Biografi Bunda Teresa: Pendiri Missionaries of Charity, Suster Kaum Termiskin
Daftar Isi
Pada 7 Oktober 2025, sebuah patung Bunda Teresa diresmikan menghadap Acharya Jagadish Chandra Bose Road, Kalkuta. Patung itu menandai 75 tahun berdirinya Missionaries of Charity, ordo kecil yang ia dirikan dari nol dan kini beroperasi di 139 negara. Hampir tiga puluh tahun setelah wafatnya pada usia 87, namanya tetap identik dengan kasih yang konkret: merawat yang sekarat, memberi makan yang lapar, dan meyakinkan yang tersingkir bahwa mereka tidak dilupakan.

Biodata & Profil Singkat
| Atribut | Keterangan |
| Nama lahir | Anjezë (Agnes) Gonxhe Bojaxhiu |
| Lahir | 26 Agustus 1910, Üsküp (Skopje), Kesultanan Utsmaniyah |
| Wafat | 5 September 1997, Kalkuta, India (usia 87 tahun) |
| Ordo | Institute of Virgin Mary (Sisters of Loretto) 1928; pendiri Missionaries of Charity (MC) 1950 |
| Peran utama | Pendiri Missionaries of Charity; perawat, pendidik, pembela kaum termiskin |
| Penghargaan utama | Nobel Perdamaian 1979; Bharat Ratna 1980; Templeton Prize 1973; Ramon Magsaysay Award 1962 |
| Kaulitas | Beatifikasi 19 Oktober 2003; kanonisasi 4 September 2016 |
| Mukjizat kanonisasi | Pemulihan Marcilio Andrino (Brasil, 2008) |
| Mausoleum | Mother House, Missionary of Charity, 54A Acharya Jagadish Chandra Bose Rd, Kalkuta |
| Patiung | Saint Teresa of Calcutta |
Lahir dalam Sebuah Dunia yang Terbelah
Agnes Gonxhe Bojaxhiu lahir di Üsküp, kota di wilayah yang sekarang menjadi ibu kota Makedonia Utara, sebagai putri bungsu dari tiga bersaudara Nikola dan Drane Bojaxhiu. Keluarganya adalah etnis Albania yang taat beragama Katolik, minoritas di tengah masyarakat Ortodoks dan Kesultanan Utsmaniyah yang mulai goyah menjelang Perang Balkan.
Ketika ia berusia delapan tahun, ayahnya yang pedagang dan politisi lokal meninggal mendadak pada 1919, meninggalkan keluarga dalam kesulitan materi. Drane menjadi tulang punggung rumah tangga sambil merawat tiga anaknya dengan ketegasan doa. Dari ibunya inilah Gonxha mewarisi pelajaran yang kelak menjadi moto hidupnya: 'Jangan pernah makan suatu hidangan tanpa membaginya kepada orang lain.'
Melalui kelompok doa pemuda Sodality yang dikelola pastor Jesuit, Gonxha mulaicka tertarik pelayanan misi di India. Ketika berusia 18 tahun, ia memutuskan masuk Institute of the Blessed Virgin Mary, sebuah kongregasi Irlandia yang terbiasa disebut Sisters of Loretto. Pada 25 September 1928, ia meninggalkan Skopje untuk bergerak ke biara di Rathfarnham, Dublin, belajar bahasa Inggeris, dan tidak akan pernah lagi bertemu ibu serta saudaranya.
Setelah pendidikan singkat, ia berlayar ke India, tiba di Kalkuta (sekarang Kolkata) pada 6 Januari 1929. Ia menjalani masa novisiat dua tahun di Darjeeling, di kaki pegunungan Himalaya. Pada 25 Mei 1931, ia mengucapkan kaul pertama, dan memilih nama Teresa untuk menghormati Santa Teresa dari Lisieux, wali pelindung para misionaris.
Panggilan di Tengah Panggilan
Selama hampir dua puluh tahun, Suster Teresa mengajar di St Mary's High School, Entally, Kalkuta, dan melanjutkan studi teologi di Kolese St Mary di Dome. Pada 24 Mei 1937, ia mengucapkan kaul kekal dan mulai dikenal murid-muridnya sebagai 'Bunda' atau Ibunda. Ia menjadi kepala sekolah dan bertugas mengajar geografi serta katekese.
Pada 10 September 1946, ketika menumpangi kereta api dari Kalkuta ke Darjeeling untuk masa retret tahunan, beliau menerima 'perintah kedua' yang kemudian ia sebut 'panggilan di dalam panggilan'. Kristus, katanya, menampakkan kepadanya kepedihan kaum miskin yang ditinggalkan, dan memintanya untuk meninggalkan keseluruhan hidup konvensionalnya agar tinggal bersama mereka. Hari itu kelak diperingati sebagai Hari Penguatan Ilahi.
"Saya tidak boleh pergi ke Loreto Entally. Saya harus pergi ke luar. Saya harus meringankan penderitaan. Segera."
Ia mengajukan permohonan ke Vatikan dan menerima izin resmi untuk menyikapi hidup 'eksklustrasi' dari ordo Sisters of Loretto. Pada 17 Agustus 1948, ia berpakaian pertama kali dalam sari putih sederhana bergaris biru yang kemudian menjadi seragam khas Missionaries of Charity, dan pindah ke permukiman miskin Kalkuta.
Sekolah Terbuka di Motijhil
Dengan modal lima rupee dan sebuah rosario, Bunda Teresa memulai sekolah terbuka untuk anak-anak keluarga miskin di Moti Jhil. Ia mengayuh doktrin utama lewat menulis alfabet di tanah dengan tongkat. Dalam hitungan minggu, murid-muridnya berdatangan; donatur mulai datang memberikan uang, makanan, dan bangunan kecil. Pada 21 Desember 1948, ia membuka sebuah pusat layanan di Motijhil.
Pada tahun berikutnya, seorang mantan murid perempuan dari St Mary's, Subhasni Das, datang bergabung. Ia mengambil nama Suster Agnes dan menjadi rekan pertama dalam ordo baru itu. Suster-suster lain menyusul, kebanyakan guru dan suster muda yang tertarik mengabdi langsung kepada kaum miskin, keluarga kusta, dan mereka yang sekarat di trotoar.
Awal 1952, Bunda Teresa mendapat izin pemerintah kota Kalkuta untuk menggunakan losmen jamaah Hindu yang ditinggalkan di dekat kuil Kali. Ia mengubahnya menjadi Nirmal Hriday, 'Rumah Hati yang Bersih', rumah orang-orang sekarat yang dirawat hingga ajal dalam martabat manusiawi.
"Orang-orang yang cari tidak bisa dikelompokkan sebagai orang miskin; mereka adalah korban orang miskin, orang-orang paling miskin di antara yang miskin."

Missionaries of Charity Didirikan
Pada 7 Oktober 1950, Yurisdiksi Gereja Katolik resmi mengakui kongregasi baru, Missionaries of Charity. Ditetapkan Hari Kata-kata malaikat Tiga Suci, hari itu kelak menjadi Hari Fondasi. Konstitusi komunitas ini mewajibkan setiap anggota melayani 'yang paling miskin dari yang miskin' secara gratis tanpa imbalan komersial, dan menempuh hidup selibat, suci, ketaatan, serta menjauhi segala bentuk pemilikan pribadi.
Dalam dekade pertama, ordo ini melebarkan sayap ke kota-kota besar India. Pada awal 1960-an, para suster MC tiba di Venezuela, kemudian mengembangkan rumah-rumah kepada Ceylon (sekarang Sri Lanka), Tanzania, Roma, Venezuela, dan Australia. Sister generik MC Brothers, cabang kaum lelaki, didirikan pada 1963; the Contemplative Branch (suster MC kontemplatif) ditambahkan pada 1976.
Popularitas Bunda Teresa melesat setelah Malcolm Muggeridge menyiarkan dokumenter BBC Something Beautiful for God (1969) serta buku berjudul sama (1971). Penggambaran sederhana tentang seorang biarawati yang mengasuh 'kaum proletar yang ditolak' mengubah Kalkuta menjadi simbol kasih internasional, menjadikan Bunda Teresa tamu tetap di barisan para pemimpin dunia.
Penghargaan Tinggi dan Kenalan Kuasa
Pada 1973, Bunda Teresa memperoleh Templeton Prize dari Pangeran Philip, Edinburgh, atas 'kemajuan dalam agama'. Enam tahun kemudian, komite Nobel Perdamaian 1979 memilihnya 'atas karya yang dilakukannya dalam perjuangan mengatasi kemiskinan dan penderitaan, yang juga merupakan ancaman terhadap perdamaian.' Ia menolak mengadakan jamuan makan malam seremonial dan meminta seluruh dana amal ke kalangan miskin.
Sumbaian uang Nobel sebesar 192.000 dolar AS itu dialihkannya ke rumah Nirmal Hriday dan panti kusta Kalkuta. Dalam pidato penerimaannya di Oslo pada 10 Desember 1979, ia kembali mengulang nasihat Rumah Hati Bersih:
Penghargaan lain menyusul: Bharat Ratna dari pemerintah India pada 1980, Presidential Medal of Freedom dari Amerika Serikat pada 1985, dan kewarganegaraan kehormatan Amerika Serikat pada 1996. Ia berhadapan dengan banyak kepala negara, tetapi tidak pernah membiarkan protokol mengubah sosoknya; seragamnya tetap sapray sederhana dengan kros-kain di lengannya.
Sikap Konsekuen dan Kritik Tegas
Ketika meninggalkan lokasi bencana Bophal 1984 (India), tragedi Chernobyl 1986, dan korban kelaparan Ethiopia, Bunda Teresa selalu membawa prinsip yang sama: meringankan penderitaan langsung, tidak bertanya agama atau latar belakang. Positifnya tegas; namanya kemudian juga diselubungi kritik dari kalangan ilmuwan dan penulis seperti Christopher Hitchens, yang mempersoalkan praktik: audit penanganan pasien, sterilisasi, peran pengobatan versus dakwah, dan penerimaan dana dari tokoh kontroversial seperti Duvalier.
Apa pun penilaian para pengkritik, yang pasti adalah gelombang sukarelawan: mahasiswa dari Seoul, dokter dari Zurich, pensiunan dari Sydney, serta tunawisma India sendiri yang datang memeluk bagi atau pulang bekerja sebagai perawat. Missionaries of Charity menolak dana donor jika donor itu bermaksud mengikat, hanya menerima sumbangan yang tetap diperlukan secara rinci dan transparan.
Hari-Hari Terakhir dan Berpulang ke Pelukan Yang Mahaagung
Pada 1989 Bunda Teresa terserang penyakit jantung pertama. Serangkaian komplikasi medis mengikutinya: tulang dada patah, puji prostesis untuk jantung, pneumonia, dan malaria yang melumpuhkan stamina. Meski begitu, ia terus berkeliling dunia, membangun rumah di tempat-tempat termiskin di Amerika Latin, Afrika, dan Asia Tenggara.
Setelah upacara pemilihan Rektor pengganti pada 14 Maret 1997 yang menjatuhkan Mandat kepada Suster Nirmala Joshi, Bunda Teresa tetap aktif mendoakan dan menulis nasihat. Pada 5 September 1997, saat berusia 87 tahun, ia wafat di kamar tidur sederhananya di Mother House, Kalkuta, hanya beberapa hari setelah Putri Diana (yang juga dekat dengannya) meninggal dunia di Paris.
India menganugerahinya pemakaman kenegaraan penuh pelayanan ratusan ribu pelayat dari berbagai denominasi, termasuk perwakilan 23 kepresidenan. Upacara di Netaji Indoor Stadium pada 13 September 1997 itu mungkin tidak akan sebagus di trekken tanpa kedatangan para miskin yang dilayaninya.
Kanonisasi, Sepuluh Tahun Setelah
Paus Yohanes Paulus II mengabaikan aturan lima tahun yang lazim dan membuka proses kasus pada 1999. Setelah pengakuan mukjizat penyembuhan wanita Benggala, Monica Besra, yang mengalami tumor. Pada 19 Oktober 2003, Bunda Teresa dinyatakan 'terberkati' oleh Paus Yohanes Paulus II di Lapangan Santo Petrus, lebih dari dua ribu pendeta dan ratusan ribu pezi menyaksikan.
Proses dilanjutkan kembali dengan verifikasi mukjizat kedua: Maldoio Andrino, seorang insinyur Brasil yang didiagnosis tumor otak mematikan, pulih total setelah istrinya berdoa syafaat kepada Bunda Teresa pada Desember 2008. Pada 4 September 2016, Paus Fransiskus mengkanonisasinya sebagai Santa Teresa dari Kalkuta, sekaligus menetapkan 5 September sebagai hari peringatan liturgi.
Akhir Hayat dan Warisan
Pada 7 Oktober 2025, Mother House di Kalkuta merayakan Foundasi Day ke-75. Sebuah patung Bunda Teresa diresmikan di dinding luar kampus, sementara Misa syukur dipimpin Uskup Agung Elias Franck. Suster Mary Joseph, pemimpin umum, memuji karunia Tuhan yang menopang mereka selama tiga perempat abad sejak 1950.
Menurut catatan yang disampaikan ordo pada peringatan 2025, Missionaries of Charity kini mengelola 754 panti perawatan rawat homo di 139 negara, dengan lebih dari 5.000 biarawati yang menunaikan studi; bersama 390 frater MC serta ratusan kolega awam dan sukarelawan. Patung: 5.766 suster MC masih mengambil roti dari meja Mother House setiap pagi untuk dibagikan di perkampungan Kalkuta.
Tidak sekalipun bibirnya tak pernah mengeluh ketika ia ditanya tentang tujuan perjalanan panjang ke daratan cekungengah bencana. Ia menyimpulkan prinsip yang kemudian tertera di dinding seluruh pusat MC; sederhana tetapi tetap relevan:
"Tidak semua dari kita dapat melakukan perbuatan besar. Tetapi kita semua bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar."
Bunda Teresa tidak mendirikan program bantuan besar dengan kantor pusat bertingkat; ia meninggalkan sebuah ethos hidup. Bahwa anak terkecil di Motijhil layak mendapat huruf pertama dari guru yang bersunyi; bahwa pasien kusta layak disentuh oleh tangan manusia yang hangat; bahwa tidur seseorang yang sekarat layak ditemani oleh doa, bukan kertas data. Itulah warisan yang hingga hari ini menghidupkan setiap hari para suster, frater, dan relawan Missionaries of Charity dari Kalkuta ke Reykjavik.
Referensi
BBC News. (1997). Mother Teresa dies at 87. BBC World Service. http://news.bbc.co.uk/2/hi/188548.stm
Aleteia. (2025). Missionaries of Charity mark 75th anniversary. Aleteia. https://aleteia.org/2025/10/10/missionaries-of-charity-mark-75th-anniversary
Deutsche Welle. (2016). Vatican: Mother Teresa becomes Saint Teresa. DW. https://www.dw.com/en/vatican-mother-teresa-becomes-saint-teresa/a-19097371
Encyclopedia Britannica. (2024). Mother Teresa. Britannica. https://www.britannica.com/biography/Mother-Teresa
Kerala Catholic Online. (2025). Missionaries of Charity mark 75 years of service. Kerala Catholic. https://keralacatholiconline.com/english/world/missionaries-of-charity-mark-seventy-five-years-of-service
UCA News. (2025). Nuns of Mother Teresa celebrate 75th anniversary of foundation. UCA News. https://www.ucanews.com/news/nuns-of-mother-teresa-celebrate-75th-anniversary-of-foundation/110567
Nurdyansa
Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
Biografi Abraham Lincoln, 'Bapak Demokrasi Amerika' Penghapus Perbudakan

Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq, Kisah Sang Khulafaur Rasyidin

Biografi Adam Malik

Biografi Adam Osborne - Penemu Laptop

Biografi Adam Smith, Bapak Ilmu Ekonomi Dunia
