Pada 24 Februari 2025, di Istana Negara Jakarta, Presiden Prabowo Subianto meresmikan Badan Pengelola Investasi Danantara, lembaga sovereign wealth fund bernilai ratusan miliar dolar Amerika Serikat yang dirancang menjadi motor baru pengelolaan kekayaan negara. Di deretan pucuk pimpinannya berdiri seorang bankir kelahiran Nagari Tanjung Alam, Tanah Datar, Sumatera Barat, yang dua puluh tujuh tahun sebelumnya mengawali karier dari meja layanan pelanggan sebuah bank swasta. Ia adalah Dony Oskaria, profesional yang meniti jalan panjang dari dunia perbankan dan industri pariwisata hingga dipercaya Presiden sebagai Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara pada 8 Oktober 2025.


Perjalanan Dony Oskaria kerap disebut sebagai contoh karier korporat Indonesia yang dibangun dari bawah. Lahir pada 26 September 1969 di Tanjung Alam, Tanah Datar, dari keluarga sederhana, ia menamatkan sekolah dasar di kampung halamannya sebelum melanjutkan pendidikan menengah di SMP Negeri 7 Padang, sempat bersekolah di SMP Negeri 75 Kebon Jeruk, lalu menamatkan bangku SMA di SMA Negeri 78 Jakarta. Dari kota pelajar inilah langkahnya terus menanjak, melintasi tiga dekade karier di grup usaha swasta besar, maskapai nasional Garuda Indonesia, holding pariwisata negara, hingga lembaga tertinggi pengatur perusahaan pelat merah.
Biodata Dony Oskaria
| Data | Keterangan |
| Nama lengkap | Dony Oskaria |
| Tempat, tanggal lahir | Tanjung Alam, Tanah Datar, Sumatera Barat, 26 September 1969 |
| Istri | Vivi Novita Zarlina |
| Pendidikan | Akuntansi Universitas Andalas (1989-1990), S1 Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, MBA Asian Institute of Management Filipina (2009) |
| Profesi | Bankir, profesional korporasi, pejabat negara |
| Jabatan | Kepala Badan Pengaturan BUMN (sejak 8 Oktober 2025), Direktur Operasional BPI Danantara (sejak 24 Februari 2025) |
| Riwayat jabatan penting | Plt Menteri BUMN (17 September sampai 2 Oktober 2025), Wakil Menteri BUMN (2024-2025), Direktur Utama InJourney (2021-2024), Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia (2020-2021) |
Dari Nagari Tanjung Alam ke Ruang Kuliah
Masa kecil Dony Oskaria dihabiskan di Nagari Tanjung Alam, sebuah kawasan di kaki perbukitan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Keluarganya hidup dalam keterbatasan ekonomi, namun tradisi masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi pendidikan membuatnya bertekad merantau untuk menuntut ilmu. Setamat SD di kampung, ia melanjutkan sekolah ke Padang, kemudian ikut keluarga ke Jakarta dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di sana.
Pada 1989 Dony diterima di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang. Namun jurusan tersebut dirasanya tidak cocok, sehingga pada 1990 ia memutuskan pindah ke Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung. Keputusan itu membawanya masuk ke dunia yang lebih sesuai dengan minatnya pada relasi antarnegara dan diplomasi. Ia menyelesaikan sarjananya pada tahun 1994; sebagian sumber resmi pemerintah mencatat kelulusannya tahun 1996, bersamaan dengan rampungnya seluruh ketentuan akademiknya. Hampir dua dekade kemudian, saat karier korporatnya sudah mapan, ia masih kembali ke bangku kuliah dan meraih gelar Master of Business Administration dari Asian Institute of Management di Filipina pada 2009. Langkah memperdalam ilmu manajemen di tengah kesibukan puncak korporasi itu menunjukkan kesadaran bahwa pengalaman lapangan perlu terus diimbangi fondasi akademik yang kuat.
Meniti Karier dari Meja Layanan Pelanggan
Karier profesional Dony dimulai pada 1995 di Bank Universal. Posisi pertamanya jauh dari gemerlap ruang direksi, yakni petugas layanan pelanggan atau call center. Setiap hari ia berhadapan dengan pertanyaan, keluhan, dan beragam karakter nasabah; dari pengalaman paling dasar inilah pemahamannya tentang bisnis jasa dibangun, sebelum bertahap naik meniti tangga organisasi. Dari pos pelayanan langsung nasabah itulah ia mempelajari denyut industri jasa keuangan. Ketekunannya berbuah cepat. Lima tahun bekerja, ia sudah dipercaya menduduki jabatan Vice President dan memimpin divisi perbankan pribadi hingga menjadi kepala divisi. Pengalaman melayani nasabah langsung di lini terdepan kelak kerap ia sebut sebagai bekal utama dalam membaca karakter konsumen, keterampilan yang kemudian berguna ketika ia pindah mengelola bisnis ritel, perhotelan, dan pariwisata.
Tahun 2004 menjadi titik balik ketika Dony bergabung dengan Bank Mega, bank milik konglomerasi CT Corp pimpinan Chairul Tanjung. Di sinilah kariernya melebar ke berbagai lini usaha. Ia menjabat Regional Manager Jawa Barat pada 2010, lalu diangkat menjadi Direktur Bank Mega pada periode 2012 hingga 2014. Kepercayaan itu terus bertambah. Sejak 2014 ia dipercaya memimpin sejumlah unit usaha besar grup, antara lain sebagai Presiden Direktur Trans Studio Mall, Direktur Utama AntaVaya, kemudian Direktur Hospitality and Entertainment CT Corp periode 2018 hingga 2020, mengelola jaringan hotel, mal, kawasan hiburan, dan biro perjalanan.
Pada Januari 2016, pemerintah turut menaruh perhatian pada kiprahnya. Presiden Joko Widodo mengangkatnya sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden Bidang Ekonomi dan Industri pada Komite Ekonomi dan Industri Nasional, sekaligus memimpin kelompok kerja industri pariwisata yang bertugas merumuskan arah pengembangan pariwisata nasional. Keterlibatan di lembaga itu mempertemukannya dengan para perumus kebijakan ekonomi dan menambah dimensi baru dalam portofolio profesionalnya: dari pengelola swasta menjadi jembatan antara dunia usaha dan pemerintahan, terutama pada sektor pariwisata yang tengah diupayakan menjadi sumber devisa utama negara.
Dedikasi untuk Garuda Indonesia
Keterlibatan CT Corp sebagai investor di Garuda Indonesia membawa Dony masuk ke jajaran Dewan Komisaris maskapai pelat merah itu sejak 2014 hingga 2019. Salah satu momen yang paling diingat publik adalah sikap tegasnya pada 2019, ketika ia bersama Chairal Tanjung menolak menandatangani laporan keuangan Garuda Indonesia tahun buku 2018. Penolakan itu didasari ketidaksesuaian pencatatan pendapatan dari kerja sama Garuda Indonesia Group dengan PT Mahata Aero Teknologi terhadap standar akuntansi. Sikap profesional tersebut sempat memicu polemik besar dan pada akhirnya memaksa koreksi praktik pelaporan di perusahaan penerbangan nasional.
“Adapun dengan mengakui pendapatan dari perjanjian Mahata maka perusahaan membukukan laba sebesar 5.018.308 dolar Amerika Serikat,” tulis Chairal Tanjung dan Dony Oskaria dalam surat keberatan resmi kepada manajemen Garuda Indonesia, menguraikan dasar penilaian bahwa pengakuan pendapatan itu tidak sesuai dengan standar akuntansi. Bagi Dony, integritas tata kelola bukan sekadar formalitas laporan tahunan, melainkan fondasi kepercayaan publik terhadap perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di bursa.
Pada 22 Januari 2020, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Dony resmi ditunjuk sebagai Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, posisi yang diembannya hingga 2021. Ia juga menjabat Komisaris Citilink pada 2019 sampai 2022. Masa tugasnya di Garuda bertepatan dengan salah satu babak tersulit dalam sejarah dunia penerbangan, yakni pandemi COVID-19 yang meluluhlantakkan permintaan perjalanan udara global dan menyeret maskapai ke upaya restrukturisasi utang besar-besaran.
Memimpin Holding InJourney
Pada 2021, pemerintah Indonesia membentuk holding BUMN bidang aviasi dan pariwisata bernama Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney, yang menggabungkan Garuda Indonesia, Angkasa Pura I, dan belasan anak usaha pelat merah di sektor perhotelan, pengelolaan destinasi, dan ritel. Dony Oskaria ditunjuk sebagai Direktur Utama, dengan Triawan Munaf sebagai komisaris.
Tugas yang diemban bukan perkara mudah: menggabungkan puluhan perusahaan dengan budaya kerja dan kondisi keuangan beragam menjadi satu holding yang efisien menuntut kemampuan manajemen lintas sektor. Di bawah kepemimpinannya, InJourney menjalankan agenda konsolidasi pasca pandemi: menata ulang operasional maskapai Garuda Indonesia yang baru saja lolos dari proses restrukturisasi lewat Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, mengintegrasikan unit perhotelan BUMN ke dalam satu platform, mengembangkan pengelolaan destinasi wisata unggulan, serta menjadikan holding tersebut pengelola berbagai gelaran berskala nasional dan internasional yang menggunakan aset negara, seperti perhelatan olahraga dan kegiatan pemerintahan di Bali, Mandalika, dan Borobudur. Ia memimpin holding itu dari 2021 hingga 2024, sebelum melepas jabatan ketika dipanggil masuk kabinet.
Panggilan Negara: Dari Wakil Menteri ke Kepala BP BUMN
Pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto melantik Kabinet Merah Putih. Dony Oskaria diangkat sebagai Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 73/M Tahun 2024, mendampingi Menteri Erick Thohir bersama Kartika Wirjoatmodjo dan Aminuddin Ma’ruf.
Jalan kariernya di pemerintahan bergerak cepat. Pada 24 Februari 2025, ketika Presiden meluncurkan Badan Pengelola Investasi Danantara, Dony ditunjuk sebagai Direktur Operasional, berdampingan dengan Rosan Perkasa Roeslani sebagai Direktur Utama dan Pandu Patria Sjahrir sebagai Direktur Investasi. Di posisi ini ia bertugas memastikan operasional investasi negara berjalan sesuai mandat, tata kelola, dan strategi jangka panjang.
Perubahan besar terjadi pada September 2025. Ketika Erick Thohir digeser menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga, Dony ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Menteri BUMN mulai 17 September 2025, memimpin kementerian dalam masa transisi. Sebulan kemudian, pada 8 Oktober 2025, Presiden menandatangani Keputusan Presiden Nomor 109/P Tahun 2025 dan melantiknya sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN, lembaga baru yang mengambil alih fungsi pengaturan perusahaan pelat merah seiring berdirinya Danantara sebagai pengelola investasi. Dengan amanah itu, bankir asal Tanah Datar ini resmi berada di garda terdepan kebijakan BUMN Indonesia bersama Wakil Kepala Aminuddin Ma’ruf. Pembentukan BP BUMN sendiri merupakan bagian dari arsitektur baru pengelolaan perusahaan negara: fungsi pengaturan dipegang badan tersebut, sementara fungsi pengelolaan investasi dijalankan Danantara. Ia menjadi Kepala BP BUMN ketiga dalam sejarah lembaga ini, meneruskan jejak pendahulunya termasuk Laksamana Sukardi yang pernah memimpin lembaga pengaturan BUMN di era reformasi awal.
Kehidupan Pribadi dan Jejak Usaha Mandiri
Di luar jabatan publik, Dony Oskaria dikenal sebagai pengusaha yang tetap aktif di akar rumputnya di Sumatera Barat. Bersama Muhammad Lutfi, ia mengembangkan sejumlah hotel, restoran, dan resort di Jakarta dan Padang, serta mendorong pengembangan agroindustri di kampung halamannya. Ia berumah tangga dengan Vivi Novita Zarlina. Jejak usaha mandirinya itu menunjukkan bahwa panggilan negara tidak memupus naluri wirausahanya; keduanya berjalan seiring, sebagaimana ia jalani sejak era swasta hingga kini duduk di kursi pengatur BUMN.
Kisah hidupnya kerap dipetik sebagai pelajaran: bahwa titik awal karier tidak menentukan titik akhirnya. Dari ruang pramuniaga layanan pelanggan di sebuah bank swasta, lewat konsistensi, keberanian mengambil keputusan, dan reputasi profesional yang terjaga puluhan tahun, Dony Oskaria kini mengemban salah satu amanah terbesar dalam sejarah pengelolaan kekayaan negara Republik Indonesia.
Referensi
- Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia. “Daftar Pengurus BP BUMN.” https://bpbumn.mn.co.id. Diakses 16 September 2026.
- CNBC Indonesia. “Perkara US$ 239 Juta, Laporan Keuangan Garuda Dipertanyakan.” 24 April 2019.
- Kontan. “Prestasi InJourney.” https://kontan.co.id. 11 Oktober 2022.
- Wikipedia Bahasa Indonesia. “Dony Oskaria.” id.wikipedia.org/wiki/Dony_Oskaria.
























