Biografi Thomas Djiwandono: Dari Bendahara Gerindra Menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia

Pagi itu, 9 Februari 2026, di ruang sidang Mahkamah Agung Jakarta, seorang pria berkaca mata berdiri di hadapan Ketua Mahkamah Agung Sunarto dan mengucap sumpah jabatan yang akan menempatkannya pada salah satu kursi paling berpengaruh dalam peta kebijakan ekonomi Indonesia.
"Saya berjanji bahwa saya akan melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab."
Demikian penggalan sumpah yang ia ucapkan dengan tegas. Pria itu adalah Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono, atau yang sepanjang kariernya akrab disapa Tommy. Pengucapan sumpah tersebut menandai babak baru perjalanan panjangnya: dari meja redaksi majalah berita, ke lantai bursa Hong Kong, ke ruang bendahara partai politik, ke kursi wakil menteri keuangan, dan kini ke lantai-lantai eksekutif bank sentral, mengemban masa jabatan 2026 hingga 2031.
Thomas lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972 sebagai putra pertama pasangan Joseph Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati Djojohadikusumo. Garis darahnya menautkan dua penggal kuat sejarah ekonomi dan politik Indonesia. Sang ayah, Soedradjad Djiwandono, merupakan Gubernur Bank Indonesia periode 1993 hingga 1998 yang memimpin bank sentral di tengah badai Krisis Moneter Asia. Dari pihak ibu, ia merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Latar keluarga itu memberinya pintu masuk ke lingkar kekuasaan, namun jalur karier yang ditempuhnya sendiri berliku jauh sebelum ia duduk di gedung pemerintahan.
Biodata Thomas Djiwandono
| Keterangan | Data |
|---|---|
| Nama Lengkap | Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono |
| Nama Panggilan | Tommy, Thomas M. Djiwandono |
| Tempat/Tanggal Lahir | Jakarta, 7 Mei 1972 |
| Pendidikan | Haverford College (Bachelor of Arts in History); Johns Hopkins University School of Advanced International Studies (Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional) |
| Pekerjaan | Politikus, Ekonom, Bankir Sentral |
| Jabatan Saat Ini | Deputi Gubernur Bank Indonesia (2026-2031) |
| Jabatan Sebelumnya | Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia (18 Juli 2024 - 5 Februari 2026) |
| Orang Tua | Joseph Soedradjad Djiwandono (ayah), Biantiningsih Miderawati Djojohadikusumo (ibu) |
| Kerabat | Prabowo Subianto (paman), Hashim Djojohadikusumo (paman), Budi Djiwandono (saudara) |
Jejak Pendidikan di Amerika Serikat
Pendidikan tinggi Thomas ditempuh di Amerika Serikat. Ia meraih gelar Bachelor of Arts in History dari Haverford College, sebuah perguruan tinggi seni liberal di Pennsylvania yang dikenal kecil namun selektif. Pilihan jurusan sejarah ini kerap menjadi sorotan ketika namanya muncul di arena ekonomi, namun bagi Thomas, disiplin sejarah memberinya kerangka berpikir panjang tentang institusi, kebijakan, dan konsekuensi politik dari keputusan-keputusan ekonomi.
Setelah menyelesaikan studi sarjana, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies (SAIS) di Washington, D.C., dengan fokus pada hubungan internasional dan ekonomi internasional. Kombinasi dua disiplin itu, sejarah dan ekonomi internasional, kelak menjadi bekal yang membentuk cara pandangnya terhadap persoalan fiskal dan moneter. Ia selalu menempatkan angka-angka ekonomi dalam konteks politik dan kelembagaan yang lebih luas, sebuah pendekatan yang kemudian tercermin dalam strategi yang ia tawarkan di berbagai posisi publiknya.
Awal Karier: Dari Meja Redaksi ke Lantai Bursa
Karier profesional Thomas tidak dimulai dari koridor kekuasaan. Pada 1993, ia memulai sebagai wartawan magang di Majalah Tempo, salah satu majalah berita paling berpengaruh di Indonesia. Setahun kemudian, pada 1994, ia melanjutkan pengalaman jurnalistiknya di Indonesia Business Weekly. Pengalaman di ruang redaksi mengasah ketajamannya meneliti data, memahami isu ekonomi, dan merangkainya menjadi narasi yang bisa dipahami publik.
Dari dunia jurnalistik, ia menyeberang ke sektor keuangan dan bekerja sebagai analis di Whetlock NatWest Securities di Hong Kong. Di kota yang menjadi salah satu pusat keuangan Asia itu, Thomas menimba pengalaman langsung membaca pasar modal, menganalisis perusahaan, dan memahami dinamika arus modal lintas negara. Pengalaman di Hong Kong inilah yang mempertajam intuisi finansialnya dan memberinya perspektif internasional yang menyertai kariernya bertahun-tahun kemudian.
Titik balik berikutnya terjadi pada 2006, ketika pamannya, Hashim Djojohadikusumo, memintanya bergabung dengan Arsari Group, kelompok usaha keluarga yang bergerak di bidang agrobisnis dan sumber daya alam. Thomas kemudian menjabat sebagai Deputy Chief Executive Officer Arsari Group. Selama bertahun-tahun di perusahaan itu, ia terlibat dalam pengelolaan operasi bisnis skala nasional, dari perencanaan investasi hingga manajemen rantai produksi, sebuah pengalaman manajerial nyata yang melengkapi fondasi akademis dan analitiknya.
Babak Politik: 17 Tahun Menjaga Keuangan Gerindra
Kedekatan keluarga dengan politik akhirnya menarik Thomas masuk ke dunia partai. Ia bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang didirikan pamannya, dan sejak 2010 mengemban posisi Bendahara Umum partai. Jabatan itu dipegangnya selama kurang lebih 15 tahun, menjadikannya salah satu kader dengan masa baktinya terpanjang di struktur inti Gerindra. Ia juga tercatat pernah menjadi calon anggota legislatif dari daerah pemilihan Kalimantan Barat.
Sebagai bendahara, Thomas mengelola keuangan partai, penggalangan dan penyaluran dana, serta pelaporan administrasi yang menjadi tulang punggung organisasi politik modern. Posisi ini jarang tampil di permukaan publik, namun sangat menentukan logistik dan kesinambungan mesin partai, termasuk dalam gelombang pemilihan umum beruntun yang membawa Gerindra menjadi partai parlament terkemuka dan akhirnya mengantarkan Prabowo Subianto ke kursi kepresidenan pada 2024.
Perubahan besar datang setelah ia masuk pemerintahan. Sesuai aturan yang mensyaratkan pejabat negara dan pimpinan lembaga independen tidak aktif di partai politik, Thomas mengundurkan diri sebagai Bendahara Umum Gerindra dan kemudian mundur sepenuhnya dari keanggotaan partai pada akhir 2025, tepat sebelum proses pencalonannya sebagai pimpinan bank sentral bergulir.
Wakil Menteri Keuangan Dua Era Presiden
Pada 18 Juli 2024, Presiden Joko Widodo melantik Thomas sebagai Wakil Menteri Keuangan, mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersama Suahasil Nazara. Penunjukan itu terjadi pada bulan-bulan akhir pemerintahan Jokowi dan sekaligus menjadi jembatan transisi menuju pemerintahan baru. Ketika Prabowo Subianto resmi menjabat presiden pada Oktober 2024 dan membentuk Kabinet Merah Putih, Thomas dipertahankan di posisi yang sama, menjadikannya salah satu dari sedikit pejabat yang melanjutkan tugas melintasi dua era kepresidenan.
Selama sekitar satu setengah tahun di Kementerian Keuangan, peran Thomas bersifat horizontal: menjaga relasi dengan kementerian dan lembaga lain, serta memastikan pemikiran dan visi misi presiden selaras dengan kebijakan fiskal yang dirumuskan kementerian. Ia juga mengemban posisi ex-officio sebagai anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan mewakili Kementerian Keuangan. Dalam posisi itu, ia ikut terlibat dalam perumusan kebijakan fiskal di tengah berbagai program prioritas pemerintahan baru.
Keterlibatannya dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada November 2025 sempat menuai perhatian publik dan pengamat, karena dianggap mengaburkan batas antara kementerian fiskal dan bank sentral. Polemik itu menjadi bagian dari perdebatan yang lebih besar tentang relasi Kementerian Keuangan dan BI, perdebatan yang makin ramai ketika namanya kemudian mencuat sebagai calon Deputi Gubernur BI.
Menuju Bank Sentral: Uji Kelayakan dan Strategi GERAK
Pada akhir Januari 2026, Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap Thomas, yang dicalonkan Presiden Prabowo sebagai pengganti Juda Agung yang mengundurkan diri dari jabatan Deputi Gubernur BI. Dalam uji kelayakan pada 26 Januari 2026, Thomas memaparkan visi bertajuk strategi GERAK, kerangka tematik untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi yang adaptif dan lincah.
Strategi GERAK berpijak pada lima poin utama: tata kelola (governance), efektivitas kebijakan, resiliensi sistem keuangan, akselerasi sinergi fiskal, moneter dan sistem keuangan, serta keberlanjutan transformasi keuangan. Di dalamnya ia mengusung konsep financial security atau ketahanan finansial, transformasi digital keuangan, serta penguatan inklusi dan literasi keuangan. Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia berpeluang menjadi negara maju pada 2045, asal pertumbuhan ekonomi ditopang pemerataan pembangunan dan stabilitas nasional.
Pencalonannya tidak lepas dari kritik. Sejumlah pengamat menilai penempatan keponakan presiden di jajaran pimpinan bank sentral berisiko menggerus independensi BI dan mengindikasikan keinginan pemerintah menyelaraskan kebijakan moneter dengan target pertumbuhan ekonomi. Thomas menjawab tuduhan itu dengan lugas. Ia mengakui rekam jejaknya tidak bermula dari ranah moneter, namun menegaskan pengalamannya selama satu setengah tahun di Kementerian Keuangan akan melengkapi formasi Deputi Gubernur yang lain.
"BI itu bergerak di bawah undang-undangnya sendiri. Kalau kita percaya bahwa undang-undang itu ada, itu tidak bisa serta-merta berubah gara-gara seorang seperti saya masuk."
Demikian Thomas menegaskan posisinya di hadapan wartawan. Ia justru menilai nilai tambahnya adalah merekatkan komunikasi antara pemerintah dan bank sentral tanpa mengurangi independensi kelembagaan.
Rapat paripurna DPR menyetujui pencalonannya pada 27 Januari 2026, dan melalui Keputusan Presiden Nomor 10/P Tahun 2026 tertanggal 3 Februari 2026, Thomas ditetapkan sebagai Deputi Gubernur BI. Pelantikan pada 9 Februari 2026 di hadapan Ketua Mahkamah Agung resmi membuka masa baktinya hingga 2031, bahu-membahu dengan para deputi gubernur lain seperti Aida S. Budiman, Filianingsih Hendarta, dan Ricky Perdana Gozali di bawah kepemimpinan Dewan Gubernur yang baru.
Warisan Keluarga dan Tanggung Jawab Sendiri
Nama Djiwandono bukan nama asing di gedung bank sentral. Tiga dasawarsa silam, ayahnya duduk di kursi Gubernur BI ketika krisis 1997-1998 mengguncang ekonomi Indonesia, sebuah babak sejarah yang penuh perdebatan dan penilaian publik yang beragam. Kini sang anak kembali ke gedung yang sama melalui pintu yang berbeda: bukan sebagai gubernur yang diwariskan masa krisis, melainkan sebagai deputi gubernur yang dipilih melalui uji kelayakan parlemen di era normal.
Perjalanan Thomas Djiwandono bisa dibaca sebagai kisah seseorang yang tumbuh di tengah nama besar keluarga, namun menyusun jalur profesionalnya sendiri melalui tiga dunia yang jarang bertemu: jurnalistik, pasar keuangan internasional, dan politik organisasi. Kombinasi pengalaman itu kini dibawanya ke bank sentral pada masa when ekonomi Indonesia tengah mengejar lompatan menjadi negara maju. Ujian sesungguhnya barulah dimulai: membuktikan bahwa janji independensi yang ia ucapkan bukan sekadar retorika, melainkan komitmen kerja yang akan dinilai publik sepanjang masa baktinya hingga 2031.
Sumber Referensi
- Bank Indonesia, Siaran Pers No. 28/36/DKom, "Thomas A.M. Djiwandono Dilantik Sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia", 9 Februari 2026.
- CNBC Indonesia, "Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Begini Strategi GERAK Thomas Djiwandono", 10 Februari 2026.
- Bisnis.com, "Thomas Djiwandono Ungkap Perannya ketika Resmi Jadi Deputi Gubernur BI", 28 Januari 2026.
- BBC News Indonesia, "Thomas Djiwandono dilantik jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia", Februari 2026.
- Partai Gerindra, Profil Resmi Thomas M. Djiwandono, gerindra.id.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
Biografi Arya Saloka: Dari Figuran Bali hingga Peran Ikonik Aldebaran

Biografi B. J. Habibie: Insinyur Dirgantara, Presiden Ketiga, dan Arsitek Reformasi 1998

Biografi Hashim Djojohadikusumo: Dari Dirut Semen Cibinong hingga Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim

Biografi Sjafrie Sjamsoeddin: Ajudan Soeharto yang Kini Memimpin Pertahanan

Biografi Susilo Bambang Yudhoyono: Dari Prajurit Pacitan, Presiden Pilihan Rakyat, hingga Babak Seniman
