Pramono Anung Wibowo adalah politikus PDI Perjuangan yang menjabat Gubernur DKI Jakarta ke-18 sejak 20 Februari 2025. Ia lahir di Kediri, 11 Juni 1963, dan sebelumnya menghabiskan sembilan tahun sebagai Sekretaris Kabinet mendampingi Presiden Joko Widodo. Kariernya membentang dari dunia pertambangan, parlemen Senayan, hingga pucuk kepemimpinan ibu kota.

Februari 2025 menjadi titik balik panjang karier Pramono Anung. Setelah hampir satu dekade mendampingi Presiden Joko Widodo sebagai Sekretaris Kabinet, politikus yang akrab disapa Mas Pram itu berdiri di hadapan jutaan warga Jakarta sebagai gubernur terpilih. Pelantikan pada 20 Februari 2025 mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin ibu kota periode 2025-2030, sebuah amanah yang diraih lewat kemenangan tipis namun meyakinkan sebesar 50,07 persen suara pada Pilkada Jakarta 2024. Bagi publik Jakarta, sosoknya bukan orang baru dalam lingkaran kekuasaan, tetapi kini ia memegang kendali langsung atas kota yang menjadi jantung ekonomi Indonesia.
Pramono Anung lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 11 Juni 1963. Ia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan R. Kasbe Prajitna dan Sumarni. Pendidikan dasar hingga menengahnya diselesaikan di kota kelahirannya, mulai dari SD Pawyatan Daha, SMP Pawyatan Daha, hingga SMA Negeri 1 Kediri yang diselesaikannya pada 1982. Masa mudanya dihabiskan di lingkungan akademik yang kompetitif, Institut Teknologi Bandung, tempat ia mengambil jurusan Teknik Pertambangan. Di kampus ini, Pramono tidak hanya belajar ilmu eksakta. Ia aktif berorganisasi, memimpin Himpunan Mahasiswa Tambang ITB pada 1985-1986, dan menjadi Ketua Forum Komunikasi Dewan Mahasiswa Departemen ITB periode 1986-1987. Pengalaman kepemimpinan kampus itu menjadi bekal awalnya kelak berhadapan dengan dinamika politik yang jauh lebih kompleks.
Biodata Pramono Anung
| Keterangan | Detail |
| Nama Lengkap | Pramono Anung Wibowo |
| Tempat, Tanggal Lahir | Kediri, 11 Juni 1963 |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Partai Politik | PDI Perjuangan |
| Jabatan Saat Ini | Gubernur DKI Jakarta (2025-2030) |
| Pasangan | Endang Nugrahani (menikah 1991) |
| Anak | Hanindhito Himawan Pramana, Hanifa Fadhila Pramono |
| Pendidikan | S1 Teknik Pertambangan ITB, MM Universitas Gadjah Mada, Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (2013) |
| Karier Penting | Sekretaris Kabinet RI (2015-2024), Wakil Ketua DPR RI (2009-2014), Sekjen PDI-P (2005-2010) |
Meniti Karier dari Dunia Tambang ke Senayan
Sebelum terjun ke politik praktis, Pramono menapaki karier korporat di sektor pertambangan. Ia menduduki posisi direktur di PT Tanito Harum dari 1988 hingga 1996 dan PT Vietmindo Energitama, perusahaan yang beroperasi di Vietnam. Setelah itu, ia beralih menjadi komisaris di beberapa perusahaan konstruksi seperti PT Yudhistira Haka Perkasa dan PT Mandira pada periode 1996 hingga 1999. Pengalaman manajerial di sektor swasta tersebut memberinya pemahaman teknis yang kuat soal operasional dan tata kelola organisasi besar.
Titik balik hidupnya datang pada 1998, saat Reformasi mengubah peta politik Indonesia. Pramono memutuskan bergabung dengan PDI Perjuangan, partai yang saat itu menjadi simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Dengan latar belakang pendidikan teknik dan pengalaman korporat, ia cepat menyesuaikan diri dengan iklim politik yang cair. Pada 1999, ia langsung terpilih sebagai anggota DPR RI mewakili daerah pemilihan Jawa Timur, khususnya wilayah Tulungagung. Kemenangan ini mengawali empat periode berturut-turutnya di Senayan hingga 2015.
Di parlemen, Pramono dikenal sebagai komunikator yang lihai. Ia tidak membangun citra sebagai orator yang menggebu-gebu, melainkan pelobi yang bekerja di balik layar. Keterampilan ini terasah saat ia menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P pada 2000, lalu naik menjadi Sekretaris Jenderal partai pada 2005 menggantikan Soetjipto Soedjono. Sebagai sekjen, ia bertanggung jawab menggerakkan mesin partai hingga ke daerah-daerah. Ia juga menjadi tangan kanan Megawati Soekarnoputri dalam konsolidasi internal partai banteng tersebut.
Kariernya di DPR mencapai puncak pada periode 2009 sampai 2014 ketika ia dipercaya menjadi Wakil Ketua DPR RI bidang Industri dan Pembangunan. Di posisi ini, Pramono sering menjadi jembatan antara fraksi-fraksi yang berselisih. Reputasinya sebagai penengah semakin menguat ketika DPR terbelah antara Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih pasca-Pemilu 2014. Alih-alih memperkeruh suasana, Pramono justru berperan meredakan ketegangan antar kubu politik yang berseberangan.
Selain kesibukan politik, Pramono tetap mengejar pendidikan tinggi. Pada 1992 ia meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Gadjah Mada. Tidak berhenti di situ, pada 11 Januari 2013 ia resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Komunikasi Politik dari Universitas Padjadjaran dengan predikat cum laude. Disertasinya meneliti komunikasi politik anggota DPR kepada konstituen, topik yang sangat relevan dengan praktik politik yang ia jalani sehari-hari.
Sembilan Tahun di Sisi Presiden Jokowi
Pada 12 Agustus 2015, Presiden Joko Widodo melantik Pramono Anung sebagai Sekretaris Kabinet menggantikan Andi Widjajanto. Posisi ini melekat padanya selama sembilan tahun, hingga 20 September 2024, menjadikannya salah satu pembantu terdekat presiden dalam sejarah pemerintahan Jokowi. Sebagai Seskab, Pramono mengemban tugas berat sebagai penghubung antara presiden, wakil presiden, para menteri, dan publik.
Di bawah kepemimpinannya, Sekretariat Kabinet memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan selama sembilan tahun berturut-turut. Prestasi administratif ini mencerminkan ketelitiannya dalam mengelola lembaga yang bertugas menyiapkan bahan kebijakan dan mengoordinasikan rapat-rapat kabinet. Ia juga memperkenalkan tradisi baru dengan memberikan keterangan pers melalui podcast, langkah komunikasi publik yang modern di era digital.
Pramono menerapkan disiplin ketat terhadap jajaran menteri. Ia mewajibkan semua menteri menghadiri rapat paripurna kabinet secara rutin untuk memastikan koordinasi antar kementerian berjalan efektif. Pada 2 Januari 2023, ia menerbitkan Peraturan Sekretaris Kabinet Nomor 1 Tahun 2023 tentang Penetapan Kinerja Utama. Sebelumnya, pada 2017, ia telah mengeluarkan Peraturan Seskab Nomor 6 Tahun 2017 tentang Pedoman Penanganan Benturan Kepentingan, upaya preventif untuk menjaga integritas birokrasi dari praktik titip-menitip kepentingan.
Selama menjabat Seskab, Pramono kerap menjadi wajah pemerintah dalam menjelaskan kebijakan kontroversial kepada publik. Ia membawakan pesan-pesan presiden dengan gaya yang tenang namun tegas, berbeda dengan pendekatan keumumannya sebagai politikus partai. Posisinya yang strategis membuatnya memahami seluk-beluk pengambilan keputusan di tingkat tertinggi, pengalaman yang kelak menjadi modal penting saat ia kembali ke politik elektoral.
Kembali ke Akar Rumput di Pilkada Jakarta 2024
Setelah hampir satu dekade di lingkaran istana, Pramono Anung memutuskan kembali ke gelanggang politik elektoral. Pada 28 Agustus 2024, ia resmi mendaftarkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Rano Karno, aktor senior yang kini berpolitik. Keputusan ini cukup mengejutkan karena sebelumnya PDI Perjuangan sempat mempertimbangkan nama-nama besar seperti Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama untuk menghadapi kotak kosong.
Pramono dan Rano melaju sebagai pasangan nomor urut 3 dengan dukungan PDI Perjuangan. Kampanye mereka fokus pada isu keseharian warga Jakarta seperti transportasi publik, banjir, dan biaya hidup. Meski berhadapan dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang politisi berpengalaman, pasangan ini berhasil meraih 2.183.239 suara atau 50,07 persen pada pemungutan suara November 2024. Kemenangan tipis ini menandai kembalinya PDI-P berkuasa di Jakarta setelah satu periode dikuasai Anies Baswedan.
Pelantikan pada 20 Februari 2025 di Istana Negara menjadi puncak perjalanan politik Pramono. Ia resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta ke-18, menggantikan penjabat gubernur yang memimpin pasca berakhirnya masa jabatan Anies. Dengan pengalaman sebagai sekretaris kabinet yang memahami birokrasi pusat, Pramono membawa harapan baru bagi perbaikan manajemen ibu kota.
Babak Baru Memimpin Jakarta
Sebagai gubernur, Pramono langsung tancap gas dengan meluncurkan Program Percepatan 100 Hari. Program ini mencakup 40 kegiatan strategis di sektor pendidikan, kesehatan, sarana prasarana, dan ekonomi. Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian luas adalah transportasi publik gratis untuk 15 golongan masyarakat. Kelompok yang berhak menikmati fasilitas ini meliputi ASN dan pensiunan Pemprov DKI, penerima Kartu Jakarta Pintar, lansia, penyandang disabilitas, buruh dengan gaji setara UMP, pengurus masjid, guru PAUD, hingga anggota TNI dan Polri.
Pada Mei 2025, Pramono meluncurkan Kartu JakMob dari Bank DKI yang terintegrasi dengan aplikasi JakLingko. Kartu ini memudahkan warga yang berhak untuk naik Transjakarta, MikroTrans, MRT, LRT, hingga KRL Commuter Line tanpa biaya. Mengenai program transportasi gratis tersebut, ia menegaskan:
“Hari ini saya canangkan 15 golongan masyarakat yang akan digratiskan untuk naik transportasi publik di Jakarta.”
Pramono juga menekankan pentingnya kolaborasi antar daerah dalam mengatasi persoalan ibu kota. Ia menyatakan bahwa kemacetan di Jakarta tidak bisa diselesaikan sendiri, melainkan harus bekerja sama dengan daerah penyangga seperti Banten dan Jawa Barat. Untuk mendorong perpindahan warga ke transportasi umum, ia berencana memperluas jalur MRT hingga Balaraja, Kabupaten Tangerang. Kebijakan ini merupakan wujud janji kampanyenya untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik dan mengurangi kemacetan. Ia mewajibkan ASN Pemprov DKI naik kendaraan umum setiap Rabu sebagai contoh bagi masyarakat.
Di bidang pendidikan, Pramono memperbarui data Kartu Jakarta Pintar dan meniadakan pungutan liar di sekolah negeri. Program pemutihan ijazah juga diluncurkan untuk membantu warga yang selama ini tertahan ijazahnya karena tunggakan biaya. Untuk kesehatan wartawan dan warga lanjut usia, ia memperkenalkan layanan home service atau Pasukan Putih yang memberikan perawatan kesehatan langsung ke rumah warga yang membutuhkan.
Pramono juga gencar membangun komunikasi dengan pemerintah daerah tetangga. Ia mengadakan pertemuan dengan Gubernur Banten Andra Soni dan gubernur Jawa Barat untuk membahas penanganan banjir lintas wilayah serta pengembangan transportasi massal hingga ke daerah penyangga seperti Tangerang dan Bekasi. Pemahamannya tentang keterkaitan wilayah Jabodetabek mempengaruhi pendekatan pembangunannya yang tidak lagi terisolasi pada batas administratif Jakarta.
Dalam mengelola APBD DKI Jakarta 2025, Pramono mengalokasikan anggaran besar untuk penanganan kemacetan sebesar Rp9,73 triliun. Ia fokus pada pembangunan infrastruktur tangguh dan ramah lingkungan, termasuk pengembangan kawasan Transit Oriented Development dan revitalisasi ruang publik seperti Kalijodo. Program 40 percepatan dalam 100 hari pertama menjadi ujian awal kepemimpinannya yang diharapkan membawa Jakarta menuju kota yang lebih manusiawi dan efisien.
Kehidupan pribadi Pramono relatif stabil. Ia menikah dengan Endang Nugrahani pada 1991 dan dikaruniai dua anak. Putranya, Hanindhito Himawan Pramana, mengikuti jejak politik sang ayah dengan menjabat Bupati Kediri untuk periode 2021-2024. Keluarga ini tetap menjaga kedekatan dengan akar budaya Jawa Timur meski kini menetap di Jakarta.
Dari Kediri ke Bandung, dari dunia tambang ke Senayan, dari istana ke Balai Kota, perjalanan Pramono Anung mencerminkan evolusi politik Indonesia pasca-Reformasi. Ia membuktikan bahwa keterampilan komunikasi politik dan pengalaman birokrasi dapat menjadi modal kuat untuk memimpin kota sekompleks Jakarta. Kini, publik menanti bagaimana pengalamannya selama sembilan tahun mendampingi presiden akan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang merubah wajah ibu kota dalam lima tahun ke depan.
Sumber dan Referensi
Situs resmi Pemprov DKI Jakarta (jakarta.go.id) tentang Program Percepatan 100 Hari Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Periode 2025-2030
CNN Indonesia, “Pramono Anung: Pelobi Ulung di Kursi Sekretaris Kabinet”, 12 Agustus 2015
Tempo.co, peluncuran Kartu JakMob untuk transportasi gratis 15 kelompok warga, Mei 2025
Wikipedia bahasa Indonesia, artikel “Pramono Anung”
Akhir Hayat dan Warisan
Perjalanan hidup Pramono Anung meninggalkan jejak yang berarti bagi politik Indonesia. Ia dikenang sebagai seorang jembatan politik yang mampu merangkul berbagai pihak tanpa menjadikan perbedaan sebagai tembok. Warisannya yang paling menonjol adalah teladan kepemimpinan birokratis yang rapi dan komunikatif, tercermin dari kepiawaiannya menjaga keseimbangan antara loyalitas partai dan profesionalitas jabatan negara. Sebagai gubernur, ia diwarisi kepercayaan publik Jakarta untuk melanjutkan reformasi tata kelola kota yang lebih inklusif dan efisien.


























