Beranda Profil dan Biografi Tokoh Nasional Indonesia Biografi Tokoh Indonesia Biografi Jenderal MT Haryono, Pahlawan Revolusi Yang Pandai Diplomasi

Biografi Jenderal MT Haryono, Pahlawan Revolusi Yang Pandai Diplomasi

9452
4.9
(79)

Biografiku.com | Profil dan Biografi Jenderal MT Haryono. Beliau merupakan salah satu pahlawan Revolusi. Ia merupakan perwira TNI Angkatan Darat yang menjadi korban penculikan saat peristiwa G30 S/PKI. Jenderal yang dikenal pandai diplomasi dan fasih dalam 3 bahasa ini ditembak mati di rumahnya dan jasadnya dibawa ke wilayah lubang buaya di Halim Perdanakusumah.

Biografi MT Haryono

MT Haryono merupakan salah satu petinggi militer yang turut menjadi penentang PKI dan tumbuhnya ideologi komunis. Berikut profil dan biografi Jenderal MT Haryono.

Biografi Jenderal MT Haryono

Pahlawan revolusi dengan pangkat Letnan Jenderal ini dilahirkan dengan nama lengkap Mas Tirtodarmo Haryono. Ia lahir di Surabaya pada tanggal 20 Januari 1924.

Ayahnya MT Haryono diketahui bernama Mas Harsono Tirtodarmo. Ia bekerja sebagai asisten wedana di Gresik pada masa kolonial Hindia Belanda.

MT Haryono lahir dikeluarga yang berdarah ningrat. Tak mengherankan bila ia dapat mengenyam pendidikan yang baik. Walaupun dunia militer bukan tujuan awal MT Haryono.

Pendidikan MT Haryono

MT Haryono mulai mengenyam pendidikannya di ELS zaman Belanda setingkat Sekolah Dasar. Tamat dari sana ia kemudian masuk di HBS yang setingkat Sekolah Menengah Umum.

Setamat dari HBS, MT Haryono sempat masuk Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta. Namun tidak sampai tamat. Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta.

Masuk Militer

Ia kemudian segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

BACA JUGA :  Biografi Jenderal S. Parman, Kisah Pahlawan Revolusi Ahli Intelijen

Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor. Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan.

Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung. MT Haryono kemudian menjadi Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda.

Fasih Dalam Tiga Bahasa

Sejak usia muda, MT Haryono dikenal fasih berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemampuannya itu membuat dirinya menjadi perwira penyambung lidah yang sangat dibutuhkan dalam berbagai perundingan.

Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara Indonesia. Di lain waktu, MT Haryono menjadi Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata.

Ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar (KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. Setelah itu, MT Haryono dikirim ke Belanda menjadi Atase Militer Indonesia untuk Belanda.

Asisten Deputi III Menpangad

Beberapa tahun kemudian ia ditarik kembali ke Indonesia. Ia kemudian diangkat sebagai Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (MenPangad) Jenderal Ahmad Yani. Pangkat MT Haryono kala itu menjadi Mayor Jenderal.

Biografi Jenderal MT Haryono

Jabatan Deputi III Menpangad ini menjadi jabatan terakhir bagi Mayor Jenderal MT Haryono. Sebab kala itu pengaruh Partai PKI tumbuh sangat kuat dikalangan pemerintah dan rakyat.

Partai PKI yang kala itu dikendalikan oleh DN Aidit semakin hari semakin berani bahkan semakin merajalela. Partai Komunis itu bahkan dekat dengan Presiden Soekarno dan sebagian rakyat Indonesia.

PKI mengajukan ide untuk mempersenjatai kaum buruh dan tani dan sebagai angkatan kelima. Alasannya agar menjadi salah satu kekuatan dalam konfrontasi dengan Malaysia kala itu.

Ide itu kemudian ditolak oleh petinggi militer khususnya dari Angkatan Darat termasuk Mayor Jenderal MT Haryono. Pertimbangan MT Haryono kala itu bahwa adanya maksud tersembunyi di balik itu yakni mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis.

BACA JUGA :  Biografi Jenderal Ahmad Yani - Tokoh Pahlawan Revolusi

Di samping itu, pembentukan Angkatan Kelima tersebut sangatlah memiliki resiko yang sangat tinggi. Namun karena penolakan itu pula, dirinya dan para perwira lain dimusuhi dan menjadi target pembunuhan PKI.

Target Penculikan PKI

Dalam Biografi Jenderal MT Haryono diketahui bahwa pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, pasukan Cakrabirawa datang menculik MT Haryono di rumahnya. Pasukan itu berdalih MT haryono dipanggil menemui Presiden Soekarno kala itu.

Pasukan itu kemudian masuk ke dalam kamar MT Haryono yang saat itu dalam keadaan gelap. MT Haryono mencoba melakukan perlawanan dengan mencoba merebut senjata salah satu pasukan Cakrabirawa.

Namun karena gagal, MT Haryono mencoba melarikan diri keluar dari kamar. Seorang prajurit Cakrabirawa yang bernama Sersan Mayor Boengkoes menembak mati MT Haryono. Dalam sejarah G30 S/PKI diketahui bahwa MT Haryono merupakan salah satu perwira yang sudah tewas saat dibawah ke lubang buaya selain Jend. TNI Anumerta Achmad Yani, dan Mayjen TNI DI. Panjaitan.

Adapun Letjen. TNI Suprapto; Letjen TNI S Parman, Mayjen TNI Sutoyo dan Kapten CZI TNI Pierre Tendean masih hidup saat diculik. Namun mereka kemudian disiksa dan dibunuh setelah berada di lubang buaya di wilayah Halim Perdanakusumah.

Selanjutnya jasad MT Haryono bersama enam perwira lainnya dimasukkan dalam sumur tua di Lubang Buaya oleh PKI. Jasad para pahlawan revolusi ini baru berhasil dievakuasi pada tanggal 4 Oktober 1965.

Selanjutnya Mayor Jenderal MT Haryono yang tewas karena mempertahankan Pancasila itu gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata.

Biografi Jenderal MT Haryono, Pahlawan Revolusi Yang Pandai Diplomasi

Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Pemerintah Indinesia memberikan gelar Pahlawan Revolusi kepada Mayor Jenderal MT Haryono. Pangkatnya juga dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal (anumerta).

BACA JUGA :  Biografi Idjon Djanbi, Kisah Pendiri Kopassus Yang Terlupakan

Kemudian oleh presiden Soeharto ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila. Adapun sumur tua tempat jenazah ditemukan dibangun Tugu Kesaktian Pancasila. Tugu ini sebagai tugu peringatan yang berlatar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut.

Beri Rating Artikel Ini