Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi Tokoh Dunia

Biografi Joseph Lister: Bapak Antisepsis yang Mengubah Sejarah Bedah Dunia

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 16 Sep 2026)•8 menit baca•Wikidata: Q155768
Bagikan:
Daftar Isi

Pada musim panas 1865, seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun bernama James Greenlees terlindas kereta kuda di Glasgow dan mengalami patah tulang terbuka di kaki kirinya. Pada masa itu, cedera semacam itu hampir pasti berakhir dengan amputasi atau kematian akibat infeksi. Joseph Lister, profesor bedah di Universitas Glasgow, merawat luka bocah itu dengan larutan asam karbolat. Beberapa pekan kemudian tulangnya menyatu sempurna tanpa nanah sedikit pun. Peristiwa kecil itu menandai lahirnya praktik antisepsis modern, satu lompatan yang mengubah operasi bedah dari prosedur yang sering berakhir fatal menjadi ilmu kedokteran yang menyelamatkan jutaan nyawa.

Joseph Lister, bapak antisepsis modern
Joseph Lister, bapak antisepsis modern.
Potret Joseph Lister
Potret resmi Joseph Lister.

Biodata & Profil Singkat

AtributKeterangan
Nama LengkapJoseph Lister, 1st Baron Lister
Lahir5 April 1827, Upton, Essex, Inggris
Wafat10 Februari 1912, Walmer, Kent, Inggris (usia 84 tahun)
AlmamaterUniversity College London
Peran UtamaAhli bedah, bapak antisepsis modern
Jabatan PentingProfesor Bedah Universitas Glasgow (1860-1869), Profesor Bedah Klinis Universitas Edinburgh (1869-1877), Ketua Bedah King\u0027s College London (1877-1892), Presiden Royal Society (1895-1900)
Karya Utama"On the Antiseptic Principle in the Practice of Surgery" (1867)

Masa Muda dan Pendidikan Medis

Joseph Lister lahir pada 5 April 1827 di Upton, Essex, Inggris, dalam keluarga Quaker yang menjunjung tinggi sains dan ketekunan. Ayahnya, Joseph Jackson Lister, adalah pengusaha anggur yang berhasil sekaligus optik ulung. Ia merancang objektif mikroskop akromatik yang membebaskan mikroskop dari distorsi warna, penemuan yang menjadikannya Fellow of the Royal Society tanpa pernah berstatus ilmuwan profesional. Mikroskop berkualitas tinggi di ruang kerja ayahnya menjadi jendela pertama Lister muda menuju dunia mikroskopik yang kelak membentuk seluruh pemikirannya.

Potret Joseph Lister tahun 1902
Joseph Lister pada 1902, masa puncak pengakuannya di London.

Karena latar belakang Quaker-nya menutup akses ke universitas Oxford dan Cambridge yang saat itu bersifat eksklusif bagi penganut Anglikan, Lister menempuh pendidikan di University College London, kampus terbuka yang menerima mahasiswa tanpa memandang agama. Ia meraih gelar sarjana seni pada 1847, kemudian medis pada 1852 dengan gelar MB dan kualifikasi bedah dari Royal College of Surgeons. Di London ia belajar di bawah William Sharpey, fisiolog yang menanamkan disiplin riset eksperimental.

Setelah lulus, Lister pindah ke Edinburgh pada 1853 untuk berguru kepada James Syme, salah satu ahli bedah terkemuka Britania. Di sana ia membangun karier akademik sekaligus menikahi Agnes Syme, putri gurunya, pada 1856. Agnes menjadi kolaborator riset yang setia sepanjang hayat; pasangan ini tidak memiliki anak.

Kengerian Blok Bedah Era Victoria

Ketika Lister diangkat sebagai Profesor Bedah di Universitas Glasgow pada 1860 dan memimpin bangsal baru di Glasgow Royal Infirmary mulai 1861, ia menghadapi kenyataan mengerikan era bedah pra-antisepsis. Dokter operasi bekerja dengan jas berlapis darah kering, instrumen yang tidak dicuci, dan keyakinan bahwa nanah adalah bagian normal dari penyembuhan yang bahkan dijuluki "nanah baik" atau laudable pus.

Bangsal Lister sendiri berdiri di atas lahan pemakaman bersejarah yang dipenuhi jenazah korban kolera. Banyak rekannya meyakini uap beracun bernama miasma yang naik dari tanah adalah sumber segala infeksi. Lister membersihkan bangsa lnya habis-habisan, tetapi angka kematian tak bergeser. Di sela erysipelas, gangren rumah sakit, dan sepsis, kematian pascaoperasi menjadi hal biasa.

Titik Balik: Teori Kuman Pasteur

Titik balik datang pada 1865 ketika kolega kimia Lister, Thomas Anderson, memperlihatkan karya Louis Pasteur tentang fermentasi dan pembusukan. Pasteur membuktikan bahwa mikroorganisme yang melayang di udara, bukan reaksi spontan, menyebabkan materi organik membusuk. Bagi Lister, kesimpulan itu seperti kunci yang selama ini hilang. Jika nanah dan gangren adalah bentuk pembusukan di dalam jaringan hidup, maka akarnya adalah kuman, dan kuman bisa dimusnahkan.

Ia merumuskan dugaannya dengan lugas, sebagaimana dituliskannya dalam pidato tahun 1867 di depan British Medical Association di Dublin:

"Jika luka dapat diobati dengan suatu zat yang tanpa merusak jaringan manusia secara serius, mampu membunuh mikroba yang telah terdapat di dalamnya dan mencegah masuknya mikroba lain dalam keadaan hidup, maka pembusukan dapat dicegah betapa pun bebasnya udara dengan oksigennya masuk."

Zat yang dipilihnya adalah asam karbolat (fenol), yang saat itu digunakan untuk menghilangkan bau limbah di kota Carlisle tanpa meracuni ternak yang memakan rerumputan di lahan olahan.

Kelahiran Sistem Antisepsis Glasgow

Pada 12 Agustus 1865, Lister menguji metodenya pada James Greenlees, bocah dengan patah tulang tibia terbuka. Ia membalut luka dengan kain kasa berendam asam karbolat, lalu menutupinya dengan kain kedap air dan bidai. Empat hari balutan pertama dibiarkan tak tersentuh, kemudian diganti berkala selama kurang lebih enam minggu. Tulang menyatu tanpa infeksi. Kasus itu menjadi kasus pertama dari sebelas kasus patah tulang terbuka yang dirawatnya dengan teknik serupa; sembilan pulih, satu berujung amputasi, dan satu meninggal karena perdarahan lanjutan.

Metode ini dikembangkannya melampaui luka patah tulang: ke abses, amputasi, hingga prosedur operasi elektif. Ia menyemprotkan asam karbolat ke udara ruang operasi memakai alat penyemprot mekanik yang kelak mendapat julukan "semprotan donkey engine", membersihkan tangan dan instrumen bedah dengan larutan karbolat, serta mendesain benang jahit katgut yang disterilkan.

Hasilnya terukur. Pada bangsalnya di Glasgow antara 1861 dan 1865, kematian pascaoperasi pada pasien pria mencapai rata-rata sekitar 45 persen. Menjelang akhir 1860-an, angka itu menyusut menjadi sekitar 15 persen. Pada Maret 1867, Lister memublikasikan temuannya dalam serangkaian makalah di jurnal The Lancet dengan judul "On a New Method of Treating Compound Fracture, Abscess, etc., with Observations on the Conditions of Suppuration". Dalam karya klasiknya yang dimuat British Medical Journal, ia menuliskan kesimpulan tegasnya:

"Hasil-hasil ini secara meyakinkan menegakkan prinsip besar bahwa seluruh gangguan radang lokal dan demam umum yang mengikuti cedera berat disebabkan oleh pengaruh iritatif dan beracun dari darah atau jaringan mati yang membusuk."

Penolakan dan Perjuangan Menyebarkan Metode

Seperti banyak terobosan, antisepsis Lister tidak langsung diterima. Banyak dokter di Inggris dan Amerika Serikat menolak teori kuman dan menganggap ritual penyemprotan asam karbolat berlebihan. Dokter-dokter mapan bidasi pada pengalaman bertahun-tahun dan enggan mengakui bahwa tangan serta alat mereka sendirilah pembawa kematian.

Pengangkatannya sebagai Ketua Bedah Klinis Universitas Edinburgh pada 1869 memberinya panggung baru. Ia berkeliling Jerman memberikan kuliah pada 1875 dan mengunjungi Amerika Serikat pada 1876. Sambutan di daratan Eropa jauh lebih hangat. Pada Kongres Medis Internasional di Amsterdam tahun 1879, para ahli bedah dari seluruh dunia secara antusias mengakui kontribusinya. Perlu waktu satu dekade lagi sebelum kolega-koleganya di London melunak, setelah ia pindah memimpin Departemen Bedah King's College pada 1877. Salah satu momen simboliknya adalah operasi patah tulang patela terbuka yang ia peragakan di depan publik medis London, sebuah prosedur yang pada masa sebelumnya nyaris pasti fatal namun berhasil ia sembuhkan tanpa infeksi.

Metode antisepsis Lister kemudian berkembang menjadi asepsis, yaitu pencegahan kontaminasi sama sekali melalui sterilisasi uap, sarung tangan karet, dan masker. Walaupun teknologinya berganti, fondasi konseptualnya tetap jejak pemikiran Lister.

Akhir Hayat dan Warisan

Setumpuk kehormatan datang pada paruh akhir hayatnya. Lister diangkat sebagai ahli bedah ratu untuk Ratu Victoria, menerima gelar baronet pada 1883, dan pada 1897 dianugerahi gelar bangsawan sebagai Baron Lister of Lyme Regis, menjadi dokter pertama yang masuk House of Lords. Ia menjabat Presiden Royal Society dari 1895 hingga 1900, dan pada 1902 menjadi salah satu anggota pendiri ordo Order of Merit.

Ia wafat pada 10 Februari 1912 di Walmer, Kent, pada usia 84 tahun. Meskipun dimakamkan tanpa upacara penuh negara sesuai wasiatnya, dunia kedokteran mengheningkan cipta. Gelar kehormatan dari Cambridge, Oxford, dan Dublin, penghargaan Copley Medal, serta sejumlah patung di London dan Glasgow merangkum penghargaan yang diterimanya semasa hidup.

Namanya hidup dalam tiga lembaga ilmiah sekaligus: genus bakteri Listeria yang dinamai untuk menghormatinya, Listerine, antiseptik mulut yang dipasarkan pertama kali pada 1879 sebagai disinfektan bedah, dan Lister Institute of Preventive Medicine di London. Di luar benda-benda itu, warisannya yang sesungguhnya jauh lebih dalam, yakni setiap operasi yang berlangsung hari ini di ruang steril di mana pun di dunia berdiri di atas gagasan yang ia buktikan di sebuah bangsal di Glasgow.

Warisan dalam Kedokteran Modern

Pengaruh Lister melampaui teknis mencuci luka. Ia mengubah status bedah dari keahlian tangan bermartabat seniman menjadi disiplin berbasis bukti. Sebelum Lister, operasi besar jarang dilakukan karena risiko sepsis; seabad sebelumnya, operasi yang membuka rongga dada nyaris tak terbayangkan. Setelah antisepsis diterima pada akhir 1880-an, perbatasan bedah terus meluas: operasi perut, ortopedi rekonstruktif, dan akhirnya bedah saraf serta jantung terbuka.

Perubahan ini juga menautkan bedah klinis dengan m ikrobiologi laboratorium. Antara Lister, Pasteur, dan Robert Koch, teori kuman penyakit beralih dari hipotesis menjadi pilar kedokteran modern. Rumah sakit pun aklhirnya merombak arsitektur dan protokol mereka, dari lantai yang bisa dibersihkan hingga ruang operasi bertekanan positif yang menjadi standar abad dua puluh satu. Angka kematian infeksi pascaoperasi di negara maju kini tinggal di bawah satu persen untuk p embedahan elektif besar, kontras tajam dengan era ketika hampir separuh pasien bedah besar tewas oleh sepsis.

Referensi

Lister, J. (1867). On the antiseptic principle in the practice of surgery. British Medical Journal, 2(351), 246-248. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2310614/

Chew, E. Y., & Ellis, H. (2023). Joseph Lister: The father of antiseptic surgery. British Journal of Surgery. https://en.wikisource.org/wiki/On_the_Antiseptic_Principle_of_the_Practice_of_Surgery

Royal College of Physicians and Surgeons of Glasgow. (2023). The Case of James Greenlees. RCPSG Heritage. https://heritage.rcpsg.ac.uk/items/show/1422

Tan, S. Y., & Wong, C. (2007). Joseph Lister (1827-1912): Father of antisepsis. Singapore Medical Journal, 48(7), 606-607. http://www.smj.org.sg/sites/default/files/4807/4807ms1.pdf

Bankston, J. (2004). Joseph Lister and the Story of Antiseptics. Hockessin: Mitchell Lane Publishers.

Topik Terkait:#Ahli Bedah#Sejarah Kedokteran#Joseph Lister#Antisepsis
Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content