Inspirasi, Sejarah & Kisah Tokoh Dunia
B
BiografiKuKoleksi Profil Tokoh
Tokoh Indonesia

Biografi Raihaanun: Aktris Karakter Peraih Dua Piala Citra FFI

NOleh: Nurdyansa
•(Diperbarui: 11 Okt 2026)•13 menit baca•Wikidata: Q13551995
Bagikan:

Ringkasan Cepat

  • Siti Hafar Raihaanun Nabilla lahir di Jakarta pada 7 Juni 1988 dan mengawali kariernya sebagai finalis GADIS Sampul 2003.
  • Memulai debut film layar lebar lewat Badai Pasti Berlalu (2007) dan meraih Aktris Terbaik di Indonesian Movie Awards 2012 lewat Lovely Man.
  • Meraih Piala Citra FFI perdananya sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik pada tahun 2016 melalui film Salawaku di Maluku.
  • Meraih Piala Citra FFI kedua sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Best Actress AIFFA 2019 berkat akting hening dalam 27 Steps of May.
  • Mempertahankan reputasi akting watak berbobot tinggi hingga meraih Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Festival Film Bandung 2025 lewat Gowok: Kamasutra Jawa.
Daftar Isi

Raihaanun adalah aktris dan model kenamaan Indonesia yang meraih reputasi prestisius berkat kepiawaian akting watak yang mendalam serta keberhasilan memenangkan dua trofi bergengsi Piala Citra Festival Film Indonesia. Mengawali karier di dunia hiburan sejak usia remaja, ia bertransformasi menjadi sosok pemeran utama berkarakter kuat yang konsisten menghidupkan peran-peran kompleks di panggung sinema nasional maupun kancah perfilman internasional.

Memiliki pendekatan akting metode yang intens dan selektivitas tinggi dalam menerima tawaran peran, Raihaanun membuktikan kapasitasnya sebagai bintang film papan atas yang melampaui batasan popularitas instan. Keberaniannya mengeksplorasi emosi manusia yang rapuh, mulai dari karakter gadis polos yang mencari ayahnya di belantara ibu kota, perempuan pedalaman Maluku yang menanggung beban adat istiadat, hingga penyintas trauma yang bergulat dalam kesunyian panjang, menjadikannya figur ikonik dalam lanskap perfilman modern Indonesia. Dedikasi tersebut membawanya meraih berbagai pengakuan tertinggi dari kalangan kritikus, festival film bergengsi tanah air, hingga panggung penghargaan internasional di kawasan Asia.

Potret Raihaanun
Sumber: Wikipedia (Raihaanun_Interview_on_Media_Indonesia.png)

Biodata & Profil Singkat

Nama LengkapSiti Hafar Raihaanun Nabilla
Nama PanggungRaihaanun
Tempat, Tanggal LahirJakarta, 7 Juni 1988
KewarganegaraanIndonesia
Latar Belakang EtnisMinangkabau dan Bugis
PekerjaanAktris, Model
Tahun Aktif2003 hingga sekarang
Tinggi Badan164 cm
Pasangan MenikahTeddy Soeriaatmadja (menikah 2007, resmi bercerai 2023)
Anak
  • Milan Roushan Karuna Soeriaatmadja
  • Kafka Roushan Karuna Soeriaatmadja
  • Rumi Roushan Karuna Soeriaatmadja
PendidikanUniversitas Pelita Harapan (S1 Desain Interior, tidak selesai)
Penghargaan Utama
  • Piala Citra FFI 2016 (Pemeran Pendukung Wanita Terbaik lewat film Salawaku)
  • Piala Citra FFI 2019 (Pemeran Utama Wanita Terbaik lewat film 27 Steps of May)
  • Best Actress ASEAN International Film Festival and Awards 2019
  • Aktris Utama Pilihan Festival Film Tempo 2018
  • Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Festival Film Bandung 2025

Latar Belakang Keluarga dan Awal Langkah Menuju Panggung Hiburan

Perjalanan hidup Siti Hafar Raihaanun Nabilla berakar dari lingkungan keluarga besar yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan kedisiplinan hidup. Lahir di Jakarta pada tanggal 7 Juni 1988, Raihaanun merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara pasangan Hazier Moein dan Yulia Farahdibha. Garis keturunan darah campuran Minangkabau dan Bugis yang mengalir dari kedua orang tuanya menumbuhkan kepribadian yang tangguh, percaya diri, dan berpendirian teguh sejak usia dini. Lingkungan keluarganya juga akrab dengan dunia estetika dan kreativitas, mengingat ia merupakan keponakan kandung dari perancang busana muslim terkemuka Indonesia, Itang Yunasz.

Pintu masuk ke industri hiburan tanah air terbuka secara resmi pada tahun 2003, ketika Raihaanun yang baru berusia 15 tahun memutuskan mengikuti ajang pemilihan model remaja bergengsi GADIS Sampul. Paras wajahnya yang khas, sorot mata yang tajam, serta pembawaan diri yang anggun memikat dewan juri, membawanya lolos hingga babak final. Keberhasilan menjadi finalis GADIS Sampul 2003 seketika membuka peluang emas bagi Raihaanun untuk memasuki dunia seni peran profesional. Berbagai tawaran membintangi iklan produk komersial dan serial televisi mulai berdatangan dalam waktu singkat.

Sepanjang kurun waktu tahun 2002 hingga 2006, wajah Raihaanun rutin menghiasi layar kaca pemirsa televisi melalui deretan judul sinetron populer. Ia mengawali debut akting televisinya melalui sinetron Yanina Cinta pada tahun 2002. Namanya kian dikenal publik luas saat membintangi serial Kawin Gantung pada rentang tahun 2003 hingga 2004, beradu akting dengan Didi Riyadi. Popularitasnya di kalangan pemirsa remaja terus melesat ketika ia dipercaya memerankan karakter Tiara dalam sinetron Senandung Masa Puber musim ketiga pada tahun 2004. Ia juga terlibat dalam serial drama unggulan lainnya, seperti Kehormatan, Tangisan Anak Tiri yang tayang hingga tahun 2005, serta serial Sepatu Kaca pada tahun 2006.

Meskipun kesuksesan di layar kaca telah menjamin popularitas luas dan kenyamanan finansial, Raihaanun menyadari bahwa panggilan jiwanya berada pada kedalaman eksplorasi seni peran yang lebih substantif. Kesibukan jadwal syuting yang sangat padat sempat membuatnya mendaftar ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Pelita Harapan pada program studi S1 Desain Interior. Namun, tuntutan profesionalisme di dunia perfilman menuntut komitmen waktu yang utuh, sehingga ia kemudian memilih mengundurkan diri dari bangku kuliah demi memusatkan seluruh konsentrasi dan energinya pada penempaan bakat akting di kancah sinema layar lebar.

Terobosan Layar Lebar dan Eksplorasi Karakter Menantang

Tahun 2007 menjadi momentum historis dalam evolusi karier profesional Raihaanun ketika ia dipercaya melangkah ke panggung sinema layar lebar nasional. Tidak tanggung-tanggung, proyek film perdananya adalah pembuatan ulang karya klasik legendaris perfilman Indonesia, Badai Pasti Berlalu, yang disutradarai oleh sineas muda berbakat Teddy Soeriaatmadja. Dalam film ini, Raihaanun mengemban tanggung jawab besar memerankan tokoh sentral Siska, karakter wanita dingin dan terluka yang pada versi tahun 1977 diperankan secara legendaris oleh Christine Hakim.

Tampil berdampingan dengan aktor-aktor kawakan seperti Slamet Rahardjo dan bintang muda Vino G. Bastian, Raihaanun sukses menghadirkan interpretasi baru yang segar dan memikat terhadap karakter Siska. Ia menampilkan pergolakan batin seorang perempuan yang dikhianati cinta dengan sentuhan emosi yang terkendali namun menghanyutkan. Tidak hanya berakting, Raihaanun juga menyumbangkan suaranya untuk lagu tema film tersebut dengan membawakan lagu "Semusim". Penampilan debutnya menuai pujian luas dari kalangan kritikus film. Atas performa tersebut, ia langsung meraih sejumlah nominasi bergengsi, termasuk nominasi Aktris Pendatang Baru Terbaik di Indonesian Movie Awards 2007, kategori Breakthrough Actor/Actress di MTV Indonesia Movie Awards 2007, serta nominasi Pemeran Utama Wanita Terpuji di Festival Film Bandung 2007.

Di tengah lonjakan popularitas film perdananya, Raihaanun mengambil keputusan berani dalam ranah kehidupan pribadinya. Pada tanggal 18 Maret 2007, saat usianya masih menginjak 18 tahun, ia memutuskan untuk menikah dengan sang sutradara, Teddy Soeriaatmadja. Keputusan menikah muda ini sempat mengejutkan publik hiburan tanah air, namun Raihaanun membuktikan bahwa kehidupan berumah tangga tidak menjadi penghalang bagi perkembangan kematangan artistiknya. Pada tanggal 16 Januari 2008, ia melahirkan putra pertamanya, Milan Roushan Karuna Soeriaatmadja.

Setelah sempat membintangi film komedi satir Heart-Break.com pada tahun 2009, Raihaanun kembali mengguncang panggung sinema nasional lewat film independen berbobot tinggi, Lovely Man, yang dirilis pada tahun 2011. Dalam film yang berlatar gemerlap malam kota Jakarta ini, Raihaanun memerankan karakter Cahaya, seorang gadis pesantren berusia 19 tahun yang berhijab dan polos, yang nekat pergi ke ibu kota demi mencari keberadaan sang ayah setelah bertahun-tahun terpisah. Alangkah terkejutnya Cahaya saat mendapati bahwa ayahnya, Ipuy, yang diperankan secara brilian oleh Donny Damara, menyambung hidup sebagai seorang waria jalanan.

Interaksi intens sepanjang satu malam antara Cahaya dan Ipuy di jalanan Jakarta menjadi panggung pembuktian kapasitas akting Raihaanun yang luar biasa. Ia mampu menampilkan transisi emosi yang rumit, perpaduan antara keterkejutan moral, kekecewaan mendalam, kerinduan seorang anak, hingga penerimaan cinta yang tulus tanpa penghakiman. Film Lovely Man melanglang buana ke berbagai festival film internasional bergengsi, mulai dari Palm Springs International Film Festival hingga Asian Film Awards. Puncaknya, di ajang Indonesian Movie Awards 2012, Raihaanun dinobatkan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik, mengukuhkan namanya sebagai aktris muda berdaya pukau tinggi.

Mengenai prinsip profesionalismenya dalam menerima tawaran peran yang menantang, Raihaanun pernah menegaskan komitmen batinnya:

"Saya selalu memilih naskah yang menggetarkan hati dan memiliki tantangan tersendiri. Ketika memutuskan mengambil sebuah peran, saya harus masuk seutuhnya ke dalam jiwa karakter tersebut dan mempertanggungjawabkannya kepada penonton."

Pengakuan Bergengsi Lewat Salawaku dan Puncak Piala Citra Perdana

Memasuki pertengahan dekade 2010-an, reputasi Raihaanun semakin tak terbantahkan sebagai aktris yang sangat mengedepankan kualitas artistik dibandingkan kuantitas penampilan di layar kaca. Ia sangat selektif dan menolak terjebak dalam arus produksi film instan yang hanya mengejar keuntungan komersial semata. Sikap ini berbuah manis pada tahun 2016 ketika ia menerima tawaran membintangi film drama petualangan independen berjudul Salawaku, karya debut sutradara perempuan Pritagita Arianegara.

Dalam film Salawaku, Raihaanun memerankan karakter Binaiya, seorang perempuan muda asal Pulau Seram di Maluku Tengah yang menghadapi kenyataan pahit akibat hamil di luar nikah. Dihantui rasa malu, ancaman hukum adat, dan pengucilan sosial dari komunitas desanya, Binaiya memutuskan mengasingkan diri dan melakukan perjalanan laut penuh kepedihan. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan seorang anak laki-laki bernama Salawaku dan seorang pelancong asal Jakarta, merangkai narasi persahabatan serta pencarian jati diri di tengah lanskap alam Maluku yang megah.

Proses produksi film ini menuntut dedikasi fisik dan mental yang luar biasa berat. Raihaanun rela bermukim selama berminggu-minggu di pedalaman Pulau Seram, membiasakan diri dengan kehidupan pesisir yang minim fasilitas perkotaan, serta mendalami dialek bahasa lokal Maluku secara intensif. Hasilnya adalah penampilan akting yang luar biasa organik. Tanpa perlu banyak kata-kata melodramatis, Raihaanun berhasil menyampaikan gejolak luka batin, kehormatan perempuan yang terkoyak, dan naluri keibuan yang sunyi hanya melalui ekspresi sorot mata dan gestur tubuhnya.

Puncak apresiasi industri perfilman tanah air tiba pada malam anugerah Festival Film Indonesia 2016. Atas penampilannya yang memukau dalam Salawaku, dewan juri FFI secara bulat menganugerahkan trofi Piala Citra untuk kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik kepada Raihaanun. Kemenangan prestisius di usia 28 tahun ini menjadi tonggak sejarah berharga dalam portofolio kariernya, membuktikan bahwa kemampuan aktingnya telah mencapai taraf kematangan tinggi. Pengakuan tersebut disempurnakan setahun berikutnya ketika ia kembali memenangkan trofi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik pada ajang Indonesian Movie Actors Awards 2017.

Puncak Kedewasaan Berakting dan Kekuatan Akting Sunyi dalam 27 Steps of May

Jika Salawaku mengantarkan Raihaanun pada Piala Citra pertamanya, maka film 27 Steps of May yang dirilis secara luas pada tahun 2019 menasbihkan dirinya di puncak tertinggi seni peran Indonesia. Film yang disutradarai oleh Ravi Bharwani dengan naskah brilian garapan Rayya Makarim ini mengangkat isu yang sangat sensitif dan berani, yaitu trauma mendalam akibat kekerasan seksual yang dialami seorang korban dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.

Dalam film tersebut, Raihaanun memerankan karakter utama bernama May. Akibat peristiwa tragis pemerkosaan massal yang dialaminya saat masih berusia belasan tahun, May mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD) akut dan menarik diri sepenuhnya dari interaksi dunia luar. Selama 8 tahun berturut-turut, May menjalani kehidupan yang membeku di dalam kamar rumahnya yang steril, tidak pernah berbicara satu patah kata pun, mengenakan pakaian serba putih, dan menyakiti dirinya sendiri setiap kali ingatan trauma kelam itu kembali menyeruak. Sang ayah, yang diperankan secara menyayat hati oleh Lukman Sardi, diliputi rasa bersalah tak berkesudahan dan menyalurkan amarahnya melalui pertandingan tinju bawah tanah.

Memerankan karakter May merupakan tantangan akting tingkat tinggi yang menuntut penguasaan metode silent acting secara sempurna. Hampir sepanjang 112 menit durasi film, Raihaanun tidak mengucapkan satu bait dialog verbal pun. Seluruh beban penderitaan, kepedihan mendalam, ketakutan histeris saat melihat orang asing, hingga perlahan bangkitnya secercah harapan diekspresikan murni lewat mikro-ekspresi wajah, tarikan napas pendek, getaran jari tangan, dan tatapan mata yang kosong.

Dalam sebuah sesi wawancara mendalam mengenai kompleksitas menyelami jiwa karakter May, Raihaanun mengungkapkan refleksi artistiknya:

"Bagaimana saya menyampaikan emosi dalam hati dalam diam itu jauh lebih sulit daripada berbicara lewat dialog verbal. Keheningan menuntut kejujuran rasa yang utuh di hadapan kamera."

Penampilan tanpa tandingan tersebut menuai banjir pujian dari para pengamat sinema nasional dan internasional. Raihaanun berhasil menyapu bersih penghargaan akting tertinggi pada musim festival tahun 2018 hingga 2020. Di ajang Festival Film Tempo 2018, ia dianugerahi predikat Aktris Utama Pilihan. Pengakuan internasional hadir saat ia memenangkan trofi bergengsi Best Actress pada ajang ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2019 yang digelar di Sarawak, Malaysia. Puncak pengakuan industri sinema dalam negeri terjadi saat namanya diumumkan sebagai pemenang Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2019, menjadikannya peraih dua Piala Citra FFI dari dua kategori akting berbeda. Kemenangan ini disempurnakan dengan raihan gelar Aktris Utama Terpilih pada ajang Piala Maya 2019.

Dinamika Kehidupan Pribadi dan Komitmen Tanpa Kompromi pada Seni Peran

Di balik gemerlap lampu sorot festival dan deretan trofi prestisius yang diraihnya, perjalanan kehidupan personal Raihaanun mengalami dinamika pasang surut yang menguji keteguhan batinnya. Pernikahan yang telah dibina selama lebih dari 16 tahun bersama sutradara Teddy Soeriaatmadja sejak Maret 2007, serta telah dikaruniai 3 anak laki-laki yaitu Milan, Kafka, dan Rumi, akhirnya harus menghadapi babak akhir yang berat.

Pada pertengahan tahun 2023, publik dikejutkan oleh kabar bahwa Pengadilan Agama Tigaraksa telah mengabulkan permohonan cerai yang diajukan oleh Teddy Soeriaatmadja terhadap Raihaanun pada tanggal 15 Juni 2023. Perpisahan ini menarik perhatian luas media hiburan dan memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik. Meski demikian, Raihaanun memilih menyikapi persoalan rumah tangga tersebut dengan kepala dingin dan kedewasaan sikap. Ia menolak larut dalam polemik sensasional di media sosial, memilih menutup rapat privasi keluarganya, serta memfokuskan seluruh perhatiannya pada kesejahteraan batin anak-anaknya dan keberlanjutan karya profesionalnya.

Bagi Raihaanun, seni peran merupakan jangkar kehidupan sekaligus medium katarsis jiwa yang suci. Integritasnya sebagai seniman peran tercermin dari komitmennya yang tanpa kompromi untuk tidak pernah memanfaatkan kehidupan pribadi sebagai alat promosi karya. Ia membuktikan bahwa martabat seorang aktor sejati diukur dari mutu pencapaian di layar perak, bukan dari sensasi di panggung gosip publik.

Raihaanun memandang seni peran dengan kedalaman filosofis yang membumi:

"Seni peran bagi saya bukan semata-mata tentang tampil di depan sorotan kamera, melainkan medium untuk menyuarakan luka, harapan, dan realitas manusia yang sering kali luput dari perhatian masyarakat."

Eksistensi Berkelanjutan dan Karya Sinema Mutakhir Era 2020-an

Memasuki dekade 2020-an, kiprah akting Raihaanun kian memperlihatkan keluasan spektrum karakter dan kedewasaan teknik yang semakin kaya. Ia tidak hanya piawai membintangi film-film drama festival berbobot berat, tetapi juga membuktikan daya tarik magnetisnya dalam produksi film komersial arus utama dan serial digital berstandar tinggi.

Pada akhir tahun 2019, ia tampil memikat dalam film drama romansa dewasa Twivortiare, adaptasi dari novel laris karya Ika Natassa. Beradu akting dengan Reza Rahadian sebagai pasangan suami istri yang bercerai lalu berupaya merajut kembali tali kasih mereka, Raihaanun menghidupkan karakter bankir modern Alexandra Rhea dengan sangat elegan dan cerdas. Performanya kembali diganjar nominasi Aktris Utama Terpilih di Piala Maya 2019. Pada tahun 2021, ia menjelajahi genre horor psikologis lewat film Affliction, memerankan tokoh Nina yang terjebak dalam misteri kelam keluarga mertuanya. Penampilannya dalam film tersebut membuahkan penghargaan Aktris Utama Terbaik Genre Film Horor pada Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2021.

Keserbagunaan aktingnya terus berlanjut saat ia terlibat dalam proyek film horor puitis arahan sutradara maestro Garin Nugroho, Puisi Cinta yang Membunuh pada tahun 2023. Pada tahun yang sama, Raihaanun mengambil langkah berani dengan menerima peran ikonik Kinan Aripurnami dalam film layar lebar produksi MD Pictures, Layangan Putus the Movie. Memerankan karakter seorang ibu tunggal yang harus berhadapan kembali dengan masa lalu luka perselingkuhan mantan suaminya, Raihaanun memberikan kedalaman psikologis baru yang membedakan penampilannya secara terhormat dari versi serial sebelumnya.

Di ranah serial digital, Raihaanun memukau penonton lewat miniseri Gelas Kaca yang tayang di platform Vidio pada tahun 2024, di mana ia memerankan Larasati Rinjani di tengah intrik rumah tangga berkelas atas bersama Rio Dewanto. Puncak eksplorasi budayanya kembali terbukti pada tahun 2025 melalui film drama sejarah Gowok: Kamasutra Jawa yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Berperan sebagai Nyai Ratri Sujita, sosok gowok yang mengajarkan kedewasaan asmara dalam tradisi Jawa kuno, Raihaanun menampilkan aura mistis, ketegasan, dan keibuan yang sangat memukau. Berkat peran tersebut, ia dianugerahi penghargaan Pemeran Pembantu Wanita Terpuji di ajang Festival Film Bandung 2025 serta meraih nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2025.

Memasuki tahun 2026, agenda artistik Raihaanun tetap padat dengan proyek-proyek prestisius, termasuk keterlibatannya dalam serial Tante Sonya serta film layar lebar Keluarga Suami Adalah Hama dan Semua akan Baik-Baik Saja. Perjalanan panjang lebih dari dua dekade di industri hiburan nasional telah menempatkan Siti Hafar Raihaanun Nabilla sebagai pilar terdepan seni peran tanah air. Lewat disiplin baja, kecerdasan emosional, dan kejujuran rasa di setiap helai karakternya, Raihaanun terus menginspirasi generasi baru aktor Indonesia bahwa dedikasi pada seni murni akan selalu melahirkan keabadian karya.

Referensi

  1. Badan Perfilman Indonesia. (2025). Direktori Aktor dan Aktris Perfilman Indonesia: Profil Raihaanun. Jakarta: BPI Press.
  2. Festival Film Indonesia. (2025). Rekam Jejak Pemenang Piala Citra Kategori Pemeran Wanita Terbaik 1955-2025. Komite FFI. https://festivalfilm.id
  3. Harian Kompas. (2019). Kedalaman Akting Hening Raihaanun dalam 27 Steps of May. Harian Kompas Cetak dan Daring. https://www.kompas.id
  4. PDDikti Kemendikbudristek. (2024). Data Mahasiswa Perguruan Tinggi: Siti Hafar Raihaanun Nabilla. PDDIKTI Kemendikbudristek RI. https://pddikti.kemdikbud.go.id
  5. The Jakarta Post. (2019). Raihaanun Wins Best Actress at ASEAN International Film Festival and Awards. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com
  6. Viva Media Network. (2023). Biografi dan Rekam Jejak Prestasi Raihaanun di Sinema Indonesia. Viva.co.id. https://www.viva.co.id
Topik Terkait:#Raihaanun#Biografi Raihaanun#Aktris Indonesia#Piala Citra FFI

Pertanyaan Seputar Tokoh Ini

Siapa nama asli Raihaanun dan kapan ia mengawali kariernya?

Nama aslinya adalah Siti Hafar Raihaanun Nabilla, lahir di Jakarta pada 7 Juni 1988. Ia mengawali kariernya sebagai finalis GADIS Sampul 2003 sebelum membintangi berbagai sinetron dan film layar lebar.

Apa saja penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia yang pernah diraih Raihaanun?

Raihaanun berhasil meraih dua Piala Citra FFI, yakni Pemeran Pendukung Wanita Terbaik lewat Salawaku (2016) dan Pemeran Utama Wanita Terbaik lewat 27 Steps of May (2019).

Mengapa peran Raihaanun dalam film 27 Steps of May dinilai monumental?

Dalam 27 Steps of May, Raihaanun memerankan May dengan metode silent acting nyaris tanpa dialog verbal sepanjang 112 menit, mengandalkan tatapan mata dan mikro-ekspresi emosional yang mengantarkannya meraih Best Actress di AIFFA 2019.

Karya apa saja yang dibintangi Raihaanun pada era 2020-an?

Raihaanun membintangi film Affliction (2021), Layangan Putus the Movie (2023), miniseri Gelas Kaca (2024), serta Gowok: Kamasutra Jawa (2025) yang meraih penghargaan di Festival Film Bandung 2025.

Bagikan:
N

Nurdyansa

Tim redaksi Biografiku.com menyusun artikel ini melalui riset berlapis dari sumber kredibel (Wikidata, arsip berita, dan dokumen resmi) untuk menyajikan biografi tokoh yang akurat dan mutakhir.

Informasi & Rekomendasi Pilihan

Sponsor Content