Biografi Band Dewa 19
Ringkasan Cepat
- Dewa 19 dibentuk di Surabaya pada 1986 oleh Ahmad Dhani, Erwin Prasetya, Wawan Juniarso, dan Andra Ramadhan
- Album debut '19' (1992) sukses besar dengan hits legendaris Kangen
- Era vokalis Ari Lasso menghasilkan album klasik Format Masa Depan, Terbaik Terbaik, dan Pandawa Lima
- Era vokalis Once Mekel lewat album Bintang Lima (2000) terjual lebih dari 1,7 juta keping
- Aktif menggelar tur stadion akbar puluhan ribu penonton bersama vokalis kolaborasi Virzha dan Ello hingga panggung internasional All Stars
Daftar Isi
Gema raungan distorsi gitar dan denting piano di panggung Jakarta International Stadium pada awal 2023 membuktikan kedigdayaan sebuah formasi musik yang telah melintasi empat dekade. Empat vokalis dari era berbeda berdiri sejajar di hadapan lebih dari 75 ribu penonton, melantunkan bait-bait lirik puitis karya Ahmad Dhani yang dihafal luar kepala oleh lintas generasi penikmat musik tanah air.

Dewa 19 bukan sekadar entitas band pop rock biasa dalam lanskap industri hiburan Indonesia. Sejak terbentuk di Surabaya pada pertengahan dekade 1980-an, kelompok ini menjelma menjadi mesin pencetak karya musik legendaris yang konsisten mendominasi tangga lagu, memecahkan rekor penjualan jutaan keping album fisik, hingga bertransformasi menjadi ikon budaya pop nasional.
| Nama Grup | Dewa 19 (awalnya DEWA, sempat memakai nama Dewa) |
|---|---|
| Tahun Terbentuk | 26 Agustus 1986 |
| Kota Asal | Surabaya, Jawa Timur, Indonesia |
| Genre Musik | Pop rock, hard rock, jazz rock, art rock, rock simfoni |
| Pendiri Utama | Ahmad Dhani, Erwin Prasetya, Wawan Juniarso, Andra Ramadhan |
| Vokalis Utama | Ari Lasso (1991-1999), Once Mekel (1999-2011), Virzha & Ello (2021-sekarang, vokalis kolaborasi) |
| Label Rekaman | Team Records, Aquarius Musikindo, Republik Cinta Record |
| Album Studio Tonggak | 19 (1992), Terbaik Terbaik (1995), Pandawa Lima (1997), Bintang Lima (2000), Cintailah Cinta (2002) |
| Penghargaan Bergengsi | BASF Awards, AMI Awards, Legend Award AMI (2008) |
Akar Surabaya dan Kelahiran Akronim DEWA
Perjalanan panjang Dewa 19 bermula dari ruang kelas SMP Negeri 6 Surabaya pada 26 Agustus 1986. Empat sahabat remaja yang memiliki kecintaan tinggi pada instrumen musik bersepakat mendirikan sebuah kelompok band. Mereka adalah Ahmad Dhani pada keyboard dan vokal latar, Erwin Prasetya pada bass, Wawan Juniarso pada drum, serta Andra Junaidi Ramadhan pada gitar. Nama DEWA merupakan akronim resmi dari huruf depan nama keempat sahabat tersebut.
Markas latihan mereka berlokasi di kediaman orang tua Wawan Juniarso di Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan Nomor 7, lingkungan perumahan dosen Universitas Airlangga Surabaya. Di ruang sederhana dengan peralatan musik seadanya, mereka menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk mengasah kepekaan aransemen.
Karakter Dewa terlihat kontras dibandingkan mayoritas band Surabaya kala itu yang gemar membawakan heavy metal ala Iron Maiden atau Judas Priest. Dewa memilih membawakan nomor-nomor pop rock berkelas milik Toto. Eksplorasi musikal semakin meluas ketika Erwin Prasetya mengenalkan warna fusion jazz dari grup Casiopea, Chick Corea, hingga Uzeb. Pergeseran aliran ini sempat membuat Wawan Juniarso yang menyukai ketukan rock murni merasa tidak sejalan, sehingga ia memilih keluar pada tahun 1988 untuk bergabung dengan band rock Outsider.
Dhani, Erwin, dan Andra kemudian mengganti nama grup menjadi Down Beat dengan merekrut penabuh drum Salman. Down Beat berhasil mengukir prestasi bergengsi di festival musik regional, termasuk menjuarai Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur dan Festival Band SLTA 1990.
Masa remaja yang dinamis membawa mereka kembali ke jalur rock alternatif setelah menyaksikan gebrakan Slank di awal era 1990-an. Dhani kembali menghubungi Wawan Juniarso, lalu mengajak rekan sekelas Wawan di SMA Negeri 2 Surabaya, Ari Bernardus Lasso, untuk mengisi posisi vokalis utama. Formasi ini menghidupkan kembali nama Dewa dengan imbuhan angka 19, yang menandai rata-rata usia para personel saat itu yang menginjak 19 tahun.
Lompatan Album Perdana dan Era Emas Ari Lasso
Keberanian mengambil risiko finansial dan artistik membuka gerbang karier profesional Dewa 19. Sahabat sekolah mereka, Harun Nurasyid, memberikan suntikan modal rekaman awal sebesar 10 juta rupiah. Dhani dan kawan-kawan bertolak ke Jakarta untuk merekam album perdana di studio profesional dengan anggaran serbaprihatin.
Master rekaman album perdana diselesaikan hanya dalam 25 giliran kerja shift studio. Ahmad Dhani bergerilya mendatangi berbagai kantor perusahaan rekaman di ibu kota menggunakan angkutan umum kota. Setelah beberapa penolakan, produser Jan Djuhana dari label Team Records melihat potensi komersial luar biasa pada lagu Kangen (Ku Akan Datang).
Dirilis pada akhir tahun 1992, album bertajuk 19 meledak hebat di pasar musik nasional. Angka penjualan menembus lebih dari 300 ribu keping kaset pita dan mengantarkan Dewa 19 memborong piala BASF Awards 1993 untuk kategori Pendatang Baru Terbaik dan Album Terlaris.
Kesuksesan berlanjut pada album kedua Format Masa Depan (1994) yang menandai perpindahan label rekaman ke Aquarius Musikindo. Penggarapan album ini diwarnai keluarnya Wawan Juniarso di tengah sesi rekaman akibat perbedaan visi kerja, sehingga posisi drum dibantu musisi pendukung Ronald Fristianto dan Rere Reza. Wong Aksan kemudian resmi bergabung sebagai penggebuk drum tetap pada album Terbaik Terbaik (1995).
Album Terbaik Terbaik mencatat sejarah estetika tinggi lewat lagu Cukup Siti Nurbaya, Satu Hati, dan Cinta Kan Membawamu Kembali. Penjualan kaset melonjak hingga melampaui 500 ribu keping. Album keempat, Pandawa Lima (1997), semakin mengukuhkan hegemoni Dewa 19 lewat hits Kirana, Kamulah Satu-Satunya, dan Elang.
Namun di balik puncak kejayaan komersial, krisis internal membayangi kelompok ini. Ketergantungan narkoba jenis putaw yang melanda beberapa personel menyebabkan ketidakharmonisan jadwal kerja. Wong Aksan diberhentikan pada pertengahan 1998 karena karakter pukulan drumnya dinilai terlalu condong ke nuansa jazz murni. Ari Lasso yang tengah bergulat keras melawan kecanduan zat adiktif akhirnya memutuskan mundur dari posisi vokalis di penghujung dekade 1990-an.
Kelahiran Kembali Era Once Mekel dan Rekor Jutaan Keping
Kepergian figur vokalis ikonik sering kali menjadi vonis akhir bagi sebuah band besar, tetapi Ahmad Dhani menolak menyerah pada keadaan. Dhani melakukan manuver berani dengan merekrut Elfonda Once Mekel, vokalis berkarakter vokal serak tinggi melengking, serta Tyo Nugros sebagai penggebuk drum baru berparas karismatik dan bertenaga.
Nama band dipadatkan menjadi Dewa saja saat meluncurkan album studio kelima bertajuk Bintang Lima pada April tahun 2000. Album ini menjadi pembuktian musikal paling spektakuler dalam sejarah industri rekaman Indonesia. Nomor-nomor legendaris seperti Roman Picisan, Risalah Hati, Dua Sejoli, dan Separuh Nafas menyapu bersih tangga siaran radio nasional.
Bintang Lima sukses terjual lebih dari 1,7 juta keping kaset dan cakram padat di tanah air, menempatkan Dewa sebagai salah satu band dengan penjualan album terlaris sepanjang masa. Eksistensi mereka semakin kukuh lewat album Cintailah Cinta (2002) yang menghasilkan lagu hits abadi Pupus, Kasidah Cinta, dan Kosong.
"Musik Dewa 19 selalu berbicara tentang dedikasi pada harmoni melodi dan pemilihan kata yang tidak lekang oleh zaman. Kami tidak pernah membuat musik hanya untuk tren sesaat."
Pada era ini, bassist pendiri Erwin Prasetya berpisah dengan band pada 2002 dan posisinya digantikan oleh Yuke Sampurna (mantan pembetot bass The Groove). Formasi Dhani, Andra, Once, Tyo, dan Yuke merilis album Laskar Cinta (2004) serta Republik Cinta (2006). Penandatanganan kontrak internasional bersama EMI Music Hong Kong menandai ambisi go-international grup yang kembali menyandang nama Dewa 19.
"Bintang Lima adalah pertaruhan hidup dan mati karier kami di industri musik nasional. Jika album itu gagal di pasaran, tamat sudah cerita tentang Dewa."
Fase Hiatus, Proyek Sampingan, dan Era All Stars
Karier Dewa 19 memasuki masa jeda panjang setelah Once Mekel memutuskan fokus bersolo karier pada tahun 2011. Alih-alih membubarkan band secara formal, Ahmad Dhani menegaskan bahwa Dewa 19 tetap eksis sebagai band tanpa vokalis tetap. Dhani menyalurkan kreativitas panggungnya melalui proyek sampingan seperti The Rock, T.R.I.A.D, dan Mahadewa.
Kebangkitan panggung Dewa 19 mulai bersemi kembali melalui format reuni nostalgia. Antusiasme para Baladewa (sebutan bagi basis penggemar militan mereka) terbukti tidak pernah padam. Permintaan konser reuni yang membludak mendorong Dhani merumuskan format manajemen panggung modern dengan menggandeng Marcello Tahitoe (Ello) dan Muhammad Devirzha (Virzha) sebagai vokalis featuring resmi.
Memasuki periode 2022 hingga 2024, Dewa 19 mengukir sejarah konser skala stadion terbesar di Indonesia. Tur bertajuk Pesta Rakyat 30 Tahun Berkarya memadati puluhan kota, mencapai puncaknya di Jakarta International Stadium (JIS) pada Februari 2023 dengan penonton melampaui 75 ribu orang, serta tur stadion di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Stadion Si Jalak Harupat Bandung, dan Stadion Manahan Solo.
Konsistensi bermusik berlanjut hingga tahun 2025 dan 2026 lewat panggung megah Dewa 19 All Stars Stadium Tour. Kolaborasi lintas benua dihadirkan Ahmad Dhani dengan merangkul gitaris legendaris dunia Steve Vai, mantan bassis Mr. Big Billy Sheehan, Derek Sherinian, Ron Thal Bumblefoot, hingga Dino Jelusick. Eksistensi lebih dari 38 tahun menegaskan posisi Dewa 19 sebagai institusi musik rock paling berpengaruh dan berumur panjang dalam sejarah modern Indonesia.
Sumber dan Referensi
- Dokumentasi Arsip Aquarius Musikindo dan Team Records (1992-2006)
- Wawancara Dokumenter Dewa 19: 30 Tahun Perjalanan Musik (2022-2023)
- Catatan Penjualan Album Fisik Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI)
- Publikasi Peliputan Konser Dewa 19 All Stars Stadium Tour (2024-2025)
Pertanyaan Seputar Tokoh Ini
Kapan Dewa 19 didirikan dan apa arti namanya?
Dewa 19 didirikan pada 26 Agustus 1986 di Surabaya. Nama DEWA merupakan akronim nama para pendirinya yaitu Dhani, Erwin, Wawan, dan Andra. Angka 19 ditambahkan saat peluncuran album perdana menandai usia rata-rata personel saat itu.
Siapa saja vokalis yang pernah memperkuat Dewa 19?
Vokalis utama era rekaman Dewa 19 adalah Ari Lasso (1991-1999) dan Once Mekel (1999-2011). Pada era konser modern sejak 2021, Dewa 19 menggandeng Virzha dan Ello (Marcello Tahitoe) sebagai vokalis kolaborasi panggung.
Apa album terlaris Dewa 19 sepanjang masa?
Album terlaris Dewa 19 adalah Bintang Lima yang dirilis pada tahun 2000 dengan angka penjualan fisik menembus lebih dari 1,7 juta keping di Indonesia.
Nurdyansa
Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.
Biografi Tokoh Terkait Lainnya
6 Rekomendasi
Kisah 10 Biografi Pahlawan Revolusi Indonesia Beserta Biodata Lengkapnya

10 Fakta Albert Einstein Yang Menarik Yang Tidak Kamu Ketahui

10 Fakta Ir Soekarno Menarik Yang Tidak Kamu Ketahui Dan Bikin Bangga

Ini 10 Fakta Unik Tentang Mohammad Hatta

Andi Amran Sulaiman
