Biografi WS Rendra: Si Burung Merak dan Maestro Teater Modern Indonesia
Ringkasan Cepat
- Penyair dan dramawan legendaris Indonesia berjuluk Si Burung Merak
- Pendiri Bengkel Teater Yogyakarta pada 1967 dan Bengkel Teater Rendra Depok
- Penerima S.E.A. Write Award 1996 dan Anugerah Seni Republik Indonesia 1970
- Karya puisi pamfletnya menjadi simbol perlawanan moral dan suara nurani rakyat
Daftar Isi
W.S. Rendra adalah penyair, dramawan, dan budayawan legendaris Indonesia yang merevolusi lanskap sastra serta seni teater modern tanah air. Dikenal luas dengan julukan "Si Burung Merak", Rendra mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan keadilan sosial, kebebasan berpikir, dan martabat kemanusiaan lewat bait-bait puisi pamflet serta pementasan drama yang menggugah nurani kekuasaan.


Biodata & Profil Singkat
| Data Pribadi | Keterangan Lengkap |
|---|---|
| Nama Lengkap | Willibrordus Surendra Broto Rendra (Wahyu Sulaiman Rendra) |
| Nama Populer | W.S. Rendra / Si Burung Merak |
| Tempat, Tanggal Lahir | Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 |
| Meninggal Dunia | Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 (usia 73 tahun) |
| Makam | Kompleks Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok |
| Orang Tua | R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo (Ayah) & Raden Ayu Catharina Ismadillah (Ibu) |
| Pendidikan | SMA Katolik St. Yosef Solo, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), American Academy of Dramatic Arts (AADA) New York |
| Profesi Utama | Penyair, Penulis Naskah Drama, Aktor, Sutradara Teater, Budayawan |
| Institusi Kesenian | Bengkel Teater Yogyakarta (1967), Bengkel Teater Rendra Depok (1985) |
| Penghargaan Utama | Anugerah Seni RI (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), S.E.A. Write Award (1996), Achmad Bakrie Award (2006) |
Masa Kecil dan Akar Budaya Jawa
Willibrordus Surendra Broto Rendra lahir di kota kebudayaan Solo pada 7 November 1935. Ia tumbuh di tengah perpaduan tradisi priyayi Jawa yang luhur dan disiplin pendidikan Barat Katolik. Ayahnya, Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, berprofesi sebagai guru bahasa Jawa dan bahasa Indonesia di sekolah Katolik Solo sekaligus penggiat sandiwara tradisional. Sang ibu, Raden Ayu Catharina Ismadillah, adalah seorang penari serimpi keraton Kasunanan Surakarta yang menanamkan kehalusan gerak tubuh dan kepekaan rasa sejak Rendra masih kanak-kanak.
Pendidikan formalnya dimulai dari jenjang taman kanak-kanak pada tahun 1942 hingga lulus dari SMA Katolik St. Yosef Surakarta pada tahun 1952. Lingkungan keluarga seniman memberikan ruang ekspresi yang sangat subur bagi jiwa seninya. Ketika masih duduk di bangku SMP, Rendra telah menulis naskah drama pertamanya berjudul Kaki Palsu, yang langsung dipentaskan dalam kegiatan perpisahan sekolah.
Bakat kepenulisannya mekar pesat saat memasuki masa remaja. Pada usia 17 tahun, tepatnya tahun 1952, sajak-sajaknya mulai menembus halaman majalah sastra ternama Siasat. Selang dua tahun kemudian, naskah dramanya yang berjudul Orang-Orang di Tikungan Jalan berhasil memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta pada tahun 1954.
Penjelajahan Intelektual dan Pembentukan Estetika Baru
Setelah menamatkan pendidikan menengah atas di Solo, pemuda Rendra sempat berangkat ke Jakarta dengan impian menempuh studi di Akademi Luar Negeri demi menjadi seorang diplomat. Namun lembaga tersebut tutup ketika ia mendaftar. Kegagalan tersebut justru membawanya kembali ke ranah sastra di Kota Gudeg. Ia melanjutkan studi di Fakultas Sastra Barat, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Meskipun Rendra tidak menyelesaikan gelar sarjananya di UGM karena hasrat berkarya di panggung jauh lebih besar daripada sekadar duduk di ruang kuliah, rasa hausnya terhadap ilmu teater membawanya melangkah ke tingkat internasional. Pada tahun 1964 hingga 1967, ia memperoleh beasiswa bergengsi untuk mendalami seni peran dan penyutradaraan di American Academy of Dramatic Arts (AADA) di New York, Amerika Serikat. Rendra juga berkesempatan mengikuti seminar kebudayaan internasional di Harvard University.
Pengalaman hidup dan studi selama tiga tahun di New York mengubah pandangannya terhadap fungsi seni di tengah masyarakat. Di kota metropolitan dunia tersebut, ia bersentuhan langsung dengan arus teater avant-garde, gaya pementasan epik Bertolt Brecht, dan gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat. Sepulang ke Indonesia pada akhir tahun 1967, Rendra membawa semangat pembaruan yang belum pernah disaksikan dalam sejarah pertunjukan tanah air.
Bengkel Teater dan Lahirnya Fenomena Minikata
Pada tahun 1967 di Yogyakarta, Rendra mendirikan kelompok sandiwara mandiri yang diberi nama Bengkel Teater. Wadah ini bukan sekadar sanggar latihan peran biasa, melainkan komunitas hidup komunal tempat para aktor tinggal bersama, berlatih ketahanan fisik, meditasi, membaca filsafat, dan menempa spiritualitas seni. Aktor-aktor watak besar seperti Adi Kurdi, Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, hingga Putu Wijaya pernah ditempa di bawah asuhan Rendra.

Bengkel Teater menggebrak dunia pertunjukan melalui aliran Teater Minikata. Lakon-lakon awal seperti Bip Bop (1968) dan Rambate Rate Rata mendobrak tradisi teater konvensional yang sebelumnya sangat bergantung pada dialog teks sastra yang bertele-tele. Rendra mereduksi dialog verbal menjadi rintihan, jeritan, ritme tubuh, gerak spontan, dan bunyi-bunyian primitif yang mentah. Pengamat sastra ternama Prof. A. Teeuw dalam karyanya mencatat bahwa Rendra tidak dapat dimasukkan ke dalam kotak Angkatan 45 atau Angkatan 66 secara kaku, melainkan sosok merdeka yang menciptakan alirannya sendiri.
Rendra mendefinisikan hakekat ekspresi puisinya dengan kalimat yang sangat terkenal:
"Puisi bukan terletak pada rumit dan tidaknya sebuah kalimat itu ditulis, melainkan kemampuan dalam mengolah bahasa, dalam hal ini kemampuan berekspresi secara jujur terhadap realitas kehidupan."
Kehadiran Bengkel Teater membuka mata publik bahwa teater bukan sekadar tontonan hiburan borjuis, melainkan medium pembebasan jiwa manusia.
Julukan Si Burung Merak dan Kehidupan Personal
Sosok W.S. Rendra dikenal memiliki kharisma panggung yang memikat dan gaya hidup yang flamboyan namun bersahaja. Julukan "Si Burung Merak" yang melekat padanya lahir dari sebuah peristiwa jenaka di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Suatu hari, Rendra mengajak seorang sahabatnya yang merupakan akademisi asal Australia berjalan-jalan santai. Ketika melihat seekor burung merak jantan melebarkan bulu ekornya yang indah di hadapan dua ekor merak betina, Rendra tertawa terbahak-bahak seraya menunjuk dirinya sendiri: "Itu Rendra! Itu Rendra!" Sejak saat itu, kawan-kawannya menyematkan julukan tersebut karena kepribadian panggungnya yang selalu mempesona ribuan penonton.
Dalam kehidupan rumah tangganya, Rendra menikah pertama kali dengan Sunarti Suwandi pada 31 Maret 1959. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak, yaitu Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Pada dekade 1970-an, ia mempersunting Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri bangsawan Keraton Yogyakarta yang aktif belajar di Bengkel Teater. Menjelang pernikahannya pada 12 Agustus 1970, Rendra memutuskan memeluk agama Islam dengan saksi dua sastrawan terkemuka, Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Dari pernikahan tersebut lahir empat anak, yaitu Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.
Menjelaskan perjalanan batinnya memilih Islam, Rendra mengutarakan kebebasan spiritual yang ia temukan:
"Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan perantara siapa pun. Kemerdekaan individual saya dihargai sepenuhnya di hadapan Sang Pencipta, sebagaimana firman-Nya bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher manusia."
Kemudian, Rendra membina bahtera rumah tangga bersama Ken Zuraida, seniman panggung serbabisa yang setia mendampinginya sebagai penata artistik, aktris, dan produser Bengkel Teater hingga akhir hayat sang penyair. Dari pernikahannya dengan Ken Zuraida, Rendra dikaruniai dua anak, yakni Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.
Puisi Pamflet, Perlawanan Sosial, dan Pencekalan Orde Baru
Memasuki paruh akhir dekade 1970-an, orientasi estetika Rendra bertransformasi ke arah perlawanan sosial yang semakin tajam. Lewat antologi puisi legendaris Potret Pembangunan Dalam Puisi (1978), ia melahirkan genre yang kerap disebut puisi pamflet. Karya-karyanya seperti Sajak Sebatang Lisong, Sajak Rajawali, Sajak Orang Kepanasan, dan Nyanyian Angsa secara berani membongkar ketimpangan ekonomi, hegemoni modal asing, korupsi birokrasi, dan penggusuran ruang hidup rakyat kecil di bawah rezim Orde Baru.
Di panggung teater, Rendra mementaskan karya-karya bermuatan kritik struktural dahsyat seperti Kisah Perjuangan Suku Naga (1975) dan Mastodon dan Burung Kondor (1973). Keberanian politik tersebut berbuah represi keras dari aparat keamanan. Pementasan Bengkel Teater dilarang di berbagai kota besar di Jawa. Puncaknya pada Mei 1978, setelah Rendra membacakan sajak-sajak perlawanannya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, ia ditangkap dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer Guntur selama beberapa bulan tanpa proses peradilan yang jelas.
Menghadapi represi dan pelarangan tampil selama hampir tujuh tahun sejak 1978 hingga 1985, keteguhan sikap Rendra tidak pernah padam. Ia selalu menegaskan keteguhan nurani dalam salah satu bait sajak terkenalnya:
"Dengan puisi ini aku bersaksi bahwa hati nurani itu, meski dibakar, tidak bisa menjadi abu. Hati nurani senantiasa bisa bersemi meski sudah ditebang putus di batang."
Pencekalan tersebut justru memperkokoh posisi moral Rendra sebagai penyambung lidah rakyat tertindas dan simbol keberanian kaum intelektual Indonesia.
Migrasi ke Cipayung Depok dan Kiprah Internasional
Karena ruang gerak pertunjukan di Yogyakarta dan Jakarta terus ditekan intelijen pada era 1980-an, Rendra memutuskan hijrah ke kawasan pinggiran selatan ibu kota. Pada tahun 1985, ia mendirikan kompleks padepokan seni baru seluas tiga hektare di Cipayung Jaya, Citayam, Kota Depok, Jawa Barat. Kompleks asri yang dipenuhi pepohonan rindang tersebut menjadi markas baru Bengkel Teater Rendra. Di padepokan Depok ini, ia memadukan latihan seni peran dengan ketahanan pangan melalui konsep bercocok tanam mandiri bersama para muridnya.
Di panggung internasional, nama W.S. Rendra diakui sebagai salah satu raksasa sastra Asia Tenggara. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Jepang, hingga Hindi. Ia kerap diundang membaca puisi dan memimpin lokakarya di forum dunia bergengsi, seperti Rotterdam International Poetry Festival di Belanda pada tahun 1971 dan 1979, Valmiki International Poetry Festival di New Delhi India pada tahun 1985, Berliner Horizonte Festival di Jerman Barat pada tahun 1985, The First New York Festival of the Arts pada tahun 1988, Spoleto Festival di Melbourne, Vagarth World Poetry Festival di Bhopal India pada tahun 1989, World Poetry Festival di Kuala Lumpur pada tahun 1992, dan Tokyo Festival di Jepang pada tahun 1995.
Berbagai anugerah sastra prestisius disematkan kepadanya, antara lain Hadiah Sastra BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), penghargaan sastra Asia Tenggara S.E.A. Write Award di Bangkok pada tahun 1996, serta Penghargaan Achmad Bakrie untuk bidang sastra pada tahun 2006.
Hari-Hari Terakhir dan Keabadian Warisan Budaya
Pada paruh kedua dekade 2000-an, kondisi kesehatan Rendra mulai menurun akibat komplikasi penyakit jantung, gangguan ginjal, dan diabetes. Sang penyair sempat dirawat intensif di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta dan Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok selama beberapa pekan. Di tengah pembaringan sakitnya, ia masih sempat mendiktekan sajak terakhirnya yang sarat perenungan tauhid dan kepasrahan kepada Sang Khalik.
Pada Kamis malam, 6 Agustus 2009, tepat pukul 22.20 WIB, W.S. Rendra mengembuskan napas terakhirnya pada usia 73 tahun di RS Mitra Keluarga Depok. Keesokan harinya, ribuan pelayat dari kalangan seniman, pejabat negara, mahasiswa, santri, hingga rakyat biasa memadati kompleks Bengkel Teater di Cipayung Jaya untuk mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir. Rendra dimakamkan di lingkungan padepokan yang ia bangun sendiri, di bawah rindangnya pepohonan yang selama puluhan tahun menjadi saksi latihan para muridnya.
Sepeninggal Rendra, panji Bengkel Teater dilanjutkan oleh sang istri, Ken Zuraida, yang terus mengorganisir pementasan ulang karya-karya agung Rendra hingga Ken Zuraida wafat pada 9 Agustus 2021 dan dimakamkan berdampingan di pusara sang suami. Memasuki periode tahun 2024 hingga 2026, jejak keteladanan W.S. Rendra tetap menjadi rujukan utama bagi gerakan teater kontemporer, kajian akademis di universitas, dan aktivisme sosial di Indonesia. Padepokan Bengkel Teater Rendra di Depok terus dikunjungi oleh komunitas sastra lintas generasi sebagai monumen hidup tempat keberanian bersuara dan keindahan bahasa pernah dipadukan dengan sempurna.
Pertanyaan Umum
Siapa nama asli WS Rendra?
Nama asli WS Rendra adalah Willibrordus Surendra Broto Rendra, yang kemudian menggunakan nama Wahyu Sulaiman Rendra setelah memeluk agama Islam pada tahun 1970.
Mengapa WS Rendra dijuluki Si Burung Merak?
Julukan Burung Merak bermula saat Rendra menemani rekannya asal Australia di Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta, melihat merak jantan yang berlagak gagah di depan betinanya seraya tertawa dan mengidentikkan keanggunan tersebut dengan dirinya.
Kapan dan di mana Bengkel Teater didirikan?
Bengkel Teater pertama kali didirikan di Yogyakarta pada tahun 1967 sebelum berpindah ke padepokan seni Cipayung Jaya, Citayam, Kota Depok, Jawa Barat pada tahun 1985.
Apa saja karya puisi dan naskah drama terkenal WS Rendra?
Karya puisinya yang masyhur antara lain Balada Orang-Orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Sajak Sebatang Lisong, dan Nyanyian Angsa. Untuk naskah drama, karyanya mencakup Kisah Perjuangan Suku Naga, Mastodon dan Burung Kondor, serta Panembahan Reso.
Referensi
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2025). Profil Tokoh Sastra: W.S. Rendra. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/tokoh-detail/3302/w.s.-rendra
- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta. (2025). Peringati Hari Kelahiran W.S. Rendra: Telusuri Jejak Karya Maestro Sastra Indonesia. Dispusip Jakarta. https://dispusip.jakarta.go.id/dinas/publications/article/peringati-hari-kelahiran-ws-rendra-telusuri-jejak-karya-maestro-sastra-indonesia
- Inside Indonesia. (2024). Remembering Rendra: The Voice of Indonesian Modern Theatre. Inside Indonesia Magazine. https://insideindonesia.org/remembering-rendra
- Teeuw, A. (1989). Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya. https://pustakajaya.co.id
- Rampan, Korrie Layun. (2000). Leksikon Susastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. https://balaipustaka.co.id
Ulasan & Koleksi Tematik Terkait
Tokoh ini juga masuk dalam ulasan tematik redaksi berikut:
Pertanyaan Seputar Tokoh Ini
Siapa nama asli WS Rendra?
Nama asli WS Rendra adalah Willibrordus Surendra Broto Rendra, yang kemudian menggunakan nama Wahyu Sulaiman Rendra setelah memeluk agama Islam.
Mengapa WS Rendra dijuluki Si Burung Merak?
Julukan Burung Merak bermula saat Rendra menemani sahabatnya asal Australia berjalan di Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta, mengagumi merak jantan gagah seraya mengidentikkan keanggunan itu dengan dirinya.
Kapan dan di mana Bengkel Teater didirikan?
Bengkel Teater didirikan pertama kali di Yogyakarta pada tahun 1967 sebelum kemudian hijrah dan menetap di Cipayung Jaya, Depok, Jawa Barat pada tahun 1985.
Apa saja karya puisi dan naskah drama terkenal WS Rendra?
Karya puisinya antara lain Balada Orang-Orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Potret Pembangunan Dalam Puisi, dan Sajak Sebatang Lisong, sedangkan naskah dramanya meliputi Kisah Perjuangan Suku Naga dan Panembahan Reso.
Nurdyansa
Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
Biografi Dr. Cipto Mangunkusumo: Dokter Rakyat, Tiga Serangkai, dan RSCM

Biografi Haji Agus Salim: Sang Grand Old Man dan Arsitek Diplomasi RI

Biografi Kaskus: Pelopor Forum Digital Terbesar di Indonesia

Biografi Listyo Sigit Prabowo: Arsitek Polri Presisi dan Keamanan Nasional

Biografi Prabowo Subianto: Kepemimpinan Nasional Menuju Indonesia Emas
