Beranda Biografi Baskara Putra: Biografi Musisi di Balik Moniker Hindia

Baskara Putra: Biografi Musisi di Balik Moniker Hindia

Jakarta, akhir 2019. Seorang pemuda berdiri di samping panggung sebuah festival musik kampus, memeluk gitar sambil memandang penonton yang hafal lirik lagu barunya dari nada pertama hingga terakhir. Setahun sebelumnya, nama Hindia nyaris tidak dikenal di luar lingkaran skena independen ibu kota. Malam itu, lagu “Secukupnya” menjadi penanda bahwa Baskara Putra sedang menapaki babak baru dalam musik Indonesia: menulis keresahan anak muda urban dengan bahasa sehari-hari, tanpa metafora berlebihan, hampir menyerupai halaman diary yang dibacakan di depan umum.

Baskara Putra - Biografiku.com
Foto: Baskara Putra: Biografi Musisi di Balik Moniker Hindia

Daniel Baskara Putra lahir di Jakarta pada 22 Februari 1994, bungsu dari tiga bersaudara. Ia menempuh pendidikan di SMA Pangudi Luhur Jakarta sebelum melanjutkan studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kombinasi latar belakang jurnalistik, ketertarikan pada sastra, dan hobi bermusik membawanya menjadi salah satu penulis lagu Indonesia paling produktif pada dekade 2010 hingga 2020-an. Ia mendirikan grup rock .Feast pada 2012, membuka jalur solo dengan moniker Hindia pada 2018, lalu membesarkan Lomba Sihir mulai 2021. Di luar panggung, ia juga mendirikan label independen Sun Eater dan sempat menjadi dosen tamu di almamaternya.

Biodata Baskara Putra

KeteranganData
Nama lengkapDaniel Baskara Putra
Nama panggungHindia, Baskara
Tempat, tanggal lahirJakarta, 22 Februari 1994
PendidikanSMA Pangudi Luhur; Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia
PekerjaanPenyanyi, penulis lagu, produser rekaman, komposer
Grup musik.Feast (vokalis, produser), Lomba Sihir (vokalis)
LabelSun Eater (pendiri)
Album soloMenari dengan Bayangan (2019), Lagipula Hidup Akan Berakhir (2023), Doves, ’25 on Blank Canvas (2025)
Penghargaan pentingAMI Award 2020 (Artis Solo Alternatif Terbaik), AMI Award 2023, AMI Award 2024 (Album Alternatif Terbaik, Artis Solo Alternatif Terbaik), AMI Award 2025 (Album Alternatif Terbaik, Artis Solo Alternatif Terbaik), Fortune Indonesia 40 Under 40 (2025)

Tumbuh di Antara Musik dan Halaman Buku

Ketertarikan Baskara pada musik berawal dari lingkungan rumahnya. Kakak laki-lakinya, Adrian Mahendra Putra, adalah pemain bas berbakat yang kelak kerap menemani panggung .Feast dan Hindia sebagai anggota tur. Meski demikian, Baskara justru memilih menekuni tulisan. Ia belajar menulis ulasan musik dan sempat aktif sebagai jurnalis independen. Pilihannya menempuh studi komunikasi di FISIP UI bukan tanpa alasan; ia melihat komunikasi sebagai kunci untuk menyampaikan gagasan kepada publik yang lebih luas.

Di kampus inilah ia mempertemukan rekan-rekan yang kemudian menjadi personel awal .Feast. Grup tersebut resmi berdiri pada 2012 dan perlahan membangun basis penggemar di kalangan mahasiswa Jakarta. Musik mereka memadukan rock alternatif, progresif, dan nuansa naratif sinis dengan kritik sosial-politik yang tajam. .Feast merilis singel “Camkan” pada 2014, lalu menancapkan kukunya lewat album Multiverses pada 2017 dan EP Beberapa Orang Memaafkan setahun berikutnya. Lagu “Peradaban”, kritik keras terhadap intoleransi, menjadi salah satu lagu penting dalam lanskap rock Indonesia modern dan mengangkat .Feast ke panggung-panggung nasional.

Namun kian besar nama .Feast, Baskara justru merasa memerlukan ruang lain untuk menulis hal-hal yang lebih personal dan domestik. Ia ingin berbicara tentang kekhawatirannya sendiri tanpa harus menyamarkannya dalam lapisan metafora khas band. Dorongan itulah yang kelak menjadi cikal bakal proyek solonya.

Hindia, Moniker dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Awalnya, Baskara merencanakan proyek solo ini sebagai usaha utamanya, sementara .Feast ia posisikan sebagai saluran samping untuk kepribadian rock-nya. Kenyataan berkata sebaliknya; .Feast lebih dulu mendapat sorotan publik, sementara naskah lagu solo yang ditulisnya sejak sekitar 2015 tersimpan rapi. Hingga akhir 2018, label independen Double Deer Records mengajaknya bergabung dalam album kompilasi Bertamu, dan lewat lagu “No One Will Find Me” lahirlah nama panggung Hindia.

Pemilihan nama Hindia bukan tanpa makna. Ia meminjam kosakata lama yang merujuk nama kepulauan ini sebelum disebut Indonesia, sekaligus tanda bahwa identitas personalnya tidak bisa dipisahkan dari tanah tempat ia tumbuh. Desember 2018, bersama Petra Sihombing, Enrico Octaviano, Rubina, dan Krautmilk, ia meluncurkan album mini bernuansa perayaan penghujung tahun, Tidak Ada Salju di Sini.

Maret 2019 menjadi titik balik. “Evaluasi” dirilis pada 22 Maret dan segera meresap ke telinga pendengar muda yang merasa liriknya ditulis khusus untuk mereka. Pada 3 Mei hadir “Secukupnya”, disusul “Tinggalkan di Sana” pada 4 Juni dan “Jam Makan Siang” bersama Matter Mos sepuluh hari kemudian. Rangkaian rilisan berkala itu mengerek antisipasi menjelang album penuh pertama Hindia, Menari dengan Bayangan, yang beredar pada November 2019. Album ini memuat “Rumah ke Rumah”, tembang tentang kehilangan dan perjumpaan kembali, serta “Besok Mungkin Kita Sampai”. Karya tersebut memperoleh nominasi Album Terbaik-Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2020, dan Baskara membawa pulang piala Artis Solo Pria atau Wanita Alternatif Terbaik untuk “Rumah ke Rumah”. Bagi pendengar generasinya, album itu menjadi semacam cermin: liriknya menamai kegelisahan yang selama ini sulit mereka ungkapkan.

Lagipula Hidup Akan Berakhir dan Penguatan Posisi

Masa pandemi tidak memperlambat laju penulisan lagunya. Pada 9 Januari 2023, Hindia mengumumkan album kedua bertajuk Lagipula Hidup Akan Berakhir, sebuah album ganda berisi 28 lagu yang dirilis dalam dua bagian, yakni 7 Juli dan 21 Juli 2023. Empat singel menjadi pengantar: “Janji Palsu” (3 Maret), “Masalah Masa Depan” (5 April), “Perkara Tubuh” (18 Mei), dan “Kami Khawatir, Kawan” (2 Juni).

Album ini membedah empat kegelisahan besar zaman, yakni teknologi, inflasi, oligarki, dan krisis iklim, namun tetap menampung lagu-lagu percintaan yang membumi. Salah satunya “Cincin”, yang didedikasikan Baskara kepada pasangannya, Meidiana Tahir. “Cincin” menjadi singel keempat dalam katalognya yang menembus 100 juta kali pemutaran di platform digital, menyusul “Rumah ke Rumah”, “Evaluasi”, dan “Secukupnya”. Video musik “Kita ke Sana”, yang tayang 21 Juni 2024 dan diperankan Teuku Ryzki, Endy Arfian, serta dua aktor muda lainnya, meraih jutaan penayangan dalam hitungan pekan di YouTube.

Siklus album berlanjut ke panggung. Tur Lagipula Hidup Akan Berakhir Album Concert digelar di empat kota dan berpuncak di Jakarta International Velodrome pada 30 September 2023. Di ajang Anugerah Musik Indonesia 2024, album ini membawanya pada enam nominasi, termasuk Album Terbaik-Terbaik. Malam penganugerahan, Hindia memenangi dua kategori, yaitu Album Alternatif Terbaik dan Artis Solo Pria atau Wanita Alternatif Terbaik. Setahun berselang, lewat lagu “everything u are” dan mixtape Doves, ’25 on Blank Canvas, ia mengulang pencapaian serupa sekaligus mengukuhkan posisinya di lini depan musik alternatif tanah air.

Lomba Sihir, Sun Eater, dan Pengakuan di Luar Nada

Di sela karier solonya, Baskara merawat kerja kolektif dan membangun bisnis. Pada 2021 ia membentuk Lomba Sihir bersama para personel band pengiring panggungnya, kolaborator bernuansa new wave yang merilis album perdana berisi materi bernyawa kota metropolitan. Lomba Sihir tidak menggeser fokusnya dari Hindia, melainkan menjadi ruang bermain yang lebih ringan, demokratis, dan terbuka terhadap eksperimen.

Sebagai pendiri label Sun Eater, Baskara turut menaungi talenta-talenta independen, antara lain Rendi Pandugo dan sederet musisi muda lain. Model kerja ini memberi artis ruang untuk mengontrol proses produksi dan distribusi karya sendiri, tanpa banyak intervensi perusahaan besar. Ekspansi tak berhenti di situ. Pada Juli 2024, Hindia merilis kolaborasi internasional “Right Where You Left Me” bersama penyanyi Amerika eaJ, tanda gerak keluar dari pasar domestik. Pada Februari 2024, ia juga menggelar rangkaian pertunjukan kecil di Osaka dan Tokyo, Jepang, selama tiga hari, membawakan lagu-lagu berbahasa Indonesia di depan publik Negeri Sakura.

Pengakuan dari luar industri musik datang pada Fortune Indonesia Summit yang digelar 6 Februari 2025 di The Westin Jakarta. Baskara masuk daftar Fortune Indonesia 40 Under 40, apresiasi bagi figur muda paling berpengaruh yang belum berusia 40 tahun per 31 Desember 2024. Ia juga pernah kembali ke ruang kuliah almamaternya, FISIP UI, sebagai dosen tamu, berbagi pengalaman industrinya dengan adik tingkat.

Berbicara tentang konser Lagipula Hidup Akan Berakhir dan ritme kerjanya yang padat, Baskara menulis di media sosialnya:

“Terima kasih bagi kawan-kawan yang sudah mendengarkan. Tanpa hal seperti ini, jadwal yang gila-gilaan belakangan ini pasti sangat menguras batin dan menyebalkan.”

Ia juga menjelaskan alasan banyaknya video musik dari satu album:

“Karena keseluruhan album LHAB memiliki sangat banyak lagu, rasanya mubazir jika tidak memaksimalkan katalog tersebut dan menciptakan berbagai musik video sebelum siklus pemasarannya selesai.”

Jejak di Luar Panggung

Di luar gemerlap panggung, Baskara Putra membina hidup bersama Meidiana Tahir, perempuan yang dinikahinya pada 2023. Kisah mereka menemukan ruang di banyak lagunya, mulai dari “Secukupnya” hingga “Cincin”. Dalam berbagai kesempatan, ia terbuka soal kesehatan mental, pengalamannya menjalani terapi, dan pentingnya mengakui luka batin. Keterbukaan itu menjadikan musiknya jembatan emosional antara artis dan pendengar.

Ia juga tidak asing dengan polemik. Dalam salah satu konsernya, penggunaan kain penutup mata penonton serta elemen dekoratif panggung sempat memicu tudingan keliru dari sebagian warganet soal simbolisme tertentu. Baskara menanggapinya dengan penjelasan bahwa seluruh unsur pentas dibuat murni sebagai tradisi apresiasi visual, bukan pesan terselubung yang dituduhkan.

Dari meja redaksi kampus sampai velodrome berkapasitas ribuan, Baskara Putra telah menempuh jalur yang ia tulis sendiri. Ia menolak tinggal dalam satu identitas: rocker provokatif di .Feast, penulis diary di Hindia, kolektivis di Lomba Sihir, sekaligus wirausahawan di Sun Eater. Yang tersisa dari segenap proses itu adalah katalog lagu yang terus dinyanyikan generasinya, kala kalimat sehari-hari tak lagi cukup untuk menamai rasa.

Diskografi Utama

Sepanjang 13 tahun berkarier, Baskara Putra telah menyusun disko grafik yang lintas medium dan lintas proyek. Berikut ringkasannya:

Sebagai Hindia (solo):

  • Album: Menari dengan Bayangan (2019); Lagipula Hidup Akan Berakhir (2023)
  • Album mini: Tidak Ada Salju di Sini (2018, berkolaborasi)
  • Mixtape: Doves, ’25 on Blank Canvas (2025)
  • Singel terkemuka: Evaluasi, Secukupnya, Rumah ke Rumah, Janji Palsu, Cincin, Right Where You Left Me (bersama eaJ)

Bersama .Feast:

  • Album: Multiverses (2017); EP Beberapa Orang Memaafkan (2018); album studio kedua (2020)

Bersama Lomba Sihir:

  • Album: Laba-Laba (2021); Laba-Laba 2 (2024)

Melalui diskografi tersebut, Baskara membuktikan bahwa katalog panjang tidak berarti pengulangan. Setiap proyeknya membawa identitas masing-masing, berbeda jangkauan emosi dan sudut pandang, tetapi diikat oleh satu ciri: penulisan lagu yang membahas ketakutan zaman tanpa kehilangan empati.

Referensi

  • Kompas.id. “Hindia, Berkibar lewat Cincin”, 2 Juli 2024.
  • Wikipedia Bahasa Indonesia. “Baskara Putra”.
  • Anugerah Musik Indonesia. Pengumuman pemenang AMI Awards 2020, 2023, 2024, 2025.
  • Fortune Indonesia. “40 Under 40”, Fortune Indonesia Summit, 6 Februari 2025.
  • Sun Eater / Hindia. Rilisan resmi Menari dengan Bayangan (2019) dan Lagipula Hidup Akan Berakhir (2023).
📖 Bagaimana cara mengutip artikel ini?
Format APA
Nurdyansa (2026). Baskara Putra: Biografi Musisi di Balik Moniker Hindia. BiografiKu.com | Profil dan Biografi Tokoh Terkenal. Diakses pada 19 September 2026, dari https://www.biografiku.com/baskara-putra-biografi-musisi-di-balik-moniker-hindia/
Format MLA
Nurdyansa. "Baskara Putra: Biografi Musisi di Balik Moniker Hindia." BiografiKu.com | Profil dan Biografi Tokoh Terkenal, 17 September 2026, https://www.biografiku.com/baskara-putra-biografi-musisi-di-balik-moniker-hindia/. Diakses pada 19 September 2026.
Format Chicago
Nurdyansa. "Baskara Putra: Biografi Musisi di Balik Moniker Hindia." BiografiKu.com | Profil dan Biografi Tokoh Terkenal. terakhir dimodifikasi 17 September 2026. https://www.biografiku.com/baskara-putra-biografi-musisi-di-balik-moniker-hindia/.
Format Harvard
Nurdyansa (2026) 'Baskara Putra: Biografi Musisi di Balik Moniker Hindia', BiografiKu.com | Profil dan Biografi Tokoh Terkenal, 17 September 2026. Tersedia di: https://www.biografiku.com/baskara-putra-biografi-musisi-di-balik-moniker-hindia/ (Diakses: 19 September 2026).

Advertisement
Nurdyansa
Nurdyansa adalah penulis dan editor utama Biografiku.com. Sejak 2019 ia meneliti, menulis, dan menyunting ratusan biografi tokoh Indonesia dan dunia dengan rujukan sumber terverifikasi. Tentang situs ini ia berkata: '...Sejarah akan meninggikan mereka yang memang layak dimuliakan dan sejarah juga akan menghitamkan mereka yang layak dijatuhkan - NS'