Seorang guru berusia 22 tahun bernama Hasan al-Banna mendirikan perkumpulan kecil di kota terusan Ismailiyah pada Maret 1928. Perkumpulan itu, Ikhwanul Muslimin, kelak menjadi gerakan Islam politik terbesar dan paling awet di abad ke-20, dengan cabang di puluhan negara. Lebih dari tujuh puluh tahun setelah al-Banna dibunuh di Kairo, nama organisasi yang dirintisnya kembali menjadi sorotan dunia ketika Amerika Serikat menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris pada Januari 2026.

Biodata & Profil Singkat
| Data | Keterangan |
| Nama Lengkap | Hasan Ahmad Abdurrahman al-Banna |
| Lahir | 14 Oktober 1906, Mahmudiyah, Mesir |
| Wafat | 12 Februari 1949, Kairo, Mesir (dibunuh) |
| Almamater | Darul Ulum, Kairo (lulus 1927) |
| Peran Utama | Pendiri Ikhwanul Muslimin (1928) |
| Julukan | Asy-Syahid al-Imam (Imam Syahid) |
| Organisasi | Ikhwanul Muslimin, majalah Al-Manar, As-Syabab |
Anak Guru dari Mahmudiyah
Hasan al-Banna lahir pada 14 Oktober 1906 di Mahmudiyah, sebuah kota kecil di delta Sungai Nil, provinsi Buhayrah. Ayahnya, Ahmad Abdurrahman al-Banna, adalah seorang guru dan imam masjid setempat yang dikenal sebagai ahli hadis serta penyusun risalah tajwid terkenal. Dari rumah yang sederhana itu, al-Banna kecil menghafal Al-Quran dan menimba ilmu agama langsung dari sang ayah.
Kesadaran politiknya tumbuh cepat. Pada usia 13 tahun, dia sudah aktif dalam perlawanan terhadap pendudukan Inggris di Mesir dan menjadi anggota beberapa perkumpulan reformis. Semangat itu tidak luntur ketika dia pindah ke Kairo untuk belajar di Darul Ulum, sekolah tinggi yang mendidik calon guru dengan kurikulum campuran ilmu agama dan umum. Di ibu kota, al-Banna berguru pada pemikiran Muhammad Abduh dan Rashid Rida, dua tokoh pembaharu Islam yang tulisannya kerap dimuat majalah Al-Manar.
Al-Banna lulus pada 1927 dan ditugaskan mengajar bahasa Arab di sekolah dasar pemerintah di Ismailiyah, kota terusan yang dijajah ekonomi Inggris dan menjadi markas kompi tentara asing. Di kota inilah dia menyaksikan langsung kemiskinan petani lokal yang kontras dengan kemewahan kolonial di sekitarnya, pengalaman yang kemudian membentuk cara pandangnya mengenai keterkaitan Islam dengan urusan sosial dan politik.
Kelahiran Ikhwanul Muslimin di Tepi Terusan Suez
Pada Maret 1928, enam pekerja terdidik mendatangi al-Banna di Ismailiyah. Mereka menyampaikan kegelisahan tentang kondisi umat Islam Mesir yang terjajah dan jauh dari ajaran agamanya, lalu bertanya apa yang harus mereka lakukan. Dari percakapan itulah Ikhwanul Muslimin lahir sebagai gerakan dakwah yang memadukan pemurnian akidah dengan pembelaan terhadap rakyat tertindas.

Al-Banna merumuskan arah gerakannya dalam sebuah motto yang kini dikenal luas.
“Allah adalah tujuan kami, Rasul adalah pemimpin kami, Al-Quran adalah undang-undang kami, jihad adalah jalan kami, dan mati syahid adalah cita-cita tertinggi kami.”
Motto itu diringkas menjadi “Al-Islam din wa dawlah”, Islam adalah agama sekaligus negara. Ikhwanul Muslimin tidak berhenti di kajian keagamaan. Mereka membangun sekolah, rumah sakit, bengkel, dan koperasi. Pada 1932 al-Banna dipindahkan tugasnya ke Kairo dan gerakan itu ikut berkembang pesat di ibu kota. Menjelang akhir 1930-an, keanggotaannya sudah menembus ratusan ribu orang dengan jaringan di Suriah, Sudan, dan negara Arab lainnya, jumlah yang luar biasa untuk sebuah gerakan yang berumur belasan tahun.
Selama Perang Dunia II, al-Banna memimpin oposisi keras terhadap kehadiran Inggris di Mesir. Pada 1948, saat Raja Farouk mengirim tentara ke Palestina, para relawan Ikhwan justru ikut berperang melawan Zionis. Ketika pemerintah Mesir kemudian membubarkan organisasi itu pada Desember 1948 dan menyita asetnya, ketegangan memuncak. Seorang mahasiswa Ikhwan membunuh Perdana Menteri Mahmud Fahmi an-Nuqrasyi pada 28 Desember 1948, peristiwa yang menjadi pemicu rangkaian pembalasan berdarah.
Kematian di Depan Gedung Asosiasi Pemuda Muslim
Pada 12 Februari 1949, al-Banna ditembak di depan markas Asosiasi Pemuda Muslim Syubrah di Kairo oleh sekelompok petugas keamanan. Dia dibawa ke rumah sakit dalam mobil polisi, namun nyawanya tidak tertolong. Al-Banna wafat pada usia 42 tahun. Keluarganya baru mengetahui lokasi pemakamannya dari pemberitahuan resmi sepekan kemudian, dan barisan istrinya dilarang berkabung secara terbuka.
Al-Banna sendiri telah menulis sebuah kalimat yang tampak meramalkan akhir hidupnya.
“Kami tidak akan berhenti berdakwah, dan hanya ada dua jalan bagi kami: kemenangan atau mati syahid.”
Pembunuhan itu tidak menamatkan pengaruhnya. Dalam hitungan tahun, Ikhwanul Muslimin bangkit kembali di bawah kepemimpinan penerus seperti Hasan al-Hudaybi dan Sayyid Qutb. Gerakan itu bertahan melalui penjara, pengasingan, dan larangan berganti-ganti rezim, dari era monarki hingga kepresidenan Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat, dan Hosni Mubarak. Ide pembaharuan Islam yang dirumuskan al-Banna menyebar ke Yordania, Kuwait, Sudan, Suriah, hingga Asia Tenggara, termasuk melahirkan inspirasi bagi organisasi seperti al-Ikhwan al-Muslimun cabang Yordania yang kelak dipimpin tokoh-tokoh penting politik Yordania modern.
Jejak Pemikiran dan Pengaruh di Indonesia
Pemikiran al-Banna menjangkau Nusantara sejak era kemerdekaan. Majalah-majalah Islam Indonesia pada 1950-an rutin memuat terjemahan traktatnya, dan tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir serta Hamka tercatat mengapresiasi gagasannya mengenai Islam sebagai solusi problem sosial. Ketika buku-buku al-Banna beredar luas pasca-1965, pengaruhnya membentuk cara berpikir sebagian besar gerakan dakwah kampus Indonesia pada era 1970-an hingga kini.
Pada pertengahan 1940-an, al-Banna sempat berinteraksi langsung dengan para pemimpin Indonesia. Arsip historis mencatat kedatangan delegasi Indonesia ke Mesir, termasuk pertemuan yang melibatkan tokoh perjuangan seperti Haji Agus Salim, yang tersimpan dalam dokumentasi Wikimedia Commons dengan judul “Hasan al-Banna dan Agus Salim”. Hubungan intelektual dua arah ini menjadikan Mesir, khususnya Universitas Al-Azhar, salah satu pusat rujukan pemikiran Islam modern bagi para santri Indonesia selama beberapa generasi.
Warisan yang Terus Digugat, 2024 hingga 2026
Babak mutakhir warisan al-Banna jauh lebih bergolak. Setelah presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi menjatuhkan pemerintahan Muhammad Mursi, tokoh Ikhwan terpilih yang berasal dari tradisi al-Banna, pada 2013, organisasi itu dilarang dan ditetapkan sebagai organisasi teroris di Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Bahrain. Puluhan ribu anggotanya dipenjara, sementara para pemimpinnya mengungsi di Turki dan Qatar.
Tekanan internasional meningkat drastis pada Januari 2026. Amerika Serikat, yang selama puluhan tahun menolak mengkriminalisasi Ikhwanul Muslimin secara keseluruhan, berbalik menetapkan gerakan itu sebagai organisasi teroris. Departemen Luar Negeri AS melalui rilis resmi pada Januari 2026 juga menetapkan cabang Ikhwanul Muslimin di Mesir, Yordania, dan Lebanon sebagai Foreign Terrorist Organization atau organisasi teroris asing. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan langkah itu dengan menyebut keterkaitan cabang-cabang tersebut dengan Hamas, gerakan yang sudah lebih dulu masuk daftar FTO Amerika.
“Ikhwanul Muslimin dan cabang-cabangnya di Mesir, Yordania, dan Lebanon telah lama menyalurkan dukungan kepada Hamas, dan penetapan ini memastikan mereka tidak dapat lagi memanfaatkan sistem keuangan kita.”
Kebijakan itu bukan tanpa kritik. Sejumlah analis Timur Tengah menilai penetapan tersebut mengabaikan fakta bahwa cabang Yordania merupakan bagian resmi dari arus utama politik kerajaan, dengan puluhan kursi parlemen dan keterlibatan dalam pemerintahan. Pemerintah Yordania sendiri menyatakan keberatan, sementara kelompok masyarakat sipil Mesir mempersoalkan dampaknya bagi komunitas pengungsi Palestina di Lebanon yang selama ini ditangani lembaga amal terafiliasi Ikhwan.
Bagi pengkaji sejarah, kontradiksi itu justru menegaskan skala warisan Hasan al-Banna. Sebuah organisasi yang dimulai dari enam pekerja di Ismailiyah kini diharamkan di sebagian besar negara tempatnya lahir, namun tetap menjadi rujukan bagi jutaan Muslim yang meyakini gagasan Islam dan kenegaraan. Hampir satu abad setelah 1928, perdebatan mengenai gerakan ciptaan sang guru muda itu belum juga selesai.
Referensi
U.S. Department of State. (2026). Terrorist designations of Muslim Brotherhood chapters. Office of the Spokesperson. https://www.state.gov/releases/office-of-the-spokesperson/2026/01/terrorist-designations-of-muslim-brotherhood-chapters/
Mada Masr. (2026). US designates Muslim Brotherhood terrorist organization in Egypt, Jordan, Lebanon citing ties to Hamas. Mada Masr. https://madamasr.com/en/2026/01/17/news/u/us-designates-muslim-brotherhood-terrorist-organization-in-egypt-jordan-lebanon-citing-ties-to-hamas/
Wikipedia. (2026). Hassan al-Banna. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Hassan_al-Banna
Al Jazeera. (2026). US labels Muslim Brotherhood orgs in Egypt, Lebanon, Jordan as terrorist. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/1/13/us-labels-muslim-brotherhood-orgs-in-egypt-lebanon-jordan-as-terrorist
Mitchell, Richard P. (1993). The Society of the Muslim Brothers. New York: Oxford University Press.



























