Pada malam 27 November 2024, ketika Komisi Pemilihan Umum Provinsi Maluku Utara menutup rapat pleno rekapitulasi suara Pilgub 2024, nama Sherly Tjoanda tercatat sebagai peraih suara terbanyak dengan 359.416 suara atau 51,68 persen. Hasil itu menjadikannya gubernur perempuan pertama dalam sejarah Maluku Utara, sekaligus membuka babak hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Empat puluh lima hari sebelum pemungutan suara, ia bahkan belum berstatus calon gubernur. Kecelakaan perahu cepat yang merenggut nyawa suaminya, bakal calon gubernur Benny Laos, pada 12 Oktober 2024 di perairan Pulau Taliabu mengubah segalanya. Koalisi delapan partai politik pengusung memintanya maju menggantikan sang suami, dan Sherly menerima amanah itu di tengah masa berkabung, lalu memenangi kontestasi, dan dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada 20 Februari 2025.

Sherly lahir di Kota Ambon, Provinsi Maluku, pada 12 Agustus 1982, dari pasangan Paulus Tjoanda dan Maria Margaretha Liem. Ia tumbuh dalam keluarga keturunan Tionghoa yang menekankan pendidikan dan kemandirian. Perjalanannya dari Ambon, Surabaya, Bali, hingga Belanda membentuk perempuan pengusaha yang kemudian menapaki panggung publik Maluku Utara, pertama sebagai pendamping bupati Pulau Morotai, lalu sebagai pemimpin provinsi berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa itu.
Biodata Sherly Tjoanda
| Keterangan | Data |
| Nama lengkap | Teresia Sherly Tjoanda Laos |
| Nama Tionghoa | Cai Renzhen (่กไปป็) |
| Tempat, tanggal lahir | Ambon, Maluku, 12 Agustus 1982 |
| Orang tua | Paulus Tjoanda (ayah), Maria Margaretha Liem (ibu) |
| Agama | Kristen Protestan |
| Suami | Benny Laos (menikah 28 Mei 2005, wafat 12 Oktober 2024) |
| Anak | Bennett Edbert Laos, Benneisha Edelyn Laos, Benedictus Edrick Laos |
| Pendidikan | SMA Katolik Swastiastu Denpasar; Universitas Kristen Petra Surabaya (International Business Management); Inholland University of Applied Sciences, Belanda (lulus 2004) |
| Profesi | Pengusaha, politikus |
| Jabatan saat ini | Gubernur Maluku Utara periode 2025-2030 (sejak 20 Februari 2025) |
| Wakil gubernur | Sarbin Sehe |
| Jabatan terdahulu | Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pulau Morotai (2017-2022) |
| Partai politik | Independen (diusung 8 partai politik pada Pilgub Maluku Utara 2024) |
| Penghargaan | Anugerah Srikandi Indonesia 2025 |
| Dikenal sebagai | Gubernur perempuan pertama Maluku Utara |
Pendidikan dan Perantauan Muda
Masa sekolah Sherly dilalui berpindah antar kota. Ia sempat belajar di SMA Kristen Petra 2 Manyar, Surabaya, sebelum pindah dan menamatkan pendidikan menengah atas di SMA Katolik Swastiastu, Denpasar. Perpindahan itu membawanya beradaptasi dengan lingkungan baru sejak remaja, pengalaman yang kelak berguna saat ia harus memimpin daerah kepulauan dengan keragaman etnis dan agama yang tinggi.
Selepas SMA, Sherly melanjutkan kuliah ke Universitas Kristen Petra, Surabaya, mengambil jurusan International Business Management. Di sana ia mengikuti program double degree yang memungkinkannya melanjutkan studi ke Inholland University of Applied Sciences di Belanda. Ia menyelesaikan pendidikannya di Belanda dan lulus pada 2004. Bekal pendidikan bisnis internasional itu menjadi fondasi kariernya sebagai pengusaha sebelum terjun ke pelayanan publik.
Sekembali ke tanah air, ia bertemu kembali dengan Benny Laos, pengusaha asal Ternate yang ia kenal sebelumnya. Keduanya menikah di Manado pada 28 Mei 2005. Dari pernikahan itu, pasangan ini dikaruniai tiga anak: Bennett Edbert Laos yang lahir pada 2006, Benneisha Edelyn Laos pada 2007, dan Benedictus Edrick Laos pada 2009.
Kehidupan di Morotai dan Keterlibatan Sosial
Ketika Benny Laos memenangi pemilihan Bupati Pulau Morotai dan dilantik pada 22 Mei 2017, Sherly otomatis mengemban peran sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pulau Morotai hingga akhir masa jabatan suaminya pada 22 Mei 2022. Peran ini menjadi gerbang pertama baginya mengenal mesin pemerintahan dan persoalan masyarakat tingkat kabupaten, dari urusan kesehatan ibu dan anak, pendidikan keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi rumah tangga di salah satu kabupaten terluar Indonesia di kawasan Pasifik.
Di luar agenda formal pemerintahan, Sherly menekuni kerja sosial melalui Yayasan Bela Peduli yang ia pimpin sebagai ketua. Yayasan ini bergerak dalam pemberian bantuan bagi anak yatim dan masyarakat kurang mampu. Ia juga dikenal aktif dalam organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia di Provinsi Maluku Utara, yang berkiprah pada pengembangan sektor pertanian dan kesejahteraan petani. Keterlibatan tersebut mempertemukannya dengan komunitas petani dan nelayan, kelompok masyarakat yang nantinya menjadi basis penting dukungannya dalam kontestasi pilkada.
Sebagai pengusaha, Sherly tergolong figur dengan kekayaan menonjol. Ketika mendaftar sebagai calon gubernur, harta kekayaannya yang dilaporkan ke KPK menempatkannya dalam jajaran kepala daerah terkaya di Indonesia. Bagi sebagian publik Maluku Utara, profil pengusaha sukses yang turun ke masyarakat lewat kerja sosial itu dianggap modal nyata bagi seseorang yang kelak memimpin provinsi.
Tragedi Taliabu dan Keputusan Maju
Pilgub Maluku Utara 2024 semula menampilkan Benny Laos, mantan Bupati Pulau Morotai yang sempat menjadi Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan, sebagai calon gubernur berpasangan dengan Sarbin Sehe. Pasangan ini didukung koalisi delapan partai politik. Namun pada Sabtu, 12 Oktober 2024, perahu cepat yang ditumpangi Benny dalam rangkaian kegiatan kampanye di Kabupaten Pulau Taliabu mengalami kebakaran dan meledak. Benny sempat menjalani perawatan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong. Kejadian itu mengguncang peta politik Maluku Utara, sebab pemungutan suara tinggal menghitung pekan.
Koalisi pengusung kemudian bermusyawarah dan sepakat mengusulkan Sherly Tjoanda sebagai calon gubernur pengganti, tetap berpasangan dengan Sarbin Sehe. Juru bicara tim pemenangan menjelaskan, pilihan itu diambil karena Sherly dinilai memiliki visi dan misi yang sejalan dengan mendiang Benny, di samping pertimbangan elektoral. Seluruh tahapan pergantian calon dikebut agar rampung sebelum batas akhir 27 Oktober 2024.
Keputusan Sherly menerima pencalonan datang di tengah duka yang belum reda. Kepada Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono yang menghubunginya, Selasa, 15 Oktober 2024, ia menyampaikan kesediaannya dengan kalimat sederhana namun tegas:
“Saya ucapkan terima kasih Pak Menteri AHY. Saya siap melanjutkan perjuangan Pak Benny Laos.”
Ia harus mengubah peran dari istri yang berada di barisan belakang menjadi figur utama di panggung depan kampanye. Momentum kesedihan publik Maluku Utara atas tragedi Taliabu berpadu dengan simpati pada sosok janda tiga anak yang berani melanjutkan perjuangan suaminya. Kampanye yang singkat itu berbuah hasil: pasangan Sherly dan Sarbin Sehe meraup 359.416 suara atau 51,68 persen, mengalahkan tiga pasangan calon lainnya. Pada 6 Februari 2025, KPU resmi menetapkan pasangan tersebut sebagai gubernur dan wakil gubernur Maluku Utara terpilih.
Pelantikan dan Catatan Sejarah
Pada 20 Februari 2025, Sherly Tjoanda dilantik Presiden Prabowo Subianto bersama ratusan kepala daerah lain dalam pelantikan serentak di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam acara itu, ia dipilih mewakili seluruh kepala daerah yang beragama Kristen, sebuah simbol keberagaman yang menandai pelantikan kepala daerah hasil Pilkada Serentak 2024.
Pelantikan tersebut mencatatkan sejarah. Sherly menjadi gubernur perempuan pertama Maluku Utara sejak provinsi itu dibentuk pada 1999. Ia juga menjadi satu dari sedikit perempuan Indonesia yang memimpin provinsi dengan latar belakang etnis Tionghoa, mengikuti jejak kehadiran pemimpin perempuan di daerah-daerah lain yang mendorong keterwakilan gender dalam politik lokal.
Di hari-hari awal kepemimpinannya, Sherly menegaskan komitmen melanjutkan cita-cita pembangunan yang diusung almarhum suaminya, khususnya percepatan pembangunan daerah kepulauan, konektivitas antarpulau, serta penguatan sektor perikanan dan pariwisata. Maluku Utara di bawah kepemimpinannya memasuki babak baru setelah bertahun-tahun dipimpin Abdul Ghani Kasuba yang berakhir dalam pusaran kasus korupsi, sehingga publik menaruh harapan besar pada pemerintahan yang bersih dan efektif.
Pengakuan dan Makna Kepemimpinannya
Pada Desember 2025, Sherly meraih Anugerah Srikandi Indonesia 2025. Penghargaan itu diberikan atas komitmen yang terjaga dalam layanan publik serta dorongannya bagi percepatan pembangunan daerah. Bagi tokoh yang baru setahun menjabat, penghargaan tersebut menjadi penanda awal pengakuan nasional terhadap kinerjanya.
Kisah Sherly Tjoanda kerap dibaca publik sebagai kisah tentang keberanian melangkah pada saat yang paling sulit. Dari perantau Ambon yang menempuh studi sampai Belanda, istri bupati di kabupaten terluar, hingga gubernur perempuan pertama yang memenangi pilkada dalam keadaan berduka, perjalanan hidupnya mengukir babak tersendiri dalam percaturan politik Indonesia timur. Bagi Maluku Utara, kepemimpinannya membawa dua sekaligus hal yang baru: perempuan pertama di kursi gubernur, dan pemerintahan yang lahir dari duka lalu berubah menjadi mandat rakyat untuk membangun provinsi kepulauan itu hingga 2030.
Wilayah Kepulauan dan Pekerjaan Rumah Pembangunan
Maluku Utara adalah provinsi kepulauan dengan lebih dari 1.400 pulau, sebagian besar kecil dan terpencil. Tantangan pembangunannya selalu berputar pada persoalan yang sama dari masa ke masa: mahalnya konektivitas laut dan udara, disparitas pembangunan antara Ternate sebagai pusat aktivitas dengan kabupaten kepulauan lainnya, serta ketergantungan ekonomi pada sektor primer. Pada masa kepemimpinan sebelumnya, provinsi ini juga menarik perhatian nasional sebagai salah satu kantong investasi nikel terbesar di Halmahera, yang membawa pertumbuhan ekonomi tetapi sekaligus menimbulkan persoalan lingkungan dan distribusi hasil.
Di tengah peta persoalan tersebut, Sherly memimpin dengan basis elektoral yang solid namun tanpa mesin partai pribadi, sebab ia maju sebagai figur independen yang diusung koalisi. Posisi ini memberinya keleluasaan politik, tetapi sekaligus menuntut kemampuannya menjaga kekompakan koalisi dan dukungan legislatif provinsi. Ia menempatkan pertanian, perikanan, dan pemberdayaan perempuan di antara agenda prioritas, bidang-bidang yang sudah ia kenal sejak mengurus PKK Morotai dan kerja sosialnya.
Mandat rakyat yang ia terima pada November 2024 berlaku hingga 2030. Lima tahun ke depan menjadi ujian sesungguhnya: apakah modal simpati publik, jaringan pengusaha, dan pengalaman mendampingi pemerintahan kabupaten cukup untuk menahkodai provinsi seluas Maluku Utara keluar dari ketertinggalan, sekaligus menjaga namanya tetap bersih di wilayah yang sebelumnya diguncang perkara korupsi kepala daerah. Di Ternate, tempat ia kini berkantor, kenangan pada perjuangan Benny Laos masih hidup di benak banyak warga. Bagi Sherly, melanjutkan cita-cita itu bukan sekadar urusan politik, melainkan juga janji personal seorang istri dan ibu tiga anak yang kehilangan pasangannya di tengah jalan. Sejarah yang sudah ia tulis sebagai gubernur perempuan pertama kini menanti kelanjutannya, ditentukan oleh kerja nyata, keteladanan, dan kemampuannya merangkul seluruh lapisan masyarakat kepulauan yang majemuk itu dari Morotai di utara hingga Taliabu di selatan.
Akhir Hayat dan Warisan
Sherly Tjoanda masih berada di awal masa jabatannya, tetapi jejaknya sudah meninggalkan sejumlah catatan penting. Ia membuka pintu bagi perempuan Maluku Utara untuk memimpin provinsi, membuktikan bahwa kursi gubernur bukan lagi wilayah yang tertutup bagi mereka. Kehadirannya juga memperluas keterwakilan kelompok minoritas dalam politik lokal Indonesia timur, baik dari sisi gender maupun latar etnis dan agama, mengingat ia merupakan perempuan keturunan Tionghoa beragama Kristen yang memimpin provinsi berpenduduk mayoritas Muslim.
Di luar simbolisme, warisan kepemimpinannya akan ditimbang dari sejauh mana ia mampu memenuhi janji melanjutkan cita-cita pembangunan daerah kepulauan: konektivitas antarpulau yang lebih baik, tata kelola sumber daya nikel yang berkeadilan, serta pemerintahan yang bersih setelah provinsi ini diguncang perkara korupsi. Bagi tiga anaknya dan bagi pendukung almarhum Benny Laos, keberhasilannya menuntaskan masa jabatan hingga 2030 akan menjadi jawaban paling nyata atas janji yang ia ucapkan di tengah duka pada Oktober 2024.
Sumber dan Referensi
- KPU Provinsi Maluku Utara, Keputusan Penetapan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih Pemilihan 2024.
- BBC Indonesia, “Sherly Tjoanda, istri mendiang Benny Laos unggul dalam Pilgub Maluku Utara”, November 2024.
- Tribunnews, “Benny Laos Meninggal, Sherly Tjoanda Bersedia Gantikan Suaminya Jadi Calon Gubernur Maluku Utara”, 16 Oktober 2024.
- Kompas.com dan Antara, pemberitaan pelantikan kepala daerah serentak, 20 Februari 2025.
- Wikipedia bahasa Indonesia, “Sherly Tjoanda”; Wikidata Q131406018.



























