Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Tokoh Indonesia

Biografi Jusuf Hamka: Profil Bos Jalan Tol dan Kisah Mualaf Babah Alun

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 11 Okt 2026)•8 menit baca•Wikidata: Q97202238
Bagikan:

Ringkasan Cepat

  • Pengusaha Muslim Tionghoa-Indonesia yang dikenal sebagai Bos Jalan Tol dan pemilik PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP).
  • Memeluk agama Islam pada tahun 1981 di usia 23 tahun di bawah bimbingan ulama besar Buya Hamka dan diangkat sebagai anak.
  • Pernah melamar di 100 perusahaan namun ditolak hingga bekerja sebagai sopir traktor di Kalimantan sebelum sukses di bisnis jalan tol.
  • Dikenal filantropis dengan mendirikan Warung Nasi Kuning murah untuk kaum duafa dan membangun Masjid Babah Alun berarsitektur Tionghoa.
Daftar Isi

H. Mohammad Jusuf Hamka, dikenal sebagai Babah Alun, adalah pengusaha Muslim Tionghoa-Indonesia dan pendiri PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP). Lahir di Jakarta pada 5 Desember 1957, ia memeluk Islam pada 1981 di bawah bimbingan Buya Hamka. Dari mantan pengemudi traktor, ia berkembang menjadi konglomerat jalan tol nasional yang aktif mendirikan masjid dan warung makan gratis bagi kaum duafa.

Potret jusuf hamka
Sumber: Wikipedia (Jusuf_Hamka_sebagai_Anggota_Dewan_Pertimbangan_Presiden_RI_(2026).jpg)

Biodata Jusuf Hamka

Metrik Nilai
Nama Lengkap H. Mohammad Jusuf Hamka (lahir Jauw A Loen / Alun Joseph)
Nama Panggilan Jusuf Hamka, Babah Alun
Tempat, Tanggal Lahir Sawah Besar, Jakarta Pusat, 5 Desember 1957
Orang Tua Dr. Joseph Suhaimi, S.H (Jauw To Tjiang) dan Suwanti Suhaimi (Siaw Po Swan)
Pasangan Lena Burhanudin
Anak Fitria Yusuf, Feisal Hamka, Farid Hamka
Agama Islam (Mualaf sejak 1981)
Pekerjaan Pengusaha Infrastruktur, Politikus, Filantropis
Pendidikan Fakultas Hukum UNAIR/UNAG, Kedokteran Trisakti, Business Admin Columbia College, FISIP Jayabaya (tidak tamat)

Masa Muda, Lingkungan Keluarga, dan Pilihan Pendidikan Praktis

Jusuf Hamka dilahirkan dengan nama Jauw A Loen (atau Alun Joseph) di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada tanggal 5 Desember 1957. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga Tionghoa yang terpelajar namun hidup dalam keadaan yang serba pas-pasan. Ayahnya, Dr. Joseph Suhaimi, S.H. (Jauw To Tjiang), merupakan seorang akademisi dan dosen yang mengajar di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, sedangkan ibunya, Suwanti Suhaimi (Siaw Po Swan), mengabdikan diri sebagai seorang guru sekolah. Lahir sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara, Jusuf sudah terbiasa merasakan atmosfer disiplin dan kemandirian sejak dini. Untuk membantu perekonomian keluarga serta memenuhi kebutuhan jajan hariannya, Jusuf muda tidak pernah merasa malu untuk berdagang asongan di sekitar Sawah Besar sepulang sekolah, menjual berbagai macam camilan seperti es lilin dan kacang goreng.

Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat jalanan sejak usia belia tersebut tidak hanya membentuk kemandirian mentalnya, tetapi juga mengasah insting wirausaha serta kepekaan sosialnya. Ketika memasuki jenjang pendidikan tinggi, Jusuf Hamka sempat mendaftar dan diterima di beberapa perguruan tinggi ternama di dalam maupun luar negeri. Ia pernah mencicipi bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, program Business Administration di Columbia College Vancouver Kanada, hingga Jurusan Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jayabaya Jakarta. Kendati demikian, tidak ada satu pun dari jenjang pendidikan tinggi tersebut yang ia selesaikan hingga meraih gelar sarjana.

Sikap Jusuf yang memilih untuk tidak menyelesaikan pendidikan formalnya dilatarbelakangi oleh ketidaksukaannya terhadap formalitas akademis yang kaku. Bagi Jusuf, proses belajar yang paling efektif adalah pembelajaran yang diperoleh secara langsung melalui pengalaman praktis, tantangan di dunia nyata, serta dinamika kerja di lapangan. Keputusannya untuk meninggalkan bangku kuliah membuktikan bahwa orientasi kognitif dan efektivitas kinerjanya lebih didorong oleh kecerdasan praktis serta insting eksekusi bisnis yang tajam daripada kepemilikan ijazah formal semata.

Titik Balik Kehidupan Spiritual: Perjumpaan dengan Buya Hamka

Momen krusial yang mengubah arah perjalanan hidup dan spiritualitas Jusuf Hamka terjadi pada tahun 1981, saat ia berusia 23 tahun. Keterpanggilannya menuju Islam bermula dari ketertarikannya membaca sebuah artikel koran mengenai proses pengucapan kalimat syahadat di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tanpa keraguan, Alun Joseph langsung mendatangi masjid tersebut dan mengutarakan niatnya untuk memeluk agama Islam kepada Ustaz Zaimi, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Masjid Agung Al-Azhar. Mendengar niat tulus pemuda tersebut, Ustaz Zaimi kemudian membawanya langsung ke kediaman ulama besar ternama Indonesia, Profesor DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, di Jalan Raden Fatah.

"Saya masuk Islam bukan karena dipaksa atau mengejar sesuatu, tetapi karena hidayah yang membimbing hati saya. Buya Hamka memberi nama ini agar saya membawa keberkahan dan keberanian dalam membela kebenaran."

Di bawah bimbingan dan tuntunan langsung Buya Hamka, Alun Joseph secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama Islam. Sebagai tanda kasih dan penerimaan, Buya Hamka menganugerahkan nama islami Mohammad Jusuf Hamka kepadanya, mengambil nama belakang sang ulama sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengangkatan anak secara spiritual. Tak hanya Buya Hamka, mantan Ibu Negara Nelly Adam Malik (istri Wakil Presiden Adam Malik) juga mengangkat Jusuf sebagai anak angkatnya. Hubungan kekeluargaan yang hangat ini makin memperkokoh pijakan spiritual Jusuf dalam mendalami ajaran Islam.

Proses peralihan keyakinan Jusuf Hamka berjalan sangat harmonis tanpa adanya penolakan atau hambatan dari keluarga kandungnya. Toleransi tinggi yang ditunjukkan oleh orang tua dan saudara-saudaranya terlihat jelas pada saat bulan Ramadan pertama yang ia jalani sebagai seorang Muslim. Ibunda Jusuf secara khusus membelikan seperangkat alat masak dan penggorengan baru yang terjamin kehalalannya untuk menyiapkan hidangan sahur dan buka puasa bagi sang putra. Pada tahun 1984, Jusuf menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah dengan berbekal bantuan dana sebesar 3.000 Riyal dari ibu angkatnya, Nelly Adam Malik. Sikap toleransi yang ia dapatkan dari keluarganya kelak juga ia terapkan kepada anak-anaknya. Jusuf tidak pernah memaksakan kehendak agama kepada keturunannya. Salah satu putrinya, Fitria Yusuf, yang dikenal sebagai pengusaha dan sosialita fashion, baru mengambil keputusan untuk menjadi mualaf pada 12 Maret 2020 di Masjid Lautze, Jakarta Pusat, di bawah bimbingan K.H. Zaitun Rasmin.

Perjuangan Karier: Dari Pengemudi Alat Berat hingga Konglomerat Jalan Tol

Perjalanan karier profesional Jusuf Hamka dalam dunia bisnis diukir melalui fase-fase perjuangan yang berat dan tidak instan. Sebelum berhasil menembus papan atas korporasi nasional, ia sempat mengalami masa-masa sulit, termasuk mengajukan lamaran pekerjaan ke lebih dari 100 perusahaan namun berulang kali menerima penolakan. Tidak patah semangat, Jusuf menjajal berbagai bidang pekerjaan kasar dan bisnis skala kecil, seperti berdagang kayu hingga merantau ke pedalaman Kalimantan Timur. Di ranah perantauan tersebut, ia bekerja keras sebagai operator sekaligus pengemudi alat berat traktor pada proyek pembukaan jalan selama tiga tahun, mulai dari tahun 1986 hingga 1989, dengan gaji bulanan sekitar Rp750 ribu.

"Saya pernah melamar kerja di lebih dari seratus perusahaan dan semuanya menolak saya. Saya pernah jadi sopir traktor di hutan Kalimantan, jadi saya tidak pernah takut miskin atau mulai dari nol lagi."

Pengalaman memegang kemudi traktor dan memahami teknis pembuatan jalan secara langsung di lapangan menjadi fondasi pengetahuan intuitif yang sangat berharga bagi masa depannya. Kecepatan belajar, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan menjalin relasi strategis akhirnya membawa Jusuf masuk ke ranah bisnis infrastruktur jalan tol melalui PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP). Perusahaan konglomerasi infrastruktur ini mengoperasikan berbagai ruas jalan tol bebas hambatan utama di kawasan perkotaan. Seiring berjalannya waktu, dedikasi dan kapasitas kepemimpinannya menempatkan Jusuf pada posisi kunci di CMNP, di mana ia dipercaya menjabat sebagai komisaris serta direksi di anak-anak usahanya.

Di bawah naungan CMNP dan grup bisnisnya, Jusuf Hamka terlibat langsung dalam pembangunan, pendanaan, serta pengoperasian sejumlah ruas tol vital di Indonesia. Portofolio jalan tol tersebut mencakup ruas Tol Cawang-Tanjung Priok (Ir. Wiyoto Wiyono), Tol Depok-Antasari (Desari), Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), Tol Waru-Juanda di Jawa Timur, Tol Soreang-Pasirkoja (Seroja) di Bandung, hingga Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu). Kepemilikan saham utamanya di Tol Cisumdawu, yang mencapai porsi 51 hingga 55 persen, makin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama industri jalan tol swasta nasional. Harta kekayaannya diperkirakan mencapai belasan triliun rupiah, namun ia tetap konsisten mempertahankan pola hidup yang sederhana dan jauh dari kesan pamer. Selain di CMNP, Jusuf juga menjabat posisi strategis di berbagai entitas bisnis ternama seperti Komisaris Utama PT Mandara Permai, Komisaris Independen PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, Komisaris PT Indosiar Visual Mandiri, serta korporasi lainnya.

Filantropi Sosial dan Warisan Kemanusiaan

Keberhasilan finansial yang diraih tidak membuat Jusuf Hamka melupakan akar kehidupannya yang berasal dari kelas bawah. Ia mengalokasikan sebagian besar sumber daya serta perhatiannya untuk kegiatan filantropi dan pemberdayaan masyarakat rentan. Salah satu program sosial paling fenomenal yang diinisiasinya adalah Warung Nasi Kuning Podjok Halal. Melalui warung ini, Jusuf menyediakan makanan bergizi nasi kuning lengkap untuk kaum duafa, kuli bangunan, pengemudi ojek, dan masyarakat kurang mampu dengan harga yang sangat murah atau bahkan gratis. Program ini berkembang pesat di beberapa titik kota dan menjadi contoh nyata gerakan kepedulian sosial berbasis korporasi personal.

Selain aksi pangan murah, kepedulian spiritual dan budaya Jusuf Hamka diwujudkan melalui pembangunan jaringan masjid berarsitektur khas Tionghoa yang diberi nama Masjid Babah Alun. Salah satu bangunan ikonik yang didirikannya terletak persis di bawah kolong jalan tol Ir. Wiyoto-Wiyono di wilayah Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, serta di kawasan Sunter Agung dan Tol Desari. Arsitektur masjid-masjid ini memadukan estetika klenteng Tionghoa dengan simbol-simbol keislaman, melambangkan akulturasi budaya yang indah serta pesan kedamaian antar-etnis. Di bidang pemerintahan dan politik, Jusuf sempat tercatat sebagai kader senior Partai Golkar sebelum mengundurkan diri pada pertengahan 2024, serta pernah mendapat amanah sebagai staf khusus di Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Kiprah dan dedikasi hidupnya menegaskan posisi Jusuf Hamka sebagai sosok pengusaha nasionalis yang mampu memadukan keberhasilan bisnis dengan kontribusi sosial yang nyata bagi bangsa.

Referensi

  1. Redaksi Tirto.id. (2023). Profil Jusuf Hamka: Pengusaha Jalan Tol dan Aktivis Sosial. Tirto.id. https://tirto.id/profil/jusuf-hamka
  2. Redaksi Inilah.com. (2024, Oktober). Profil Jusuf Hamka: Biodata, Agama, Karier, Kekayaan, hingga Kumpulan Fotonya. Inilah.com. https://www.inilah.com/jusuf-hamka
  3. Wikipedia. (2024). Jusuf Hamka. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Jusuf_Hamka
  4. Redaksi Kompas.com. (2022, Mei 26). Biodata Jusuf Hamka, Bos Jalan Tol yang Jadi Anak Angkat Buya Hamka. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2022/05/26/171500226/biodata-jusuf-hamka-bos-jalan-tol-yang-jadi-anak-angkat-buya-hamka
  5. Detik.com. (2023, April 20). Jusuf Hamka, Babah Alun Bos Jalan Tol: Kisah Mualaf hingga Tagih Utang Pemerintah. Detik.com. https://www.detik.com/properti/berita/d-6683515/jusuf-hamka-babah-alun-bos-jalan-tol-kisah-mualaf-hingga-tagih-utang-pemerintah

Pertanyaan Seputar Tokoh Ini

Siapa Jusuf Hamka?

Jusuf Hamka, dikenal juga sebagai Babah Alun, adalah seorang pengusaha Muslim Tionghoa-Indonesia dan pemegang saham utama di perusahaan pengelola jalan tol PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP).

Kapan Jusuf Hamka masuk Islam?

Jusuf Hamka mengikrarkan dua kalimat syahadat pada tahun 1981 di usia 23 tahun di bawah bimbingan ulama besar Buya Hamka di Masjid Agung Al-Azhar.

Apa saja proyek jalan tol yang ditangani Jusuf Hamka?

Proyek jalan tol yang dikelola grup bisnisnya antara lain Tol Cawang-Tanjung Priok, Tol Depok-Antasari, Tol Bogor Outer Ring Road, Tol Waru-Juanda, Tol Soreang-Pasirkoja, dan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu).

Apa kegiatan sosial unggulan yang didirikan Jusuf Hamka?

Jusuf Hamka mendirikan Warung Nasi Kuning Podjok Halal untuk kaum duafa serta membangun beberapa Masjid Babah Alun berarsitektur khas Tionghoa-Islam.

Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content