Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
biografi-tokoh-dunia

Biografi Henry Dunant: Pendiri Palang Merah dan Peraih Nobel Perdamaian Pertama

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 25 Sep 2026)•7 menit baca
Bagikan:
Daftar Isi

Pada tanggal 24 Juni 1859, seorang pengusaha muda asal Jenewa berdiri di tepi sebuah ladang berlumuran darah di Solferino, Italia utara. Di hadapannya, sekitar 40.000 tentara Austria, Prancis, dan Sardinia tergeletak tewas atau terluka parah tanpa seorang pun yang merawat mereka. Pengalaman traumatis itu mengubah jalan hidup Henry Dunant selamanya dan kelak mengubah cara dunia memandang penderitaan akibat perang. Dari ladang pembantaian itulah lahir gerakan kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern: Palang Merah, serta Konvensi Jenewa yang hingga hari ini menjadi fondasi hukum humaniter internasional.

Potret Henry Dunant
Potret resmi Henry Dunant muda, pendiri gerakan Palang Merah.
Potret Henry Dunant
Potret resmi Henry Dunant.

Biodata & Profil Singkat

Keterangan Data
Nama Lengkap Jean Henri Dunant (Henry Dunant)
Lahir 8 Mei 1828, Jenewa, Swiss
Wafat 30 Oktober 1910, Heiden, Swiss (usia 82 tahun)
Dikenal Sebagai Pendiri Komite Internasional Palang Merah (ICRC)
Penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian pertama tahun 1901 (bersama Frederic Passy)
Karya Penting Buku "Un Souvenir de Solferino" (Kenangan dari Solferino), 1862
Warisan Konvensi Jenewa 1864 dan gerakan Palang Merah serta Bulan Sabit Merah sedunia

Masa Muda di Lingkungan Calvinis Jenewa

Henry Dunant lahir pada 8 Mei 1828 di Jenewa, Swiss, sebagai putra sulung pasangan Jean-Jacques Dunant dan Antoinette Dunant-Colladon. Keluarganya berasal dari kalangan borjuis terpandang; ayahnya dikenal sebagai pengusaha sekaligus anggota pejabat sipil yang aktif dalam kegiatan sosial. Didikan Calvinis yang kuat menanamkan pada dirinya prinsip ketaatan, disiplin, dan kepedulian terhadap kaum lemah. Sejak remaja, Dunant aktif dalam berbagai pelayanan sosial, termasuk menjenguk kaum miskin dan narapidana.

Pada usia 18 tahun, ia turut mendirikan cabang Jenewa dari YMCA (Young Men's Christian Association) dan giat membangun jaringannya hingga ke Paris. Ketika memasuki dunia kerja, Dunant bekerja di perusahaan keuangan Lullin et Sautter sebelum dipercaya memimpin anak perusahaannya di Aljazair. Di sanalah jiwa wirausahanya tumbuh, sekaligus mengantarnya pada persinggungan takdir dengan sejarah Eropa.

Ladang Pembantaian Solferino yang Mengubah Segalanya

Tahun 1859, Dunant melakukan perjalanan ke Italia utara untuk menemui Kaisar Napoleon III dari Prancis demi urusan lahan dan hak air perusahaannya di Aljazair. Tanpa ia duga, perjalanan bisnis tersebut membawanya tepat ke medan Pertempuran Solferino pada 24 Juni 1859, salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah abad ke-19 antara aliansi Prancis-Sardinia melawan Austria.

Dunant menyaksikan sekitar 40.000 korban tewas dan terluka dibiarkan telantar di medan tempur. Layanan medis militer kedua pihak nyaris lumpuh; jumlah dokter dan obat-obatan tidak sebanding dengan skala korban. Dituntun naluri kemanusiaannya, Dunant mengorganisasi penduduk desa, terutama kaum perempuan, untuk merawat para korban tanpa memandang seragam yang mereka kenakan. Ia menggunakan moto sederhana yang kemudian menjadi terkenal:

"Tutti fratelli", yang berarti "Semuanya bersaudara."

Pengalaman menyaksikan penderitaan tanpa batas itu membekas mendalam. Sepulangnya ke Jenewa, Dunant menuliskan kesaksiannya dalam sebuah buku yang diterbitkan pada November 1862 atas biayanya sendiri dengan judul "Un Souvenir de Solferino" atau Kenangan dari Solferino. Buku itu disebarkan ke para pemimpin politik dan militer di seluruh Eropa dan menuai simpati luas.

Lahirnya Komite Lima dan Konvensi Jenewa

Di penghujung bukunya, Dunant mengajukan dua gagasan besar: pertama, setiap negara hendaknya membentuk komite relawan yang terlatih dan siap merawat korban perang di masa damai; kedua, negara-negara perlu merumuskan perjanjian internasional yang menjamin netralitas tenaga medis serta korban perang.

Gagasan itu ditanggapi oleh Societe Genevoise d'Utilite Publique (Perhimpunan Jenewa untuk Kesejahteraan Umum). Pada 9 Februari 1863, dibentuklah sebuah komite beranggotakan lima orang: Henry Dunant, Jenderal Guillaume-Henri Dufour, dokter Louis Appia, dokter Theodore Maunoir, dan pengacara Gustave Moynier. Komite inilah cikal bakal Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross, ICRC).

Komite Lima Jenewa tahun 1863
Lukisan Komite Lima Jenewa tahun 1863, cikal bakal Komite Internasional Palang Merah.

Konferensi internasional di Jenewa pada Oktober 1863 dihadiri delegasi dari 16 negara dan menghasilkan resolusi pembentukan komite-komite pertolongan nasional. Setahun kemudian, pada 22 Agustus 1864, Konferensi Diplomatik Jenewa melahirkan Konvensi Jenewa Pertama yang ditandatangani 12 negara. Konvensi ini menetapkan lambang palang merah di atas bidang putih sebagai tanda pelindung bagi fasilitas dan tenaga medis di medan perang, serta menjamin netralitas mereka.

Perkembangan gerakan ini meluas pesat. Di wilayah negeri-negeri Muslim, lambang bulan sabit merah kemudian diakui sebagai alternatif, dan pada 2005 ditambahkan lambang ketiga yakni kristal merah. Hingga era 2024 sampai 2026, gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional beroperasi di 191 negara dengan lebih dari 17 juta relawan, menjadikannya jaringan kemanusiaan terbesar di dunia.

Kejatuhan Finansial dan Masa Pengasingan

Ironi besar menimpa Dunant di tengah puncak keberhasilan gagasannya. Perusahaannya di Aljazair bangkrut pada 1867, dan skandal keuangan yang melibatkan bank di Jenewa membuat reputasinya hancur. Ia diadili dan dinyatakan pailit. Di bawah tekanan rekan-rekannya sendiri, terutama Gustave Moynier, Dunant dikeluarkan dari komite yang ia dirikan dan memilih meninggalkan Jenewa untuk hidup mengembara di Paris, London, dan Stuttgart dalam kemiskinan.

Namun semangat kemanusiaannya tidak padam. Selama Perang Prancis-Prusia 1870 hingga 1871, ia tetap terlibat dalam upaya pertolongan korban, dan pada 1871 ikut mengusulkan pembentukan lembaga arbitrase internasional untuk mencegah perang. Gagasannya tentang peradilan internasional ini kelak turut mengilhami pembentukan Mahkamah Permanen Arbitrase Internasional pada 1899 serta liga-liga bangsa berikutnya.

Selama hampir dua dekade, nama Dunant tenggelam dan nyaris terlupakan. Barulah pada 1895, seorang jurnalis bernama Georg Baumberger menemukannya hidup melarat di panti sosial di Heiden, Swiss, dan menuliskan kisahnya. Artikel itu menggerakkan simpati publik Eropa. Berbagai penghormatan berdatangan, termasuk gelar doktor kehormatan dari Universitas Heidelberg.

Hadiah Nobel Perdamaian Pertama

Pada 10 Desember 1901, Henry Dunant dinobatkan sebagai salah satu penerima Hadiah Nobel Perdamaian yang pertama kali, berbagi penghargaan dengan ekonom Prancis Frederic Passy. Komite Nobel Norwegia menilai Dunant sebagai tokoh paling berjasa dalam merintis prinsip perdamaian melalui jalur kemanusiaan. Karena kesehatannya yang memburuk, Dunant tidak dapat menghadiri upacara penganugerahan di Oslo; hadiah uangnya sendiri kemudian dimanfaatkan untuk membantu berbagai kegiatan kemanusiaan.

Respons Dunant ketika menerima kabar itu mencerminkan kerendahan hatinya:

"Saya senang dapat memberi sedikit yang terbaik dari diri saya demi kemanusiaan, tetapi saya tidak pernah menyangka bahwa hidup saya akan dinilai layak menerima ganjaran semulia ini."

Dunant menghabiskan sisa hidupnya di Heiden. Ia wafat pada 30 Oktober 1910 dalam usia 82 tahun, tanpa mewariskan kekayaan materi apa pun, sebab seluruh hadiah Nobelnya disumbangkan untuk tujuan kemanusiaan dan perdamaian.

Warisan Abadi di Era 2024 hingga 2026

Lebih dari satu abad setelah kepergiannya, warisan Dunant justru semakin relevan. Konvensi Jenewa telah berkembang menjadi empat konvensi pada 1949 yang kini diratifikasi secara universal oleh seluruh negara di dunia, sebuah pencapaian yang belum pernah dicapai perjanjian internasional mana pun. ICRC telah tiga kali meraih Hadiah Nobel Perdamaian (1917, 1944, dan 1963), sementara Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) yang berdiri pada 1919 juga meraih Nobel Perdamaian pada 1963 bersama ICRC.

Setiap 8 Mei, bertepatan dengan hari kelahiran Dunant, dunia memperingati Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia yang telah dirayakan sejak 1948. Pada peringatan 2025, tema yang diusung adalah "Menjaga Kemanusiaan Tetap Hidup", sementara tema 2026 adalah "Bersatu dalam Kemanusiaan", sebuah seruan untuk menegaskan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk saling peduli di tengah konflik dan krisis kesehatan yang kian kompleks.

Di masa 2024 hingga 2026, ICRC dan IFRC terus beroperasi di garis depan berbagai krisis besar. Mulai dari konflik di Ukraina yang telah berlangsung lebih dari satu dekade sejak 2014, eskalasi di Gaza dan Timur Tengah, hingga bencana iklim dan perpindahan penduduk di Afrika serta Asia. Jaringan 191 perhimpunan nasional dengan lebih dari 17 juta relawan ini tetap menjalankan prinsip yang diwariskan Dunant: pertolongan tanpa membedakan pihak. Di Indonesia, warisan Dunant hidup melalui Palang Merah Indonesia (PMI) yang resmi berdiri pada 17 September 1945, hanya sebulan setelah kemerdekaan, dan hingga kini aktif dalam pelayanan donor darah, penanggulangan bencana, serta kesehatan masyarakat di seluruh nusantara.

Kisah Henry Dunant mengingatkan dunia bahwa perubahan besar sering kali berawal dari satu orang yang memilih untuk tidak berpaling dari penderitaan sesamanya. Sebagaimana ia pernah menegaskan dalam tulisannya:

"Betapa berharganya memberikan bantuan dan pertolongan kepada sesama yang menderita, tanpa membedakan bangsa maupun keyakinannya."

Dari ladang berdarah Solferino hingga tenda-tenda bantuan di berbagai belahan dunia pada era modern, gagasan sederhana tentang empati dan keberanian bertindak itu terus menyelamatkan jutaan nyawa. Itulah warisan sejati sang pendiri Palang Merah.

Referensi

International Committee of the Red Cross. (2024). Henry Dunant (1828-1910): The founder of the Red Cross. ICRC. https://www.icrc.org/en/document/henry-dunant

Nobel Prize Outreach. (2024). Henry Dunant: Biographical. The Nobel Foundation. https://www.nobelprize.org/prizes/peace/1901/dunant/biographical/

International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. (2025). World Red Cross and Red Crescent Day. IFRC. https://www.ifrc.org/our-work/who-we-are/world-red-crescent-red-cross-day

International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. (2024). About IFRC: We are the world's largest humanitarian network. IFRC. https://www.ifrc.org/who-we-are

Palang Merah Indonesia. (2023). Sejarah Palang Merah Indonesia. PMI. https://pmi.or.id

Unit Kesehatan IPB. (2026). Hari Palang Merah Sedunia: Bersatu dalam Kemanusiaan. Institut Pertanian Bogor. https://unitkesehatan.ipb.ac.id/hari-palang-merah-sedunia-bersatu-dalam-kemanusiaan/

Topik Terkait:#Henry Dunant#Palang Merah#Nobel Perdamaian#Konvensi Jenewa
Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content