Beranda Profil dan Biografi Tokoh Nasional Indonesia Biografi Tokoh Indonesia Biografi Kartosoewirjo, Kisah Perjalanan Pendiri Negara Islam Indonesia

Biografi Kartosoewirjo, Kisah Perjalanan Pendiri Negara Islam Indonesia

57
5
(89)

Biografiku.com | Profil dan Biografi Kartosoewirjo singkat. Ia dikenal sebagai tokoh pendiri Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo dicap sebagai seorang pemberontak karena memimpin pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) melawan pemerintah Indonesia.

Biografi Kartosoewirjo

Kartosoewirjo merupakan teman akrab Soekarno dan Musso sewaktu masih tinggal bersama di rumah HOS Cokroaminoto. Namun siapa sangka, diakhir hidupnya Kartosoewirjo dieksekusi mati di depan regu tembak saat Soekarno berkuasa. Bagaimana kisahnya? Berikut profil dan biografi Kartosoewirjo.

Biodata Kartosoewirjo

Nama LengkapSekarmadji Maridjan Kartosuwirjo
Nama PanggilanKartosoewirjo
LahirCepu, Blora, 7 Januari 1905
WafatPulau Ubi, Jakarta, 5 September 1962
DikenalPendiri Negara Islam Indonesia (DI/TII)

Biografi Kartosoewirjo

Tokoh terkenal DI/TII ini terlahir dengan nama lengkap Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Ia dilahirkan di Cepu, Jawa Tengah pada tanggal 7 Januari 1907. Kartosoewirjo sendiri merupakan anak dari 7 bersaudara.

Ayahnya yang bernama Kartosoewirjo bekerja sebagai seorang mantri candu. Jabatan tersebut diketahui cukup tinggi bagi seorang pribumi pada masa kolonial.

Dilihat dari latar belakang keluarganya, Kartosoewirjo tidak dilahirkan dari keluarga islam yang taat. Mengingat ayahnya merupakan mantri candu. Namun untuk pendidikan, Kartosoewirjo mendapatkannya dengan layak.

Pendidikan Kartosoewirjo

Selain itu, ia pun merupakan salah satu anak yang bisa dan memiliki kesempatan untuk mengenal pendidikan di sekolah modern.

Dimana pada tahun 1901, Belanda menetapkan politik etis yang merupakan politik balas budi. Kartosoewirjo menjadi salah satu anak yang berhasil untuk mengenyam pendidikan tersebut.

Dimasa kecilnya, Kartosoewirjo diketahui memulai pendidikannya di Tweede Inlandsche School. Tamat dari sana, ia kemudian dikirim ke Rembang, Jawa Tengah di Hollandsch Inlandsche School.

Tak lama kemudian orang tuanya kemudian menyekolahkan Kartosoewirjo kecil di Europeesche Lagere School, sebuah sekolah elit untuk anak belanda dan para bangsawan di Bojonegoro, Jawa Timur.

Masuk Sekolah Kedokteran

Tamat dari sana, orang tuanya kemudian menyekolahkan Kartosoewirjo di Nederlandsch Indische Artsen School, sekolah kedokteran yang berada di Surabaya. Disinilah ia kemudian mulai mengenal dan tertarik dengan dunia pergerakan.

BACA JUGA :  Biografi HOS Cokroaminoto, Kisah Guru Bangsa Terhebat Pahlawan Nasional

Biografi Kartosoewirjo

Dikutip dari buku Seri Tempo: Kartosoewirjo yang ditulis oleh Tim Buku Tempo (2016), disebutkan bahwa ide-ide kebangsaan bahkan cenderung ‘kiri’ diperoleh Kartosoewirjo dari buku bacaan sosialisme milik pamannya yang bernama Mas Marco Kartodikromo. Pamannya ini dikenal sebagai tokoh Sarekat Islam ‘Merah’. Ia juga bekerja sebagai seorang wartawan.

Dari pamannya juga Kartosoewirjo kemudian terjun ke dunia politik pergerakan. Pada awalnya, ia bergabung dengan Jong Java setelah itu Jong Islamieten Bond. Dalam organisasi perhimpunan pemuda islam ini, pengetahuan akan keislaman banyak ia baca dari buku-buku.

Ia juga berguru pada beberapa kiai-kiai. Ia diketahui memiliki guru mengaji bernama Notodiharjo yang dikenal sebagai tokoh sarekat islam indonesia yang berasal dari Jawa Timur.

Berguru Kepada HOS Cokroaminoto

Pengetahuan akan dunia pergerakan dan keislaman lebih banyak ia dapat dari guru besarnya yang bernama HOS Cokroaminoto. Ia dikenal sebagai pentolan atau tokoh terkenal dari organisasi bernama Sarekat Islam.

Kartosoewirjo akhirnya memilih untuk indekos di rumah HOS Cokroaminoto di Surabaya sembari belajar. Di rumah Cokroaminoto juga, Kartosoewirjo bertemu dan tinggal bersama dengan Soekarno, Musso, Semaun, Alimin, Darsono hingga Tan Malaka.

Soekarno kelak melahirkan ideologi Pancasila yang nasionalis. Sementara Musso, Alimin dan Darsono memilih berhaluan kiri atau Komunis. Sementara Kartosoewirjo memilih Islam sebagai ideologinya.

Kartosoewiryo menjadi asisten bagi Cokroaminoto. Untuk membayar sewa tempat tinggal, Kartosoewiryo meniti karier sebagai pimpinan redaksi koran Harian Fadjar Asia yang dimiliki oleh Cokroaminoto. Di koran tersebut, ia pun pernah membuat tulisan yang berisi tentang penentangan terhadap bangsawan Jawa.

Dalam hal ini pun ia bekerja sama dengan Belanda. Dalam isi dari artikelnya tersebut, ia mengatakan tentang pandangan politiknya yang cenderung radikal. Di dalam biografi Kartosoewirjo yang singkat ini pun, ia juga pernah untuk menyerukan agar buruh bangkit. Dengan tujuan yakni untuk memperbaiki kondisi kehidupan bagi kaum buruh.

Selain itu, melalui artikel yang dibuatnya ia pun juga sering kali untuk mengkritik pihak nasionalis. Perlu diketahui bahwa karier dari Kartosoewirjo ini pun terbilang melejit ketika ia menjabat sebagai sekretaris jenderal Partai Serikat Islam Indonesia atau PSII.

BACA JUGA :  Biografi David Beckham - Ikon Sepakbola Inggris

Disini ia pun kemudian memiliki cita cita untuk mendirikan negara Islam atau Daulah Islamiyah. Dimana ketika ia berada di PSSI pun, Kartosoewirjo juga bertemu dengan jodohnya yang merupakan anak dari seorang tokoh PSII yang ada di Malangbong. Ketika menikah ini, Kartosoewirjo juga dikaruniai banyak anak yakni sejumlah 12 orang.

Kader Partai Serikat Islam Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa Cokroaminoto merupakan seseorang yang sangat berpengaruh pada  perkembangan maupun pemikiran dan aksi politik dari Kartosoewirjo.

Hal ini menyebabkan ia pun tumbuh menjadi seseorang yang memiliki kesadaran politik yang cukup tinggi dan juga integritas dalam keislaman. Kartosoewirjo menjadi kader muda Partai Serikat Islam tahun 1927. Beberapa tahun kemudian, ia diangkat sebagai ketua muda Partai Serikat Islam Indonesia.

Selanjutnya ia kemudian diangkat menjadi sekjen dari Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) yang menjadi kelanjutan dari Sarekat Islam Cokroaminoto. PSII ini menolak segala bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh Belanda. Mereka berpegangan pada tafsir Alquran dan semangat jihad.

Pendiri Partai Masyumi

Kartosoewirjo diketahui merupakan salah satu pendiri Masyumi bersama dengan KH Wachid Hasyim dan Mohammad Natsir. Masyumi pada awalnya menjadi organisasi berhaluan Islam yang bertujuan melawan penjajahan Belanda untuk merdeka melalui politik.

Biografi Kartosoewirjo

Oragnisasi Masyumi yang dibentuk oleh Karosoewirjo tumbuh menjadi salah satu partai politik yang cukup dominan pasca kemerdekaan. Bahkan anggotanya sempat mengisi kursi dalam kabinet pemerintahan.

Pasca kemerdekaan, Kartosoewirjo mulai bertolak belakang dengan pemerintah Indonesia yang kala itu dipimpin oleh Soekarno. Ia kerap menetang apa yang menjadi kebijakan pemerintah kala itu khususnya penolakan saat pasukan Divisi Siliwangi diperintahkan long march ke Jawa Tengah.

Ia menganggap bahwa aksi long march ini hanya merugikan rakyat dan membuat belanda menang atas Indonesia dalam perjanjian Renville. Pemerintah Indonesia melalui Soekarno dan perdana menteri Amir Sjarifuddin menawarkan Kartosoewirjo jabatan sebagai menteri dalam kabinet.

Namun tawaran itu ditolak Kartosoewirjo selama dasar negara Indonesia bukan Islam. Di tahun 1949, Kekecewaan Kartosoewirjo terhadap pemerintah Indonesia semakin memuncak.

BACA JUGA :  Biografi J.E Sahetapy - Pakar Hukum Pidana Indonesia

Mendirikan Negara Islam Indonesia

Tanggal 7 Agustus 1949, Kartosoewirjo resmi memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII). Dimana bagian NII ini meliputi Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh. Negara Islam Indonesia bentukan Kartosoewirjo kemudian resmi mengobarkan pemberontakan yang kemudian dikenal dengan nama Pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).

Di Jawa Barat, pemberontakan DI/TII dipimpin sendiri oleh Kartosoewirjo. Di Sulawesi Selatan, Pemberontakan DI/TII sendiri dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Sementara di Aceh, dipimpin oleh Daud Beureueh.

Pemberontakan DI/TII merupakan salah satu pemberontakan bersenjata di Indonesia yang paling lama dipadamkan. Perlawanan atau pemberontakan Kartosoewirjo itu terjadi dari tahun 1949 hingga 1962.

Perintah Membunuh Soekarno

Pemberontakan DI/TII terhadap pemerintahan Indonesia merupakan sebuah permusuhan dua sahabat lama, Kartosoewirjo dan Soekarno yang meruncing. Dalam biografi Kartosoewirjo dalam buku yang ditulis Holk H. Dengel berjudul Darul Islam NII dan Kartosoewirjo (1995) disebutkan bahwa bagaimana Kartosoewirjo memerintahkan ajudannya untuk membunuh Soekarno tahun 1961.

Percobaan pembunuhan terhadap Soekarno oleh DI/TII sendiri terjadi pada tahun 1962. Kala itu, anggota DI/TII yang terdiri dari Mardjuk, Sanusi, Abudin, Djaja, Napdi, dan Kamil diperintahkan untuk membunuh Soekarno. Kemudian anggota bernama Sanusi mencoba menembak Soekarno dari jarak 7 meter saat shalat Idul Adha berlangsung dihalaman istana kepresidenan.

Upaya pembunuhan itu gagal. Mardjuk, Abudin, Djaja, Napdi, Kamil dan Sanusi kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Perlawanan Kartosoewirjo sendiri berakhir tepatnya pada tanggal 6 juni 1962. Ia tertangkap oleh pasukan Kompi C Batalion 328/Kujang II Divisi Siliwangi setelah bersembunyi di gunung Rakutak, Jawa Barat.

Dijatuhi Hukuman Mati

Setelah ditangkap, Kartosoewirjo kemudian diadili dalam sidang Pengadilan Mahkamah Darurat Perang. Ia didakwa melakukan pemberontakan dan penghianatan terhadap pemerintahan yang sah.

Biografi Kartosoewirjo

Hasil persidangan memutuskan Kartosoewirjo, pentolan DI/TII ini dijatuhi hukuman mati. Eksekusi mati terhadap Kartosoewirjo dilakukan pada tanggal 5 September 1962 beberapa bulan setelah ia tertangkap. Lokasi eksekusi mati Kartosoewirjo dilakukan di Pulau Ubi di wilayah kepulauan Seribu, Jakarta. Ia juga dimakamkan disana.

Beri Rating Artikel Ini

'...Sejarah akan meninggikan mereka yang memang layak dimuliakan dan sejarah juga akan menghitamkan mereka yang layak dijatuhkan - NS'