Biografi Dato' Sri Tahir: Pendiri Mayapada Group dan Filantropis Global
Ringkasan Cepat
- Dato' Sri Tahir adalah konglomerat asal Surabaya pendiri Mayapada Group dengan diversifikasi bisnis perbankan, kesehatan, dan properti.
- Mengendalikan entitas emiten bursa terkemuka di Bursa Efek Indonesia, termasuk PT Bank Mayapada Internasional Tbk (IDX: MAYA) dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (IDX: SRAJ).
- Mencatatkan kekayaan bersih konsolidasi sekitar US$ 4,5 miliar hingga US$ 9,1 miliar menurut kalkulasi Forbes.
- Menjadi orang Indonesia pertama yang menandatangani The Giving Pledge pada 2013 dengan komitmen mendonasikan mayoritas kekayaannya.
- Mengabdi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia periode 2019-2024 di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Daftar Isi
Dato' Sri Tahir adalah konglomerat dan filantropis terkemuka Indonesia yang membangun imperium bisnis Mayapada Group dengan valuasi aset miliaran dolar AS. Melalui entitas perbankan PT Bank Mayapada Internasional Tbk (IDX: MAYA) dan jaringan rumah sakit PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (IDX: SRAJ), ia mengendalikan portofolio finansial bernilai puluhan triliun rupiah. Dengan kekayaan bersih melampaui US$ 4,5 miliar menurut Forbes, ia mengukir sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menandatangani The Giving Pledge.
Perjalanan hidup Tahir menyajikan narasi ketahanan ekonomi, disiplin perbankan yang kokoh saat melewati badai krisis finansial, serta komitmen kemanusiaan berskala global. Dari gang sempit di Surabaya hingga panggung filantropi internasional bersama tokoh dunia, Tahir membuktikan bahwa akumulasi modal finansial memperoleh martabat tertingginya saat dialokasikan untuk memulihkan martabat manusia, memperluas akses kesehatan, dan memajukan pendidikan generasi penerus bangsa.
Biodata Dato' Sri Tahir
| Parameter Informasi | Rincian Faktual |
|---|---|
| Nama Lengkap | Dato' Sri Prof. Dr. Tahir, M.B.A. (Ang Tjoen Ming) |
| Tempat, Tanggal Lahir | Surabaya, Jawa Timur, 26 Maret 1952 |
| Pendidikan Formal | Jurusan Manajemen Bisnis, Nanyang University, Singapura Master of Business Administration (MBA), Golden Gate University, Amerika Serikat |
| Gelar Kehormatan | Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Kehormatan Universitas Andalas |
| Holding Utama | Mayapada Group (didirikan tahun 1986) |
| Entitas Pasar Modal | PT Bank Mayapada Internasional Tbk (IDX: MAYA) PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (IDX: SRAJ) PT Maha Properti Indonesia Tbk (IDX: MPRO) |
| Estimasi Kekayaan Bersih | US$ 4,5 Miliar hingga US$ 9,1 Miliar (Kalkulasi Forbes) |
| Jabatan Publik | Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI, 2019–2024) |
| Lembaga Filantropi | Tahir Foundation (Pendiri & Ketua Dewan Pembina) |
| Kemitraan Kemanusiaan | The Giving Pledge, The Global Fund, Bill & Melinda Gates Foundation |
Masa Kecil di Surabaya dan Nilai Pengorbanan Keluarga
Lahir pada 26 Maret 1952 di Surabaya, Jawa Timur, dengan nama Ang Tjoen Ming, Tahir tumbuh dalam keluarga perantau bersahaja yang menggantungkan nafkah dari industri kecil perakitan dan penyewaan becak. Ayahnya, Ang Boen Ing, dan ibunya, Lina Sindawaty, mendidik Tahir bersama saudara-saudaranya dalam ketatnya etos kerja, kejujuran moral, serta kepatuhan religius. Lingkungan masa kanak-kanak yang sarat keterbatasan ekonomi menanamkan kesadaran mendalam pada diri Tahir muda mengenai pahitnya jerat kemiskinan dan betapa vitalnya keteguhan watak dalam mengubah garis nasib keluarga.
Cita-cita awal Tahir sesungguhnya bermuara pada profesi kedokteran. Ia memendam impian luhur menjadi seorang dokter yang mampu mengobati masyarakat miskin tanpa memungut bayaran. Namun, ketika ia berhasil menamatkan pendidikan menengah atas di SMA Kristen Petra Surabaya pada tahun 1971 dan bersiap mengejar kuliah kedokteran di Taiwan, takdir berkehendak lain. Sang ayah jatuh sakit keras, sehingga stabilitas finansial keluarga terguncang hebat. Menghadapi situasi genting tersebut, Tahir mengambil keputusan berat untuk melepaskan impian kuliah kedokteran demi menopang kelangsungan hidup keluarga dan merawat sang ayah.
Pengorbanan tersebut menjadi titik balik pembentukan karakter kepemimpinannya. Berbekal tekad baja untuk bangkit, Tahir berhasil memperoleh beasiswa pendidikan di Nanyang University, Singapura, mengambil jurusan manajemen bisnis. Di negeri jiran tersebut, ia membagi waktu antara menuntut ilmu akademik di ruang kuliah dan bekerja keras mengumpulkan modal. Tahir mulai berdagang aneka komoditas, membeli produk garmen dan aneka pakaian jadi dari Singapura untuk dipasarkan kembali ke pedagang grosir di Pasar Atom dan Pasar Turi Surabaya.
Pendidikan formalnya kemudian diperdalam hingga meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Golden Gate University, California, Amerika Serikat. Kombinasi tempaan hidup jalanan Surabaya, kedisiplinan akademik Singapura, serta pemahaman teori korporasi modern Amerika Serikat membentuk fondasi pemikiran analitis yang kelak menjadi modal utama Tahir dalam menavigasi kompetisi bisnis global.
Membangun Mayapada Group: Fondasi Bisnis Perdagangan dan Garmen
Setelah menuntaskan studinya, Tahir kembali ke Tanah Air dan mulai menekuni bisnis perdagangan secara terstruktur. Pada pertengahan era 1970-an hingga awal 1980-an, ia mendirikan pabrik garmen di kawasan Jawa Barat dan Jawa Timur. Bisnis tekstil dan pakaian jadi tersebut berkembang pesat berkat kejelian Tahir membaca peluang ekspor ke pasar Amerika Serikat dan Eropa, memanfaatkan kuota tekstil internasional yang kala itu masih berlaku.
Keberhasilan di sektor garmen mengantarkan Tahir pada akumulasi modal awal yang solid. Pada tahun 1986, ia secara resmi mendirikan Mayapada Group sebagai holding konglomerasi yang menaungi berbagai divisi usaha. Nama Mayapada dipetik dari bahasa Sansekerta yang bermakna "dunia nyata" atau "alam semesta", mencerminkan visi korporasi yang ingin membumi dan menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat luas.
Dari sektor industri manufaktur garmen, Mayapada Group segera melebarkan sayap ke bisnis distribusi otomotif dengan menjadi dealer resmi sejumlah kendaraan bermotor, perdagangan komoditas ekspor-impor, hingga kepemilikan jaringan toko bebas bea (duty-free shops) di berbagai bandara internasional dan pusat perbelanjaan strategis. Pertumbuhan pesat ini membuktikan kelihaian manajerial Tahir dalam membangun jaringan pasok, mengelola arus kas operasional, dan membina relasi bisnis yang saling menguntungkan dengan para mitra dagang internasional.
Ekspansi bisnis tersebut sekaligus menegaskan independensi profesional Tahir. Kendati pada tahun 1974 ia menikah dengan Rosy Riady, putri sulung dari konglomerat Mochtar Riady pendiri Lippo Group, Tahir memegang teguh prinsip untuk membangun imperium bisnisnya secara mandiri tanpa bergantung pada fasilitas atau permodalan mertuanya. Komitmen menjaga harga diri dan kemandirian finansial tersebut menjadi pendorong internal yang melipatgandakan daya juangnya dalam membesarkan Mayapada Group dari nol.
Ekspansi Sektor Finansial: Ketahanan PT Bank Mayapada Internasional Tbk (IDX: MAYA)
Langkah paling monumental dalam perjalanan korporasi Tahir terjadi ketika ia memutuskan merambah industri perbankan komersial. Pada tanggal 7 September 1989, ia mendirikan PT Bank Mayapada Internasional Tbk. Beroperasi di tengah deregulasi perbankan Paket Oktober 1988 (Pakto 88), Bank Mayapada dirancang Tahir sebagai lembaga intermediasi keuangan yang fokus melayani segmen usaha kecil, menengah, dan komersial (SME & commercial banking).
Ujian terberat dalam sejarah perbankan nasional tiba pada medio 1997-1998 ketika krisis moneter Asia meluluhlantakkan perekonomian Indonesia. Puluhan bank swasta nasional kolaps akibat kredit macet, pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) kepada grup usaha sendiri, serta ketergantungan ekstrem pada pinjaman valuta asing jangka pendek. Dalam gelombang kejatuhan tersebut, ratusan bank terpaksa dilikuidasi atau diselamatkan melalui kucuran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Di tengah prahara sistemik tersebut, Bank Mayapada mencatatkan prestasi membanggakan. Berkat manajemen risiko yang berhati-hati dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) yang diterapkan Tahir, Bank Mayapada sama sekali tidak mengambil fasilitas dana talangan BLBI dan tidak masuk dalam pengawasan BPPN. Tahir menolak praktik pengalihan dana nasabah untuk membiayai proyek-proyek spekulatif internal grup. Keberhasilan mempertahankan solvabilitas secara mandiri menjadikan Bank Mayapada sebagai institusi perbankan swasta berdaya tahan tinggi yang keluar dari krisis dalam posisi neraca yang kokoh.
Pada tahun 2002, Bank Mayapada resmi melantai di Bursa Efek Jakarta (kini Bursa Efek Indonesia) dengan kode saham IDX: MAYA. Pencatatan saham perdana tersebut memperluas akses permodalan publik dan memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Bank Mayapada secara konsisten memperluas jaringan kantor cabang di berbagai kota metropolitan dan sentra ekonomi regional dari Sumatra, Jawa, Bali, hingga Papua.
Guna memperkokoh struktur permodalan inti dalam menghadapi dinamika regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tahir berkali-kali menunjukkan komitmen selaku pemegang saham pengendali terakhir (Ultimate Beneficiary Owner). Melalui aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue), Tahir secara pribadi dan melalui entitas holding menginjeksi dana segar tunai senilai lebih dari Rp 3 triliun ke dalam kas modal Bank Mayapada. Komitmen permodalan yang agresif ini memastikan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio / CAR) bank tetap berada di atas ketentuan batas aman regulator perbankan.
Menghadapi era disrupsi digital dan pergeseran perilaku transaksi perbankan, Bank Mayapada mengakselerasi transformasi teknologi dengan merilis aplikasi perbankan digital myONLINE dan memperkuat arsitektur layanan cash management bagi nasabah korporat. Fokus pada layanan perbankan transaksional dan pembiayaan sektor riil terbukti menjaga kinerja intermediasi di tengah volatilitas makroekonomi global.
Ekosistem Kesehatan: PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (IDX: SRAJ) dan Mayapada Healthcare
Kerinduan masa muda untuk mengabdi di dunia medis akhirnya diwujudkan Tahir melalui pendirian pilar bisnis layanan kesehatan modern. Mayapada Group mengakuisisi dan mengembangkan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk yang melantai di bursa dengan ticker IDX: SRAJ, mengoperasikan jaringan rumah sakit premium di bawah bendera Mayapada Healthcare Group.
Mayapada Hospital pertama kali beroperasi di kawasan modern Tangerang, Banten, dan segera diikuti pembukaan unit-unit rumah sakit bertaraf internasional di lokasi-lokasi strategis: Mayapada Hospital Jakarta Selatan (Lebak Bulus), Mayapada Hospital Kuningan (Jakarta Pusat), Mayapada Hospital Bogor BMC, Mayapada Hospital Surabaya, dan Mayapada Hospital Bandung. Jaringan rumah sakit ini dilengkapi dengan fasilitas teknologi medis mutakhir, laboratorium kateterisasi jantung (cath lab), pusat penanganan kanker terpadu (oncology center), layanan bedah saraf canggih, dan unit gawat darurat 24 jam.
Dalam kepemimpinan operasional yang kini diteruskan oleh sang putra, Jonathan Tahir, Mayapada Healthcare menjalin kolaborasi strategis dengan institusi medis global ternama, salah satunya Apollo Hospitals India, guna mentransfer keahlian klinis spesialis dan memperkuat kapasitas penanganan kasus-kasus medis kompleks di dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan agenda nasional untuk menekan arus devisa ratusan triliun rupiah yang selama ini mengalir ke rumah sakit di Singapura atau Malaysia akibat pasien domestik yang berobat ke luar negeri.
Komitmen investasi kesehatan Mayapada Group semakin ditegaskan melalui pembangunan Mayapada Hospital Nusantara di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Proyek rumah sakit berkonsep green hospital dengan nilai investasi ratusan miliar rupiah tersebut dirancang untuk menyediakan layanan kesehatan rujukan berstandar ramah lingkungan dan terakreditasi internasional bagi aparatur sipil negara, duta besar perwakilan negara sahabat, dan masyarakat luas di ibu kota baru.
Gurita Bisnis Properti, Media, dan Portofolio Regional
Di luar sektor perbankan dan kesehatan, Mayapada Group memiliki pilar bisnis properti komersial yang prestisius. Melalui entitas pengembang PT Maha Properti Indonesia Tbk (IDX: MPRO) dan sejumlah anak perusahaan properti privat, kelompok usaha ini mengelola berbagai aset gedung perkantoran bertingkat tinggi (grade-A office towers), kompleks residensial premium, serta kawasan perhotelan bintang lima.
Aset ikonik di kawasan segitiga emas Sudirman-Thamrin Jakarta mencakup Menara Mayapada dan Mayapada Tower, yang menjadi pusat operasional korporasi terkemuka dan kantor kedutaan besar. Di sektor perhotelan mewah, portofolio Tahir mencakup kepemilikan jaringan hotel bintang lima berkelas dunia di Bali, seperti Regent Bali Canggu dan InterContinental Bali Resort di Jimbaran, yang secara berkala mencetak pendapatan berulang (recurring income) solid dari industri pariwisata internasional.
Jangkauan investasi properti Tahir meluas hingga ke pasar real estate regional di Singapura melalui entitas publik MYP Ltd yang tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX). Melalui instrumen investasi tersebut, Tahir menguasai kepemilikan gedung perkantoran komersial seperti MYP Centre di Battery Road dan ABI Plaza di Tanjong Pagar. Langkah diversifikasi geografis ini memitigasi risiko volatilitas pasar domestik dan mengokohkan posisi Mayapada Group sebagai konglomerasi multinasional terkemuka.
Pada pilar komunikasi dan informasi publik, Mayapada Group pernah mengelola lini bisnis media cetak dan penyiaran dengan mengantongi lisensi majalah bisnis bergengsi Forbes Indonesia, kepemilikan harian surat kabar Suara Pembaruan, serta stasiun televisi berbayar Topas TV. Meskipun dinamika digital mendorong restrukturisasi portofolio media, kepemilikan media tersebut sempat menjadi instrumen strategis dalam menyebarkan inspirasi kewirausahaan dan analisis ekonomi objektif kepada komunitas pelaku bisnis nasional.
Filantropi Global, The Giving Pledge, dan Kemitraan Bill & Melinda Gates
Pencapaian yang membedakan Dato' Sri Tahir dari jajaran konglomerat Asia lainnya adalah komitmen radikalnya dalam dunia filantropi. Melalui yayasan kemanusiaan keluarga yang diberi nama Tahir Foundation, ia menyalurkan sumber daya finansial dalam skala masif untuk mengatasi berbagai persoalan kemanusiaan mendasar: kemiskinan ekstrem, penularan penyakit menular, pendidikan tinggi bagi anak kurang mampu, dan mitigasi bencana alam.
Puncak pengakuan filantropi dunia tiba pada tahun 2013 ketika Tahir resmi menandatangani The Giving Pledge, sebuah gerakan moral global yang diinisiasi oleh investor legendaris Warren Buffett dan pendiri Microsoft Bill Gates. Penandatanganan ikrar ini mewajibkan para miliarder dunia untuk menyumbangkan minimal 50 persen dari seluruh total kekayaan bersih mereka semasa hidup atau melalui surat wasiat demi kepentingan kemaslahatan sosial. Tahir mencatatkan rekor sebagai miliarder Indonesia pertama, dan salah satu dari segelintir taipan Asia Tenggara, yang berani mengikatkan diri dalam komitmen kemanusiaan global tersebut.
Wujud nyata dari komitmen tersebut adalah terjalinnya kemitraan strategis bersejarah antara Tahir Foundation dan Bill & Melinda Gates Foundation pada tahun 2013-2014. Tahir Foundation mengucurkan donasi sebesar US$ 103,5 juta (setara lebih dari Rp 1,3 triliun pada saat itu) untuk mendanai program kesehatan global. Dari jumlah dana tersebut, sebesar US$ 65 juta dialokasikan untuk The Global Fund guna memerangi epidemi HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria di kawasan Indonesia dan Asia Pasifik, di mana setiap dolar yang disumbangkan Tahir dilipatgandakan nilainya oleh Gates Foundation. Sementara itu, sisa donasi sebesar US$ 40 juta dialokasikan khusus untuk program inisiatif global pemberantasan penyakit polio di seluruh dunia.
Di ranah pendidikan nasional, Tahir menyalurkan beasiswa pendidikan bernilai ratusan miliar rupiah ke berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta terkemuka di Tanah Air, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Andalas. Ia juga mendanai pembangunan gedung laboratorium riset dan fasilitas perkuliahan modern guna mencetak talenta intelektual berdaya saing global. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, Tahir Foundation secara berkala mendanai pembangunan ribuan unit rumah layak huni dan mendistribusikan ratusan ribu paket bantuan pangan bergizi di berbagai kantong kemiskinan di pelosok Indonesia.
Kiprah kemanusiaannya menembus batas geografis dan lintas negara. Tahir turun langsung memimpin misi kemanusiaan ke kamp-kamp pengungsi korban perang di Yordania, Lebanon, dan Suriah, menyalurkan bantuan selimut, obat-obatan, dan tenda bagi pengungsi anak-anak. Atas dedikasi filantropi lintas benua tersebut, Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) menobatkan Tahir sebagai Eminent Advocate for UNHCR, menjadikannya tokoh Asia pertama yang dianugerahi peran kehormatan tertinggi dalam perlindungan pengungsi dunia.
Pengabdian Publik: Mengemban Amanah Dewan Pertimbangan Presiden
Kombinasi reputasi kepemimpinan bisnis yang bersih dan komitmen kebangsaan yang teruji membawa Dato' Sri Tahir ke ranah pengabdian kenegaraan formal. Pada 13 Desember 2019, Presiden Joko Widodo secara resmi melantik Tahir sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI) untuk masa bakti 2019–2024 di Istana Negara, Jakarta.
Mengemban amanah sebagai penasihat kepala negara bersama tokoh-tokoh senior bangsa seperti Wiranto, Putri Kus Wisnu Wardani, dan Arifin Panigoro, Tahir mendedikasikan waktu, jejaring internasional, dan pemikiran strategisnya untuk merumuskan telaah kebijakan makroekonomi, stabilitas perbankan, dan pengentasan kemiskinan ekstrem. Sebelum memangku jabatan publik tersebut, Tahir melepaskan seluruh posisi kepengurusan eksekutif aktif di jajaran direksi entitas bisnis Mayapada Group demi mematuhi ketentuan perundang-undangan dan mencegah potensi benturan kepentingan (conflict of interest).
Selama lima tahun masa baktinya di Wantimpres, Tahir aktif memberikan masukan konkret dalam penanganan krisis pandemi COVID-19, penguatan resiliensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta diplomasi investasi modal asing langsung (Foreign Direct Investment / FDI). Ia memandang jabatan penasihat presiden bukan sebagai instrumen pencarian pengaruh politik atau perlindungan bisnis, melainkan murni sebagai bentuk pembayaran utang budi kehormatan kepada Republik Indonesia yang telah memberikan ruang hidup dan kesempatan luas baginya untuk berkembang dari seorang anak keluarga penarik becak menjadi pengusaha berskala global.
Filosofi Kepemimpinan dan Warisan Nilai Dato' Sri Tahir
Filosofi hidup dan kepemimpinan Dato' Sri Tahir diabadikan dalam karya buku otobiografinya yang berjudul Living Sacrifice (ditulis oleh novelis biografi Alberthiene Endah pada tahun 2014). Istilah "hidup yang berkurban" merefleksikan doktrin spiritual terdalam Tahir bahwa keberhasilan materi yang diraih manusia bukanlah hak milik mutlak untuk dinikmati dalam kemewahan egoistik, melainkan amanah sakral yang menuntut pengorbanan ego demi mengangkat harkat sesama manusia yang menderita.
Dalam setiap kesempatan dialog dengan para generasi muda dan pelaku wirausaha nasional, Tahir kerap menekankan pentingnya menjaga kesucian integritas dan ketenangan nurani di atas segala bentuk pencapaian angka-angka finansial:
"Yang saya anggap berharga dalam hidup adalah bersyukur atas apa yang saya miliki, tidur dengan pikiran damai tanpa stres dan tahu bahwa saya tidak memiliki musuh, menghabiskan malam dengan tidur nyenyak dan menikmati tidur berkualitas, serta bangun di pagi hari dengan perasaan positif."
Keteguhan prinsip tersebut ia wujudkan pula dalam sistem tata kelola regenerasi kepemimpinan keluarga Mayapada Group. Keempat anaknya—Jane Dewi Tahir, Grace Dewi Tahir, Victoria Dewi Tahir, dan Jonathan Tahir—dididik secara disiplin tanpa hak istimewa manajerial otomatis. Masing-masing generasi penerus diwajibkan meniti karier profesional dari jenjang fungsional dasar, membuktikan kompetensi kepemimpinan, dan menginternalisasi nilai-nilai filantropi sebelum dipercaya memimpin unit-unit strategis seperti Mayapada Healthcare, perbankan, maupun properti.
Di panggung bisnis yang kerap diwarnai kalkulasi laba-rugi materialistis, Tahir senantiasa mengingatkan bahwa kekayaan finansial hanyalah instrumen sementara yang nilainya diukur dari besarnya manfaat sosial yang ditinggalkan:
"Bagi saya, hidup ini bukan tentang berapa banyak harta yang bisa kita kumpulkan, melainkan berapa banyak yang bisa kita kembalikan kepada masyarakat. Sukses sejati seorang pengusaha diuji dari sejauh mana ia mampu menjadi saluran berkat bagi sesama yang membutuhkan pertolongan."
Integritas institusional perbankan dan kesehatan yang dibangunnya puluhan tahun pun diletakkan di atas pilar kepercayaan publik yang pantang dikompromikan oleh kepentingan jangka pendek:
"Dalam industri perbankan dan layanan kesehatan, modal utama yang tak ternilai bukanlah semata-mata nominal uang, melainkan integritas dan kepercayaan publik. Sekali kepercayaan itu goyah, runtuhlah seluruh fondasi institusi tersebut."
Hingga usia senja, Dato' Sri Tahir tetap teguh berdiri sebagai figur tauladan wirausahawan paripurna: seorang pembangun institusi perbankan yang berdisiplin baja, pelopor layanan rumah sakit bertaraf dunia, negarawan yang tulus mengabdi bagi Tanah Air, serta filantropis berhati mulia yang mendedikasikan sebagian besar berkah hidupnya untuk menghadirkan keadilan sosial dan pengharapan bagi umat manusia.
Referensi
- Endah, A. (2014). Living Sacrifice: Menyerahkan Diri untuk Negeri, Biografi Dato' Sri Prof. Dr. Tahir, MBA. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Forbes Media. (2024). Indonesia's 50 Richest: Dato' Sri Tahir & Family Profile and Real-Time Wealth. Forbes.
- PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (2024). Laporan Tahunan dan Keberlanjutan 2023: Memperkuat Permodalan Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan. Jakarta: Bank Mayapada.
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (2024). Laporan Tahunan 2023: Ekspansi Layanan Kesehatan Berstandar Internasional. Tangerang: Mayapada Healthcare.
- The Giving Pledge. (2013). Pledge Letter: Dato' Sri Tahir Commitment to Philanthropy. Seattle: The Giving Pledge Foundation.
- Sekretariat Jenderal Wantimpres. (2020). Profil Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI 2019-2024. Jakarta: Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.
Pertanyaan Seputar Tokoh Ini
Siapa sebenarnya Dato' Sri Tahir?
Dato' Sri Tahir adalah pengusaha miliarder, investor, dan filantropis Indonesia yang mendirikan Mayapada Group, holding konglomerasi yang mencakup sektor perbankan, rumah sakit, properti, dan media.
Apa saja perusahaan dan ticker saham utama milik Dato' Sri Tahir di BEI?
Perusahaan publik utama di bawah naungan Mayapada Group meliputi PT Bank Mayapada Internasional Tbk (IDX: MAYA), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (IDX: SRAJ) yang mengelola Mayapada Hospital, dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (IDX: MPRO).
Berapa perkiraan kekayaan bersih Dato' Sri Tahir menurut Forbes?
Kekayaan bersih Dato' Sri Tahir dan keluarganya diestimasi berada di kisaran US$ 4,5 miliar hingga US$ 9,1 miliar oleh Forbes, menempatkannya di jajaran sepuluh orang terkaya di Indonesia.
Apa peran Dato' Sri Tahir dalam The Giving Pledge dan aksi filantropi global?
Tahir adalah tokoh Indonesia pertama yang menandatangani The Giving Pledge pada tahun 2013, berkomitmen menyumbangkan minimal 50% kekayaannya. Melalui Tahir Foundation, ia menyalurkan lebih dari US$ 103,5 juta bermitra dengan Bill & Melinda Gates Foundation untuk penanggulangan polio, malaria, TBC, dan HIV/AIDS.
Nurdyansa
Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
Biografi Achmad Zaky, Kisah From 'Zero to Hero' dari Pendiri Bukalapak

Biografi Ahmad Sahroni, Dari Tukang Cuci Menjadi Crazy Rich Tanjung Priok

Biografi Aksa Mahmud, Dari Penjual Es Hingga Menjadi Pendiri Bosowa Grup

Biografi Amancio Ortega, Kisah Pendiri Merk Zara Yang Putus Sekolah

Biografi Andrew Darwis - Pendiri Kaskus
