Biografi Diego Armando Maradona: Dari Gol Tangan Tuhan hingga Peradilan Atas Kematiannya
Daftar Isi
Empat puluh tahun setelah gol bersejarah yang membelah opini dunia, nama Diego Armando Maradona masih menghidupkan bar tifosi di Buenos Aires dan gang-gang sempit Napoli. Pemenang Piala Dunia 1986 itu wafat pada 25 November 2020 dalam usia 60 tahun, namun kisahnya belum selesai: peradilan atas tim medis yang merawatnya di hari-hari terakhir masih berlangsung dan menjanjikan babak epilog dari salah satu kehidupan paling dramatis dalam sejarah olahraga.

Biodata & Profil Singkat
| Keterangan | Data |
|---|---|
| Nama Lengkap | Diego Armando Maradona |
| Lahir | 30 Oktober 1960, Lanús, Buenos Aires, Argentina |
| Wafat | 25 November 2020, Dique Luján, Tigre, Argentina (usia 60) |
| Kebangsaan | Argentina |
| Posisi | Gelandang serang / penyerang kedua |
| Klub Utama | Argentinos Juniors, Boca Juniors, Barcelona, Napoli, Sevilla, Newell's Old Boys |
| Caps Timnas | 91 pertandingan, 34 gol (1977 sampai 1994) |
| Prestasi Puncak | Juara Piala Dunia 1986, Runner-up 1990, 2x Scudetto Napoli (1987, 1990) |
Anak Kelima dari Villa Fiorito
Diego Armando Maradona lahir pada 30 Oktober 1960 di Lanús, provinsi Buenos Aires, sebagai anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Diego Maradona Senior dan Dalma Salvadora Franco, yang dikenal luas dengan panggilan Doña Tota. Keluarga ini dibesarkan di Villa Fiorito, salah satu permukiman termiskin di pinggiran ibu kota Argentina, tempat Diego kecil bermain bola di jalanan berdebu sebelum dunia mengenal namanya.
Bakatnya tercium sejak dini. Para pencari bakat menyaksikan anak kurus itu menari bersama bola pada jeda pertandingan Argentinos Juniors, dan pada 20 Oktober 1976, sepuluh hari sebelum ulang tahunnya yang ke-16, Maradona menjalani debut profesional di Divisi Primera Argentina. Ia menjadi pemain termuda dalam sejarah liga, dan sebelum satu tahun berlalu ia dipanggil ke tim nasional senior pada usia 16 tahun.
Empat musim di Argentinos Juniors melahirkan 116 gol dari 166 penampilan. Pada 1981, Boca Juniors, klub impiannya sejak kecil, menebusnya, dan Maradona langsung mempersembahkan gelar Campeonato Metropolitano pada musim perdananya.
Perjalanan Eropa dari Barcelona ke Napoli
Usai Piala Dunia 1982 di Spanyol, Barcelona menggaet Maradona dengan nilai transfer rekor dunia sekitar 5 juta poundsterling. Dua musim di Camp Nou berjalan penuh tekanan: hepatitis, patah pergelangan kaki akibat tekel Andoni Goikoetxea pada 1983, dan perkelahian massal di final Copa del Rey 1984. Meski demikian, ia mencetak 38 gol dalam 58 laga.
Titik balik besar datang pada 1984 ketika SSC Napoli menebusnya dengan rekor dunia baru, sekitar 6,9 juta poundsterling, dan mempresentasikannya di hadapan 75 ribu penonton yang memadati Stadio San Paolo. Di kota selatan Italia yang selama itu dipandang sebelah mata oleh klub-klub utara, Maradona menepati janjinya: Napoli merebut Scudetto pertama dalam sejarah klub pada musim 1986/87, diikuti Piala UEFA 1989 dan Scudetto kedua pada 1989/90.
Hingga hari ini namanya diabadikan pada stadion itu, yang berganti nama menjadi Stadio Diego Armando Maradona segera setelah ia wafat.
Musim Panas 1986 dan Gol Tangan Tuhan
Panggung paling menentukan dalam karier Maradona adalah Piala Dunia 1986 di Meksiko. Sebagai kapten, ia mencetak lima gol dan menyempurnakan turnamen dengan laga epik di perempat final melawan Inggris pada 22 Juni 1986, pertandingan yang sarat beban politik pasca Perang Falkland atau Malvinas. Di pertandingan itu lahir dua gol paling kontras dalam sejarah: gol dengan tangan yang ia sebut buatan "Tangan Tuhan", dan empat menit kemudian, aksi individu melewati lima pemain Inggris plus kiper Peter Shilton yang kelak dipilih FIFA dan publik sebagai Goal of the Century.
"Saya mencetak gol pertama dengan tangan saya, dan gol kedua dengan kaki saya. Kalau harus jujur, gol kedua itulah yang saya banggakan."
Argentina mengalahkan Jerman Barat 3 banding 2 di final Stadion Azteca, dan Maradona mengangkat trofi emas sebagai kapten, dengan penghargaan Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Empat dekade kemudian, pada 23 Juni 2026, warga Argentina memadati bar dan zona tifosi selama perayaan 40 tahun dua gol tersebut, menampilkan betapa peristiwa itu melampaui olahraga dan menjadi simbol resistensi budaya serta kebanggaan nasional.
Pada 25 Juni 2026, Casa de la Provincia de Buenos Aires di Callao 237 juga menggelar Peña Maradoniana kelima, peringatan gratis dengan memorabilia, ceramah, dan pemutaran film untuk memperingati empat puluh tahun Gol del Siglo.
Jatuh Bangun, Kecanduan, dan Hari-Hari Kepelatihan
Kejayaan itu dibayar mahal. Kasus kokain yang terungkap pada 1991 menghadirkan hukuman 15 bulan dan mengakhiri eranya di Napoli. Sempat bermain untuk Sevilla dan Newell's Old Boys, Maradona tersingkir dari Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat setelah dinyatakan positif ephedrine. Ia menutup karier sebagai pemain pada 25 Oktober 1997, tepat lima hari sebelum ulang tahunnya yang ke-37, bersama Boca Juniors.
Pasca pensiun, hidupnya bergulir antara rehabilitasi, operasi kesehatan, pekerjaan layar kaca, dan kepelatihan: Al-Wasl di Uni Emirat Arab, timnas Argentina pada Piala Dunia 2010, Fujairah, Dorados de Sinaloa di Meksiko, dan Gimnasia y Esgrima La Plata, klub terakhir yang dilatihnya sejak 2019. Statistik akhir kariernya mencatat sekitar 259 gol dari 490 penampilan klub dan 34 gol dari 91 caps internasional.
Kesehatannya terus memburuk. Ia menjalani operasi bypass lambung pada 2005 untuk mengatasi obesitas, jatuh kembali ke kokain dan alkohol, lalu perlahan bangkit lewat terapi di Kuba. Pada Oktober 2020, hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-60, ia tampak rapuh saat hadir di stadion La Plata, sebuah pertanda yang baru dipahami publik beberapa pekan kemudian.
Kepergian pada 25 November 2020
Pada 2 November 2020, Maradona dirawat di La Plata karena anemia dan dehidrasi. Keesokan harinya ia menjalani operasi darurat untuk hematoma subdural, gumpalan darah di otak, di klinik Olivos. Ia diperbolehkan pulang dalam hitungan hari dan dirawat di rumah sewaan di Tigre, meski keluarga dan berbagai pihak kemudian mempersoalkan kelayakan keputusan itu.
Pada pagi 25 November 2020, perawat menemukannya tak bernyawa di tempat tidurnya. Penyebab resmi kematian adalah gagal jantung akut dan edema paru pada usia 60 tahun. Pemerintah mengumumkan tiga hari berkabung nasional, dan jenazahnya disemayamkan di Casa Rosada, di mana lautan pelayat antre hingga pagi hari sebelum ia dimakamkan di Jardín Bella Vista di samping makam orang tuanya.
Peradilan Atas Tim Medis dan Babak Epilog 2024 sampai 2026
Kematian Maradona melahirkan proses hukum panjang. Setelah penyelidikan medis awal menyimpulkan perawatan di rumahnya "tidak memadai dan sembrono", jaksa menuntut delapan profesional kesehatan dengan pasal homicidio simple con dolo eventual, atau pembunuhan dengan bentuk kesengajaan tidak langsung, yang ancaman hukumnya 8 hingga 25 tahun penjara. Dewan medis independen menyimpulkan Maradona mengalami "periode menyakitkan yang berkepanjangan" sebelum wafat, dan kemungkinan bertahan hidupnya jauh lebih besar bila dirawat di fasilitas kesehatan yang memadai.
Sidang pertama dibuka 11 Maret 2025 di San Isidro, di hadapan tiga hakim dan lebih dari 40 saksi. Namun proses itu ambruk dramatis menjadi mistrial pada 29 Mei 2025 setelah terungkap bahwa hakim Julieta Makintach turut ambil bagian dalam miniseri dokumenter bertajuk "Divine Justice" dengan membiarkan kru kamera merekamnya di kompleks pengadilan tanpa izin. Makintach mengundurkan diri, kemudian pada 18 November 2025 diberhentikan dari jabatannya oleh panel khusus dan dilarang menduduki posisi yudisial apa pun di masa depan.
Persidangan ulang dimulai pada 14 April 2026 di Pengadilan Pidana Lisan No. 7 San Isidro di bawah majelis hakim baru, Alberto Gaig, Alberto Ortolani, dan Pablo Rolón. Tujuh terdakwa kembali menghadapi dakwaan: ahli bedah saraf Leopoldo Luque, psikiater Agustina Cosachov, psikolog Carlos Díaz, koordinator medis Nancy Forlini, penanggung jawab perawat Mariano Perroni, dokter umum Pedro Di Spagna, dan perawat Ricardo Almirón. Terdakwa kedelapan, perawat Dahiana Madrid, memilih sidang juri terpisah yang belum dijadwalkan.
"Diego Maradona mulai sekarat 12 jam sebelum kematiannya yang sesungguhnya. Hari-hari terakhirnya adalah sebuah pertunjukan horor yang sebenarnya bisa dicegah."
Demikian penegasan jaksa penuntut dalam persidangan. Semua terdakwa membantah tuduhan dan tetap bebas hingga vonis dijatuhkan. Jaksa Patricio Ferrari memperkirakan putusan terbit sebelum reses yudisial pertengahan 2026, sementara persidangan direncanakan mendengarkan hampir 100 kesaksian. Pada Agustus 2026, muncul kegaduhan baru setelah para ahli mengakui secara keliru menganalisis rekam medis mendiang ayah Maradona, alih-alih berkas Diego sendiri, sehingga jaksa meminta penyitaan berkas medis dari klinik-klinik yang pernah merawatnya untuk diverifikasi ulang.
Warisan yang Tak Lekang
Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-65 pada 30 Oktober 2025, federasi sepak bola Argentina mengunggah tribut berjudul "Diego, bintang dari seribu film". Di Fiorito, kampung halamannya, diresmikan Biblioteca Diego Armando Maradona di pusat kebudayaan setempat, disertai lapangan-lapangan mini tempat puluhan anak bermain seperti Diego kecil dulu. Komunitas "Comunidad de D10s" menggelar musik, pameran foto, dan mural partisipatif sepanjang akhir pekan perayaan.
Di Napoli, wajahnya masih menghiasi dinding-dinding kota dalam bentuk mural, nomor punggung 10 dipensiunkan klub selamanya, dan stadion San Paolo resmi menyandang namanya. Pada 2023 Napoli kembali menjuarai Serie A untuk pertama kalinya sejak era Maradona, dan para tifosi merayakannya dengan mengarak bendera bergambar wajah sang kapten legendaris mengelilingi kota.
Bagi sebagian pengamat, kehebatan olahraganya diperdebatkan berdampingan dengan Pelé dan rival generasi baru, Lionel Messi. Tetapi di Argentina dan selatan Italia, Maradona dipandang lebih dari sekadar pemain: seorang anak miskin yang menaklukkan dunia tanpa pernah berhenti menjadi manusia yang rentan. Sebagaimana kata Carlos Bilardo, pelatih Argentina pada 1986:
"Dengan Diego di lapangan, kami hanya perlu bermain untuk dia. Itu saja rencananya."
Referensi
Reuters. (2026). New trial over soccer legend Maradona's death begins in Argentina. Reuters. https://reuters.com/sports/soccer/new-trial-over-soccer-legend-maradonas-death-begins-argentina-2026-04-14
NPR. (2025). Argentine court declares a mistrial in the death of soccer star Maradona. National Public Radio. https://www.npr.org/2025/05/30/g-s1-69698/argentine-mistrial-death-maradona
Bryant, T. (2025). Argentina judge fired after causing mistrial in case over Diego Maradona's death. The Guardian. https://www.theguardian.com/world/2025/nov/18/argentina-judge-diego-maradona-case-fired
France 24. (2026). World Cup exploits of Maradona and Messi have Argentina fans in raptures. France 24. https://www.france24.com/en/live-news/20260623-world-cup-exploits-of-maradona-and-messi-have-argentina-fans-in-rapture
El País. (2026). Maradona death trial upended by bizarre error: Experts analyzed his father's clinical records. El País English. https://english.elpais.com/international/2026-08-20/maradona-death-trial-upended-by-bizarre-error-experts-analyzed-his-fathers-clinical-records.html
Kathmandu Post. (2026). New trial over soccer legend Maradona's death begins in Argentina. The Kathmandu Post. https://kathmandupost.com/football/2026/04/14/new-trial-over-soccer-legend-maradona-s-death-begins-in-argentina
Nurdyansa
Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
10 Fakta Albert Einstein Yang Menarik Yang Tidak Kamu Ketahui

10 Fakta Ir Soekarno Menarik Yang Tidak Kamu Ketahui Dan Bikin Bangga

Biografi Aa Gym - Profil dan Biodata Lengkap

Biografi Abraham Lincoln, 'Bapak Demokrasi Amerika' Penghapus Perbudakan

Biografi Abraham Samad
