Beranda Pahlawan Nasional Biografi Fatmawati Soekarno, Ibu Negara Sang Penjahit Bendera Pusaka

Biografi Fatmawati Soekarno, Ibu Negara Sang Penjahit Bendera Pusaka

34278
4.8
(48)

Biografiku.com – Nama Fatmawati Soekarno dikenal sebagai ibu negara pertama Indonesia. beliau merupakan istri dari Presiden Pertama Indonesia yaitu Presiden Soekarno.

Fatmawati Soekarno juga dikenal sebagai penjahit bendera pusaka yang dikibarkan pada saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Berikut Biodata serta Biografi dari Fatmawati Soekarno dan kisah perjalanan hidupnya.

Biografi Fatmawati Soekarno
Biodata Fatmawati Soekarno
BiodataFatmawati Soekarno
Nama LengkapFatmawati Soekarno
Nama AsliFatimah
LahirBengkulu, 5 Februari 1923
WafatKuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980
AgamaIslam
Orang TuaHasan Din (ayah), Siti Chadijah (ibu)
SuamiIr. Soekarno
AnakMegawati Soekarnoputri, Guntur Soekarnoputra, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra
GelarPahlawan Nasional, Ibu Negara Pertama Indonesia
Profil dan Biografi Fatmawati Soekarno

Beliau lahir pada hari Senin, 5 Pebruari 1923 Pukul 12.00 Siang di Kota Bengkulu. Nama Aslinya adalah Fatimah. Ia merupakan putri tunggal dari keluarga H. Hassan Din dan Siti Chadidjah.

Masa kecil Fatmawati penuh tantangan dan kesulitan, akibat sistem kolonialisme yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ayahandanya, Hassan Din semula adalah pegawai perusahaan Belanda, Bersomij di Bengkulu.

Tetapi karena tidak mau meninggalkan kegiatannya sebagai anggota Muhammadiyah, ia kemudian keluar dari perusahaan itu. Setelah itu, Hassan Din sering berganti usaha dan berpindah ke sejumlah kota di kawasan Sumatera Bagian Selatan.

Keturunan Bangsawan

Tidak banyak diketahui orang bahwa sebenarnya Fatmawati merupakan keturunan dari Kerajaan Indrapura Mukomuko. Sang ayah Hassan Din adalah keturunan ke-6 dari Kerajaan Putri Bunga Melur. Putri Bunga Melur bila diartikan adalah putri yang cantik, sederhana, bijaksana.

Tak heran bila ia mempunyai sifat bijaksana dan mengayomi. Jalinan cinta antara Bung Karno dan Fatmawti pada awalnya membutuhkan perjuangan yang sangat berat.

Masa Kecil

Fatmawati mengenyam pendidikan dasarnya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau setara SD. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah yang dikelola oleh organisasi katolik.

Sejak kecil beliau menyukai kegiatan organisasi. Ia bahkan aktif dalam organisasi Naysatul Asyiyah, sebuah organisasi perempuan dibawah Muhammadiyah.

Bertemu Dengan Soekarno

Dalam Biografi Fatmawati Soekarno diketahui bahwa perkenalannya dengan Soekarno dimulai ketika Soekarno dipindahkan ke tempat perasingan di Bengkulu setelah dari daerah Flores, NTT.

Di Bengkulu, Soekarno bekerja sebagai pengajar di sekolah Muhammadiyah tempat dimana ia bersekolah. Fatmawati mengikuti les bahasa Inggris guna melanjutkan pendidikannya di sekolah perguruan tinggi Rk Voolkshool. Kedekatan Soekarno dan Fatmawati terjadi pada tahun 1938.

Kedekatan dengan Soekarno ini membuat pertengkaran hebat antara Inggit Ganarsih dan Soekarno. Akibatnya, Fatmawati memilih untuk pindah ke rumah neneknya yang kini menjadi museum Fatmawati Soekarno di Bengkulu.

Beliau akhirnya dilamar seorang pemuda, namun sebelum itu ia meminta pendapat Soekarno mengenai lamaran tersebut. Ia bertemu Soekarno tepat di depan rumah neneknya.

Dilamar oleh Soekarno

Ir Soekarno kemudian melamar Fatmawati untuk dijadikan istrinya. Lamaran Soekarno diterima olehnya dengan syarat berpisah dengan Inggit.

Demi memperoleh Fatmawati yang begitu dicintainya Bung Karno dengan perasaan yang sangat berat terpaksa harus merelakan kepergian Bu Inggit, sosok wanita yang begitu tegar dan tulusnya mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai Indonesia Merdeka.

Pahit getir sebagai orang buangan (tahanan Belanda) sering dilalui Bung Karno bersama Bu Inggit. Namun sejarah berkata lain. Perjalanan waktu berkehendak lain, kehadirannya diantara Bung Karno dan Inggit telah merubah segalanya.

Biografi Fatmawati Soekarno
Menikah Dengan Soekarno

Dalam biografi Fatmawati soekarno diketahui bahwa pada tahun 1943 Bung Karno menikahi Fatmawati. Pernikahan itu dilakukan dengan wakil salah seorang kerabat Bung Karno, Opseter Sardjono. Pada 1 Juni 1943, Beliau dengan diantar orang tuanya berangkat ke Jakarta, melalui jalan darat.

Sejak itu ia mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia.  Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari.

Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi.

Tepat pukul 10.00, dengan suara mantap dan jelas, Soekarno membacakan teks proklamasi, pekik Merdeka pun berkumandang dimana-mana dan akhirnya mampu mengabarkan Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

Menjahit Bendera Pusaka Merah Putih

Kalau ada yang bertanya, apa peran perempuan menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan? Tentu kita akan teringat dengan sosok Fatmawati, istri Bung Karno.

Dialah yang menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Setelah itu, ada seorang pemudi Trimurti yang membawa nampan dan menyerahkan bendera pusaka kepada Latief Hendraningrat dan Soehoed untuk dikibarkan.

Dan, semua hadirin mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Pada hari itu, Ibu negara pertama Indoesia ini juga ikut dalam upacara tersebut dan menjadi pelaku sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Ibu Negara Republik Indonesia Pertama

Salah satu butir keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya tanggal 19 Agustus 1945 adalah memilih Bung Karno dan Moh. Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia.

Setelah Ir Soekarno menjabat sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia maka secara otomatis Fatmawati yang selalu mendampingi Soekarno kemudian dikenal sebagai Ibu Negara Republik Indonesia yang pertama.

Pada tanggal 4 Januari 1946 pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta karena keadaan Jakarta dirasakan makin tidak aman, menyusul hadirnya tentara NICA yang membonceng kedatangan tentara sekutu.

Ibu Fatmawai dan Bung Karno tidak pernah merayakan ulang tahun perkawinan, Jangankan kawin perak atau kawin emas, ulang tahun pernikahan ke-1, ke-2 atau ke-3 saja tidak pernah. Sebabnya tak lain karena keduanya tidak pernah ingat kapan menikah.

Ini bisa dimaklumi karena saat berlangsungnya pernikahan, zaman sedang dibalut perang. Saat itu Perang Dunia II sedang berkecamuk dan Jepang baru datang untuk menjajah Indonesia.

…Kami tidak pernah merayakan pernikahan perak atau pernikahan emas. Sebab kami anggap itu soal remeh, sedangkan kami selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan besar yang hebat dan dahsyat. – Fatmawati Soekarno.

Kehidupan pernikahan Bung Karno dan Fatmawati memang penuh dengan gejolak perjuangan. Dua tahun setelah keduanya menikah, Indonesia mencapai kemerdekaan.

Tetapi ini belum selesai, justru saat itu perjuangan fisik mencapai puncaknya. Bung Karno pastinya terlibat dalam setiap momen-momen penting perjuangan bangsa.

Anak Fatmawati dan Soekarno

Pasangan ini melahirkan putra pertamanya yaitu Guntur Soekarnoputra. Guntur lahir pada saat Bung Karno sudah berusia 42 tahun. Berikutnya lahir Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh.

Putra-putri Bung Karno dikenal memiliki bakat kesenian tinggi. Hal itu tak aneh mengingat Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni, sementara Ibu Fatmawati sangat pandai menari.

Biografi Fatmawati Soekarno

Di kota gudeg itu, beliau mendapatkan banyak simpati, karena sikapnya yang ramah dan mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat.

Sebagai seorang Ibu Negara, Ibu Fatmawati kerap mendampingi Bung Karno dalam kunjungan ke berbagai wilayah Republik Indonesia untuk membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap Belanda dan mengikuti kunjungan Presiden Soekarno ke berbagai Negara sahabat.

Fatmawati Soekarno Wafat

Peran serta wanita dalam pembangunan telah ditunjukkan Ibu Fatmawati, beliau sering melakukan kegiatan sosial, seperti aktif melakukan pemberantasan buta huruf, mendorong kegiatan kaum perempuan, baik dalam pendidikan maupun ekonomi.

Pada tahun 14 Mei 1980 ia meninggal dunia karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekah yang lalu dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Kata-kata terakhir beliau sebelum meninggal waktu itu :

….Datang ke Mekah sudah menjadi pendaman cita-citaku. Saban hari aku melakukan zikir dan mengucapkan syahadat serta memohon supaya diberi kekuatan mendekat kepada Allah. Juga memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fi sabilillah. Aku berdo’a untuk cita-cita seperti semula yaitu cita-cita Indonesia Merdeka. Jangan sampai terbang Indonesia Merdeka.

Penghargaan Kepada Fatmawati Soekarno

Atas jasa-jasa fatmawati, Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit di wilayah Cilandak, Jakarta bernama Rumah Sakit Fatmawati yang pada awalnya bernama Rumah Sakit Ibu Soekarno.

Pada tanggal 15 April 1961 penyelenggaraan dan pembiayaan rumah sakit diserahkan kepada Departemen Kesehatan sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi RS Fatmawati.

Dalam perjalanan RS Fatmawati, tahun 1984 ditetapkan sebagai Pusat Rujukan Jakarta Selatan dan tahun 1994 ditetapkan sebagai RSU Kelas B Pendidikan.

Di Kota Bengkulu, sebagai kota kelahiran Ibu Fatmawati, Pemerintah Daerah beserta seluruh elemen memberikan apresiasi terhadap jasa-jasanya.

Sebagai bentuk penghargaan dan sekaligus untuk mengenang Ibu Fatmawati, maka pada tanggal 14 Nopember 2001, Bandar Udara Padang Kemiling diubah menjadi Bandar Udara Fatmawati.

Perubahan nama Bandar udara ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri. Perjuangan Ibu Fatmawati selama masa sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan diakui oleh Pemerintah Pusat.

Gelar Pahlawan Nasional

Hal ini melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 tanggal 4 Nopember 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid, maka Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Ibu Fatmawati.

Itulah informasi singkat mengenai biografi fatmawati soekarno yang merupakan istri dari Presiden Soekarno, semoga infomasi ini dapat bermanfaat bagi pembaca www.biografiku.com sekalian.

Beri Rating Artikel Ini

'...Sejarah akan meninggikan mereka yang memang layak dimuliakan dan sejarah juga akan menghitamkan mereka yang layak dijatuhkan - NS'