Biografi Quraish Shihab: Mufasir Nusantara yang Menjembatani Al-Qur'an dan Zaman
Biografi Quraish Shihab: Mufasir Nusantara yang Menjembatani Al-Qur'an dan Zaman
Pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Badan Riset dan Inovasi Nasional menganugerahkan Habibie Prize kepada seorang kakek berusia 81 tahun di Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Penerimanya adalah Muhammad Quraish Shihab, mufasir Indonesia yang lebih dari setengah abad hidupnya diabdikan untuk membumikan pesan Al-Qur'an ke ruang publik ilmiah. Penghargaan itu menjadi pengakuan tertinggi negara atas dedikasinya memperkuat dialog antara sains dan agama serta membangun tradisi keislaman yang moderat dan inklusif.

Potret Quraish Shihab saat mengisi program kajian tafsir. Sumber: Wikimedia Commons.

Potret resmi Quraish Shihab.
Biodata & Profil Singkat
| Keterangan | Data |
|---|---|
| Nama Lengkap | Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. |
| Tempat, Tanggal Lahir | Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944 |
| Orang Tua | Prof. K.H. Abdurrahman Shihab dan Asma Aburisyi |
| Almamater | Universitas Al-Azhar, Kairo (Lc. 1967, M.A. 1969, Doktor 1982) |
| Istri | Fatmawati Assegaf |
| Anak | Najelaa Shihab, Najwa Shihab, Nasywa Shihab, Ahmad Shihab, Nahla Shihab |
| Peran Utama | Mufasir, penulis Tafsir Al-Mishbah, mantan Menteri Agama RI (1998) |
| Lembaga | Pendiri dan Pimpinan Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ), anggota Muslim Council of Elders |
| Penghargaan Terbaru | Habibie Prize 2025 bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan |
Akar Keluarga Cendekia dari Rappang
Quraish Shihab lahir di Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. Ia merupakan putra keempat dari 12 bersaudara dari pasangan Prof. K.H. Abdurrahman Shihab dan Asma Aburisyi. Sang ayah dikenal sebagai ulama dan guru besar tafsir yang turut membina dua perguruan tinggi besar di Ujungpandang, yakni Universitas Muslim Indonesia dan IAIN Alauddin. Dari lingkungan keluarga terpelajar berdarah Hadrami inilah benih kecintaan Quraish kepada Al-Qur'an pertama kali ditanam.
Sejak usia enam hingga tujuh tahun, Quraish kecil sudah dibiasakan mengikuti pengajian Al-Qur'an yang diadakan ayahnya sendiri. Sang ayah tak sekadar menyuruhnya membaca, tetapi juga menguraikan kisah-kisah dalam Al-Qur'an secara sederhana. Kebiasaan itu membentuk ikatan batin yang kelak menentukan arah seluruh perjalanan intelektualnya.
Menuntut Ilmu hingga ke Al-Azhar
Pendidikan formalnya dimulai di Ujungpandang, lalu berlanjut ke Malang sambil mondok di Pondok Pesantren Darul Hadis Al-Falaqiyah. Pada 1958, sang ayah mengirimnya ke Kairo, Mesir, dan ia diterima di kelas dua tingkat sanawiyah Al-Azhar. Ia kemudian melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Hadits, meraih gelar Lc. setingkat sarjana pada 1967, dan gelar M.A. pada 1969 dengan tesis tentang kemukjizatan Al-Qur'an dari segi hukum.
Setelah sempat pulang dan mengabdi sebagai wakil rektor IAIN Alauddin Ujungpandang sepanjang 1973 hingga 1980, Quraish kembali ke Al-Azhar untuk meraih doktor. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun. Disertasinya yang meneliti kitab "Nazm ad-Durar" karya al-Biqa'i dipertahankan pada 1982 dengan predikat summa cum laude, Mumtaz Ma'a Martabah asy-Syaraf al-Ula. Ia tercatat sebagai orang pertama dari Asia Tenggara yang meraih prestasi tersebut.
Kiprah Akademik dan Amanah Negara
Sepulang doktoral, kariernya menapak cepat. Ia menjadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 1992 hingga 1998, lalu dipercaya Presiden B.J. Habibie sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Reformasi Pembangunan pada 1998. Ia juga sempat menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia dan memimpin Pusat Studi Al-Qur'an, lembaga nirlaba yang didirikannya untuk membumikan Al-Qur'an kepada masyarakat yang plural.
Salah satu tugas bersejarah yang mempertemukan kembali jalannya dengan B.J. Habibie adalah penugasannya di Mesir. Di sanalah ia menemukan ruang menulis yang lapang. Ia menuturkan pengalamannya saat menerima Habibie Prize 2025 di Jakarta:
"Di Mesir lah saya dapat menulis dan menyelesaikan tafsir Al-Qur'an dalam waktu tiga setengah tahun."
Tafsir Al-Mishbah dan Warisan Keilmuan
Karya magnum opus-nya, Tafsir Al-Mishbah, terbit lengkap dalam 15 jilid dan menjadi tafsir Al-Qur'an 30 juz pertama dalam bahasa Indonesia yang disusun oleh putra bangsa sendiri. Tafsir ini tumbuh menjadi rujukan utama kajian keislaman di kampus, pesantren, maupun rumah tangga Muslim Indonesia, dan terus dicetak ulang oleh Lentera Hati hingga kini. Risalah akademik tentang metodologi Al-Mishbah terus diproduksi di jurnal nasional dan internasional, termasuk studi perbandingan pemikirannya dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar yang terbit pada 2025.
Dalam genggaman intelektualnya, Quraish juga menulis puluhan buku populer, mulai dari "Membumikan Al-Qur'an", "Lentera Hati", hingga seri "Wawasan Al-Qur'an". Ia menegaskan sikap metodologisnya yang terbuka dengan kalimat yang sering dikutip:
"Al-Qur'an itu cahaya. Tiap orang akan melihat cahayanya dari sudut yang berbeda, dan perbedaan itu adalah rahmat."
Ia juga menolak anggapan sempit soal otoritas penafsiran. Dalam pidatonya November 2025 ia menegaskan kembali keyakinan lamanya:
"Jangan pernah berkata, karena Al-Qur'an turun dalam Bahasa Arab, maka yang paling pandai menafsirkan adalah orang Arab. Tidak. Siapa pun yang mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan memohon bantuan Tuhan akan mendapat penafsiran sesuai dengan kondisi masyarakatnya."
Babak Mutakhir 2024 hingga 2026: Etika AI dan Habibie Prize

Quraish Shihab bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Husein Ja'far Al-Hadar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Januari 2025. Sumber: Wikimedia Commons.
Memasuki usia 80-an, Quraish Shihab tidak menyurutkan aktivitas intelektualnya. Pada Januari 2025 ia hadir dalam rangkaian peringatan Isra Mikraj di Masjid Istiqlal bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar dan ulama muda Husein Ja'far Al-Hadar, menandai keberlanjutan perannya sebagai jembatan lintas generasi ulama Indonesia.
Sebagai anggota Muslim Council of Elders yang bermarkas di Abu Dhabi, ia tampil sebagai pembicara kunci pada seminar internasional "Promoting Digital Awareness and the Ethics of Artificial Intelligence" di Islamic Book Fair Jakarta 2025. Di hadapan peserta forum tersebut, ia menegaskan bahwa Islam tidak memisahkan ilmu dari etika, merujuk pada ayat pertama yang turun, "Iqra bismi rabbika". Ia mengingatkan bahwa tanpa pijakan nilai spiritual dan kemanusiaan, sains dan teknologi termasuk kecerdasan buatan dapat berubah menjadi alat penyesatan, bukan pencerah. Ia menggariskan tiga prinsip etis teknologi modern: martabat manusia, kemaslahatan publik, dan pertanggungjawaban moral. Ia juga melarang menjadikan AI sebagai rujukan fatwa keagamaan karena data yang digunakannya bisa berasal dari konteks budaya dan agama yang tidak selaras dengan tradisi Islam.
Puncak pengakuan publik datang pada Senin, 10 November 2025. Badan Riset dan Inovasi Nasional menganugerahkan Habibie Prize ke-26 untuk bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan kepada Quraish Shihab. BRIN menilai ia berhasil membawa kajian tafsir Al-Qur'an ke ruang publik ilmiah serta menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko di Gedung B.J. Habibie, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Ia menjadi satu dari lima ilmuwan nasional penerima, bersanding dengan Prof. Jimly Asshiddiqie yang meraih kategori sosial, ekonomi, politik, dan hukum.
Sepanjang 2026, kajian dan dakwah digitalnya tetap menjangkau jutaan jemaah melalui kanal resmi Pusat Studi Al-Qur'an serta program keluarga Shihab & Shihab yang dipandu putrinya, Najwa Shihab. Tafsir Al-Mishbah terus dibedah dalam berbagai jurnal keislaman, termasuk edisi 2025 yang mengkaji epistemologi istinbat dalam penafsirannya atas ayat-ayat pernikahan, menegaskan posisinya sebagai mazhab tafsir Nusantara yang hidup dan terus diperbincangkan.
Pesan Ketulusan bagi Generasi Ilmuwan
Di panggung Habibie Prize, alih-alih menikmati sorotan, Quraish justru menitipkan warisan semangat kepada generasi muda peneliti Indonesia. Ia mengingatkan bahwa semangat keilmuan warisan B.J. Habibie tidak berhenti pada sains dan teknologi semata, melainkan juga pada kejujuran intelektual, etika berpikir, ketekunan, dan kecintaan terhadap ilmu. Baginya, ketulusan adalah modal utama siapa pun yang mendalami kitab suci maupun laboratorium.
Perjalanan panjangnya dari surau kecil di Rappang hingga panggung tertinggi ilmu pengetahuan nasional mengukir satu pelajaran besar: kedalaman iman dan ketajaman akal dapat berjalan seiring, bahkan saling menguatkan. Di usianya yang telah menginjak 82 tahun pada Februari 2026, Quraish Shihab tetap berdiri sebagai mercusuar tafsir Indonesia, pelita yang tidak padam ditelan zaman.
Referensi
Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2025). Dari Jimly hingga Quraish, lima ilmuwan bangsa raih Habibie Prize 2025. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/5231593/dari-jimly-hingga-quraish-lima-ilmuwan-bangsa-raih-habibie-prize-2025
detikINET. (2025). Quraish Shihab ingatkan ketekunan dan ketulusan mendalami ilmu. detikcom. https://inet.detik.com/science/d-8204623/quraish-shihab-ingatkan-ketekunan-dan-ketulusan-mendalami-ilmu
Kompas.tv. (2025). Daftar ilmuwan yang diberi Habibie Prize 2025 oleh BRIN, ada Jimly Asshiddiqie hingga Quraish Shihab. Kompas.tv. https://www.kompas.tv/nasional/629588/daftar-ilmuwan-yang-diberi-habibie-prize-2025-oleh-brin-ada-jimly-asshiddiqie-hingga-quraish-shihab
Muslim Council of Elders. (2025). MCE highlights ethical, moral dimensions of artificial intelligence at Jakarta Book Fair. See.news. https://see.news/mce-highlights-ethical-moral-dimensions-of-artificial-intelligence-at-jakarta-book-fair
Shihab, M. Quraish. (2003). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati.
The Royal Islamic Strategic Studies Centre. (2025). Quraish Shihab: The Muslim 500. https://themuslim500.com/profiles/quraish-shihab
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
10 Fakta Albert Einstein Yang Menarik Yang Tidak Kamu Ketahui

10 Fakta Ir Soekarno Menarik Yang Tidak Kamu Ketahui Dan Bikin Bangga

Biografi Aa Gym - Profil dan Biodata Lengkap

Biografi Abraham Lincoln, 'Bapak Demokrasi Amerika' Penghapus Perbudakan

Biografi Abraham Samad
