Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi Tokoh Dunia

Biografi John Locke: Bapak Liberalisme yang Mengubah Filsafat Politik Dunia

NOleh: Nurdyansa
(Diperbarui: 16 Sep 2026)Wikidata: Q9353

Ketika parlemen sebuah negara menolak tunduk pada kehendak seorang raja, sesungguhnya mereka sedang meneruskan gagasan yang dirumuskan oleh seorang dokter sekaligus filsuf dari kota kecil Wrington di Inggris barat daya. John Locke (1632-1704) memang tidak pernah memegang jabatan politik tinggi, namun buah pikirannya tentang hak alamiah manusia, kontrak sosial, dan toleransi beragama kelak menjadi fondasi bagi demokrasi konstitusional modern, menyusup ke dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat hingga Deklarasi Hak Asasi Manusia di Prancis.

Potret John Locke
Potret resmi John Locke.

Biodata & Profil Singkat

AtributKeterangan
Nama LengkapJohn Locke
Lahir29 Agustus 1632, Wrington, Somerset, Inggris
Wafat28 Oktober 1704 (umur 72), High Laver, Essex, Inggris
AlmamaterWestminster School; Christ Church, Universitas Oxford
ProfesiFilsuf, dokter, ekonom
AliranEmpirisisme Inggris; bapak liberalisme klasik
Karya UtamaAn Essay Concerning Human Understanding (1690), Two Treatises of Government (1689), A Letter Concerning Toleration (1689)

Masa Muda dan Pembentukan Intelektual di Oxford

Locke lahir pada 29 Agustus 1632 di Wrington, Somerset, dari keluarga pengacara pedesaan berhaluan Puritan. Ayahnya, John Locke senior, sempat bergabung dengan pasukan parlemen pada perang saudara Inggris melawan Raja Charles I, sebuah latar politik yang kelak memberi warna pada cara pandang sang anak terhadap kekuasaan. Berkat bantuan mantan komandan ayahnya, Locke muda bersekolah di Westminster School, salah satu sekolah terbaik di London, pada usia 15 tahun.

Tahun 1652 ia diterima di Christ Church, Universitas Oxford. Kurikulum klasik yang berpusat pada filsafat skolastik segera membuatnya jenuh. Ia jauh lebih tertarik pada karya para filsuf modern semacam Rene Descartes serta pada sains eksperimental yang tengah berkembang. Di Oxford ia berkawan dengan ahli kimia Robert Boyle dan ikut mempelajari ilmu kedokteran, meraih gelar sarjana di bidang itu. Pada usia 36 tahun ia terpilih menjadi anggota Royal Society, perhimpunan ilmiah prestisius Inggris, dan persahabatannya dengan Isaac Newton kemudian berlangsung hampir sepanjang hidupnya. Perpaduan antara filsafat, kedokteran, dan sains eksperimental inilah yang kelak membentuk aliran empirisisme yang dibinanya.

Titik Balik Bersama Earl of Shaftesbury

Titik balik kehidupan Locke terjadi pada tahun 1667, ketika ia berkenalan dengan Anthony Ashley Cooper, yang kemudian menjadi Earl of Shaftesbury. Locke diajak pindah ke London sebagai dokter pribadi sekaligus sekretaris dan penasihatnya. Pada tahun 1668 Locke bahkan mengokahkan reputasi medisnya dengan mengawasi operasi rumit untuk mengeluarkan abses pada hati Shaftesbury yang nyaris merenggut nyawa sang bangsawan.

Shaftesbury adalah motor utama gerakan Whig, kubu politik yang menuntut pembatasan kekuasaan raja dan menolak penobatan Raja James II yang beragama Katolik. Melalui lingkaran Shaftesbury, Locke terlibat dalam perumusan kebijakan perdagangan dan koloni, termasuk menjadi sekretaris dewan perdagangan dan ikut menyusun konstitusi awal provinsi Carolina di Amerika. Dari pengalaman inilah gagasan-gagasan politiknya tentang hak milik dan batas kekuasaan pemerintah mulai terbentuk secara matang.

Pelarian ke Belanda dan Era Pengasingan

Ketika Shaftesbury jatuh dari kekuasaan dan melarikan diri ke Belanda hingga wafat di sana pada 1683, posisi Locke ikut terancam. Ia memang tidak pernah terlibat langsung, tetapi kedekatannya dengan lingkaran Whig radikal membuatnya diawasi terus, sehingga tahun 1683 ia memutuskan mengungsi ke Belanda. Di negeri pengasingan itulah Locke menjalani lima tahun yang justru menjadi masa paling produktifnya: ia menyempurnakan draf An Essay Concerning Human Understanding dan menulis inti Two Treatises of Government.

Keberangkatan Raja James II setelah Revolusi Gemilang 1688 membuka jalan pulang. Pada Februari 1689 Locke kembali ke Inggris dalam kapal yang sama yang membawa Putri Mary, istri Raja William III. Lima belas tahun terakhir hidupnya dihabiskan di Oates, kediaman keluarga Masham di High Laver, Essex, sebagai tamu kehormatan. Ia tidak pernah menikah dan wafat pada 28 Oktober 1704 dalam usia 72 tahun.

An Essay Concerning Human Understanding dan Batas Akal Budi

Karya yang paling orisinal dari Locke adalah An Essay Concerning Human Understanding yang terbit tahun 1690, hasil pemikiran selama hampir dua puluh tahun. Di dalamnya Locke menyatakan bahwa pikiran manusia saat lahir tidaklah berisi gagasan bawaan apapun, melainkan ibarat lembar kertas kosong yang kemudian diisi oleh pengalaman. Teori ini, yang dikenal sebagai tabula rasa, menolak pandangan bahwa manusia ditakdirkan memiliki ide tertentu sejak lahir.

Buku itu mendedahkan tiga soal besar, yakni asal-usul pengetahuan, hakikatnya, dan batas-batasnya. Menurut Locke, seluruh pengetahuan manusia bersumber dari pengalaman, baik pengalaman inderawi maupun refleksi batin. Ia menyimpulkannya dengan kalimat khasnya:

"Semua kaum kami yang lahir dari para wanita; dari mereka tidak ada apa pun yang kami miliki, dan tidak ada apa pun yang kami bawa ke dunia; tidak ada pikiran yang terlahir bersama kami."

Gagasan ini menampik klaim absolut kaum monarkis bahwa manusia terlahir tunduk pada seorang raja. Ide filsafat Locke ini pada gilirannya mengilhami para filsuf berikutnya seperti George Berkeley, David Hume, hingga Immanuel Kant, dan menjadi penanda lahirnya empirisisme Inggris sebagai aliran filsafat yang berdiri sendiri.

Toleransi Agama dalam A Letter Concerning Toleration

Dalam A Letter Concerning Toleration (1689), Locke berargumen bahwa negara tidak berhak mencampuri urusan keyakinan agama warganya. Negara, menurutnya, ditata dengan tujuan duniawi, yakni melindungi kehidupan, kebebasan, dan harta benda, sedangkan keselamatan jiwa adalah perkara pribadi antara manusia dan Tuhannya.

"Seluruh kekuatan pemerintah sipil hanya berkaitan dengan kepentingan-kepentingan sipil belaka, dan semata-mata dibatasi serta diarahkan pada pengamanan dan perlindungan kepentingan tersebut; ia tidak boleh dan tidak dapat dalam cara apa pun diperluas untuk menyelamatkan jiwa-jiwa."

Meski argumennya kuat untuk toleransi antarsesama sekte Protestan dan bahkan bagi non-Kristen, Locke masih mengecualikan kaum Katolik dan ateis. Keterbatasan ini mencerminkan konteks zamannya, namun kerangka argumentasinya justru melampaui pengecualian itu sendiri. Kini, prinsip pemisahan urusan negara dan keyakinan pribadi yang dirintisnya telah menyebar jauh melampaui batas yang pernah dibayangkannya.

Halaman judul Two Treatises of Government, karya politik paling berpengaruh John Locke (1689)

Two Treatises of Government dan Fondasi Demokrasi Liberal

Buku Two Treatises of Government, terbit 1689, memalingkan filsafat politik ke arah yang baru. Menolak doktrin hak ilahi raja, Locke menegaskan bahwa kekuasaan pemerintah hanya sah bila berasal dari persetujuan rakyat yang diperintah. Setiap manusia, katanya, memiliki hak alamiah yang meliputi kehidupan, kebebasan, dan hak milik, dan tugas utama pemerintah adalah melindungi hak-hak tersebut.

Locke merumuskan konsep kontrak sosial secara berbeda dengan Thomas Hobbes. Jika Hobbes memakai kontrak sosial untuk memperkokoh absolutisme, Locke menggunakannya untuk membatasi kekuasaan. Bila pemerintah mengkhianati kepercayaan rakyat, hak untuk melawan tetap berada di tangan rakyat:

"Bilamana para legislator mencoba merampas dan menghancurkan hak milik rakyat, atau menempatkan mereka berada di bawah kekuasaan yang sewenang-wenang, mereka menempatkan diri mereka sendiri dalam keadaan perang melawan rakyat, dan karena itu rakyat dibebaskan dari kewajiban kepatuhan."

Argumen tentang hak melawan ini, ditambah prinsip pemisahan kekuasaan legislatif yang lebih unggul dari eksekutif, serta gagasan perpajakan harus disertai perwakilan, akhirnya berakar jauh melintasi Atlantik. Thomas Jefferson dan para pendiri Amerika Serikat mengakui utang besar mereka pada Locke, dan frasa "kehidupan, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan" dalam Deklarasi Kemerdekaan 1776 nyaris meniru rumusan Locke tentang "kehidupan, kebebasan, dan harta benda".

Akhir Hayat dan Warisan

Pengaruh Locke pada abad Pencerahan sukar ditaksir berlebihan. Di Prancis, Voltaire dan para ensiklopedis menjadikannya rujukan utama, dan buah pikirannya turut menggerakkan Revolusi Prancis serta perumusan Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warganegara 1789. Di dunia berbahasa Inggris, filsafat politiknya menjadi jidat konstitusionalisme liberal.

Dalam bidang filsafat pengetahuan, tabula rasa Locke menjadi tonggak empirisisme yang menentang rasionalisme bawaan. Dalam ekonomi, pembelaannya atas hak milik pribadi memberi dasar bagi perkembangan liberalisme klasik hingga era Adam Smith. Lebih dari tiga abad setelah karyanya terbit, debat tentang batas kekuasaan negara, kebebasan beragama, dan asal-usul pengetahuan masih berpijak pada kerangka yang dirumuskan dokter dari Wrington itu.

Referensi

Rogers, G. A. J. (2024). John Locke. Encyclopædia Britannica. https://www.britannica.com/biography/John-Locke

Uzgalis, W. (2022). John Locke. Stanford Encyclopedia of Philosophy. https://plato.stanford.edu/entries/locke/

Milton, J. R. (2008). Locke, John (1632-1704). Oxford Dictionary of National Biography. Oxford University Press. https://www.oxforddnb.com

Henderson, D. R. (Ed.). (2008). John Locke (1632-1704). The Concise Encyclopedia of Economics. Liberty Fund. https://www.econlib.org/library/Enc/bios/Locke.html

Woolhouse, R. (2007). Locke: A Biography. Cambridge University Press.

Topik Terkait:#John Locke#Filsuf Inggris#Empirisisme#Liberalisme#Pencerahan

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content