Beranda Pahlawan Nasional Biografi Jenderal DI Panjaitan, Pahlawan Revolusi Korban Kebiadaban PKI

Biografi Jenderal DI Panjaitan, Pahlawan Revolusi Korban Kebiadaban PKI

5
(1651)

Biografiku.com | Mayor Jenderal DI Panjaitan merupakan salah satu pahlawan revolusi. Ia adalah korban dari penculikan pasukan Carkrabirawa yang berafiliasi oleh PKI saat peristiwa G30 S/PKI meletus tahun 1965. Ia gugur tewas tertembak di rumahnya sendiri pada subuh hari tanggal 1 Oktober 1965 . Dimana sebelumnya ia dijemput oleh pasukan Cakrabirawa dengan alasan dipanggil oleh Presiden Soekarno. Bagaimana kisahnya?

Biografi Jenderal DI Panjaitan

Biografi Mayor Jenderal DI Panjaitan

Bernama lengkap Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Pendidikan formal diawali dari Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang.

Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Ketika Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI.

Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada tahun 1948. Seterusnya menjadi Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera.

Dan ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militernya yang Ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Biografi Jenderal DI Panjaitan, Pahlawan Revolusi Korban Kebiadaban PKI

Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.

BACA JUGA :  Biografi Sule, Dari Hobi Melawak Hingga Pernah Menjadi Pegadang Ayam Goreng

Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat

Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia.

Namun tidak lama setelah itu yakni pada tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi.

Bersebrangan Dengan PKI

Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan.

Biografi Jenderal DI Panjaitan, Pahlawan Revolusi Korban Kebiadaban PKI

Peti ini akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan. Ia merupakan salah satu petinggi militer dari TNI Angkatan Darat yang bersebrangan atau menentang PKI kala itu.

Korban Penculikan PKI

Pada jam-jam awal 1 Oktober 1965, sekelompok Pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh Letkol Untung Samsuri yang berafiliasi dengan PKI sekelompok meninggalkan daerah Lubang Buaya menuju pinggiran Jakarta.

Mereka diperintah oleh Lettu. Doel Arif untuk menangkap para perwira tinggi TNI AD yang dituduh akan melakukan kudeta dengan sebutan dewan Jenderal. Para pasukan Cakrabirawa ini dibagi dalam beberapa kelompok untuk menculik tiap Jenderal yang sudah menjadi target mereka hidup atau mati.

Mayor Jenderal DI Panjaitan termasuk salah satu target para pasukan Cakrabirawa ini bersama dengan enam Jenderal lainnya. Pasukan Cakrabirawa ini memaksa masuk pagar rumah DI Panjaitan di Jalan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

BACA JUGA :  Biografi Kapitan Pattimura, Kisah Perlawanan Sang Pahlawan Nasional dari Maluku

Pasukan Ini lalu menembak dan menewaskan salah seorang pelayan yang sedang tidur di lantai dasar rumah dua lantai itu dan menyerukan Panjaitan untuk turun ke bawah. Dua orang pemuda yaitu Albert Naiborhu dan Viktor Naiborhu terluka berat saat mengadakan perlawanan ketika D.I. Panjaitan diculik, tidak lama kemudian Albert meninggal.

Ditembak Mati di Rumahnya Sendiri

Setelah penyerang mengancam keluarganya, Jenderal DI Panjaitan turun. Sebelum turun sang jenderal meminta izin untuk berpakaian militer lengkap. Setelah berpakaian ia kemudian turun dari lantai dua dikawal oleh para pasukan Cakrabirawa.

Tepat dihalaman rumahnya, Jenderal DI Panjaitan ditembak mati oleh Pasukan Cakrabirawa ini. Mayatnya dimasukkan ke dalam truk dan dibawa kembali ke markas gerakan itu di daerah Lubang Buaya di Halim Perdanakusumah.

Biografi Jenderal DI Panjaitan, Pahlawan Revolusi Korban Kebiadaban PKI

Disana, mayat Jenderal DI Panjaitan bersama dengan para Jenderal lainnya seperti Ahmad Yani, MT Haryono, S. Parman dan lainnya dibuang ke dalam sumur tua Lubang Buaya.

Selanjutnya, Mayat para Jenderal ini kemudian ditemukan pada tanggal 4 Oktober 1965 setelah daerah Lubang Buaya dikuasai oleh tentara dari PKI. Jasad DI Panjaitan kemudian dimakamkan di taman makam pahlawan Kalibata bersama dengan tujuh jenderal lainnya.

DI Panjaitan kemudian mendapatkan kenaikan pangkat secara anumerta menjadi Mayor Jenderal. Ia juga diberi gelar Pahlawan Revolusi oleh pemerintah.

Beri Rating Artikel Ini

Advertisement