Beranda Biografi Tokoh Indonesia Biografi Benny Moerdani, Kisah Patriot Yang Penuh Kontroversi dan Tragedi

Biografi Benny Moerdani, Kisah Patriot Yang Penuh Kontroversi dan Tragedi

571
5
(2)

Biografiku.com – Profil dan Biografi Benny Moerdani singkat. Namanya kerap diidentikkan dengan keberanian, kecerdasan dan kesetiaan. Jenderal leonardus Benyamin Moerdani atau Benny Moerdani adalah salah satu legenda dalam sejarah militer Indonesia.

Jauh sebelum dikenal sebagai Jenderal yang memiliki kekuasaan sangat besar pada tahun 1980an, reputasi Benny Moerdani sebagai tentara pemberani dan cerdas telah terbangun lama. Berbagai perang ditekuninya tanpa rasa takut dan kerap menorehkan hasil gemilang.

Namun perjalanan hidup Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani tak hanya tentang kisah-kisah kemenangan tapi juga berbalut sejumlah kontroversi dan tragedi. Berikut profil dan biografi Benny Moerdani secara singkat serta perjalanan karirnya di Militer.

Biografi Benny Moerdani

Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani atau Benny Moerdani dilahirkan di Cepu, Jawa Tengah pada tanggal 2 Oktober 1932. Ayahnya bernama R.G. Moerdani Sosrodirjo yang bekerja sebagai pegawai perkeretaapian. Sedangkan ibunya bernama Jeanne Roech yang berdarah Jerman.

Ketika masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Benny Moerdani yang kala itu masih berusia belasan tahun ikut bergabung dengan Tentara Pelajar yang ambil bagian dalam pertempuran melawan Belanda. Beni juga terlibat dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret yang terjadi di Solo.

Setelah situasi Indonesia yang sudah aman pasca serangan Belanda, Benny Moerdani kembali menyelesaikan sekolahnya hingga Sekolah Menengah Atas.

Bergabung Dengan Militer

Benny Moerdani yang pernah bergabung dalam Brigade Tentara Pelajar kemudian mengambil pendidikan militer di Pendidikan Perwira Angkatan Darat serta Sekolah pelatihan Infanteri.

Benny Moerdani menyelesaikan pendidikan militernya pada tahun 1952. pada tahun 1954 ia kemudian ditempatkan di Kodam Siliwangi di Jawa Barat dengan pangkat letnan dua.

Sukses Dalam Operasi ‘Naga’ Dalam Pembebasan Irian Barat

Di antaranya lewat aksi aksi heroik dan kegemilangannya diterjunkan dalam berbagai palagan perang dan konflik. Pada 1962 misalnya Benny yang baru berpangkat Kapten sukses memimpin operasi Perintis di Merauke Papua.

Operasi ini untuk memuluskan rencana operasi militer besar-besaran yang akan digelar guna merebut Papua Barat dari kekuasaan Belanda. Berkat keberaniannya memimpin operasi dengan sandi ‘Naga’ ini, Benny Moerdani mendapat penghargaan bintang Sakti dari Presiden Soekarno.

Biografi Benny MoerdaniSebelum memimpin operasi naga di Merauke Papua, pada 1958 Benny Moerdani ini yang menjadi bagian dari pasukan RPKAD. Ia juga terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatera. Dalam operasi di Pekanbaru Benny sempat nekat terjun dari pesawat meski belum pernah sekalipun berlatih terjun payung.

Namun keberanian Benny Moerdani juga pernah mengakibatkan karir militernya sempat terhambat pada tahun 1964. Ini dikarenakan ia berani memprotes rencana penghapusan tentara cacat dari RPKAD. Ia juga mengkritik penunjukan rincian Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan RPKAD.

BACA JUGA :  Biografi dan Profil Gatot Nurmantyo Beserta Biodata

Benny yang kala itu menjabat komandan batalyon dianggap membangkang. Atas perintah Panglima Angkatan Darat yakni Letnan Jenderal Ahmad Yani, Benny kemudian dipindah dari RPKAD ke Kostrad.

Menjadi Wakil Asisten Intelijen

Tak lama setelah bergabung ke Kostrad TNI, Benny kemudian ditarik oleh salah satu pejabat Kostrad Ali Moertopo untuk menjadi wakil asisten intelijen. Salah satu tugas yang dijalankan Benny adalah terlibat dalam operasi intelijen di Malaysia saat Indonesia berkonfrontasi dengan Negara Jiran itu.

Ia juga menjadi tim yang mempersiapkan perundingan normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia setelah Soeharto menjadi pejabat presiden. Benny Moerdani sempat menjalani karir diplomatik sebagai kepala konsulat di Malaysia dan Konsulat Jenderal di Korea Selatan.

Pada tahun 1974, tak lama setelah pecah peristiwa Malari Benny Moerdani kemudian ditarik Ali Moertopo untuk menangani masalah-masalah intelijen Hankam.

Ia kemudian ditunjuk menjadi pejabat asisten intelijen menteri pertahanan dan keamanan. Ia juga memegang jabatan-jabatan lain di dunia intelijen. Pada masa ini Benny menjadi salah satu perencana invasi di balik Operasi Seroja untuk mendekolionisasi Timor Timur pada tahun 1975.

‘Arsitek’ Dalam Pembebasan Sandera Pembajakan Pesawat

Namun prestasi terbesar Benny Moerdani di dunia intelijen adalah saat ia merencanakan dan memimpin sendiri operasi pembebasan sandera dalam insiden pembajakan pesawat Garuda Indonesia Woyla di bandara Don Muang Bangkok, Thailand pada tanggal 31 Maret 1981.

Dalam operasi ini, Benny yang saat itu berpangkat Letjen menggalang pasukan sendiri dengan bantuan pasukan Kopassus yang direkrut mendadak.

Biografi Benny Moerdani

Operasi ini berjalan sangat sukses sehingga para perwira yang terlibat mendapat anugerah kehormatan. Selama menjadi pejabat di sejumlah badan intelijen, Benny Moerdani menjelma menjadi tokoh intelijen paling dipercaya Presiden Soeharto setelah Ali Moertopo.

Selama menjadi pejabat intelijen sejak tahun 1974, Benny Moerdani berhasil mengkonsolidasi berbagai Badan Intelijen Negara. Hingga badan intelijen ini akhirnya benar-benar di bawah kontrol dan kendalinya.

Pada tahun-tahun akhir 1970an, sikap kritis kepada pemerintahan presiden Soeharto yang dinilai mulai otoriter mulai muncul dikalangan purnawirawan, jenderal dan sejumlah tokoh sipil nasional.

Puncak sikap kritis itu adalah lahirnya gerakan moral Petisi 50 pada 5 Mei 1980 yang digagas sejumlah tokoh. Para tokoh itu antara lain Jenderal (Purn) A.H. Nasution, mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta, Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan lain-lain.

Untuk menghadapi gerakan ini Presiden Soeharto memerlukan sosok kuat yang ia yakini bisa melindungi dan tidak akan mengkhianatinya. Pilihan Soeharto akhirnya jatuh pada Benny Moerdani.

Menjadi Panglima ABRI

Karena itu meski tidak pernah memegang jabatan komando di unit yang lebih besar dari Batalyon, pada tahun 1983 Benny Moerdani dipromosikan Soeharto menjadi jenderal penuh dan diangkat sebagai panglima ABRI.

Biografi Benny Moerdani

Jabatan Panglima ABRI ini yang kemudian bukan saja pernah membuatnya memiliki kekuasaan sangat besar. Tapi jabatan ini juga mengantarkan Benny Moerdani pada berbagai kontroversi, intrik dan juga tragedi.

Pada masa kepemimpinan Benny Moerdani sebagai panglima terjadi sejumlah kasus pelanggaran hak asasi manusia yang menelan banyak korban nyawa. Diantaranya peristiwa kerusuhan berbau sara yakni peristiwa Tanjung Priok pada September 1984.

BACA JUGA :  Biografi Rusdi Kirana, Dari Calo Tiket Hingga Menjadi Pendiri Lion Air

Dalam peristiwa bentrokan antara pengunjuk rasa muslim dengan tentara ini, puluhan orang dinyatakan tewas dalam peristiwa ini. Muncul sentimen negatif dari berbagai kalangan terhadap sosok Benny Moerdani.

Benny Moerdani Anti Islam?

Setelah Peristiwa Tanjung Priok, Benny Moerdani di cap oleh sejumlah kelompok Islam sebagai Jenderal anti Islam. Benny sendiri menjawab tujuan ini dengan kerap melakukan kunjungan ke sejumlah Sekolah Islam dan pondok pesantren. Ia juga sering menunjukkan kedekatannya dengan bertemu sejumlah tokoh Islam atau Pesantren.

Tak hanya dipersalahkan dalam peristiwa Tanjung Priok bagi beberapa kalangan Islam. Benny Moerdani juga dituding sebagai bagian dari kubu yang hendak menyingkirkan kelompok Islam dari panggung politik pemerintahan.

Tuduhan ini muncul dikarenakan kedekatan Benny Moerdani dengan tokoh-tokoh CSIS, lembaga kajian strategis bentukan Ali Moertopo.

Benny juga dekat dengan para mantan aktivis pergerakan mahasiswa Katolik Republik Indonesia atau PMKRI. Kelompok ini kerap memberi masukan dalam penyusunan kebijakan kebijakan pemerintahan Soeharto.

Kasus pelanggaran HAM lain yang kerap dikaitkan dengan Benny Moerdani adalah kasus penembakan misterius atau Petrus. Petrus merupakan operasi pemberantasan terhadap sejumlah terduga preman dan pelaku kejahatan pada pertengahan tahun 1980 an.

Biografi Benny Moerdani

Meski inisiatif Petrus belakangan diakui Soeharto dalam buku biografinya adalah inisiatif dari dirinya. Dengan kata lain Benny Moerdani hanya menjalankan perintah Soeharto melaksanakan Petrus.

Meski banyak dikaitkan dengan hal-hal kontroversial selama menjabat panglima ABRI. Benny banyak melakukan langkah-langkah pembenahan ABRI seperti pemotongan anggaran, peningkatan efisiensi dan peningkatan profesionalisme. Benny antara lain mengurangi jumlah jumlah komando daerah militer atau Kodam dari 16 menjadi 8.

Pada tahun 1987, Benny Moerdani juga berupaya meluruskan ideologi kemiliteran dengan mengubah beberapa kata dalam Sumpah Prajurit. Sehingga bunyi Sumpah itu lebih mengarahkan pengabdian prajurit untuk berbakti pada negara dan bukan pada penguasa.

Hubungan Benny Moerdani dan Soeharto

Loyalitas Benny pada hal-hal yang diyakininya sebagai kepentingan negara pada titik tertentu justru menyebabkan hubungan Benny dengan Presiden Soeharto memburuk. Puncaknya sepekan menjelang Sidang Umum MPR 1988 jabatan Benny Moerdani sebagai panglima ABRI dicopot oleh Presiden Soeharto.

Pergantian panglima ABRI dari Jenderal LB Moerdani ke Letjen Tri Sutrisno terjadi pada 24 Februari 1988. Ini terjadi hanya sepekan sebelum Sidang Umum MPR untuk memilih Presiden dan wakil presiden periode 1988 – 1993.

Sejumlah analis mengatakan penggantian Benny Moerdani dilatarbelakangi berbagai sebab. Adapun penyebabnya adalah kemarahan Soeharto karena keberanian Benny mengkritik aktivitas bisnis anak-anaknya. Serta adanya kekhawatiran Soeharto terhadap kekuasaan dan pengaruh Benny Moerdani di tubuh ABRI yang kian meluas.

Ketika Prinsip Mengalahkan Loyalitas Kepada Penguasa

Menurut Sejarawan Salim Said, Benny Moerdani menguasai jaringan Intelijen di Indonesia maka dengan mudah menguasai ABRI. Soeharto ketakutan melihat bagaimana Benny menjadi sangat berkuasa.

BACA JUGA :  Biografi Halim Perdanakusuma - Pahlawan Nasional

Sementara itu ternyata Benny tidak loyal kepada manusia tapi dia loyal kepada prinsipnya sendiri. Apa prinsip Benny Moerdani yakni prinsipnya adalah mengabdi kepada bukan kepada orang. Benny Moerdani adalah pengagum berat Jenderal Sudirman.

Hanya tiga pekan setelah Sidang Umum MPR tahun 1988, dalam pengumuman susunan Kabinet Pembangunan kelima, Presiden Soeharto menunjuk Benny Moerdani sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan.

Biografi Benny Moerdani

Sejak itu kekuasaan Benny di ABRI berkurang drastis. Terlebih pada bulan September 1988 Soeharto juga membubarkan Kopkamtib. Setelah hubungannya dengan Soeharto merenggang, Benny kerap dicurigai dikaitkan dengan berbagai gerakan untuk mengkudeta kekuasaan orde baru. Ia misalnya dianggap membiarkan aktivitas berbagai gerakan untuk merongrong kewibawaan pemerintah.

Presiden Soeharto kemudian merespon rumor gerakan politik itu dengan melakukan gerakan De-Benny-sasi. Itu adalah gerakan menyingkirkan orang-orang yang dianggap dekat dengan Benny Moerdani dan jaringan CSIS dari posisi jabatan-jabatan strategis di ABRI. Seperti karir Mayjen Sintong Panjaitan misalnya yang berhenti hanya 4 tahun setelah Benny tidak menjadi panglima ABRI.

Untuk mengisi pos-pos jabatan militer yang sebelumnya dipegang orang-orang yang dianggap dekat dengan Benny Moerdani, Soeharto menunjuk perwira-perwira militer dari kelompok hijau atau Islam.

Soeharto yang pada tahun 1961 menunaikan ibadah haji juga kian dekat dengan kelompok Islam. Soeharto lebih sering mendengarkan saran dan aspirasi dari kelompok ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk akhir tahun 1990 dan diketuai BJ Habibie.

Dalam susunan anggota Kabinet Pembangunan VI yang dibentuk pada tahun 1993, Soeharto yang didampingi Tri Sutrisno sebagai wakil presiden tidak lagi memasukkan nama Benny Moerdani dalam kabinet. Sejumlah analis mengatakan Soeharto curiga Benny mengarsiteki terpilihnya Tri Sutrisno sebagai Wapres.

Setelah tidak lagi berada di pemerintahan, Peran politik Benny Moerdani pun berakhir. Tokoh militer yang selama sekitar 10 tahun pernah menjadi orang kepercayaan dan anak emas Soeharto tersebut akhirnya dicampakkan sepenuhnya oleh penguasa orde baru. Hal ini karena dicurigai membahayakan posisinya.

Meski tidak sejalan dengan kebijakan kebijakan politik Soeharto setelah berada di luar pemerintahan Benny Moerdani tetap menghormati Soeharto. Hubungan antara Benny dan Soeharto yang membeku selama beberapa tahun akhirnya mencair.

Hal ini setelah Soeharto tumbang dari kekuasaannya pada tahun 1998. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Benny Moerdani dalam kondisi kesehatan yang tidak lebih baik kerap bertemu empat mata dengan Soeharto.

Benny Moerdani Wafat

Jenderal Benny Moerdani meninggal dunia pada 29 agustus 2004 dalam usia 71 tahun. Ia meninggalkan Seorang Istri dan 1 orang putri dan 5 cucu. Benny Moerdani yang sudah ikut berjuang mengusir penjajah sejak usia 13 tahun itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Ada banyak momen sejarah Indonesia dimana Benny Moerdani muncul sebagai pahlawan. Namun Benny Moerdani juga merupakan produk sejarah sebuah bangsa yang tidak selalu gemilang dalam memilih jalan berliku yang harus di menemukan identitas dan takdir takdirnya.

Beri Rating Artikel Ini

'...Sejarah akan meninggikan mereka yang memang layak dimuliakan dan sejarah juga akan menghitamkan mereka yang layak dijatuhkan - NS'