Biografi Frans Kaisiepo: Pahlawan Nasional Papua Penggagas Nama Irian
Ringkasan Cepat
- Frans Kaisiepo lahir di Pulau Biak pada 10 Oktober 1921 dan wafat di Jayapura pada 10 April 1979.
- Tokoh bumiputera Papua pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Jayapura pada 31 Agustus 1945.
- Mengusulkan nama 'Irian' pada Konferensi Malino 1946 untuk menggantikan nama Nederlands Nieuw-Guinea.
- Menolak memimpin delegasi Belanda ke Konferensi Meja Bundar 1949 hingga dipenjara dan diasingkan ke Ransiki selama 5 tahun.
- Menjabat Gubernur Papua keempat periode 1964–1973 yang sukses memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969.
- Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 14 September 1993 dan diabadikan pada uang kertas Rp10.000.
Daftar Isi
Frans Kaisiepo adalah Pahlawan Nasional Indonesia asal Papua, negarawan pemersatu bangsa, dan penggagas nama bersejarah "Irian" pada Konferensi Malino 1946. Memimpin perlawanan diplomasi melawan kolonialisme Belanda hingga menjadi Gubernur Irian Barat (1964–1973), Kaisiepo berjasa besar memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969. Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 14 September 1993 dan mengabadikan wajahnya pada uang kertas pecahan Rp10.000.

Biodata Frans Kaisiepo
| Data Diri | Rincian Faktual |
|---|---|
| Nama Lengkap | Frans Kaisiepo |
| Tempat, Tanggal Lahir | Kampung Wardo, Biak Barat, Papua, 10 Oktober 1921 |
| Wafat | Jayapura, Papua, 10 April 1979 (usia 57 tahun) |
| Makam | Taman Makam Pahlawan Cenderawasih, Biak, Papua |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Agama | Kristen Protestan |
| Pendidikan | Sekolah Guru Normal Manokwari, Bestuursschool Kota Nica |
| Karier / Jabatan | Kepala Distrik Biak (1946), Gubernur Irian Barat (1964–1973), Anggota DPR/MPR RI (1973–1977), Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1977–1979) |
| Partai Politik | Partai Indonesia Merdeka (PIM, pendiri 1946), Irian Sebagian Indonesia (ISI, 1961) |
| Pasangan | Anthomina Arwam (menikah 1940-an), Maria Magdalena Moorwahyuni (menikah 1973) |
| Penghargaan Tertinggi | Pahlawan Nasional Indonesia (1993), Bintang Mahaputera Adipradana, Wajah Uang Pecahan Rp10.000 |
Latar Belakang dan Masa Muda di Tanah Biak
Frans Kaisiepo dilahirkan pada 10 Oktober 1921 di sebuah perkampungan pesisir bernama Wardo, yang terletak di bagian barat Pulau Biak, Papua. Lingkungan geografis Biak yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik membentuk karakter masyarakatnya menjadi pelaut tangguh, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki harga diri adat yang kuat. Ayahnya, Albert Kaisiepo, merupakan seorang kepala suku terpandang dari klan Biak Numfor sekaligus pandai besi piawai yang sangat disegani masyarakat setempat. Kehidupan masa kanak-kanak Frans diuji secara emosional ketika ibunya wafat saat ia baru menginjak usia 2 tahun. Pengasuhan Frans kemudian diserahkan kepada bibinya, sehingga ia tumbuh berdampingan secara erat dengan saudara sepupunya, Markus Kaisiepo.
Meskipun berasal dari daerah pedalaman timur Nusantara yang pada awal abad ke-20 terisolasi dari pusat kekuasaan kolonial di Batavia, garis nasib Frans Kaisiepo terbuka berkat akses pendidikan formal yang langka. Mengingat kedudukan ayahnya sebagai pemimpin adat, Frans memperoleh kesempatan memasuki Sekolah Rakyat di distrik Wardo. Bakat intelektual dan kecerdasannya yang menonjol membuatnya terpilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Sekolah Guru Normal (Kweekschool) di Manokwari, pusat administrasi pemerintahan Belanda di kawasan kepala burung Papua pada masa itu.
Di Manokwari, Frans memperdalam wawasan pedagogi, ilmu hitung, serta bahasa Belanda. Selepas menamatkan pendidikan keguruannya, pemerintah kolonial Belanda yang melihat ketertiban administratif Frans kemudian mengirimnya untuk mengikuti kursus pamong praja di Sekolah Layanan Sipil (Bestuursschool) yang berlokasi di Kota Nica (sekarang Kampung Harapan, Sentani, Kabupaten Jayapura). Lembaga pendidikan inilah yang kelak menjadi kawah candradimuka pemikiran kebangsaan Frans, mempertemukan dirinya dengan arus utama pergerakan kemerdekaan Indonesia yang tengah bergolak menjelang berakhirnya Perang Dunia II.
Titik Balik dan Penggeloraan Api Nasionalisme
Babak krusial dalam evolusi ideologis Frans Kaisiepo terjadi pada pertengahan tahun 1945 di Bestuursschool Kota Nica. Di lembaga birokrasi kolonial tersebut, Frans bertemu dengan Sugoro Atmoprasodjo, seorang bekas tahanan politik Boven Digoel asal Jawa yang bekerja sebagai pengajar. Sugoro, yang berlatar belakang pendidik Taman Siswa asuhan Ki Hajar Dewantara, secara rahasia menanamkan doktrin kebangsaan Indonesia kepada para murid bumiputera Papua. Diskusi-diskusi malam yang diselenggarakan Sugoro menyadarkan Frans dan kawan-kawannya, seperti Marthen Indey dan Silas Papare, bahwa perjuangan melawan penjajahan bukanlah persoalan suku atau pulau semata, melainkan ikhtiar kolektif sebuah bangsa yang membentang dari Sabang sampai Merauke.
Gelora kemerdekaan yang diproklamasikan Sukarno dan Mohammad Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945 segera memicu resonansi keberanian di dada Frans Kaisiepo. Tepat pada 31 Agustus 1945, saat bala tentara Sekutu dan otoritas NICA (Netherlands Indies Civil Administration) masih berkuasa penuh atas garnisun militer di Hollandia (Jayapura), Frans Kaisiepo bersama para pemuda pergerakan nekat melakukan aksi bersejarah. Mereka mengibarkan bendera Merah Putih di halaman gedung sekolah Bestuursschool dan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya di hadapan pejabat kolonial yang terperangah. Tindakan monumental ini tercatat dalam lembaran sejarah sebagai momentum pengibaran bendera kebangsaan Indonesia pertama di tanah Papua.
Menyadari bahwa perjuangan membutuhkan wadah politik yang legal dan berakar di tengah masyarakat, Frans kembali ke kampung halamannya di Biak pada awal tahun 1946. Bersama aktivis pergerakan Lukas Rumkorem, pada 10 Juli 1946 Frans mendirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Partai ini bergerak menghimpun para tetua adat, pamong praja lokal, dan pemuda di seluruh kepulauan Numfor untuk menentang rencana pemisahan administrasi Papua dari Republik Indonesia. Di bawah kepemimpinan Frans, cabang-cabang PIM tumbuh pesat hingga mencapai ribuan anggota, menjadikan Biak sebagai episentrum perlawanan nasionalis terkuat di Pasifik barat daya.
Konferensi Malino 1946 dan Lahirnya Nama "Irian"
Panggung sejarah nasional menyambut kehadiran Frans Kaisiepo pada Juli 1946, ketika Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook menggelar Konferensi Malino di sebuah kota peristirahatan pegunungan dekat Makassar, Sulawesi Selatan. Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung dari tanggal 16 hingga 22 Juli 1946 ini dirancang Belanda untuk membentuk negara-negara bagian federal, salah satunya Negara Indonesia Timur (NIT), dengan muslihat strategis memecah belah kedaulatan Republik Indonesia serta mengamankan Papua sebagai koloni permanen Kerajaan Belanda di masa depan.
Dalam konferensi tersebut, Frans Kaisiepo hadir sebagai satu-satunya perwakilan resmi bumiputera Papua dari wilayah Nederlands Nieuw-Guinea. Alih-alih tunduk pada garis politik yang telah diatur oleh panitia Belanda, pemuda berusia 24 tahun itu tampil mengguncang ruang sidang dengan pidato pembelaan kedaulatan yang lugas. Frans secara tegas menolak pemisahan Papua dari kesatuan Indonesia. Di hadapan 39 delegasi dari berbagai pelosok Nusantara dan pejabat tinggi Belanda, Frans Kaisiepo mengusulkan perubahan nama wilayah "Nederlands Nieuw-Guinea" atau "Papua" menjadi satu kata yang menggema: Irian.
"Nama Irian berasal dari peradaban bahari Biak yang bermakna 'sinar yang menghalau kabut laut' atau 'tanah panas yang memancarkan cahaya'. Nama ini menegaskan identitas martabat kami dan ikrar tak terpisahkan bahwa tanah ini bersatu padu dalam rumah besar Nusantara."
Frans berargumen bahwa sebutan "Papua" sering kali dilekati konotasi etnosentris yang merendahkan harkat warga lokal pada masa kolonial. Oleh karena itu, kata "Irian" diangkat sebagai lambang emansipasi dan persaudaraan. Di kemudian hari, Presiden Sukarno mengadopsi usulan Frans Kaisiepo ini dengan merumuskannya menjadi akronim populer: "Ikut Republik Indonesia Anti-Nederland". Di samping penamaan teritorial, Frans mengusulkan agar Papua secara resmi dimasukkan ke dalam wilayah administrasi Maluku sebagai pintu gerbang integrasi dengan Republik Indonesia. Keberanian Frans di Malino seketika menjadikannya target pengawasan intelijen militer Belanda.
Pembangkangan Heroik dan Pengasingan ke Ransiki
Pasca-Konferensi Malino, tekanan pemerintah kolonial terhadap Frans Kaisiepo semakin meningkat tajam. Otoritas Belanda mencoba menundukkan sikap keras kepala Frans dengan berbagai tawaran kompromi politik dan iming-iming jabatan birokrasi tinggi. Puncaknya terjadi pada tahun 1949 menjelang pelaksanaan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Pemerintah kolonial menawarkan posisi prestisius kepada Frans untuk memimpin delegasi Nugini Belanda dalam perundingan multilateral tersebut. Namun, penawaran ini disertai syarat mutlak: Frans harus bersedia menandatangani kesepakatan pemisahan Papua dari kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS).
Dengan keteguhan prinsip yang tidak tergoyahkan, Frans Kaisiepo menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Ia menyatakan bahwa pengkhianatan terhadap kedaulatan republik adalah tindakan nista yang tidak akan pernah ia lakukan seumur hidupnya.
"Lebih baik saya dicopot dari segala jabatan dan dibuang ke rimba terdalam daripada harus menandatangani secarik kertas yang memisahkan tanah leluhur saya dari pangkuan Ibu Pertiwi."
Penolakan keras kepala itu berbayar mahal. Pada tahun 1954, aparat keamanan kolonial menangkap Frans Kaisiepo. Ia dicopot dari jabatannya sebagai kepala distrik dan dijatuhi hukuman pengasingan administratif ke pedalaman terpencil di Ransiki, sebuah kawasan perbukitan terisolasi di selatan Manokwari. Selama 5 tahun penuh (1954–1961), Frans dipisahkan dari pusaran politik, diawasi ketat selama 24 jam sehari oleh polisi militer Belanda, serta dibatasi ruang geraknya agar tidak dapat mengorganisasi perlawanan massa.
Meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi dan kesunyian rimba Ransiki, bara perlawanan Frans tidak pernah padam. Melalui jejaring kurir rahasia yang melibatkan para pemuka gereja dan kelasi kapal dagang antarpulau, ia tetap menyelundupkan pesan-pesan instruksi politik kepada para simpatisan Partai Indonesia Merdeka. Pengasingan panjang tersebut justru mengkristalkan reputasi Frans sebagai simbol keteguhan moral dan benteng moral perjuangan integrasi nasional di mata rakyat Papua.
Trikora, Menakhodai Irian Barat, dan Kesuksesan PEPERA 1969
Ketika masa pengasingannya berakhir pada awal 1961, peta geopolitik Indonesia tengah memasuki fase konfrontasi terbuka. Pada 19 Desember 1961, Presiden Sukarno mengumandangkan amanat Tri Komando Rakyat (Trikora) di Alun-Alun Utara Yogyakarta untuk membebaskan Irian Barat melalui pengerahan kekuatan militer dan diplomasi internasional. Menanggapi komando tersebut, Frans Kaisiepo segera mendirikan partai bawah tanah bernama Irian Sebagian Indonesia (ISI). Partai ini bertugas memandu infiltrasi pasukan Komando Mandala pimpinan Mayor Jenderal Soeharto dan mengamankan jalur logistik bagi pasukan sukarelawan Indonesia yang diterjunkan di hutan belantara Papua.
Menyusul penandatanganan Perjanjian New York (New York Agreement) pada 15 Agustus 1962 dan masa transisi di bawah Otoritas Eksekutif Sementara PBB (UNTEA), kedaulatan Papua secara resmi diserahkan kembali kepada Republik Indonesia pada 1 Mei 1963. Mengingat rekam jejak kepemimpinan dan legitimasi kulturalnya yang tak tertandingi, Presiden Sukarno menunjuk Frans Kaisiepo sebagai Gubernur Provinsi Irian Barat keempat pada 2 Juni 1964, menggantikan Eliezer Jan Bonay.
Memimpin provinsi yang baru saja pulih dari luka kolonialisme selama puluhan tahun bukanlah perkara mudah. Frans dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur dasar, kelangkaan tenaga pendidik, serta kecurigaan geopolitik dari sebagian elite lokal yang terpengaruh propaganda Belanda. Namun, dengan pendekatan diplomasi persuasif yang bertumpu pada kearifan musyawarah adat, Frans berhasil meredam berbagai ketegangan horizontal dan meletakkan fondasi awal sistem administrasi modern di tanah Papua.

Tantangan kepemimpinan paling berat datang pada musim panas 1969 saat diselenggarakannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) sesuai mandat Perjanjian New York. Sebagai gubernur, Frans memikul beban berat untuk memastikan bahwa rakyat Papua secara bulat memilih tetap bersatu dengan Indonesia di hadapan para pemantau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pimpinan Fernando Ortiz-Sanz. Frans berkeliling ke 8 kabupaten, dari dataran Jayapura, Merauke, Fakfak, Manokwari, Sorong, Biak, hingga pedalaman pegunungan Jayawijaya dan Paniai, untuk berdialog secara langsung dengan 1.025 anggota Dewan Musyawarah Pepera.
Kegigihan diplomasi Frans berbuah kemenangan bersejarah. Pada 2 Agustus 1969, seluruh anggota musyawarah Pepera secara aklamasi memutuskan bahwa Irian Barat merupakan bagian yang sah dan permanen dari Republik Indonesia. Hasil musyawarah ini kemudian disahkan secara resmi oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi 2504 (XXIV) pada 19 November 1969.
"Keputusan rakyat Papua pada hari ini bukanlah hasil paksaan, melainkan buah dari ikrar darah dan persaudaraan sejati yang telah kami rawat sejak api kemerdekaan 1945 menyala di tanah ini."
Tahun-Tahun Terakhir dan Pengabdian di Panggung Nasional
Selepas menuntaskan pengabdiannya sebagai Gubernur Irian Barat selama hampir satu dekade pada tahun 1973, Frans Kaisiepo dipanggil ke Jakarta untuk mengemban amanah di tingkat nasional. Presiden Soeharto melantiknya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (DPR/MPR RI) mewakili daerah pemilihan Papua periode 1973–1977. Di parlemen pusat, Frans aktif memperjuangkan anggaran otonomi daerah, alokasi beasiswa pendidikan bagi putra-putri asli Papua, serta percepatan integrasi ekonomi kawasan timur Indonesia ke dalam pusaran ekonomi nasional.
Pengabdian puncaknya kepada negara berlanjut ketika Frans diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (DPA RI) pada tahun 1977. Lembaga tinggi negara yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan strategis kepada Kepala Negara ini memanfaatkan kepakaran dan kearifan Frans dalam merumuskan kebijakan pembangunan sosial-kemasyarakatan di kawasan terluar Indonesia.
Kesehatan sang pejuang veteran mulai menurun drastis pada awal tahun 1979 akibat serangan penyakit jantung kronis. Meskipun dalam kondisi fisik yang kian melemah, Frans memilih kembali ke tanah kelahirannya di Jayapura untuk menghabiskan hari-hari tuanya di tengah keluarga besar dan rakyat Papua. Pada 10 April 1979, Frans Kaisiepo mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Jayapura pada usia 57 tahun. Kepergiannya disambut duka mendalam di seluruh penjuru tanah air. Jenazahnya diterbangkan menuju kampung halamannya di Biak dan dimakamkan dengan upacara militer kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Cenderawasih, di tepi pantai Samudra Pasifik yang membesarkan jiwanya.
Warisan Abadi dan Refleksi Keteladanan
Warisan historis Frans Kaisiepo menempati posisi sentral dalam kanon kebangsaan Republik Indonesia. Sebagai bentuk penghormatan abadi atas keteguhan pengorbanan dan loyalitasnya yang tanpa pamrih terhadap integritas teritorial NKRI, Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Soeharto menganugerahi Frans Kaisiepo gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 077/TK/Tahun 1993 tertanggal 14 September 1993. Bersamaan dengan penganugerahan tersebut, negara menyematkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana, salah satu penghargaan sipil tertinggi Republik Indonesia.
Eksistensi dan keteladanan Frans Kaisiepo diabadikan secara berkelanjutan dalam memori kolektif bangsa melalui berbagai simbol kenegaraan:
- Mata Uang Nasional: Bank Indonesia menempatkan potret wajah Frans Kaisiepo pada bagian depan uang kertas rupiah pecahan Rp10.000 dalam seri Emisi 2016 serta dipertahankan pada Emisi 2022. Penempatan ini menjadi pengingat harian bagi lebih dari 280 juta rakyat Indonesia akan peran tak ternilai putra Papua dalam sejarah kebangsaan.
- Infrastruktur Perhubungan Udara: Gerbang udara internasional utama di Pulau Biak dinamai secara resmi sebagai Bandara Internasional Frans Kaisiepo (kode IATA: BIK), menghormati jasa sang putra daerah yang mengkoneksikan Papua dengan dunia internasional.
- Armada Tempur TNI Angkatan Laut: Nama Frans diabadikan sebagai nama salah satu kapal perang korvet kelas SIGMA andalan TNI AL, yaitu KRI Frans Kaisiepo (nomor lambung 368), yang bertugas mengawal kedaulatan maritim kepulauan Indonesia.
Keteladanan hidup Frans Kaisiepo membuktikan bahwa kecintaan pada tanah kelahiran dan kesetiaan pada kedaulatan bangsa bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sayap kebajikan yang saling menguatkan. Di tengah dinamika pembangunan dan tantangan integrasi Papua di era modern, integritas moral, keberanian berbicara kebenaran di forum internasional, dan keikhlasan berkorban yang diwariskan Frans Kaisiepo tetap menjadi lentera penuntun yang abadi bagi seluruh generasi penerus bangsa.
Referensi
- Chauvel, R. (2005). Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation. Washington, D.C.: East-West Center Washington.
- Drooglever, P. (2009). An Act of Free Choice: Decolonisation and the Right to Self-Determination in West Papua. Oxford: Oneworld Publications.
- Kaisiepo, M. (1995). Frans Kaisiepo: Riwayat Hidup dan Pengabdian Pahlawan Nasional dari Tanah Papua. Jayapura: Badan Pembina Pahlawan Daerah Irian Jaya.
- Kementerian Sosial Republik Indonesia. (2012). Profil Pahlawan Nasional Indonesia: Seri Pahlawan Kemerdekaan dan Integrasi Nasional. Jakarta: Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, dan Kesetiakawanan Sosial.
- Sekretariat Negara Republik Indonesia. (1993). Himpunan Keputusan Presiden Republik Indonesia tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 1993. Jakarta: Sekretariat Militer Presiden.
- Soedarmanta, J. B. (2007). Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia. Jakarta: Grasindo.
- Tim Peneliti Sejarah Papua. (2018). Perjuangan Integrasi Irian Barat dalam Arus Sejarah Kebangsaan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Pertanyaan Seputar Tokoh Ini
Siapa sebenarnya Frans Kaisiepo?
Frans Kaisiepo adalah politikus dan Pahlawan Nasional Indonesia asal Papua yang berperan sentral dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di tanah Papua, memimpin integrasi Irian Barat ke NKRI, serta menjabat Gubernur Irian Barat keempat periode 1964–1973.
Mengapa Frans Kaisiepo mengusulkan nama Irian?
Pada Konferensi Malino Juli 1946 di Sulawesi Selatan, Frans Kaisiepo mengusulkan kata 'Irian' dari bahasa Biak yang bermakna 'tanah panas yang memancarkan cahaya'. Kata ini digunakan untuk menggantikan sebutan kolonial Papua dan Nederlands Nieuw-Guinea sebagai lambang optimisme persatuan kebangsaan.
Apa bentuk perlawanan Frans Kaisiepo terhadap penjajah Belanda?
Frans Kaisiepo mendirikan Partai Indonesia Merdeka pada 1946, menolak penunjukan Belanda sebagai ketua delegasi ke Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 di Den Haag, serta menentang pembentukan negara boneka Papua bentukan Belanda hingga dirinya dihukum penjara dan dibuang ke pedalaman Ransiki selama 5 tahun.
Bagaimana bentuk penghargaan negara terhadap jasa Frans Kaisiepo?
Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 14 September 1993 melalui Keppres No. 077/TK/1993, menyematkan Bintang Mahaputera Adipradana, mengabadikan potret wajahnya pada uang kertas pecahan Rp10.000, menamai Bandara Internasional di Biak, dan menamai kapal perang TNI AL KRI Frans Kaisiepo (368).
Nurdyansa
Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
Kisah 10 Biografi Pahlawan Revolusi Indonesia Beserta Biodata Lengkapnya

Ini 10 Fakta Unik Tentang Mohammad Hatta

Biografi Bung Tomo (Sutomo), Kisah Heroik Pahlawan Indonesia Dari Surabaya

Biografi Cut Nyak Dien, Kisah Heroik Pahlawan Wanita Pemberani Asal Aceh

Biografi Djuanda Kartawidjaja, Menteri Pertama dan Perdana Menteri Terakhir Indonesia
