Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh

Biografi Siddhartha Gautama, Pangeran yang Menjadi Sang Buddha dan Mengubah Sejarah Rohani Dunia

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 12 Sep 2026)•6 menit baca•Wikidata: Q9441
Bagikan:
Daftar Isi

Di bawah sebatang pohon bodhi di Bodh Gaya, seorang pangeran yang melepaskan takhta memilih duduk bersila hingga akhirnya menembus hakikat penderitaan manusia. Siddhartha Gautama, sang Buddha, hidup di India kuno sekitar abad ke-6 atau ke-5 Sebelum Masehi, meninggalkan istana Kembaran untuk menempuh jalan pertapaan, lalu merintis sebuah agama yang kini diikuti lebih dari 500 juta umat di seluruh dunia. Perjalanan hidupnya dari kemewahan menuju pencerahan menjadikannya salah satu guru spiritual paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia.

Patung Sang Buddha mengajar, Museum Sarnath India
Patung Sang Buddha mengajar di Museum Sarnath, dekat lokasi khotbah pertamanya. (Wikimedia Commons)
Potret Siddhartha Gautama, Pangeran yang Menjadi Sang Buddha dan Mengubah Sejarah Rohani Dunia
Potret resmi Siddhartha Gautama, Pangeran yang Menjadi Sang Buddha dan Mengubah Sejarah Rohani Dunia.

Biodata & Profil Singkat

AtributKeterangan
Nama LengkapSiddhartha Gautama
JulukanSang Buddha (Yang Tercerahkan), Sakyamuni
LahirSekitar 563 SM (menurut tradisi), Lumbini, kini Nepal
WafatSekitar 483 SM, Kushinagar, India
AyahRaja Suddhodana, penguasa Sakya
IbuRatu Maya Devi
PasanganPutri Yashodhara
AnakRahula
Peran UtamaPendiri Buddhisme, guru spiritual
PengikutLebih dari 500 jumat umat Buddha di dunia

Silsilah Siddhartha berakar pada klan Sakya, keluarga bangsawan yang bermukim di kota Kapilavastu di dataran Gangga. Ayahnya, Raja Suddhodana, mendambakan putranya menjadi raja penakluk, sementara ibunya Ratu Maya Devi wafat hanya beberapa hari setelah melahirkan di taman Lumbini. Bayi itu kemudian dibesarkan oleh Mahaprajapati, adinda sang ratu, dalam lingkungan istana yang sengaja dijauhkan dari segala bentuk penderitaan.

Masa Muda di Balik Tembok Istana

Kisah masa muda Siddhartha diwariskan melalui berbagai kitab suci seperti Tipitaka Pali dan tulisan Ashvaghosa. Suddhodana mengurung putranya dalam kemewahan, memenuhi istana dengan hiburan dan melarang siapa pun yang sakit atau tua tampil di hadapan sang pangeran. Siddhartha menikahi Putri Yashodhara pada usia sekitar 16 tahun dan dikaruniai seorang putra bernama Rahula.

Titik balik datang lewat empat perjalanan legendaris di luar istana. Untuk pertama kalinya Siddhartha menyaksikan orang tua yang renta, orang sakit, jenazah, dan akhirnya seorang pertapa yang tenang. Penglihatan itu mengguncang seluruh gambaran dunianya. Pada usia sekitar 29 tahun, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pergolakan Besar, ia meninggalkan istana, istri, dan anaknya di tengah malam untuk mencari jawaban atas penderitaan manusia.

"Segala hal yang terbentuk pasti mengalami kerusakan. Berusahalah dengan penuh ketekunan." (Sabda terakhir Sang Buddha, Mahaparinibbana Sutta)

Pertanyaan yang membekas dalam benaknya tercatat dalam kitab-kitab awal. Pemikiran pokoknya termaktub dalam ajaran tentang empat kebenaran mulia.

Candi Maya Devi di Lumbini Nepal, tempat kelahiran Buddha
Candi Maya Devi di Lumbini, Nepal, situs kelahiran Siddhartha Gautama yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 1997. (Wikimedia Commons)

Pertapaan Sengit dan Penolakan Jalan Ekstrem

Enam tahun perjalanan spiritual Siddhartha adalah babak penuh kekerasannya. Ia belajar meditasi kepada Alara Kalama, lalu Uddaka Ramaputta, dua guru besar zamannya, namun merasa belum menemukan pembebasan sejati. Bersama lima pertapa sahabat, ia kemudian menjalani pertapaan ekstrem di hutan Uruvela, membatasi makan hingga tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit.

Ketika pertapaan ekstrem itu justru memperlemah kejernihan budi, Siddhartha mengambil jalan yang berbeda dari arus utama tradisi Hindu pada masanya. Ia menerima semangkuk bubur susu dari seorang gadis desa bernama Sujata, memulihkan tubuhnya, dan menarik kesimpulan bahwa penyangkalan diri berlebihan sama menyesatkannya dengan kenikmatan berlebihan. Dari pemahaman inilah lahir konsep Jalan Tengah, prinsip keseimbangan yang menjadi fondasi seluruh ajaran Buddhisme. Lima pertapa sahabatnya sempat kecewa dan meninggalkannya karena menganggapnya menyerah.

Pencerahan di Bawah Pohon Bodhi

Siddhartha duduk bermeditasi di bawah pohon bodhi di Bodh Gaya, menepati sumpahnya untuk tidak beranjak sebelum memperoleh kebenaran tertinggi. Menurut tradisi, selama 49 hari dan malam ia menembus berbagai lapisan godaan dan kebimbangan batin, hingga pada usia sekitar 35 tahun ia mencapai pencerahan sempurna dan menyandang gelar Buddha, yang berarti Yang Tercerahkan.

Dari titik itu lahir ajaran inti yang menggerakkan setengah miliar manusia selama dua setengah milenium. Empat Kebenaran Mulia menyatakan bahwa kehidupan mengandung penderitaan, penderitaan bersumber dari nafsu keinginan, penderitaan dapat diakhiri, dan jalannya adalah Jalan Mulia Beruji Delapan yang mencakup pandangan benar, niat benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, kesadaran benar, dan konsentrasi benar.

"Kalian sendirilah yang harus berusaha; para Buddha hanyalah penunjuk jalan." (Dhammapada, ayat 276)

Khotbah Pertama dan Pengembaraan Mengajar Selama 45 Tahun

Pencerahan bukan akhir kisah, melainkan awal misi terbesarnya. Sang Buddha berjalan ke taman rusa Isipatana di Sarnath, dekat Benares, dan menyampaikan khotbah perdananya yang dikenal sebagai Dhammacakkappavattana Sutta, Arti Roda Dharma Mulai Berputar. Lima pertapa lama yang semula mengecewakannya menjadi murid pertama, dan sangha, komunitas biarawan pertama dalam sejarah, terbentuk.

Selama sekitar 45 tahun, Buddha mengembara dari kota ke kota di dataran Gangga, mengajar raja, pedagang, pelacur, hingga pembunuh yang bertaubat seperti Angulimala. Ia menolak kasta, membuka pintu sangha bagi semua lapisan masyarakat termasuk perempuan, sesuatu yang revolusioner pada zamannya. Sabda-sabdanya yang dihafalkan para murid dan diturunkan secara lisan berabad-abad kemudian dihimpun menjadi Tripitaka, kanon suci Buddhisme.

"Jadikan dirimu sendiri sebagai pulau, sebagai perlindungan. Jadikan Dharma sebagai pulau, sebagai perlindungan, dan jangan mencari perlindungan selain itu." (Mahaparinibbana Sutta)

Momen Terakhir di Kushinagar

Pada usia sekitar 80 tahun, Sang Buddha wafat di Kushinara, kini Kushinagar, dalam suasana damai yang dikenal sebagai parinirvana. Sebelum menutup mata, pesan terakhirnya kepada para murid adalah ajakan untuk terus berusaha tanpa bergantung pada sosok gurunya. Jenazahnya dikremasi dan abunya dibagi menjadi delapan bagian untuk didirikan stupa di berbagai kerajaan, yang sebagian masih dapat ditelusuri para arkeolog hingga kini.

Tiga bulan setelah wafatnya, Dewan Sangha Pertama diadakan di Rajagriha untuk menghimpun ajarannya. Dari situlah Buddhisme menyebar dari India ke Sri Lanka, Asia Tenggara, Tibet, China, Jepang, dan akhirnya seluruh dunia.

Warisan yang Terus Berdenyut di Abad ke-21

Dua setengah milenium setelah wafatnya, jejak Siddhartha Gautama justru semakin hidup. Empat situs utama perjalanan hidupnya, Lumbini tempat kelahiran, Bodh Gaya tempat pencerahan, Sarnath tempat khotbah pertama, dan Kushinagar tempat wafat, merupakan tujuan peziarahan jutaan umat Buddha setiap tahun. UNESCO menetapkan Lumbini sebagai Warisan Dunia pada 1997, disusul Mahabodhi Temple di Bodh Gaya pada tahun 2002.

Data Pew Research Center memperkirakan sekitar 324 juta hingga lebih dari 500 juta pemeluk Buddha di dunia saat ini, menjadikannya agama besar keempat dunia. Di Indonesia sendiri, umat Buddha berjumlah sekitar 2 juta jiwa dan Borobudur, bangunan Buddha terbesar di dunia yang dibangun sekitar abad ke-8, berdiri megah sebagai saksi akar ajarannya di Nusantara. Nilai-nilai perenungan, kesadaran penuh, dan kasih sayun universal yang ia ajarkan kini menembus batas agama, diadopsi psikologi modern sebagai praktik mindfulness yang diteliti ribuan studi akademik.

Kisah seorang pangeran yang berani meninggalkan segalanya demi menjawab pertanyaan paling purba manusia tentang penderitaan tetap relevan. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh kebisingan, jalan tengah yang dicetuskannya menawarkan pegangan yang tak lekang oleh waktu.

Referensi

Gethin, R. (1998). The Foundations of Buddhism. Oxford: Oxford University Press.

Britannica. (2024). Buddha: Biography, Meaning, Teachings, Facts. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Buddha

UNESCO World Heritage Centre. (2024). Lumbini, the Birthplace of the Lord Buddha. UNESCO. https://whc.unesco.org/en/list/666

Harvey, P. (2013). An Introduction to Buddhism: Teachings, History and Practices (2nd ed.). Cambridge: Cambridge University Press.

Pew Research Center. (2012). The Global Religious Landscape. Pew Research Center. https://www.pewresearch.org/religion/2012/12/18/global-religious-landscape-exec/

Topik Terkait:#Siddhartha Gautama#Sang Buddha#Biografi Buddha
Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content