Biografi Laksamana Cheng Ho: Pelaut Muslim Dinasti Ming yang Menaklukkan Samudra Dunia
Antara tahun 1405 hingga 1433, Laksamana Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi maritim kolosal yang membawa armada Dinasti Ming menembus Samudra Pasifik Barat dan Samudra Hindia hingga pesisir timur Afrika. Kasim Muslim bersuku Hui yang lahir dengan nama Ma He ini mengomandokan armada laut terbesar di dunia pada masanya, mengunjungi lebih dari 30 negeri tanpa menjajah satu pun di antaranya, dan meninggalkan jejak budaya yang hingga enam abad kemudian masih hidup di Indonesia, dari Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang hingga Masjid Cheng Ho di Palembang dan Surabaya.

Lukisan Laksamana Cheng Ho, pelaut Muslim Dinasti Ming yang memimpin tujuh ekspedisi samudra.
Biodata & Profil Singkat
| Atribut | Keterangan |
|---|---|
| Nama Lahir | Ma He (Ma Sanbao) |
| Gelar | Laksamana (Zheng He), San Bao Taijian |
| Lahir | 23 September 1371, Kunyang, Yunnan, Dinasti Yuan |
| Wafat | 1433, Calicut (Kozhikode), India |
| Suku & Agama | Hui, Islam |
| Jabatan | Laksamana Armada Pusaka Dinasti Ming, Kepala Kasim Istana |
| Kaisar yang dilayani | Kaisar Yongle, Hongxi, Xuande |
| Ekspedisi Utama | 7 pelayaran (1405-1433), mengunjungi lebih dari 30 negeri |
Masa Kecil di Yunnan dan Takdir Kasim Istana
Ma He lahir di Kunyang, Provinsi Yunnan, pada 23 September 1371, bertepatan dengan tahun keempat era Hongwu. Ia berasal dari keluarga Muslim bersuku Hui, kelompok etnis yang secara fisik serupa suku Han namun memeluk Islam. Kakeknya sudah menunaikan ibadah haji, dan ayahnya, Ma Hazhi, juga sudah pergi ke Mekah. Kata "hazhi" dalam dialek setempat memang merujuk pada "haji", menurut peneliti Hembing Wijaya Kusuma.
Takdir Ma He berubah pada 1381, ketika pasukan Dinasti Ming merebut Yunnan dari tangan penguasa Dinasti Yuan. Bersama puluhan pemuda lain, bocah berusia sepuluh tahun itu ditawan, dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Ia kemudian diabdikan kepada Zhu Di, Raja Yan yang berkedudukan di Beiping, kota yang kini bernama Beijing.
Di hadapan Zhu Di, kasim muda San Bao menunjukkan keberanian dan kecerdasan luar biasa. Ia ikut memimpin pasukan dalam Perang Jingnan (1399-1402) melawan Kaisar Jianwen, hingga Zhu Di berhasil merebut takhta dan bergelar Kaisar Yongle. Sebagai penghargaan, kaisar menganugerahinya nama keluarga "Zheng", yang dalam bahasa Mandarin dieja Cheng, sehingga ia kemudian dikenal sebagai Zheng He atau Cheng Ho.
Tujuh Ekspedisi Samudra yang Mengubah Dunia
Ketika Kaisar Yongle mencanangkan program pemulihan kejayaan maritim Tiongkok yang merosot sejak jatuhnya Dinasti Yuan pada 1368, Cheng Ho mengajukan diri memimpin muhibah keliling samudra. Kaisar menyetujui, dan pada 11 Juli 1405 armada pertama berangkat dari Liujiagang, Provinsi Jiangsu.
Skala armada itu melampaui apa pun yang pernah diketahui dunia pada abad ke-15. Ekspedisi perdana melibatkan sekitar 317 kapal dan 27.870 awak kapal yang terdiri dari pelaut, prajurit, diplomat, penerjemah, tabib, dan sarjana. Kapal terbesarnya, yang disebut Baochuan atau kapal pusaka, menurut catatan sejarawan J.V.G. Mills berkapasitas 2.500 ton, dengan panjang yang dilaporkan hingga 44 zhang atau sekitar 125 hingga 138 meter dan lebar 18 zhang atau sekitar 56 meter, beberapa kali lebih besar daripada kapal Christopher Columbus yang berlayar 87 tahun kemudian. Armada dilengkapi kompas magnetik, peta navigasi bintang, dan membawa perbekalan lengkap hingga ternak sapi, ayam, dan kambing.
Tujuh ekspedisi itu tercatat sebagai berikut: pelayaran pertama (1405-1407) menjangkau Champa, Jawa, Malaka, Semudera Pasai, Sri Lanka, dan Calicut; pelayaran kedua dan ketiga (1407-1409, 1409-1411) mengukuhkan jalur ke India dan Sri Lanka; pelayaran keempat (1413-1415) menerobos Hormuz di Teluk Persia dan Aden; pelayaran kelima (1417-1419) dan keenam (1421-1422) mencapai Mogadishu di Afrika Timur; dan pelayaran ketujuh (1431-1433) menembus Laut Merah hingga Jeddah. Secara keseluruhan, armada Cheng Ho mengunjungi lebih dari 30 kerajaan dan wilayah.

Ilustrasi kapal pusaka armada Cheng Ho, kapal kayu terbesar pada abad ke-15.
Diplomasi Damai Tanpa Koloni
Meski mengomandokan armada militer terbesar di muka bumi, Cheng Ho tidak pernah menjajah satu negeri pun tempat armadanya berlabuh. Baktinya pada diplomasi damai tercermin dari para utusan dan perwakilan lebih dari 30 kerajaan yang datang ke Nanjing untuk menghadap kaisar, di antaranya Raja Brunei dan Raja Malaka. Dari ekspedisi-ekspedisi itu, Cheng Ho membawa pulang hadiah kerajaan berupa permata, getah kemenyan, rempah, dan hewan eksotis seperti jerapah dari Benggala yang disambut rakyat Tiongkok sebagai binatang gaib qilin.
Akademisi Dinasti Ming mencatat dalam Ming Shi bahwa ekspedisi itu membuat nama kaisar bergema ke negeri asing. Bagi Cheng Ho sendiri, misinya sejalan dengan ajaran yang ia yakini. Ia merenovasi Masjid Qingjing di Xian pada 1413 dan memugar Masjid San San di Nanjing pada 1430 dengan bantuan kaisar.
"Kami menjelajah lebih dari seratus ribu li di permukaan laut yang luas, dan mengamati ombak raksasa naik setinggi puncak gunung, memandang kawasan maritim tempat hamparan surgawi terpantul; di saat itulah layar kami selalu berkembang gagah siang dan malam bagai awan, membanjiri lautan dan hunian asing tanpa pasang maupun surut."
Petikan prasasti yang didirikan Cheng Ho di Changle, Fujian, pada 1431 itu merangkum spirit pelayarannya. Ia sendiri wafat pada 1433 di Calicut, India, dalam perjalanan pulang dari ekspedisi ketujuh. Menurut tradisi, jenazah atau rambut beserta kukunya dimakamkan di Bukit Niushou, Nanjing.
Jejak Abadi di Kepulauan Indonesia
Indonesia menjadi salah satu titik singgah terpenting armada Cheng Ho. Catatan Ma Huan dalam Yingyai Shenglan menyebut armada singgah di Samudera Pasai, Glundong, dan Majapahit pada era Raja Wikramawardhana. Di tanah air, ia menghadiahkan lonceng raksasa Cakra Donya kepada Kesultanan Aceh, lonceng yang hingga kini tersimpan di Banda Aceh. Pada 1415, armadanya berlabuh di Muara Jati, Cirebon, dan menghadiahi Sultan Keraton Kasepuhan sejumlah cindera mata, salah satunya piring bertuliskan Ayat Kursi yang hingga kini menjadi koleksi keraton.
Kisah paling melegenda terjadi saat melintasi Laut Jawa. Orang kedua armada, Wang Jinghong, jatuh sakit keras lalu diturunkan di pantai Simongan, Semarang, untuk beristirahat. Di tempat itulah kini berdiri Kelenteng Sam Poo Kong atau Gedong Batu, yang setiap tanggal 29 dan 30 bulan keenam kalender lunar masih menggelar festival untuk memperingati kedatangan Cheng Ho. Nama kota Semarang sendiri diyakini sebagian sejarawan berasal dari kata "Sam Po Lang", wilayah Sam Po.
Jejak komunitasnya berkembang menjadi rantai masjid Cheng Ho yang dibangun komunitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), antara lain Masjid Muhammad Cheng Hoo di Surabaya (2002), Masjid Cheng Ho di Palembang (2008), dan Masjid Cheng Ho di Pandaan, Pasuruan, serta Makassar. Arsitekturnya memadukan lengkung atap klenteng dengan fungsi masjid, simbol akulturasi yang bermula dari pelayaran enam abad silam.
Enam Abad Kemudian: Pameran 620 Tahun dan Warisan Kontemporer
Pamasukan warisan Cheng Ho memasuki babak baru pada Juli 2025, ketika dunia memperingati 620 tahun pelayaran perdananya yang jatuh di tahun 1405. China Maritime Museum di Shanghai membuka pameran khusus bertajuk "The Legend of the Treasure Fleet Continues" mulai 8 Juli 2025, menampilkan hampir 150 artefak dari 14 museum dan 6 lembaga maritim, sekaligus menandai perayaan Hari Maritim China ke-20.
Di Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik menggelar pameran "Miles Apart, Close at Heart" pada 11 Juli hingga 11 Agustus 2025, menampilkan lebih dari 60 artefak hasil kerja sama China Maritime Museum, Shanghai Art Collection Museum, dan pihak museum Jakarta. Pameran itu sekaligus menandai 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan China serta 70 tahun Konferensi Asia Afrika. Xinhua melaporkan bahwa pameran menyorot Kelenteng Sam Poo Kong dan masjid-masjid Cheng Ho sebagai penanda abadi kehadiran sang laksamana di Nusantara.
"Enam ratus dua puluh tahun silam, Zheng He mengomandokan armada terbesar di dunia pada masanya dalam tujuh ekspedisi diplomatik, menebar warisan perdamaian dan kerja sama yang bertahan hingga kini."
Pemerintahan China secara resmi juga menjadikan armada Cheng Ho sebagai fondasi narasi konektivitas masa kini. Presiden Xi Jinping berulang kali mengutip pelayaran damai Cheng Ho dalam pidatonya tentang Jalur Sutra Maritim, menyebutnya bukti bahwa kekuatan besar dapat tumbuh tanpa kolonialisme.
Warisan Penjelajah Muslim Terbesar Abad Ke-15
Majalah Life menempatkan Cheng Ho di peringkat ke-14 tokoh paling berpengaruh dalam satu milenium terakhir. Peta Navigasi Cheng Ho, yang memuat 24 lembar peta pelayaran lengkap dengan arah kompas, jarak laut, dan nama pelabuhan dari Melaka hingga Mogadishu, menjadi dokumen navigasi terpenting dunia pra-Columbus.
Lebih dari sekadar angka dan peta, warisan terbesarnya adalah gagasan: armada besar dapat berlayar untuk dagang, dialog, dan damai. Enam abad setelah 27.000 pelautnya menembus Samudra Hindia, nama Laksamana Cheng Ho tetap hidup di doa jemaah masjid yang memakai namanya, di barongsai Kelenteng Sam Poo Kong, dan di tiap pameran yang merayakan keberanian manusia melintasi batas laut.
Referensi
Xinhua News Agency. (2025). Feature: 620 years on, Zheng He exhibition traces history of China-Indonesia ties. Xinhua. https://english.news.cn/asiapacific/20250723/de7299248d304dc292ccebe741a89568/c.html
Global Times. (2025). New exhibition in Shanghai commemorates 620th anniversary of navigator Zheng He's voyages to the West. Global Times. https://globaltimes.cn/galleries/5832.html
City News Service Shanghai. (2025). Sailing through centuries, Zheng He's epic voyages remembered. City News Service. https://citynewsservice.cn/events/exhibition/sailing-through-centuries-zheng-hes-epic-voyages-remembered-rkle57no
Ma, H. (1970). Ying-yai Sheng-lan: The Overall Survey of the Ocean's Shores (1433) (J. V. G. Mills, Trans.). Cambridge University Press.
Encyclopaedia Britannica. (2026). Zheng He: Chinese admiral. Britannica. https://www.britannica.com/biography/Zheng-He
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 RekomendasiAbu Abdirrahman Muhammad

Biografi Benito Mussolini: Diktator Fasis Italia dan Warisan Sejarah yang Tak Lekang

Biografi Bob Marley: Dari Nine Miles ke Panggung Dunia

Biografi Henry Dunant: Pendiri Palang Merah dan Peraih Nobel Perdamaian Pertama

Biografi Lionel Messi: Babak Akhir yang Masih Mengubah Sepak Bola
