Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh

Biografi Dr. Cipto Mangunkusumo: Dokter Rakyat, Tiga Serangkai, dan RSCM

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 4 Okt 2026)•9 menit baca
Bagikan:

Ringkasan Cepat

  • Dr. Cipto Mangunkusumo lahir 4 Maret 1886 di Jepara dan wafat 8 Maret 1943 di Sukabumi.
  • Bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker, ia membentuk Tiga Serangkai dan mendirikan Indische Partij pada 1912.
  • Tahun 1913 ia dibuang ke Belanda setelah melancarkan kritik keras lewat Komite Bumi Putra dan harian De Express.
  • Namanya diabadikan pada RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, rumah sakit rujukan nasional berkapasitas 927 tempat tidur.
  • Kutipannya tentang perlawanan dan pikiran merdeka dipakai dalam materi resmi Hari Pahlawan 2025.
Daftar Isi

Dr. Cipto Mangunkusumo adalah dokter lulusan STOVIA yang menjadi tokoh pergerakan nasional melalui Indische Partij dan Tiga Serangkai, sekaligus pemikir yang gagasannya diakui langsung oleh Soekarno. Dari ruang kuliah Batavia hingga pengasingan di Banda Neira, ia menolak feodalisme dan kolonialisme dengan tulisan, pidato, serta praktik kedokteran untuk rakyat. Namanya kini hidup pada RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.

Potret Dr. Cipto Mangunkusumo
Potret Dr. Cipto Mangunkusumo.

Biodata & Profil Singkat

Atribut Keterangan
Nama Lengkap Dr. Cipto Mangunkusumo (ejaan lama: Tjipto Mangoenkoesoemo)
Lahir 4 Maret 1886, Pecagakan, Jepara, Jawa Tengah
Wafat 8 Maret 1943, Sukabumi, Jawa Barat
Orang Tua Mangunkusumo, priyayi rendah yang menjadi guru dan pegawai; ibu keturunan tuan tanah Mayong
Pendidikan STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), Batavia
Profesi Dokter, jurnalis, aktivis pergerakan
Organisasi Budi Utomo, Indische Partij, Insulinde, Nationaal-Indische Partij, Volksraad
Peran Kunci Anggota Tiga Serangkai bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker
Penghormatan RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), tokoh yang dikutip dalam peringatan Hari Pahlawan

Ringkasan Cepat

  • Dr. Cipto Mangunkusumo lahir 4 Maret 1886 di Jepara dan wafat 8 Maret 1943 di Sukabumi dalam usia 57 tahun.
  • Bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker, ia membentuk Tiga Serangkai dan mendirikan Indische Partij pada 1912.
  • Tahun 1913 ia dibuang ke Belanda setelah melancarkan kritik keras lewat Komite Bumi Putra dan harian De Express.
  • Namanya diabadikan pada RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, rumah sakit rujukan nasional berkapasitas 927 tempat tidur.
  • Kutipannya tentang perlawanan dan pikiran merdeka dipakai dalam materi resmi Hari Pahlawan 2025.

Masa Kecil dan Pendidikan di STOVIA

Cipto Mangunkusumo lahir pada 4 Maret 1886 di Pecagakan, Jepara, sebagai putera tertua Mangunkusumo, priyayi rendahan yang bekerja sebagai guru bahasa Melayu di Ambarawa, lalu menjadi kepala sekolah dasar di Semarang dan pembantu administrasi Dewan Kota Semarang. Sang ibu berasal dari keluarga tuan tanah di Mayong. Meski bukan golongan priyayi birokratis tinggi, Mangunkusumo berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang tinggi. Cipto beserta adik-adiknya, Gunawan, Budiardjo, dan Syamsul Ma'arif, masuk STOVIA di Batavia, sementara Darmawan memperoleh beasiswa ke Belanda dan Sujitno berkuliah di Sekolah Tinggi Hukum Jakarta.

Di STOVIA, Cipto dikenal jujur, berpikir tajam, dan rajin. Gurunya menjulukinya een begaafd leerling, murid yang berbakat. Ia lebih senang menghadiri ceramah, membaca, dan bermain catur daripada berpesta. Cara berpakaiannya kerap dianggap eksentrik karena memakai surjan lurik dan merokok kemenyan. Lingkungan STOVIA yang diskriminatif membuatnya mulai merumuskan perlawanan intelektual.

Salah satu pemicu kemarahannya adalah aturan yang mewajibkan mahasiswa Jawa dan Sumatra non-Kristen memakai pakaian tradisional di sekolah, sementara pakaian Barat hanya untuk pribumi berpangkat bupati ke atas. Bagi Cipto, aturan itu adalah perwujudan politik kolonial yang arogan dan pelestari feodalisme. Sejak 1907 ia menuangkan kritik secara tertulis di harian De Locomotief dan Bataviaasch Nieuwsblad. Tulisan-tulisannya menentang hubungan feodal dan kolonial yang dianggapnya sebagai sumber penderitaan rakyat.

Kritik atas Feodalisme dan Kolonialisme

Dalam pandangan Cipto, sistem feodal menutup ruang gerak rakyat biasa. Keturunanlah yang menentukan nasib seseorang, bukan keahlian atau kesanggupan. Kolonialisme menambah diskriminasi ras: orang Eropa menerima gaji lebih tinggi untuk pekerjaan yang sama, peradilan dan pajak dibedakan menurut warna kulit, dan jabatan negeri tidak terbuka bagi bangsa Indonesia. Kritik itu kerap membuatnya dipanggil pemerintah. Untuk mempertahankan kebebasan berpendapat, Cipto memilih keluar dari dinas pemerintahan dan mengembalikan uang ikatan dinasnya.

Perlawanannya tidak selalu melalui tulisan. Larangan memasuki societeit bagi pribumi pernah ia langgar. Dengan kain batik dan jas lurik, ia masuk ke tempat berkumpul orang Eropa, duduk dengan kaki dijulurkan, dan ketika seorang opas mencoba mengusirnya, ia memaki-maki dalam bahasa Belanda yang fasih. Orang-orang Eropa di ruangan itu terperangah.

"Perlawanan yang tidak lahir dari pikiran merdeka hanyalah letupan emosi, bukan perjuangan."

Ketika Budi Utomo terbentuk pada 20 Mei 1908, Cipto menyambutnya sebagai kesadaran pribumi. Pada kongres pertama di Yogyakarta ia berdebat dengan Radjiman: Cipto menginginkan organisasi politik demokratis yang terbuka bagi seluruh rakyat, sementara Radjiman menginginkannya sebagai gerakan kebudayaan Jawa. Karena tidak mewakili aspirasinya, Cipto mengundurkan diri dan membuka praktik dokter di Solo, sembari mendirikan Raden Ajeng Kartini Klub.

Indische Partij dan Tiga Serangkai

Perjumpaan dengan Douwes Dekker mengubah arah perjuangan Cipto. Pada 1912 ia pindah ke Bandung agar dekat dengannya dan bergabung dalam redaksi harian De Express serta majalah Het Tijdschrijft. Bersama Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat, ia mendirikan Indische Partij, organisasi pertama yang secara terang-terangan mengusung semangat kemerdekaan Hindia Belanda untuk semua penduduk tanpa memandang suku, golongan, dan agama.

Ilustrasi sejarah masa Tiga Serangkai
Ilustrasi sejarah perjuangan Tiga Serangkai pada masa pembuangan.

Bagi Cipto, Indische Partij adalah upaya mulia yang mewakili kepentingan seluruh penduduk Hindia Belanda. Ketika Belanda merayakan seratus tahun kemerdekaannya dari Perancis pada November 1913, Cipto menilainya sebagai penghinaan terhadap rakyat bumiputera yang sedang dijajah. Bersama Suwardi ia membentuk Komite Bumi Putra dan menjadi ketuanya. Komite itu berencana mengirim telegram kepada Ratu Wilhelmina agar pembatasan kegiatan politik dicabut, serta menyebarkan selebaran yang menyadarkan rakyat bahwa perayaan tersebut menghamburkan uang dan tenaga rakyat.

Puncaknya terjadi pada 19 Juli 1913 ketika De Express menerbitkan artikel Suwardi berjudul Als Ik Nederlands Was (Andaikan Saya Seorang Belanda). Keesokan harinya Cipto menulis artikel pendukung untuk memboikot perayaan itu. Pemerintah Hindia Belanda menanggapinya cepat: pada 30 Juli 1913 Cipto dan Suwardi dipenjarakan, dan pada 18 Agustus 1913 ketiganya dijatuhi hukuman buang ke Belanda.

Pembuangan, Volksraad, dan Pengasingan

Selama di Belanda, Cipto bersama Suwardi dan Douwes Dekker tetap melakukan propaganda politik dengan menerbitkan majalah De Indier. Kehadiran mereka mengubah Indische Vereeniging, perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia di Belanda, menjadi wadah gagasan Hindia bebas dari Belanda. Pengaruh itu tampak pada jurnal Hindia Poetra sejak 1916. Karena alasan kesehatan, Cipto diizinkan pulang ke Jawa pada 1914 dan bergabung dengan Insulinde, penerus Indische Partij. Propagandanya melonjakkan keanggotaan Insulinde dari 1.009 orang pada 1915 menjadi 6.000 orang pada 1917, lalu memuncak sekitar 40.000 orang pada Oktober 1919. Pada 9 Juni 1919 Insulinde berganti nama menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP).

Pada 1918 pemerintah membentuk Volksraad dan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum mengangkat tokoh radikal termasuk Cipto agar dewan itu tampak demokratis. Cipto memanfaatkan panggung itu untuk menyuarakan kritik sosial dan politik. Dalam pidatonya pada 25 November 1919 ia mengungkap pinjaman 12 gulden dari seorang Sunan yang nyatanya dibayar rakyat dengan bekerja di perkebunan senilai 28 gulden. Pemerintah menilai Cipto berbahaya dan pada 1920 membuangnya ke Bandung dengan larangan keluar kota.

Di Bandung, ia membuka praktik dokter dan mengobati pasien dengan bersepeda keluar masuk kampung selama tiga tahun. Ia juga bertemu kaum nasionalis muda, termasuk Soekarno yang pada 1923 membentuk Algemeene Studie Club. Meski tidak menjadi anggota resmi, Cipto diakui sebagai penyumbang pemikiran. Dalam wawancara pers 1959, Soekarno tanpa ragu menyebut Cipto Mangunkusumo sebagai tokoh yang paling memengaruhi pemikiran politiknya.

Tahun 1927 Cipto terseret kasus ketika seorang kopral berencana meledakkan gudang mesiu dan meminta bantuan dana kepadanya. Cipto menasihatinya agar tidak melakukan sabotase karena alasan kemanusiaan, lalu memberi uang 10 gulden. Setelah pemberontakan komunis gagal, pemberian itu menjadi dasar dakwaan dan pada 1928 ia dibuang ke Banda Neira. Di pengasingan, penyakit asmanya kambuh. Ketika diminta menandatangani perjanjian agar bisa pulang dengan melepaskan hak politik, ia menolak tegas.

"Lebih baik mati di Banda daripada melepaskan hak politik."

Cipto kemudian dipindahkan ke Makassar dan pada 1940 ke Sukabumi. Ia wafat pada 8 Maret 1943 tanpa sempat menyaksikan kemerdekaan Indonesia, tetapi gagasannya menular ke generasi penerus pergerakan.

Warisan bagi Pergerakan Nasional

Di mata generasi berikutnya, Cipto Mangunkusumo adalah jembatan antara pendidikan Barat dan kesadaran politik pribumi. Julukan yang melekat padanya, dokter rakyat kritikus, menggambarkan caranya memadukan pelayanan kesehatan dan perlawanan politik. Dalam peringatan Hari Pahlawan 2024 bertema Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu, Kementerian Sosial mengangkat sosoknya sebagai teladan. Kutipan-kutipannya, termasuk pesan tentang perlawanan dan pikiran merdeka, juga dimuat dalam materi resmi Hari Pahlawan 10 November 2025 oleh Kementerian Sosial, Kompas TV, dan Tribunnews sebagai pengingat bahwa perjuangan lahir dari kesadaran merdeka, bukan emosi sesaat.

"Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kepercayaan pada diri sendiri."

Nama Cipto juga terus hidup dalam dunia kesehatan. Pada 19 November 1919 pemerintah kolonial mendirikan Centrale Burgelijke Ziekeninrichting (CBZ) di Batavia, rumah sakit yang kelak menjadi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Lembaga itu terkait erat dengan STOVIA, tempat Cipto menimba ilmu. Namanya berganti dari Ika Daiku Byoin pada masa pendudukan Jepang (1942), menjadi Roemah Sakit Oemoem Negara pada 1945, lalu RSUP pada 1950. Pada 1964 rumah sakit itu resmi memakai namanya, dan pada 13 Juni 1994 statusnya dikukuhkan sebagai rumah sakit Type A melalui Kepmenkes Nomor 553/Menkes/SK/VI/1994.

RSCM dan Babak Mutakhir 2024 sampai 2026

Hingga 2026, RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo tetap menjadi rumah sakit rujukan nasional di Jalan Diponegoro Nomor 71, Jakarta Pusat. RSCM melayani lebih dari 4.000 pasien rawat jalan setiap hari dengan kapasitas 927 tempat tidur dan 23 departemen klinis. Statistik resminya mencatat lebih dari 40 layanan kesehatan, lebih dari 500 dokter dan spesialis, serta lebih dari 4,1 juta pasien dilayani. Sebagai rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM menjadi tempat praktik calon dokter yang meneruskan tradisi STOVIA.

Dalam beberapa tahun terakhir, RSCM memperkuat layanan unggulan di bidang penyakit dalam, bedah minimal invasif, onkologi, jantung, serta kedokteran genetik dan molekuler. Lembaga itu melayani pasien JKN-KIS dan menjadi rumah sakit pendidikan terintegrasi. Dengan demikian, nama Cipto Mangunkusumo tidak hanya tersimpan dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam denyut pelayanan kesehatan nasional.

Dari Pecagakan Jepara ke STOVIA, dari Indische Partij ke Banda Neira, lalu ke rumah sakit yang kini menyandang namanya, jejak Cipto Mangunkusumo adalah kisah tentang kecerdasan yang menolak diam. Seorang dokter dapat menjadi pembaharu politik, dan seorang pembuang dapat tetap menjadi guru bagi bangsanya.

Pertanyaan Umum

Siapa Dr. Cipto Mangunkusumo?
Dr. Cipto Mangunkusumo adalah dokter lulusan STOVIA dan tokoh pergerakan nasional yang bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Kapan Indische Partij didirikan?
Indische Partij didirikan pada 1912 oleh Tiga Serangkai dan menjadi organisasi pertama yang terang-terangan menuntut kemerdekaan Hindia Belanda.

Mengapa Cipto Mangunkusumo dibuang ke Belanda?
Pada 1913 ia bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dibuang ke Belanda karena mengkritik pemerintah kolonial melalui Komite Bumi Putra dan tulisan tajam di harian De Express.

Apa hubungan Cipto Mangunkusumo dengan RSCM?
RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo yang berdiri sejak 1919 sebagai Centrale Burgelijke Ziekeninrichting diresmikan memakai namanya pada 1964 sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.

Referensi

  1. Wikipedia. (2026). Tjipto Mangoenkoesoemo. Wikimedia Foundation. https://id.wikipedia.org/wiki/Tjipto_Mangoenkoesoemo
  2. RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. (2025). Profil Rumah Sakit. RSCM. https://rscm.co.id/
  3. detikcom. (2025). 48 Pesan-pesan Pahlawan 10 November 2025 untuk Upacara Hari Pahlawan. Detik.com. https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8202490/48-pesan-pesan-pahlawan-10-november-2025-untuk-upacara-hari-pahlawan
  4. Tribunnews.com. (2025). 60 Quotes Hari Pahlawan 2025, Kutipan Inspiratif dari Pahlawan Nasional yang Cinta Tanah Air. Tribunnews. https://www.tribunnews.com/nasional/7752719/60-quotes-hari-pahlawan-2025-kutipan-inspiratif-dari-pahlawan-nasional-yang-cinta-tanah-air
  5. Kompas TV. (2025). 19 Pesan Perjuangan Para Pahlawan yang Bisa Digunakan untuk Quotes Hari Pahlawan 2025. Kompas.com. https://www.kompas.tv/info-publik/629002/19-pesan-perjuangan-para-pahlawan-yang-bisa-digunakan-untuk-quotes-hari-pahlawan-2025?page=all
  6. Kementerian Sosial RI. (2024). Unggahan Peringatan Hari Pahlawan 2024. Instagram @kemsosri. https://www.instagram.com/p/DCS_3IcTmnG/
Topik Terkait:#Cipto Mangunkusumo#Tiga Serangkai#Indische Partij#RSCM#Pahlawan Nasional

Pertanyaan Seputar Tokoh Ini

Siapa Dr. Cipto Mangunkusumo?

Dr. Cipto Mangunkusumo adalah dokter lulusan STOVIA dan tokoh pergerakan nasional yang bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Kapan Indische Partij didirikan?

Indische Partij didirikan pada 1912 oleh Tiga Serangkai dan menjadi organisasi pertama yang terang-terangan menuntut kemerdekaan Hindia Belanda.

Mengapa Cipto Mangunkusumo dibuang ke Belanda?

Pada 1913 ia bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dibuang ke Belanda karena mengkritik pemerintah kolonial melalui Komite Bumi Putra dan tulisan tajam di harian De Express.

Apa hubungan Cipto Mangunkusumo dengan RSCM?

RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo yang berdiri sejak 1919 sebagai Centrale Burgelijke Ziekeninrichting diresmikan memakai namanya pada 1964 sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.

Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content