Biografi Benny Laos: Bupati Morotai dari Pesisir yang Berhenti Tujuh Pekan Sebelum Pencoblosan
Di sebuah kampung pesisir di Pulau Morotai, ada profesi yang diwariskan turun-temurun: membudidayakan tauge. Pada 1948, seorang perempuan Tionghoa bernama Lian Laos menanam tauge di Morotai atas permintaan tentara Indonesia yang mengambil alih pangkalan Sekutu. Masyarakat memanggilnya Nona Tauge. Empat puluh sembilan tahun setelah cucunya lahir di Ternate, anak itu menjabat bupati di pulau yang sama, dan kelak namanya tercatat dalam sejarah politik Maluku Utara.
Benny Laos lahir di Ternate, Maluku Utara, pada 8 Agustus 1972. Ia adalah anak keenam dari delapan bersaudara pasangan Harjo Halim dan Liany Laos. Garis ibunya berakar di Morotai, sementara ayah mertua sang nenek berasal dari Taiwan yang datang berdagang ke Morotai pada 1938 dan menjadi warga negara Indonesia. Keluarganya hidup serba terbatas. Nama resminya sebenarnya Denny, tetapi kesalahan pengetikan pada akta kelahiran mengubahnya menjadi Benny, sementara keluarga tetap memanggilnya Denny sehari-hari. Pada usia tiga tahun, ia diadopsi adik ibunya, Anton Laos.
Pendidikan dasar dan menengahnya dijalani di SD Raja Kristus Ternate dan SMP Raja Kristus Ternate, lulus pada 1989. Ia sempat dikirim bersekolah ke SMA Katolik Cor Jesu di Malang, namun hanya bertahan satu semester. Kesulitan ekonomi memaksanya pulang kampung dan bekerja. Bertahun-tahun kemudian, saat sudah menjadi pengusaha, ia menamatkan Paket C di Manado. Pada 2009 ia mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi dan meraih gelar Sarjana Hukum pada 2016, dalam usia 44 tahun.

Sumber: Wikimedia Commons (Bupati_Pulau_Morotai_Benny_Laos.jpg)
Biodata Benny Laos
| Keterangan | Data |
|---|---|
| Nama lengkap | Benny Laos |
| Nama panggilan | Denny, BL |
| Tempat, tanggal lahir | Ternate, 8 Agustus 1972 |
| Wafat | Pulau Taliabu, 12 Oktober 2024 (umur 52) |
| Orang tua | Harjo Halim (ayah), Liany Laos (ibu) |
| Istri | Sherly Tjoanda (menikah 2005) |
| Anak | Edberd, Edelin, Edrick |
| Pendidikan | Sarjana Hukum, Universitas Sam Ratulangi (2016) |
| Partai politik | Partai Demokrat |
| Jabatan terakhir | Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan (2023-2024) |
| Jabatan politik | Bupati Pulau Morotai ke-2 (2017-2022) |
| Pencalonan terakhir | Calon Gubernur Maluku Utara 2024 |
| Profesi | Pengusaha, politikus |
| Perusahaan | Bela Group (PT Bela Cipta Sarana, Hotel Grand Dafam Bela Ternate) |
Merintis Usaha dari Bawah
Selepas putus sekolah, Benny bekerja serabutan. Ia membantu toko elektronik dan penyewaan kaset milik kakaknya, Hendri, yang kemudian tutup karena musibah. Ia bekerja di warung kopra di Pulau Bacan selama lima bulan, lalu menjadi penjaga toko kelontong di Halmahera Timur selama lima bulan berikutnya. Kakaknya memintanya kembali ke Ternate untuk menjaga toko kayu besi, yang lagi-lagi gagal. Hendri kemudian memberinya modal Rp5 juta.
Pada 1992, bersama kakaknya, ia mendapat kontrak pengelolaan hutan tanaman industri dari PT Barito Pacific Timber dengan nilai proyek puluhan juta rupiah. Usaha itu berhenti dua tahun kemudian karena kesalahan operasional. Pada 1995 Benny pindah ke Ambon dan tertarik menjadi kontraktor. Dengan modal Rp5 juta hasil menggadaikan kalung ibunya, ia memulai usaha konstruksi yang berkembang hingga kerusuhan Ambon 1999 membuyarkan banyak sendi ekonomi kota itu. Pada 2001 ia hijrah ke Manado, mendirikan perusahaan pelayaran dan properti dengan nama Bela Group, akronim dari namanya sendiri.
Bela Group berkembang menjadi bendera usaha yang mencakup perhotelan, konstruksi, dan real estat. Ia membangun jaringan bisnis yang meliputi pelayaran, properti, dan perhotelan, sekaligus merajut relasi dengan pengusaha lokal dan aparat di Manado serta Ternate. Benny tercatat sebagai Direktur Utama PT Bela Cipta Sarana dan pemilik Hotel Grand Dafam Bela Ternate, hotel bintang empat yang berdiri di Kota Ternate sejak 19 Desember 2007. Ia aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Ikatan Motor Indonesia (IMI), Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Maluku Utara dan KADIN Indonesia, serta pernah menjabat Ketua Real Estate Indonesia (REI).
Perjalanan politiknya tidak selalu mulus. Kekalahan pada Pilkada Gubernur 2013 sebagai calon wakil gubernur sempat membuat namanya surut dari panggung, sebelum ia kembali dan memenangkan Morotai empat tahun kemudian. Di sepanjang kariernya, dari penjaga toko kelontong hingga staff khusus di lingkaran Istana, Benny membangun citra pengusaha sekaligus politikus yang melintasi beberapa generasi kepemimpinan daerah di Maluku Utara. Kehidupan pribadinya relatif jauh dari pemberitaan. Ia menikah dengan Sherly Tjoanda pada 28 Mei 2005 dan dikaruniai tiga anak, Edberd, Edelin, dan Edrick. Bersama istrinya ia mendirikan Yayasan Bela Peduli yang bergerak di kegiatan sosial di Maluku Utara.
Jalan Politik dan Kursi Bupati Morotai
Nama Benny Laos pertama kali masuk bursa politik Maluku Utara pada Pilkada 2013, ketika ia menjadi calon Wakil Gubernur mendampingi Syamsir Andili. Pasangan itu kalah. Empat tahun kemudian, pada Pilkada 15 Februari 2017, ia maju sebagai calon Bupati Pulau Morotai berpasangan dengan Asrun Padoma, didukung PDI-P, Golkar, Gerindra, Demokrat, PKB, dan NasDem. Pasangan itu meraih 49,74 persen suara dan dilantik pada 22 Mei 2017. Benny menjadi bupati definitif kedua di kabupaten hasil pemekaran dari Halmahera Utara itu. Sebelum pelantikan, ia menghadiri serangkaian pertemuan dengan tokoh adat dan pemuka agama di daratan Morotai, menekankan bahwa kabupaten muda itu memerlukan kepemimpinan yang memahami persoalan transportasi laut, listrik, dan keterbatasan lapangan kerja. Ia meminta jajarannya mengurangi ketergantungan pada proyek mercusuar dan mengalihkan perhatian pada layanan dasar yang langsung dirasakan warga.
Morotai yang dipimpinnya adalah kabupaten muda di pulau paling utara Indonesia, berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik, dengan catatan sejarah Perang Dunia II yang panjang. Di masa kepemimpinannya, prioritas anggaran diarahkan pada pendidikan dan kesehatan. Pada hari pertama berkantor, ia menerima dan menandatangani proposal beasiswa seorang anak petani, peristiwa yang kelak dikisahkan sendiri oleh penerimanya dan menjadi simbol program beasiswa untuk anak-anak Morotai. Daerah itu mulai dikenal melalui sejumlah capaian administrasi.
Di bawah Benny, Kabupaten Pulau Morotai meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan empat tahun berturut-turut. Morotai ditetapkan sebagai daerah Penyalur Dana Alokasi Khusus (DAK) terbaik 2020-2021 dan daerah pengelola DAK terbaik 2022. Status daerah itu berubah dari daerah tertinggal menjadi daerah berkembang.
Selama memimpin, ia mengutamakan layanan pendidikan bermutu dan kesehatan gratis, dua janji yang sejak awal dilansir sebagai fokus pemerintahannya. Pola kerja kerasnya dikenal luas di kalangan birokrasi lokal, dan kehadirannya di desa-desa pesisir menjadi bagian dari gaya kepemimpinan yang akrab di kalangan warga Morotai.
Di sektor pangan, pemerintahannya meluncurkan program Balap, bantuan buka lahan gratis bagi petani, lengkap dengan penyediaan bibit unggul, pupuk, dan pendampingan. Produktivitas gabah kering panen dilaporkan naik dari 3 ton per hektar menjadi 7 sampai 8 ton per hektar. Pemerintah kabupaten juga menggandeng delapan perguruan tinggi di Maluku Utara untuk peningkatan sumber daya manusia.
Selama menjabat bupati, Benny juga dikenal rajin menemui warga pesisir tanpa protokol ketat. Di forum-forum publik ia kerap mengulang keyakinan bahwa Morotai yang dulu markas Sekutu dalam Perang Dunia II menyimpan potensi pariwisata dan investasi perikanan yang belum tergarap. Pemerintahannya giat mempromosikan Morotai sebagai gerbang utara Indonesia di bibir Pasifik, dan mencoba mengembangkan kawasan wisata religi meski sempat ditampik DPRD setempat. Ia juga mendorong pembangunan infrastruktur dasar dengan keterbatasan anggaran kabupaten yang pada periode awal kepemimpinannya baru berusia satu dasawarsa setelah pemekaran.
Selepas menyelesaikan masa jabatan bupati pada Mei 2022, Benny tidak mengambil jeda panjang dari panggung nasional. Penunjukannya sebagai Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan pada 2023 menempatkannya di lingkaran kebijakan Istana sampai akhir hayat, menjembatani pengalaman daerah kepulauan dan pusat pengambilan keputusan.
"Saya atas nama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Presiden RI Joko Widodo... Dalam pelaksanaan ini betul-betul kami merasakan betul semua kebijakan-kebijakan telah berjalan. Sehingga dampak yang terjadi melalui proses Tol Laut ini dari tahun ke tahun kurang lebih 3 tahun ini telah melahirkan banyak dampak yang positif."
Ia juga menyebut Tol Laut sebagai "urat nadi untuk pertumbuhan ekonomi" dan "konektivitas jembatan barang". Menurutnya, harga besi beton turun dari Rp90.000 menjadi Rp75.000, gula dari Rp14.000 menjadi Rp12.000, dan beras dari Rp12.000 menjadi Rp11.500 per kilogram. Kebijakan itu, katanya, "sangat membantu masyarakat."
Tajuk politik yang tak sampai ke bilik suara
Masa jabatannya sebagai bupati berakhir pada 22 Mei 2022. Setahun kemudian, pada 2023, Presiden Joko Widodo mengangkatnya sebagai Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan, posisi yang dipegangnya hingga akhir hayat. Pada Agustus 2024, ia mendaftar sebagai calon Gubernur Maluku Utara berpasangan dengan Sarbin Sehe, mantan pejabat Kantor Wilayah Kementerian Agama setempat. Keduanya diusung koalisi delapan partai yaitu PKB, NasDem, Demokrat, PAN, PPP, Partai Gelora, PSI, dan Partai Buruh. Selama masa kampanye, ia terus menggalang dukungan di sejumlah pulau, termasuk Taliabu, Obi, dan Sula. Ia meminta tim kampanye tetap bergerak sesuai jadwal meski kondisi cuaca buruk kerap menyulitkan mobilitas antarpulau, satu pekan sebelum insiden tragis itu terjadi. Dalam laporan harta kekayaan penyelenggara negara 2024, Benny mencatatkan harta Rp709,76 miliar, sebagian besar tanah dan bangunan tersebar di Ternate, Morotai, Surabaya, Manado, hingga Jakarta.
Pada 12 Oktober 2024, sekitar pukul 14.05 WIT, speedboat Bella 72 yang ditumpangi Benny dan rombongan kampanye meledak dan terbakar saat mengisi bahan bakar di Pelabuhan Regional Bobong, Desa Bobong, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu. Benny sempat dievakuasi dan mendapat perawatan intensif di RSUD Bobong, namun dinyatakan meninggal pada pukul 17.20 WIT, tepat pada hari ulang tahun Provinsi Maluku Utara ke-25. Enam orang tewas dalam insiden itu, termasuk anggota DPRD Maluku Utara Ester Tantri dan Ketua DPW PPP Maluku Utara Mubin A. Wahid. Sepuluh lainnya luka-luka, di antaranya istrinya, Sherly Tjoanda. Sementara itu, istri dan anak-anaknya yang turut dalam rombongan dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Kematian Benny enam pekan sebelum pencoblosan memaksa partai pengusung mencari pengganti dalam tenggat tujuh hari sesuai aturan KPU. Tim pemenangan mengajukan Sherly Tjoanda, yang kelak memenangkan pemilihan dan menjadi gubernur perempuan pertama Maluku Utara. Benny dimakamkan pada 15 Oktober 2024 di Jakarta. Kepergiannya menutup perjalanan seorang anak pesisir yang tidak tamat SMA, memulai usaha dengan modal kalung gadai ibunya, menjadi pemilik grup usaha, memimpin kabupaten kepulauan paling utara selama satu periode, dan akhirnya berhenti tujuh pekan sebelum pemungutan suara yang seharusnya membawanya memimpin provinsi sendiri.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
Biografi Arya Saloka: Dari Figuran Bali hingga Peran Ikonik Aldebaran

Biografi B. J. Habibie: Insinyur Dirgantara, Presiden Ketiga, dan Arsitek Reformasi 1998

Biografi Hashim Djojohadikusumo: Dari Dirut Semen Cibinong hingga Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim
Biografi Sara Wijayanto: Dari Backing Vokal Slank hingga Ratu Horor YouTube Indonesia

Biografi Sjafrie Sjamsoeddin: Ajudan Soeharto yang Kini Memimpin Pertahanan
