Beranda Biografi Tokoh Indonesia Biografi Letjen R. Suprapto, Kisah Perjalanan sang Pahlawan Revolusi

Biografi Letjen R. Suprapto, Kisah Perjalanan sang Pahlawan Revolusi

5
(1478)

Biografiku.com | Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto dikenal sebagai salah satu pahlawan revolusi. Letjen R. Suprapto merupakan salah satu korban dari peristiwa G30 S/PKI atau Gerakan 30 September PKI yang merubah sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Biografi Letjen R. Suprapto

Biografi Letjen R. Suprapto

Raden Suprapto lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920, ini boleh dibilang hampir seusia dengan Jenderal Besar Sudirman. Usianya hanya terpaut empat tahun lebih muda dari sang Panglima Besar. Pendidikan formalnya setelah tamat MULO (setingkat SLTP) adalah AMS (setingkat SMU) Bagian B di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1941.

Masuk Militer

Sekitar tahun itu pemerintah Hindia Belanda mengumumkan milisi sehubungan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua. Ketika itulah ia memasuki pendidikan militer pada Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Pendidikan ini tidak bisa diselesaikannya sampai tamat karena pasukan Jepang sudah keburu mendarat di Indonesia.

Oleh Jepang, ia ditawan dan dipenjarakan, tapi kemudian ia berhasil melarikan diri. Selepas pelariannya dari penjara, ia mengisi waktunya dengan mengikuti kursus Pusat Latihan Pemuda, latihan keibodan, seinendan, dan syuisyintai.

Dan setelah itu, ia bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat. Di awal kemerdekaan, ia merupakan salah seorang yang turut serta berjuang dan berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Cilacap. Selepas itu, ia kemudian masuk menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto.

Selama di Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Ketika itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman.

BACA JUGA :  Biografi RA Kartini, Kisah Pejuang Kesetaraan Hak Wanita Indonesia

Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro

Letjen R. Suprapto juga salah satu yang pernah menjadi ajudan dari Panglima Besar tersebut. Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia sering berpindah tugas. Pertama-tama ia ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang.

Dari Semarang Letjen R. Suprapto kemudian ditarik ke Jakarta menjadi Staf Angkatan Darat, kemudian ke Kementerian Pertahanan. Dan setelah pemberontakan PRRI/Permesta padam, ia diangkat menjadi Deputy Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera yang bermarkas di Medan. Selama di Medan tugasnya sangat berat sebab harus menjaga agar pemberontakan seperti sebelumnya tidak terulang lagi.

Itulah awal dirinya secara resmi masuk sebagai tentara, sebab sebelumnya walaupun ia ikut dalam perjuangan melawan tentara Jepang seperti di Cilacap, namun perjuangan itu hanyalah sebagai perjuangan rakyat yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya.

Biografi Letjen R. Suprapto, Kisah Perjalanan sang Pahlawan Revolusi
Monumen Pancasila Sakti

Korban Penculikan PKI

Pada pemberontakan yang dilancarkan oleh PKI tanggal 30 September 1965, Letjen R. Suprapto menjadi salah satu target yang akan diculik dan dibunuh.

Dan pada tanggal 1 Oktober 1965 dinihari, Letjen. TNI Anumerta R. Suprapto bersama enam perwira lainnya diculik kemudian dibunuh secara membabi buta oleh pasukan cakrabirawa yang berafiliasi dengan PKI.

Jenazah para perwira ini dimasukkan ke sumur tua di daerah Lubang Buaya termasuk Letjen R. Suprapto. Para perwira ini kemudian gugur sebagai Pahlawan Revolusi untuk mempertahankan Pancasila.

Gelar Pahlawan Revolusi

Bersama enam perwira lainnya, Letjen. TNI Anumerta R. Suprapto dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Pangkatnya yang sebelumnya masih Mayor Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jenderal sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.

Untuk menghormati jasa para pahlawan tersebut, oleh pemerintah Orde Baru ditetapkanlah tanggal 1 Oktober setiap tahunnya sebagai hari Kesaktian Pancasila sekaligus sebagai hari libur nasional.

BACA JUGA :  Biografi Sultan Iskandar Muda, Kisah Sang Pemimpin Terbesar Kesultanan Aceh

Dan di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur, di depan sumur tua tempat jenazah ditemukan, dibangun tugu dengan latar belakang patung ketujuh Pahlawan Revolusi tersebut. Tugu tersebut dinamai Tugu Kesaktian Pancasila.

Beri Rating Artikel Ini

Advertisement