Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Biografi Tokoh Dunia

Biografi Alfred Russel Wallace: Pencetus Seleksi Alam yang Kini Dihormati Dua Monumen Baru

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 3 Okt 2026)•11 menit baca
Bagikan:

Ringkasan Cepat

  • Alfred Russel Wallace merumuskan teori seleksi alam secara independen bersama Charles Darwin dalam makalah bersama 1858.
  • Selama 1854 hingga 1862 ia menjelajah Nusantara, menempuh sekitar 22.500 kilometer dan mengumpulkan 125.660 spesimen fauna.
  • Ia mencetuskan Garis Wallace, batas biogeografis yang memisahkan fauna Asia dan Australia.
  • Pada 5 Oktober 2024 plakat peringatan diresmikan di Dodinga, Halmahera, tempat ia menulis esai Ternate 1858.
  • Pada 25 Juli 2026 Tugu Garis Wallace diresmikan di Ampenan, Lombok, mengingatkan jejak ekspedisinya.
Daftar Isi

Alfred Russel Wallace adalah naturalis dan penjelajah asal Wales yang merumuskan teori seleksi alam secara independen bersama Charles Darwin pada 1858, sekaligus pencetus Garis Wallace yang membagi wilayah fauna Asia dan Australia di Kepulauan Nusantara. Namanya sempat tenggelam di bawah bayang-bayang Darwin, tetapi riset dan penghormatan pada dua dekade terakhir mengembalikan posisinya sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh abad ke-19. Dalam delapan tahun penjelajahan di Nusantara, ia mengumpulkan lebih dari 125 ribu spesimen dan menorehkan dasar biogeografi modern yang masih dipakai hingga kini.

Potret Alfred Russel Wallace
Potret Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang merumuskan seleksi alam bersama Darwin.

Biodata & Profil Singkat

Atribut Keterangan
Nama Lengkap Alfred Russel Wallace
Lahir 8 Januari 1823, Llanbadoc, Monmouthshire, Wales, Britania Raya
Wafat 7 November 1913, Broadstone, Dorset, Inggris
Kebangsaan Britania Raya (Wales)
Pendidikan Otodidak; sekolah dasar di Hertford, belajar mandiri botani dan entomologi
Peran Utama Naturalis, penjelajah, ahli biogeografi, antropolog, penulis
Pencapaian Kunci Merumuskan teori evolusi seleksi alam (1858), pencetus Garis Wallace, Bapak Biogeografi
Karya Terkenal The Malay Archipelago (1869), Contributions to the Theory of Natural Selection (1870)
Penghargaan Founder's Medal Royal Geographical Society (1892), Darwin Medal (1892), Order of Merit (1908), Copley Medal (1908)

Ringkasan Cepat:

  • Alfred Russel Wallace merumuskan gagasan seleksi alam secara independen pada Februari 1858 di Ternate dan mengirimkannya ke Charles Darwin, yang kemudian dipublikasikan bersama pada 1 Juli 1858.
  • Dalam ekspedisi Nusantara 1854 hingga 1862, ia menempuh sekitar 22.500 kilometer, melakukan 60 hingga 70 perjalanan terpisah, dan mengumpulkan 125.660 spesimen fauna.
  • Ia menemukan Garis Wallace, batas biogeografis antara wilayah fauna Asia dan Australia yang membentang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar.
  • Karya The Malay Archipelago (1869) menjadi salah satu catatan perjalanan ilmiah terpenting abad ke-19 dan memengaruhi perkembangan teori evolusi.
  • Pada 2024 hingga 2026, dua monumen baru di Dodinga (Halmahera) dan Ampenan (Lombok) diresmikan untuk menghormati penemuannya, sementara spesimen ngengat dan kupu-kupu koleksinya kembali mengungkap spesies baru.

Masa Muda dan Awal Menjadi Kolektor Alam

Alfred Russel Wallace lahir pada 8 Januari 1823 di Llanbadoc, Monmouthshire, Wales, dari keluarga kelas menengah yang kemudian jatuh miskin ketika ia berusia lima tahun. Pendidikan formalnya terhenti di usia 14 tahun, dan ia bekerja sebagai asisten surveyor lahan bersama kakaknya, William, sebelum menjadi guru sekolah di Leicester. Di kota itu ia berkenalan dengan Henry Walter Bates, sesama penggemar serangga, yang kelak menjadi kolega ekspedisi Amazon. Tanpa dana universitas, Wallace membentuk dirinya lewat bacaan dan pengamatan langsung; ia mempelajari botani, geologi, dan entomologi secara otodidak.

Ketertarikannya pada keanekaragaman hayati tropis membawanya ke ekspedisi Sungai Amazon pada 1848 bersama Bates, ketika ia berusia 25 tahun. Selama empat tahun ia mengumpulkan ribuan spesimen serangga, burung, dan mamalia, serta merumuskan pengamatan awal tentang penyebaran spesies. Malangnya, kapal yang membawa koleksinya terbakar di tengah Atlantik pada 1852 dan seluruh hasil empat tahun kerjanya hangus. Wallace selamat setelah mengambang selama sepuluh hari di laut, tetapi ia kehilangan hampir semua koleksi, buku catatan, dan sketsa. Pengalaman ini tidak memadamkan ambisinya; sebaliknya, ia segera merencanakan ekspedisi baru ke Kepulauan Melayu.

Delapan Tahun di Kepulauan Nusantara dan Surat dari Ternate

Wallace tiba di Singapura pada 1854 dan memulai penjelajahan selama delapan tahun di wilayah yang kini menjadi Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya. Ia menempuh sekitar 22.500 kilometer, melakukan 60 hingga 70 perjalanan terpisah, dan mengumpulkan 125.660 spesimen fauna. Rinciannya meliputi 8.050 spesimen burung, 7.500 kerangka dan tulang satwa, 310 spesimen mamalia, 100 spesimen reptil, serta sekitar 109.700 spesimen serangga, dengan kupu-kupu sebagai kelompok favoritnya.

Pada awal 1858, saat berada di Pulau Ternate dan tengah terserang malaria, Wallace menulis esai yang menguraikan mekanisme seleksi alam. Naskah berjudul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type itu dikirimkannya kepada Charles Darwin melalui pos kapal dagang. Darwin, yang telah memikirkan gagasan serupa selama dua dekade, menerima surat itu pada Juni 1858 dan terkejut karena idenya sangat mirip dengan teorinya sendiri. Atas mediasi Charles Lyell dan Joseph Dalton Hooker, makalah Wallace dan Darwin dibacakan bersama di Linnean Society of London pada 1 Juli 1858, menjadikan seleksi alam sebagai gagasan yang dipublikasikan dua ilmuwan secara independen.

"Every species has come into existence coincident both in time and space with a pre-existing closely allied species."

Kutipan dari esai Ternate itu sering disebut sebagai inti hukum biogeografi Wallace: setiap spesies hadir seiring waktu dan tempat dengan spesies leluhur yang berkerabat dekat. Ia merumuskan prinsip tersebut dari pengamatan fauna kepulauan, jauh sebelum Darwin menerbitkan On the Origin of Species pada November 1859.

Garis Wallace dan Lahirnya Biogeografi Modern

Selama penjelajahan di Nusantara, Wallace memperhatikan pola yang mencolok: fauna di sebelah barat Selat Lombok dan Selat Makassar didominasi spesies berkerabat dengan Asia, sedangkan di sebelah timur didominasi spesies berkerabat dengan Australia. Ia menulis surat kepada Darwin pada 1856 dan kemudian menerbitkan gagasan itu dalam makalah On the Zoological Geography of the Malay Archipelago (1859). Garis imajiner ini kemudian dikenal sebagai Garis Wallace, dan menjadi salah satu konsep fondasi biogeografi.

"Birds very interesting, Australian forms appear. These do not pass further West to Baly & Java & many Javaneese birds are found in Baly but do not reach here."

Kutipan dari jurnal perjalanan Wallace yang ditulisnya saat berkoleksi di Labuan Tring, dekat Ampenan pada 1856, menjadi pernyataan tertulis paling awal tentang batas fauna antara Bali dan Lombok. Dari pengamatan itulah ia kemudian surat-menyurat dengan Darwin dan merumuskan konsep yang kelak disebut Garis Wallace.

Garis Wallace membentang dari Selat Lombok antara Bali dan Lombok, lalu ke utara melalui Selat Makassar antara Kalimantan dan Sulawesi, kemudian ke arah Filipina. Di barat garis, terdapat harimau, orangutan, dan badak Jawa; di timurnya, terdapat kuskus, kanguru pohon, dan beragam burung endemik seperti maleo. Perbedaan itu terutama dijelaskan oleh sejarah geologis paparan benua Sunda dan Sahul yang terpisah oleh laut dalam, sehingga fauna di dua sisi garis itu berevolusi secara terpisah.

Alfred Russel Wallace juga merumuskan asas yang kelak disebut Efek Wallace, tentang bagaimana seleksi alam dapat memperkuat perbedaan warna dan karakter pada populasi yang berdekatan melalui isolasi reproduksi. Bersama pengamatannya di Amazon dan Nusantara, kontribusinya menjadikannya diakui sebagai salah satu pendiri biogeografi evolusioner dan ahli penyebaran spesies terkemuka abad ke-19.

The Malay Archipelago dan Karier Ilmiah Pasca-Ekspedisi

Setelah kembali ke Inggris pada 1862, Wallace menghabiskan beberapa tahun menata koleksi dan menulis. Pada 1869 ia menerbitkan The Malay Archipelago, catatan perjalanan setebal dua jilid yang memuat deskripsi alam, masyarakat, dan pemikiran biogeografisnya. Buku itu mendapat sambutan luas dan dicetak ulang berkali-kali; hingga kini tetap dianggap salah satu karya perjalanan ilmiah terbaik yang pernah ditulis. Di dalamnya ia memperkirakan jumlah spesies di kawasan itu dengan ketelitian yang kemudian terbukti mendekati kenyataan.

Sepanjang hidupnya Wallace menulis lebih dari 20 buku dan sekitar 700 makalah. Ia mengkaji topik yang luas, dari evolusi, zoogeografi, hingga isu sosial seperti hak pilih perempuan dan kritik terhadap vaksinasi. Pada 1870 ia menerbitkan Contributions to the Theory of Natural Selection, yang memuat esai-esai pendamping karyanya di Ternate. Ia juga mengembangkan konsep mimikri dan warna peringatan pada hewan, yang memperkaya teori seleksi alam Darwin.

"It is, as we commenced by remarking, 'a struggle for existence,' in which the weakest and least perfectly organized must always succumb."

Kalimat itu ditulis Wallace dalam esai Ternate 1858 untuk menegaskan bahwa seleksi alam bekerja dengan menyingkirkan individu yang paling lemah dan kurang sempurna, bukan hanya sebagai persaingan brutal, melainkan sebagai mekanisme yang menjaga ketertiban alam. Ia menerima sederet penghargaan pada akhir hayatnya: Founder's Medal dari Royal Geographical Society (1892), Darwin Medal (1892), Copley Medal (1908), dan Order of Merit (1908). Ia wafat pada 7 November 1913 di Broadstone, Dorset, dan dimakamkan di pemakaman kecil di sana, bukan di Westminster Abbey seperti Darwin.

Peta persebaran fauna Kepulauan Melayu dari The Malay Archipelago
Ilustrasi peta kawasan Nusantara dari catatan Wallace, dokumen koleksi ekspedisi yang menggambarkan cakupan perjalanannya.

Warisan yang Kembali Dihidupkan: Monumen Dodinga dan Ampenan

Setelah lebih dari satu abad, jejak Wallace di Indonesia mendapat pengakuan konkret. Pada Oktober 2024, sebuah plakat diresmikan di Dodinga, Halmahera, Maluku Utara, tempat Wallace menulis gagasan seleksi alam pada Februari 1858. Plakat itu merupakan bagian dari proyek Wallace Fund yang mendokumentasikan situs-situs bersejarah penjelajahannya. Dodinga menjadi saksi di mana surat yang kelak dikenal sebagai Letter from Ternate mulai dirumuskan.

Pada 25 Juli 2026, monumen baru untuk Wallace dan Garis Wallace diresmikan di kawasan pelabuhan lama Ampenan, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Monumen setinggi sekitar 1,2 meter itu, dikenal secara lokal sebagai simbol hubungan sejarah kota pelabuhan dengan penjelajahan Wallace, ditempatkan di jantung Kota Tua Ampenan yang sedang diupayakan pemugarannya. Peresmian ini melanjutkan kerja panjang Wallace Fund bersama komunitas lokal untuk memulihkan dan mempromosikan sejarah kawasan itu.

Pengakuan itu diperkuat temuan ilmiah mutakhir. Pada Maret 2025, peneliti Natural History Museum London mengidentifikasi ngengat koleksi Wallace dari abad ke-19 yang tersimpan di museum; spesimen yang dikumpulkannya pada 1855 di Singapura itu menjadi kunci untuk mendeskripsikan 11 spesies baru ngengat, termasuk spesies bergaris oranye yang diberi nama Stenoloba solaris. Temuan ini menegaskan nilai jangka panjang koleksi Wallace sebagai referensi taksonomi.

Pada Oktober 2025, tim peneliti Harvard mengidentifikasi spesies kupu-kupu baru dari genus Euptychia yang diberi nama Euptychia andrewberryi berdasarkan spesimen yang dikumpulkan Wallace di Pulau Buru pada 1861. Nama itu menghormati kolektor dan peneliti kupu-kupu Andrew Berry, sekaligus menggarisbawahi betapa spesimen berusia 160 tahun masih menjadi sumber penemuan ilmiah baru. Sepanjang 2024 hingga 2026, setidaknya dua monumen dan dua temuan spesies baru menghidupkan kembali nama Wallace.

Pada Januari 2026, bertepatan dengan peringatan 203 tahun kelahiran Wallace pada 8 Januari, peneliti dari Naturalis Biodiversity Center dan Oxford University Museum of Natural History merampungkan digitalisasi koleksi lebah yang dikumpulkan Wallace selama ekspedisi Nusantara. Koleksi itu mencakup ratusan spesimen tipe yang menjadi acuan taksonomi lebah Asia Tenggara, termasuk spesimen lebah raksasa Megachile pluto, lebah terbesar di dunia yang pertama kali dideskripsikan dari koleksi Wallace. Lembaga-lembaga itu menegaskan bahwa spesimen yang awalnya dianggap kurang menarik oleh Wallace kini menjadi data penting untuk memahami perubahan keanekaragaman hayati selama 170 tahun terakhir.

Meneropong Masa Depan: Mengapa Wallace Relevan Hari Ini

Relevansi Wallace melampaui sejarah sains. Dalam krisis keanekaragaman hayati global, konsep biogeografinya menjadi kerangka untuk merancang kawasan konservasi. Garis Wallace kini dipakai sebagai acuan dalam pembagian ekoregion daratan Sunda dan Sahul oleh Conservation International dan World Wildlife Fund. Penelitian tentang dampak perubahan iklim terhadap sebaran spesies juga berangkat dari pemetaan yang dirintis Wallace lebih dari 150 tahun lalu.

Di Indonesia, Gubernur dan pemerintah daerah mulai memanfaatkan warisan Wallace untuk pariwisata sejarah dan sains. Rute wisata jejak Wallace di Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara berkembang seiring dengan penerjemahan ulang The Malay Archipelago dan dokumentasi situs-situsnya. Konsep ekowisata yang menonjolkan keunikan fauna Garis Wallace menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara.

Wallace, yang menghabiskan total sekitar dua belas tahun di alam tropis Amazon dan Nusantara, mewariskan cara pandang bahwa manusia adalah bagian dari sistem alam, bukan penguasa di atasnya. Pada peringatan 200 tahun kelahirannya (2023) dan 100 tahun kematiannya (2013), simposium-simposium internasional kembali membahas gagasannya tentang kosmologi, spiritualitas, dan batas pengetahuan manusia. Dalam wawancara dan esai di Nature, para sejarawan menyebutnya sebagai ilmuwan yang terlalu maju untuk zamannya.

Pertanyaan Umum

Siapa Alfred Russel Wallace?
Alfred Russel Wallace adalah naturalis asal Wales yang secara independen merumuskan teori evolusi seleksi alam bersama Charles Darwin pada 1858 dan menemukan Garis Wallace, batas biogeografis antara fauna Asia dan Australia di Nusantara.

Kapan Wallace mengirim surat dari Ternate kepada Darwin?
Wallace mengirim esai seleksi alamnya dari Ternate sekitar Februari 1858, dan makalahnya dibacakan bersama karya Darwin di Linnean Society of London pada 1 Juli 1858.

Apa itu Garis Wallace dan mengapa penting?
Garis Wallace adalah garis imajiner yang memisahkan wilayah fauna Asia (barat) dan Australia (timur), membentang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar. Garis ini menjadi dasar biogeografi modern dan masih digunakan dalam konservasi hingga kini.

Apa dampak warisan Wallace bagi Indonesia?
Jejak Wallace di Indonesia dihormati melalui plakat di Dodinga (2024) dan monumen di Ampenan (2026), serta menjadi dasar pengembangan wisata sejarah dan konservasi keanekaragaman hayati kawasan Wallacea.

Referensi

  1. Wallace, A. R. (1858). On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type. Journal of the Proceedings of the Linnean Society of London, Zoology, 3, 53-62. https://people.wku.edu/charles.smith/wallace/S020.htm
  2. Wallace, A. R. (1869). The Malay Archipelago: The Land of the Orang-Utan and the Bird of Paradise. London: Macmillan and Co. https://archive.org/details/malayarchipelago01wall
  3. Beccaloni, G. (2026). New Alfred Russel Wallace Memorial Unveiled at Ampenan, Lombok. The Alfred Russel Wallace Website (Wallace Fund). https://wallacefund.myspecies.info/content/new-alfred-russel-wallace-memorial-unveiled-ampenan-lombok
  4. Natural History Museum. (2025). Moth collected by Alfred Russel Wallace rediscovered and helps to describe 11 new species. Natural History Museum, London. https://www.nhm.ac.uk/discover/news/2025/march/moth-collected-alfred-russell-wallace-rediscovered-helps-describe-11-new-species.html
  5. Harvard Gazette. (2025). A real butterfly effect: New species named after Alfred Russel Wallace. Harvard University. https://news.harvard.edu/gazette/story/2025/10/a-real-butterfly-effect/
  6. Beccaloni, G. (2024). Fixed monuments: Dodinga plaque. The Alfred Russel Wallace Website (Wallace Fund). https://wallacefund.myspecies.info/fixed-monuments
  7. Nature Today. (2026). In the footsteps of Wallace: tracing his expedition through his preserved bee specimens. Nature Today, 8 Januari 2026. https://www.naturetoday.com/intl/en/nature-reports/message/?msg=34826
  8. Lombok Post. (2026). Kota Tua Ampenan Kini Punya Ikon Baru, Tugu Garis Wallace. Jawa Pos Group, 27 Juli 2026. https://lombokpost.jawapos.com/amp/ntb/2607270012/kota-tua-ampenan-kini-punya-ikon-baru-tugu-garis-wallace
Topik Terkait:#Teori Evolusi#Inggris#Teori Seleksi Alam#Charles Darwin#Garis Wallace

Pertanyaan Seputar Tokoh Ini

Siapa Alfred Russel Wallace?

Alfred Russel Wallace (1823-1913) adalah naturalis asal Wales yang merumuskan teori seleksi alam secara independen bersama Charles Darwin dan mencetuskan Garis Wallace.

Mengapa Wallace disebut pencetus seleksi alam?

Pada 1858 ia mengirim esai On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type dari Ternate kepada Darwin, yang mendorong publikasi makalah bersama tentang seleksi alam.

Apa itu Garis Wallace?

Garis imajiner yang membagi wilayah fauna Asia dan Australia di Indonesia, pertama kali dijelaskan Wallace pada 1859 setelah ekspedisi di Lombok dan Bali.

Di mana monumen penghormatan untuk Wallace di Indonesia?

Plakat di Dodinga, Halmahera (5 Oktober 2024) dan Tugu Garis Wallace di Ampenan, Lombok (25 Juli 2026) diresmikan untuk memperingati jejak ekspedisinya.

Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content