.

Akhir Hayat dan Warisan

Ahmadinejad tetap menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Republik Islam Iran. Bagi pendukungnya, ia adalah anak pandai besi yang berani melawan elit klerikal dan membagi kekayaan negara ke kaum miskin. Bagi pengeritiknya, ia adalah simbol manajemen yang boros, represi 2009, dan isolasi internasional yang melemahkan ekonomi nasional. Analis Behnam Ben Taleblu dari Foundation for Defense of Democracies memotret fenomenanya sebagai "populisme-nasionalisme-Islamisme hibrida" yang menawarkan tantangan ideologis dan kelas nyata terhadap republik Islam itu sendiri.

Apa pun penilaian akhirnya, kisah Ahmadinejad, dari pandai besi Garmsar menuju puncak kekuasaan, dari seruan menghapus Israel menuju ruang rahasia Mossad di Budapest, adalah salah satu narasi politik paling tak terduga dari kawasan Timur Tengah abad ke-21.

Referensi

Associated Press. (2024). Iran approves 6 candidates for presidential race, but again bars former President Ahmadinejad. PBS NewsHour. https://www.pbs.org/newshour/world/iran-approves-6-candidates-for-presidential-race-but-again-bars-former-president-ahmadinejad

Chamberlain, S. (2026). Ex-Iran president Mahmoud Ahmadinejad said to be under house arrest over reported Israeli contacts. New York Post. https://nypost.com/2026/07/13/us-news/ex-iran-president-mahmoud-ahmadinejad-said-to-be-under-house-arrest-over-reported-israeli-contacts/

Mazzetti, M., Barnes, J. E., Fassihi, F., & Bergman, R. (2026). Inside Israel's Secret Operation to Cultivate Ahmadinejad. The New York Times. https://www.nytimes.com/2026/07/13/us/politics/israel-mahmoud-ahmadinejad-iran.html

News Agencies. (2005). Ahmadinejad: Wipe Israel off map. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2005/10/26/ahmadinejad-wipe-israel-off-map

ToI Staff. (2024). Head of Iranian unit countering Mossad was Israeli agent, says ex-president Ahmadinejad. The Times of Israel. https://www.timesofisrael.com/head-of-iranian-unit-countering-mossad-was-israeli-agent-says-ex-president-ahmadinejad/

The Guardian. (2026). Israel courted Iran's former hardline president for post-regime role, reports claim. The Guardian. https://www.theguardian.com/world/mahmoud-ahmadinejad

Topik Terkait:#Iran#Mahmoud Ahmadinejad#Presiden Iran#Timur Tengah

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content