Di tengah malam pergantian abad, ketika sebuah rumah panggung berdinding bambu di Baros, Cimahi, masih menjadi saksi keterbatasan ekonomi sebuah keluarga prajurit, tak ada yang menyangka anak kedua dari enam bersaudara itu kelak memegang tongkat komando tertinggi Tentara Nasional Indonesia. Jenderal TNI Agus Subiyanto, Panglima TNI ke-23, menempuh jalan panjang yang nyaris putus di awal: gagal masuk Sekolah Calon Bintara, ditolak saat melamar menjadi satpam, hingga akhirnya lulus Akademi Militer 1991 sebagai salah satu peserta terbaik dari Jawa Barat. Pada 22 November 2023, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Panglima TNI menggantikan Laksamana Yudo Margono, dan sejak itu ia mengemban amanah memimpin tiga matra pertahanan negara dalam masa transisi pemerintahan dan pesta demokrasi akbar. @91agussubiyanto. “Jadilah calon perwira yang dapat dibanggakan dan menjadi tumpuan harapan kedua orang tua, TNI, Bangsa, dan Negara,” demikian pesan Jenderal Agus Subiyanto.

Biodata Agus Subiyanto
| Keterangan | Data |
| Nama Lengkap | Agus Subiyanto |
| Tempat, Tanggal Lahir | Cimahi, Jawa Barat, 5 Agustus 1967 |
| Orang Tua | Deddy Unadi (ayah, Serka Purn.) dan Cicih Gunasih (ibu) |
| Istri | Evi Sophia Indra |
| Anak | 3 orang |
| Pendidikan Militer | Akademi Militer (1991), Seskoad (2006), Sesko TNI (2015), Lemhannas (2019) |
| Pangkat | Jenderal TNI |
| Satuan | Infanteri (Kopassus) |
| Jabatan | Panglima TNI ke-23 (sejak 22 November 2023) |
| Pendahulu | Laksamana TNI Yudo Margono |
Masa Kecil di Tengah Keterbatasan
Agus lahir di Baros, Cimahi Tengah, pada 5 Agustus 1967. Keluarganya berakar dari Cijulang, Pangandaran. Sang ayah, Deddy Unadi, adalah prajurit TNI Angkatan Darat yang menutup dinas dengan pangkat sersan kepala. Saat Agus berusia sekitar empat tahun dan ayahnya masih berpangkat kopral, keluarga itu tinggal di rumah panggung kecil berlantai papan dan berdinding bambu di kawasan Kandang Ucal, Kota Cimahi. Untuk menambah penghasilan, ayahnya mengelola usaha penyewaan becak berjumlah dua belas unit yang diberi tulisan “Putra Cijulang”, penanda asal kampung halaman keluarga.
Keadaan ekonomi yang serba pas-pasan memaksa keluarga berpisah. Kakak dan salah seorang adiknya diasuh oleh saudara perempuan sang ayah di Cijulang. Setelah menikah lagi, ayahnya bertugas sebagai intelijen militer di Kodim 0618 dan jarang berada di rumah, sehingga keluarga pindah ke Baros. Pukulan terberat datang pada 1984, ketika Agus masih duduk di bangku SMA. Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Pramuka, Bandung, dalam perjalanan menuju tempat kerja. Sejak itu keluarga bertumpu pada uang pensiun sang ayah.
Masa remajanya dihabiskan di SMP Negeri 2 Cimahi dan SMA Cimindi yang kini menjadi SMA Negeri 13 Bandung. Ia sempat bergabung dengan perguruan karate Kei Shin Kan dan membentuk band bernama TRAF bersama teman-temannya. Sebuah peristiwa kecil justru mengubah arah hidupnya: karena tidak memakai helm, ia sempat dibawa ke Detasemen Polisi Militer Baros dan mendapat perlakuan kasar dari seorang oknum tentara. Dari pengalaman itu tumbuh tekadnya untuk menjadi prajurit yang benar. Ia melamar ke Sekolah Calon Bintara Angkatan Darat namun gagal, bahkan lamaran kerjanya sebagai petugas keamanan sebuah mal di Bogor juga ditolak. Pada 1988, ikhtiarnya membuahkan hasil: ia diterima di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan keluar sebagai peserta terbaik kedua dari seluruh calon asal Jawa Barat.
Penempaan di Korps Baret Merah
Lulus dari Akademi Militer pada 1991, Agus memilih kecabangan infanteri dan mengawali dinas sebagai perwira pertama di Pusat Kesenjataan Infanteri. Ia menempuh kursus intelijen tempur di Ciomas, Bogor, serta latihan terjun payung di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus di Batujajar hingga meraih kualifikasi wing terjun. Kecakapan itu membawanya ke jalur Komando Pasukan Khusus, korps elite TNI Angkatan Darat.
Tugas operasi pertamanya datang pada 1995. Ia diberangkatkan ke Timor Timur menumpang KRI Teluk Amboina dan mendarat di Pelabuhan Dili untuk bergabung dalam Operasi Seroja sebagai kekuatan penindakan di Sektor A. Kinerjanya di medan tugas diganjar kesempatan mengikuti pendidikan Komando Pasukan Khusus serta Sekolah Lanjutan Perwira. Pada 1997 ia menambah kualifikasi lewat kursus terjun bebas militer dan kursus selam militer. Di kesatuan Baret Merah, ia kemudian dipercaya memimpin Batalyon 22 Grup 2 Kopassus dan menduduki posisi Kepala Penerangan Kopassus.
Fase ini sekaligus menjadi babak personalnya. Sekembalinya dari penugasan, ia menjalin hubungan dengan Evi Sophia Indra, mantan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tahun 1987 asal Garut, yang kelak menjadi pendampingnya hingga kini. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai tiga orang anak.
Dari Dandim Surakarta ke Paspampres
Peta karier Agus mulai menarik perhatian publik ketika ia menjabat Komandan Kodim 0735/Surakarta pada 2009 hingga 2011. Pada masa itu, Wali Kota Surakarta dipegang Joko Widodo. Interaksi antara dandim dan wali kota yang kelak menjadi presiden itu terjalin dalam koordinasi keamanan dan kegiatan kemasyarakatan, sebuah pertemuan yang bertahun-tahun kemudian disebut-sebut sebagai salah satu benang merah naiknya Agus ke lingkar kepercayaan Istana.
Selepas dari Surakarta, ia menduduki posisi Wakil Asisten Operasi Divisi Infanteri 2 Kostrad pada 2011, lalu Asisten Operasi Kasdam I/Bukit Barisan pada 2014. Tahun 2017 menjadi tahun sibuknya: ia memimpin Resimen Induk Kodam II/Sriwijaya sekaligus dipercaya memangku Komando Korem 132/Tadulako di Palu, Sulawesi Tengah. Pada 2019 ia menjadi Wakil Komandan Pussenif Kodiklatad.
Titik lonjak berikutnya terjadi pada 2020 ketika ia ditunjuk menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden dengan kenaikan pangkat mayor jenderal. Posisi ini menempatkannya pada tanggung jawab langsung atas keamanan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin beserta keluarga. Setahun kemudian ia diangkat menjadi Panglima Kodam III/Siliwangi, memimpin kodam yang membawahi wilayah Jawa Barat dan Banten hingga awal 2022. Karier bintang tiganya diraih saat ia ditugaskan menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada 2022, mendampingi Jenderal Dudung Abdurachman.
Selama masa itu, Agus juga dikenal tegas menjaga netralitas prajurit. Berulang kali ia menegaskan bahwa tentara tidak boleh terseret politik praktis, pesan yang konsisten ia bawa hingga ke puncak kariernya.
“Selama bertugas sebagai Danpaspampres, saya selalu ditelepon Presiden Jokowi jam 12 malam. Saya ditelepon cuma dicek, ‘Pak Danpaspampres sudah tidur?’ Saya bilang belum, padahal sudah tidur.”
Dua Kursi Puncak dalam Sebulan
Pada 25 Oktober 2023, Presiden Joko Widodo melantik Agus sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-34 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 89/TNI/2023, menggantikan Jenderal Dudung Abdurachman yang memasuki masa pensiun. Bersamaan itu, pangkatnya dinaikkan menjadi jenderal penuh melalui Keputusan Presiden Nomor 90/TNI/2023.
Namun masa baktinya di kursi KSAD tergolong singkat. Pada 31 Oktober 2023, namanya diajukan presiden ke DPR sebagai calon tunggal Panglima TNI menggantikan Laksamana Yudo Margono. Setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan, rapat paripurna DPR pada 21 November 2023 mengesahkan pencalonannya. Keesokan harinya, 22 November 2023, ia mengucap sumpah jabatan di hadapan Presiden Joko Widodo di Istana Negara berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 102/TNI/2023. Ia resmi menjadi Panglima TNI ke-23.
Dalam pesan pertamanya sebagai panglima, Agus menegaskan komitmen melanjutkan program pendahulunya dan menambatkan kepemimpinannya pada visi TNI PRIMA, yaitu profesional, responsif, integratif, modern, dan adaptif. Kepada wartawan seusai pelantikan, ia juga menegaskan bahwa jabatan puncak itu tidak diraih secara instan, melainkan melalui seleksi berjenjang dari komando satuan hingga kepala staf angkatan.
Mengawal Transisi Nasional
Masa jabatan Agus sebagai Panglima TNI bertepatan dengan agenda politik besar. Ia memimpin TNI sepanjang penyelenggaraan Pemilihan Umum 2024, pemilihan presiden, hingga pilkada serentak, penugasan yang menuntut netralitas lembaga sekaligus kesiapan pengamanan nasional. Di bawah komandonya, TNI menempatkan pasukan pengamanan tahapan pemilu di seluruh daerah dan menyatakan komitmen menjaga stabilitas selama transisi kekuasaan dari pemerintahan Joko Widodo ke pemerintahan Prabowo Subianto pada Oktober 2024.
Di tengah tugas itu, ia terus melakukan penyegaran organisasi. Sepanjang 2025, sejumlah kebijakan rotasi dan mutasi besar ditekennya, antara lain pemindahan 86 perwira tinggi melalui Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/333/III/2025 pada 14 Maret 2025, gelombang mutasi terhadap 117 perwira tinggi dari jajaran Danpaspampres hingga panglima kodam, serta rotasi 57 perwira tinggi pada November 2025 yang disebut Markas Besar TNI sebagai upaya regenerasi dan penguatan organisasi.
Revisi Undang-Undang TNI yang disahkan DPR pada Maret 2025 turut berdampak langsung pada posisinya. Dengan perpanjangan batas usia pensiun bagi pejabat sekelas panglima, jenderal kelahiran 1967 itu tetap memimpin TNI melampaui usia pensiun reguler, membuatnya menjadi salah satu panglima dengan masa jabatan terpanjang di era reformasi.
Di kehidupan keluarga, sang istri Evi Sophia Indra dikukuhkan sebagai Ibu Kehormatan Taruna Akademi TNI pada 2 Maret 2024 di Lapangan Aru, Kesatrian Akademi Angkatan Laut Bumimoro, Surabaya. Agus juga membuka sisi pribadinya lewat dua buku autobiografi yang dibedah di hadapan publik, yakni “Believe” yang berkisah tentang keluarga dan masa remajanya, serta “The Road of Faith” yang memotret kepemimpinan dan spiritualitasnya. Di acara bedah buku itu, ia tak sungkan menangis mengenang kegagalan pendidikan di masa muda dan kekuatan doa yang menopangnya.
Dari rumah panggung di Baros hingga Markas Besar TNI di Cilangkap, perjalanan Agus Subiyanto merekam satu pola yang konsisten: ketekunan menembus penolakan, kedisiplinan korps pasukan khusus, dan kesetiaan pada garis komando konstitusional. Empat bintang di pundaknya hari ini, dalam pengakuannya sendiri, bukan hasil lompat jalan, melainkan buah tangga yang dirangkai satu demi satu sejak 1991.
Sumber dan Referensi
- Kompas: “Daftar Lengkap 25 Panglima TNI Setelah Indonesia Merdeka” mengenai karier Agus Subiyanto dari danramil hingga panglima.
- Kompas: “Belasan Jenderal Bintang 4 Era Reformasi, dari Widodo AS hingga Agus Subiyanto” mengenai kenaikan pangkat dan pelantikan KSAD serta Panglima TNI.
- VOI: “Inaugurated By The Army Chief Of Staff To Replace Dudung” mengenai pelantikan KSAD dan latar Kopassus.
- SindoNews: “Profil Evi Sophia Indra Ibu Kehormatan Taruna Akademi TNI” mengenai keluarga dan pengukuhan Maret 2024.
- Tirto: “Silsilah Keluarga Panglima TNI Agus Subiyanto” mengenai silsilah keluarga dari garis kakek Pringgowijoto.
- Gatra: “Cerita Panglima TNI Agus Subiyanto yang Pernah Ditelepon Jokowi Tengah Malam, Hal Ini yang Ditanyakan”.
- Keterangan resmi Mabes TNI (tni.mil.id) mengenai rotasi dan mutasi perwira tinggi sepanjang 2025.



























